Naura
53. Ada Kangen
Adam langsung memarkir mobilnya di depan hotel. Dia bergegas keluar dan menuju hotel. Saat menuju ke ruang pengelola, dia kaget karena disana ada seorang wanita berkerudung yang sedang bicara dengan pengelola di ruang tamunya. Adam pun tersenyum, sudah lama tak melihatnya dan timbul rasa kangen dalam diri Adam begitu saja.
Diandra! Dia sudah datang.
Adam memperhatikannya dari luar jendela, Diandra tengah bicara dengan dua orang yang menjadi pengelola dan sekretarisnya. Disana, Diandra nampak menjelaskan dengan seksama dan sesekali memberikan arahan dan kata – kata.
Adam mencoba mencermati wanita itu, entah apa yang terjadi pada hatinya. Dia tidak bisa bohong bahwa ada ketertarikan dalam dirinya untuk Diandra. Perasaan cinta atau perasaan ingin memiliki, Adam sendiri sudah lupa dengan perasaan – perasaannya. Namun yang jelas, ada rasa yang tertinggal dan bahagia ketika menatap wajah itu saja.
Apakah dia kangen pada Diandra sehingga dia berhalusinasi untuk memiliki wanita itu? Sehingga tak ada lagi jarak pada mereka dan mereka bisa bersama? Itu juga yang masih dipikirkan oleh Adam bagaimana kisah hidupnya nanti. Adam memikirkannya terlalu dalam.
Namun, dia juga ingat bahwa dirinya sedang terpenjara oleh sumpahnya. Benar, dia memang bisa saja dikhianati oleh Naura dalam urusan cinta, namun sumpah yang dia ucapkan adalah sumpah dirinya dengan Tuhan dan bukan sumpahnya kepada Naura. Jadi, pertaruhannya kini adalah dirinya dengan Allah yang menciptakannya. Lalu, siapa lagi yang akan percaya pada Allah dan menepati janjinya?
Adam menepis itu semua dan bergerak maju untuk mendekati mereka, Diandra menengok karena ada kelebat yang datang. Mata mereka pun bertemu, tidak ada histeris atau kata sapaan rindu. Mereka hanya tersenyum, saling tersenyum cukup lama hingga angin membelai pandangan mereka.
Seolah, angin tahu apa yang mereka pikirkan masing – masing. Dua orang yang tengah saling memiliki namun seolah ada pagar besar yang menutupi mereka. Mereka cukup bahagia dengan saling mempercayai dan menatap satu sama lainnya.
”Assalamu’alaikum,” Adam mengucapkan salam dari pintu masuk itu.
Tiga orang di dalam menjawab salam dan mempersilakan Adam untuk masuk. Adam dengan tenang masuk ke ruangan tamu itu dan segera duduk di sebelah Diandra. Untuk pembicaraan dirinya dan Diandra tentu saja nanti, sekarang ini tengah membicarakan soal bisnis. Jadi, mereka fokus dulu ke bisnis, mereka paham profesionalisme sehingga tak ada kendala bagi mereka.
Adam mendengarkan apa yang mereka bicarakan dan Adam tahu karena sudah mendengar laporannya dari para staf di depan. Dia mengikuti saja alurnya dan tak akan berkomentar. Sesekali Diandra menanggapi para pengelola itu dan juga memberikan solusi yang mudah dan tegas.
Pembahasan berlanjut pada soal makanan, benar itu intinya. Makanan yang dipesan dari rumah makan yang diminta khusus memang rasanya enak. Namun, laporan dari pesan dan kesan tamu hotel memang banyak orang. Jadi, mereka ingin menu dan bumbu yang berbeda.
Diandra sendiri terlihat berpikir sejenak, tangan kananya yang lentik jari telunjuknya menyentuh dagunya. Pertanda dia berpikir bagaimana cara menyelesaikan hal itu, tentu saja mereka harus survei terhadap beberapa rumah makan di sekitar dan memperhatikan rasa makanannya sehingga ada yang pas untuk bisa diajak kerjasama dengan hotel dan memiliki rasa khas dan unik.
Adam pun menyela, semua orang baru menyadari dengan pembicaraan mereka yang serius. Adam adalah orang paling dihormati dalam Mata Air Surga, saking seriusnya mereka bahkan lupa dan tak menyadari bahwa Adam ada disana dan duduk bersama mereka.
”Maafkan kami Pak,” kata dua orang itu pengelola dan sekretaris hampir berbarengan.
”Kamu ada usulan Adam?” tanya Diandra lembut.
”Benar.”
Adam pun memulai penjelasannya dengan mengucap basmallah terlebih dahulu, Adam menjelaskan bahwa tadi pagi dia mengecek hotel dari lantai paling bawah. Dia membaca pesan dan kesan tamu hotel dan mendapatkan kabar juga dari seorang pelayan yang ada di depan.
Rasa masakan, benar saja. Ada sedikit kebosanan dari para pelanggan hotel dan juga tamu yang baru datang sekali saja misalnya. Masakannya sama, mungkin yang mereka maksud adalah cita rasa yang sama. Laporan dari pegawai di depan itu langsung direspon Adam, dan Adam menceritakan kalau seharian ini dia bertemu seorang koki atau juru masak yang masakannya sangat enak.
Mereka termasuk Diandra mendengarkan penjelasan Adam dengan seksama. Adam juga sudah merasakan makannya dan bahkan membungkus untuk dibagikan beberapa waktu lalu kepada beberapa karyawan hotel dan rumah sakit. Kebetulan, pengelola itu ikut makan ternyata dan rasanya memang benar – benar enak dan unik rasanya.
Saat itulah, Diandra langsung menyetujui usulanku begitu saja. Apalagi, Adam sudah mengambil alih dan menyelesaikan masalah itu dengan cepat dan sudah mendapatkan orang yang tepat untuk bekerjasama dengan hotel dalam menyediakan makanan.
”Kamu tak ingin cek dulu rasanya atau merasakan dulu makanannya itu?” Adam bertanya pada Diandra kenapa dia langsung setuju begitu saja.
”Tidak perlu Adam, kamu saja suka dan mengatakan nikmat. Pasti memang rasanya enak dan nikmat.”
”Kenapa kamu tidak ingin merasakannya sendiri dulu?”
Diandra mendesah napasnya perlahan, Adam pun mendengar napas lembut itu, ”Adam, mana ada orang di seluruh dunia ini yang paling jujur dan perkataannya selalu jujur selain dirimu?”
Jleb!
Meskipun itu dikatakan dengan lembut, itu seperti pujian dan juga kritik untuk Adam. Benar saja, itu mungkin terkait dengan janjinya pada Naura yang dipegangnya hingga kini meskipun sakit berdarah – darah karena dikhianati dan juga ditinggalkan menjadi pesakitan bertahun – tahun. Dan, itulah Adam.
Adam menyadari hal itu. Itu merupakan pujian sekaligus teguran, Adam pun tak mempermasalahkan hal dan menganggapnya sebagai humor dari Diandra, ”Kamu siang ini makan dimana?” kini, giliran Adam yang bertanya pada Diandra, Diandra pun jadi salah tingkah.
Dua orang yang menyadari hal itu merasa bahwa ini bukan lagi rapat, melainkan dua pembicaraan antara bos mereka. Mereka pun meminta izin karena musyawarahnya sudah selesai bukan.
”Tunggu, kalau rapat ya harus ditutup dulu biar berkah jadi sekalian dibubarkan semua,” ucap Diandra lirih. Mereka pun tertahan.
”Adam, pimpin doanya.”
Lagi – lagi, Diandra melihat ke arah Adam dan menganggukkan kepalanya. Adam paham dan dia berbicara dan yang lain memperhatikan dan mengajak bersama untuk berdoa demi kelancaran Mata Air Surga hingga dapat bermanfaat bagi semua orang dan juga menjadikan tempat ini sebagai tempat yang indah dan dapat diterima semua orang karena kebaikannya.
Mereka semua mengaminkan doa Adam. Lalu, setelah itu dua orang lelaki pengelola dan sekretaris itu pamitan duluan.
Tinggal Adam dan Diandra.
”Makanlah di rumahku, Ibuku sudah masak spesial hari ini,” Adam menawarkan Diandra untuk makan di rumahnya, ”Tentu sajabi Jamilah diajak juga biar tambah ramai.”
Diandra berpikir sejenak dan menatap Adam, ”Baiklah, tapi apakah kamu tidak merasa kangen padaku Adam? Atau, tanpa ada Diandra sekalipun Mata Air Surga tetap biasa saja dan tidak ada perubahan?”
Dasar Diandra. Adam hanya tersenyum, Diandra sekarang jadi lebih sering bercanda dan malah terlihat sensitif juga.
”Sudahlah Diandra, kamu kan tahu kalau Mata Air Surga tidak akan menjadi Surga tanpa adanya Diandra.”
Lewat rayuan yang tak biasa juga dari Adam, pipi Diandra berubah kemerahan karena malu. Diandra semakin mengerti beberapa lama tidak bertemu Adam bahwa ikatan itu bisa menjadi lebih kuat dengan adanya jarak dan jarang bertemu.
Seperti penyesalan itu akan muncul jika kehilangan, atau juga perkataan bahwa rindu itu akan muncul jika tak ada orang yang di dekatnya. Semuanya akan terasa ketika sudah kehilangan sesuatu. Diandra kini merasakannya, bahwa tak berada di samping orang yang biasa di dekatnya akan membuatnya kehilangan dan rindu.
”Baru kali ini aku mendengarmu ngegombal Adam.”
Mereka tertawa bersama, Adam dan Diandra memang terlihat seperti sepasang kekasih. Namun, mereka juga seperti sepasang sahabat yang sangat baik. Atau, mereka seperti sepasang pebisnis yang sedang membicarakan serius bisnis mereka.
Soal kisah cinta mereka, mungkin seperti dua orang yang berada di dua sisi yang berbeda. Dua dunia yang berbeda meskipun mereka bisa saling melihat setiap saat. Mereka sendiri pun menjalani kehidupan ini apa adanya, mungkin takdir yang akan melirik mereka akan jalan yang akan mereka tempuh selanjutnya.