Naura
55. Nestapa Keluarga
Naura masih saja memandangi foto dirinya dan suaminya di dinding ruang tamunya. Pandangannya masih saja samar, apakah selama ini suaminya itu, Sandi memang mencintainya atau dirinya hanya seperti sebuah barang yang bisa dibelinya?
Naura menekuri dirinya, tertunduk dan merangkul lututnya sendiri sambil menungkupkan kepalanya ke kedua lututnya. Bi Fatma datang dari dalam dan ikutan duduk di kursi ruang tamu itu, dia sudah biasa di rumah itu. Naura sudah dianggapnya sendiri sebagai puterinya.
”Non Naura tidak apa – apa?”
Naura mengangkat kepalanya dan memperhatikan bi Fatma. Dia tersenyum namun senyum itu mungkin terlihat kalau terpaksa. Bi Fatma pun tersenyum dan menyentuh tangan Naura dan membelainya.
”Sabar Non.”
Itulah nasehat dari bi Fatma, Naura juga menyadari ada satu kejanggalan. Beberapa hari yang lalu, datang beberapa orang ke rumahnya itu dan mendapati mereka melihat dan berkeliling sambil mengetuk pintu.
Naura menemui mereka dan menanyakan maksud mereka. Mereka mencari suaminya, Sandi. Merasa curiga, Naura pun menanyakan keperluan mereka dan mereka pun berpesan agar Sandi segera melunasi atau setidaknya beritikad baik untuk menyelesaikan masalah hutang pada bank. Naura pun terkejut dengan jumlah pinjaman suaminya itu.
Naura jadi berpikir bahwa suaminya sudah menghabiskan dana yang banyak untuk keperluan usahanya atau memberikan uang yang banyak untuk Firla, isteri keduanya itu.
Diketahuinya bahwa isteri keduanya akan segera melahirkan, dan mereka dulu membangun rumah yang megah. Entahlah! Naura hanya berdoa agar hutang itu tidak membuat usaha suaminya bangkrut, dia hanya ingin suaminya menyadari kehadirannya dan kembali seperti dulu.
Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Untuk isteri kedua, biarlah kalau sudah terlanjur namun dirinya ingin masih dianggap sebagai isteri yang disayanginya seperti dulu. Ada baiknya dia pergi ke Danau Kenanga dan melihat pemandangan untuk mencari inspirasi. Mungkin itu yang lebih baik saat ini.
Naura juga ingin tahu, bagaimana perkembangan danau itu setelah lama proyek berlangsung setelah terakhir kali saat itu dan bertemu dengan Adam dan Diandra disana. Mengingat Adam, hatinya masih saja memiliki desiran halus, namun dia berdoa agar Adam bahagia bersama Diandra. Itu saja yang menjadi harapannya sekarang.
”Non Naura mau keluar untuk mencari angin segar?”
Bi Fatma seolah tahu apa yang dipikirkan Naura, Naura pun mengangguk dan bi Fatma menyentuh pundak Naura perlahan.
”Pergilah Non, semoga Nona dapat menjadi lebih tenang.”
”Baiklah Bi, tolong jaga rumah.”
”Iya Non.”
Naura pun bersiap dengan memakai baju yang cukup bagus, dia bersiap untuk berangkat dan berpamitan pada bi Fatma. Tujuannya hanya satu, Danau Kenanga, mungkin disana dia akan menemukan ketenangan. Seperti dulu, saat hatinya masih dimiliki oleh Adam seorang.
***
Antara Naura dan Firla tentu berbeda, seperti itulah bunga yang sudah sedikit lebih tua dan bunga yang masih baru mekar. Isteri pertama dan isteri kedua, Sandi lebih perhatian pada isteri keduanya.
Isteri keduanya pintar bersolek dan juga kini hamil anak pertamanya, sebagai seorang lelaki, anak adalah sebuah kebanggaan.
Hal itu yang membuat Firla merasa berbunga-bunga dan merasa dirinya akan selalu dicintai oleh Sandi melebihi isteri pertamanya. Bahkan, sekarang isteri pertamanya seolah seorang wanita yang tak dianggap.
Firla kini merasa seperti ratu dan semua perhatian suaminya kini tertuju padanya. Bayi yang ada di dalam kandungannya adalah kunci segalanya. Firla mengelus perutnya, naik dan turun dan dia begitu berharap sang bayi segera keluar dan melihat dunia.
”Aduh!”
Firla mengaduh, perutnya sudah mulai mulas rasanya. Dia bahagia dalam kesakitannya yang ditahan, sebentar lagi dia akan memberikan pewaris sejati pada suaminya Sandi.
Semuanya akan menjadi lebih jelas, jika dia sudah melahirkan dan anaknya yang sudah dilihat itu laki – laki maka segala hal akan mudah. Firla akan mudah meminta apapun barang dan lain sebagainya dengan alasan untuk anaknya, dia bisa membeli apapun dan mengoleksi apapun sekarang.
Tentu saja, dia akan memamerkan semua barang barunya nanti pada teman – teman gangnya. Membayangkannya saja, bagi Firla adalah suatu kebanggaan dan prestice tinggi. Sakit saat melahirkan akan ditanggungnya sebisa mungkin, sesakit apapun demi bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dan itu setimpal.
Bahkan, kini fokus perhatian Sandi sudah kepada dirinya dan bayi di kandungannya secara total. Firla tidak lagi melihat suaminya itu bahkan mengunjungi rumah isteri pertamanya, Naura. Juga bahkan tidak pernah sekalipun mereka bertemu, dan itu karena dirinya dan anak yang dikandungnya.
Bisa jadi, setelah bayinya nanti lahir Sandi akan melupakan Naura dan itu pasti menjadi kenyataan. Kini saja, dia meminta rumah mewah dan rumahnya jauh lebih baik dari rumah untuk Naura.
Hmmmm..., Firla berpikir sejenak dan senyumannya pun tercipta lebar kembali. Namun karena asyiknya berkhayal, perutnya tiba – tiba sakit kembali.
”Aduuhhh! Sakiitt!”
Firla berusaha untuk berjalan namun perutnya kali ini cukup sakit dan tak bisa ditahannya.
”Bi Nini! Bi!”
Firla berusaha keras memanggil ART nya, dari kejauhan dan ruangannya Nini berlari tergopoh – gopoh sambil tetap memegang sapi. Dia melihat majikannya dan menaruh sapunya asal, dilihatnya sang majikan tengah memegang perutnya sambil membungkuk – bungkuk.
”Non, kenapa Non!”
”Sakitt Bi!”
Bi Nini bingung, dia kemudian kehabisan akal. Dia pun menuju telpon di seberang sana di ruangan tamu. Dia menelpon dan memencet beberapa nomor telepon. Nomor yang ditujunya adalah pak Sandi.
Sambungan terhubung.
”Pak Sandi...” Nini menjelaskan agak singkat dan terbata – bata bagaimana kondisi nona Firla yang kesakitan.
Dari seberang sambungan, Sandi pun meminta untuk menjaga isterinya itu terlebih dahulu dan dia segera pulang. Mungkin sudah waktunya melahirkan, begitu kata Sandi pada bi Nini. Bi Nini pun paham dan segera menutup sambungan dan menuju nonanya itu.
”Duduk dulu Non, sebentar lagi pak Sandi datang,” wajah Nini pun tampak gelisah, dia membantu Firla untuk duduk dan Firla juga menurut sedangkan perutnya semakin melilit – lilit. Nini yang bingung pun sambil memijat – mijat kedua kaki nonanya itu.
Meski tak memberi pengaruh yang banyak, Firla merasa lebih nyaman sambil menunggu suaminya dia juga menahan rasa sakit dan Nini masih perhatian padanya. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil datang dengan memencet klaksonnya.
Sandi sudah datang, dia masuk ke ruangan dan melihat Firla yang duduk selonjoran dan perutnya masih dipegangnya. Firla merasakan sakit dengan meringis. Sandi bergegas dan membantu isterinya berdiri perlahan. Namun, tubuh Firla juga merasakan sakit.
Sandi terpaksa membopongnya dan menuju mobil, mereka pun berangkat ke rumah sakit. Rumah Sakit terdekat tentu saja ada di kompleks Mata Air Surga, disana pelayanan dan peralatannya juga sudah lengkap dan kemarin ketika kontrol bahwa rumah sakit itu juga sudah siap menerima persalinan.
Bi Nini pun diminta jaga di rumah saja. Sandi antara cemas, bahagia dan khawatir akan kondisi isteri dan bayinya. Selain itu, pikirannya juga masih agak kacau karena tagihan utang. Usahanya di ujung tanduk dan anaknya akan segera lahir.
Lalu..., akan bahagia atau sedihkah dirinya?
Sandi tak peduli lagi, tujuannya sekarang adalah menyelamatkan bayinya dan bersiap untuk apapun yang terjadi. Sandi sangat menyayangi isterinya Firla. Baginya Firla mampu memahami dirinya dan bisa memberinya pujian yang memberi semangat, mungkin hal itu beda dengan Naura yang hanya seperti wanita lugu dari desa. Tak ada yang istimewa darinya kecuali wanita yang menurut saja.
Jika dipikir lagi, keluarga Naura masih memiliki hutang padanya sebesar setengah miliar, namun hal itu masih sedikit. Belum bisa sama sekali untuk membantu menyelesaikan hutang. Itupun jika keluarga Naura masih memiliki uang tersebut, ah Sial! Lagi – lagi Sandi pusing memikirkan hutang – hutangnya.