Naura
40. Kenapa?
Sebelum mencebur dan menolong Diandra, Adam melepas jaketnya dan menaruhnya di kursi. Adam berjalan kearah jaketnya dan membawanya kembali pada Diandra yang masih kedinginan dan basah kuyup.
Diandra nampak kedinginan dan bibir serta wajahnya terlihat pucat. Wajah yang penuh air di wajahnya itu menimbulkan getar bagi Adam. Bagaimana tidak, dia juga adalah seorang lelaki normal sehingga melihat Diandra yang memang wajahnya cantik timbul perasaan ingin melindunginya.
Dan muncul perasaan yang ada, yaitu perasaan ingin memiliki dari Adam. Sebagai manusia wajar jika nafsu itu memang ada di setiap hati manusia. Namun, iman Adam segera membisikinya bahwa segala sesutu itu dari Tuhan. Adam memberikan handur itu kepada Diandra yang masih terduduk, Adam pun memakaikan dengan menutupi punggung bagian belakang Diandra.
”Kamu basah kuyup, ayo kita kembali ke hotel. Bukankah bajumu ada disana semua?”
Baju – baju Diandra selama ada di Mata Air Surga selalu ada di hotel. Dialah yang selama ini memegang peranan sebagai penasehat utama di perhotelan tersebut. Hotel yang dibangun dengan nuansa alam dan juga dikelilingi dengan pepohonan rindang yang sejuk meskipun pohon yang ditanam belum terlalu tinggi. Mungkin baru 2 hingga 3 meter dan dicari langsung dari hutan yang memang sudah tumbuh agak tinggi.
”Jangan pergi dulu Adam, Aku ingin bicara. Ini penting!”
Adam pun tertahan, walaupun baju mereka sama-sama masih basah. Namun, dengan angin yang bertiup dan panas yang ada dan baju mereka sudah mulai mengering ditambah bahwa suhu badan manusia itu hangat sehingga tanpa terasa baju basah itu mulai mengering dengan sendirinya.
Adam pun duduk di sebelah Diandra. Entah apa yang ingin dibicarakan Diandra dengannya di pinggir danau, dengan kondisi masih kedinginan karena baru saja terjebur di dalam danau.
”Apakah aku ini tidak cantik?” Diandra bertanya lirih, pandangannya kosong menatap langit yang menjadi atas segala alam semesta.
Adam diam sejenak, dia mungkin tahu arah pembicaraan mereka pada akhirnya, ”Tuhan telah menciptakan wajahmu demikian indah. Mungkin, kamu adalah salah satu ciptaan Allah yang terindah di dunia ini.”
Meskipun berkata demikian, seperti dikenal bahwa Adam adalah seorang penyair yang meski tak terkenal sama sekali dalam dunia syair dia sering bersenandung puisi saat sendirian di danau Kenanga sejak dulu.
”Lalu..., apakah aku ini tidak menarik?” Pertanyaan kedua, dan Diandra masih tetap menatap langit kembali sambil menarik napasnya lebih dalam. Dia mungkin ingin mengetahui bagaimana reaksi Adam.
”Diandra, kamu bahkan lebih menarik dibanding seluruh kupu-kupu yang cantik di seluruh dunia ini. Meskipun dikumpulkan semuanya, kamu tetap yang tercantik. Kamu itu seperti bidadari, siapapun yang melihatmu pasti ingin memilikimu dan juga menjagamu.”
Entah apa yang dikatakan Adam, dia berkata seolah itu keluar begitu saja karena pertanyaan Diandra barusan. Udara semilir menerpa mereka kembali, baju mereka bahkan sudah mulai mengering dan mereka masih berteduh di bawah pohon besar.
”Adam...” kali ini suara Diandra memecah keheningan diantara mereka, ”Kenapa kamu tak ingin memilikiku? Kenapa kamu tak ingin menjagaku sepenuh waktumu? Apakah kamu tidak mencintaiku?”
Deg!
Kata-kata itu membuat jantung Adam berdetak dengan cepat, seperti ribuan jarum yang langsung menyerang seluruh tubuhnya. Rasanya seperti setruman mega listrik yang menyetrum dirinya. Semua rasa menjadi satu dan semua perasaan yang dirasakan manusia berkumpul jadi satu.
Namun, Adam memang sudah memahami bahwa mungkin suatu hari Diandra akan mengatakan ini jika memang dia mencintainya. Dan, Adam yang tidak mengambil tindakan sama sekali.
Seperti yang diketahui Adam, bahwa seorang wanita membutuhkan komitmen dari laki – laki, apakah mereka memang serius untuk mencintai mereka atau menjaga mereka, atau sekedar menggantungkan hubungan. Maka dari itu, Adam tahu bahwa Diandra kini meminta kejelasan atas hubungan mereka. Apakah akan dilanjutkan dengan cinta atau hanya sekedar rekan kerja.
Hufff!
Adam menghela napas sejenak, ”Kau tahu Diandra, bagaimana menurutmu jika ada orang yang berjanji dan bersumpah, lalu dia tidak menepatinya? Bukankah orang itu tidak layak dalam kehidupannya?”
Diandra balik ditanya oleh Adam, ”Benar katamu, Janji adalah intisari kehidupan itu sendiri. Seorang yang sudah berjanji, mau tidak mau harus menepati janjinya atau maut yang menjemputnya.”
”Kamu benar,” Adam menatap danau sekali lagi, semilir angin menerpanya, ”Mungkin, jika seseorang berjanji namun dia tak menepati janjinya karena sebuah alasan yang lebih penting atau untuk menjaga kehidupan maka itu masih bisa dimaklumi. Namun, orang yang melanggar janji dan dia tidak memiliki alasan kecuali hanya dibuat – buat maka itulah mereka orang – orang yang tercela.”
Diandra masih belum mengerti benar apa yang menjadi inti dari penjelasan Adam, ”Lalu..., apakah tentang sumpah itu, kau pernah bersumpah sesuatu tentang cinta atau tentang apa?” Diandra pun penasaran.
”Setiap Ahad, ya setiap Ahad. Aku selalu mengucapkan sumpah, dan itulah yang memberatkan langkahku setiap langkahnya,” Adam pun mengingat semua memorinya dulu bersama dengan Naura. Sumpah dimana dia selalu mengatakannya, mungkin karena tidak paham akan masa depan cintanya. Namun, janji sumpah itu terus saja terucap karena cintanya yang demikian besar pada Naura.
Adam bersumpah di hadapan Naura dan tentu saja di hadapan alam semesta dimana Danau Kenanga menjadi saksinya. Bahwa, Adam tidak akan pernah menikah kecuali dengan Naura selama hidupnya.
”Aku telah bersumpah bahwa aku tidak akan pernah menikah kecuali dengan Naura, dan itu terus aku ulang setiap ahad datang.”
Adam memberanikan diri bercerita hal itu pada Diandra, biarlah Diandra yang menilai tentang dirinya soal sumpah dan janji tersebut.
”Kau ini benar – benar ya Adam. Meskipun Naura sudah meninggalkanmu dan meninggalkan janji cinta kalian. Tapi kamu masih memusingkan hal itu dan kamu masih terikat janji. Bahkan, Naura pun tak ingat dengan janji itu lagi dan dia mencampakkanmu begitu saja. Lalu, untuk apa kamu harus menjaga janji itu?” Diandra semakin penasaran, apakah benar dalam hati Adam hanya terisi nama Naura meskipun wanita itu sudah bersama lelaki lain?
Adam tak menatap Diandra, dia tetap menatap air danau, ”Kau tahu Diandra. Janji itu ibarat kita dengan Tuhan. Orang bisa saja mengkhianati janji itu dengan mudah, namun aku tidak mau seperti Naura. Aku harus menjadi contoh dimana janji ditegakkan. Jika aku mengkhianati janji itu maka aku tidak ada bedanya dengan buruknya sifat Naura. Tak ada bedanya, hanya bedanya aku terlambat untuk mengkhianati janji setelah dirinya.”
Diandra masih benar – benar tidak paham bagaimana jalan pikiran Adam. Janji dan sumpah yang dia pegang meskipun dikhianati dan dia tetap memeluk janji itu agar tidak disamakan dengan Naura yang mengingkari janji.
Apakah itu cukup? Begitu pikiran Diandra. Apakah dengan menetapi janji yang bodoh itu, Adam akan menemukan kebahagiaan atau akan sengsara selama hidupnya?
Sosok Adam seperti sebuah rumput yang ditali dengan anyaman, dia bisa bergoyang tapi tak bisa bebas bergerak. Angin yang kencang pun tidak bisa membuka ikatan tali tersebut.
Adam sudah terlalu jauh terikat dan tidak bisa bergerak lagi. Janji akan sumpah setianya itu akan menghancurkannya sendiri. Dia akan terus terlilit dengan janji itu, sebuah janji yang tidak bisa dikhianati namun dia tersakiti.