Naura

57. Mengincar Adam

Sandi mondar – mandir di ruangan tunggu persalinan, dia sendiri tidak mau masuk karena dia sendiri takut melihat darah. Entahlah, bahkan untuk isterinya sendiri yang akan melahirkan dia sendiri malah takut dan menunggu di luar.

Sandi hanya kangen dan rindu tiba – tiba ada suara bayi menangis dan itu pasti akan membuatnya bahagia. Kegelisahan menyelubungi waktunya saat ini. Di saat dia sedang terhimpit masalah keuangan yang hampir-hampir memecahkan kepalanya, namun ada rasa bahagia untuk menjemput bayinya.

Meskipun..., benar bahwa masalah hidupnya kita luar biasa. Dia merasa beban berat sedang dipikulnya demikian besar. Kehidupannya dipertaruhkan, antara bahagia menunggu bayinya lahir atau hancurnya perusahaan pabrik yang sudah dirintis oleh ayahnya dan kini dilanjutkan estafet usaha itu olehnya.

Jika sampai hancur usahanya, mau ditaruh dimana mukanya. Malu pada keluarga dan ayahnya, juga malu kepada teman – temannya. Kini, dia menyadari bahwa hidupnya selama ini hanya mengejar gengsi semata. Dia kurang bersyukur dan terlalu boros uang. Semuanya hancur karena keserakahan dirinya sendiri.

Sandi pun duduk di kursi panjang di depan ruangan bersalin tempat dimana isterinya sedang dirawat. Apakah memang sudah waktunya atau memang hanya sekedar gejala biasa? Sandi pun belum mendengar kabar apapun dari dokter atau perawat di dalam.

Saat duduk dan melipat tangannya di dagu, seseorang lewat di ujung koridor dan sedang berbincang dengan salah seorang dokter berbaju putih. Awalnya, Sandi tidak mempedulikan apapun karena kondisinya sedang kacau. Antara sedih dan bahagia yang bercampur.

Namun, matanya kini tak bisa lepas dari sosok yang sedang berjalan dan matanya mengawasi sosok itu dengan seksama.

Lamat – lamat, Sandi merasa familiar dengan orang tersebut, kenapa wajahnya sepertinya pernah dilihat? Apakah itu benar lelaki itu adalah Adam? Lelaki yang dulu sangat dibencinya karena mencintai Naura. Dan dia berjanji apapun yang terjadi akan merebut Naura darinya.

Benarkah itu Adam? Apakah mungkin lelaki pesakitan dan hancur itu sudah sadar, dan bahkan dia begitu akrab berjalan dengan seorang dokter.

 Merasa penasaran, Sandi pun mulai berdiri dan terus berjalan. Sandi melewati pertigaan dalam koridor tempat Adam terlihat tadi. Benar, Lelaki itu masih berjalan membelakangi Sandi dengan seorang dokter. Dia harus bertanya pada seseorang, mungkin seorang perawat yang pasti bisa menjawab pertanyaannya.

Ada seorang perawat yang lewat, Sandi pun memberi salam kepada perawat itu dan meminta maaf untuk bertanya padanya. Perawat itu pun memberi perhatian dengan senyumannya dan menunggu pertanyaan dari Sandi itu.

”Maaf Suster, siapa lelaki yang berjalan bersama dokter itu?” tanya Sandi penasaran.

Dari perawat itu, barulah Sandi mengetahui bahwa itu benar – benar Adam. Dia adalah mega proyek itu sendiri bersama partnernya, nona Diandra. Entah dari mana seorang Adam bisa menjadi pengusaha sukses bahkan dia memiliki banyak usaha di proyek Mata Air Surga.

Perawat itu juga menceritakan bahwa usaha dari Rumah Sakit, hotel dan usaha – usaha yang ada di seluruh tempat di dalam Mata Air Surga juga sudah didirikan oleh Adam.

Sandi pun mengucapkan terima kasih kepada perawat tersebut dan berpamitan kembali. Begitu banyak aset yang dimiliki oleh Adam, dia merasa dunia seperti dijungkir balikkan, dimana dulu dia bertahta dan kini kesulitan uang. Dia merasa Adam juga menjadi kebalikan dari nasibnya.

Namun tiba – tiba, pikirannya melayang dan menemukan solusi pada permasalahannya. Pikiran hitam dan gelap seolah memasuki pikirannya begitu saja, orang yang terjepit tentu saja akan berpikir apa saja agar bisa lepas dari jepit yang menghimpit seluruh tubuhnya.

Dan..., seringai senyuman khas Sandi pun tercipta, bibirnya miring sebelah. Dia berjalan tegap sekarang dan mendekati ruang isterinya dirawat. Kini, dia merencanakan sesuatu, sesuatu untuk membuat dirinya lepas dari masalah hutang dan tentu saja akan membebaskannya dari semua masalah yang menghimpitnya.

***

Pak Firman memberesi rumah baru yang ditunjukkan dan dipercayakan mas Adam padanya. Dia dan keluarga dibantu oleh pegawai perumahan untuk mengatur semuanya dan Adam hanya membantu memperkenalkan keluarga pak Firman.

Pak Firman pun diarahkan dan diberikan wewenang penuh pada rumah yang cukup bagus di barisan perumahan Mata Air Surga. Bagi pak Firman dan keluarga, rumah itu tentu saja sanagat bagus karena mereka merasa tidak akan ada kebocoran lagi karena ini musim penghujan.

Pak Firman setelah membawa keluarga yaitu isteri dan kedua puterinya ke rumah baru. Pak Firman langsung ke pasar dan ditemani pegawai perumahan dengan memakai mobil pick up, mereka belanja beberapa barang untuk keperluan memasak dalam jumlah yang cukup besar nantinya.

Mulai besok, pak Firman akan memulai mempersiapkan makanan untuk tamu hotel dan juga untuk awal dari pihak hotel akan mengambil makanan dari rumah pak Firman.

Begitulah pesan Adam untuk melayani pak Firman dalam segala hal keperluannya untuk persiapan menyediakan makanan untuk hotel. Firman sendiri masih belum percaya benar bagaimana bisa mas Adam mempercayainya demikian besar.

Namun, Firman berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh mas Adam kepadanya.

Pak Firman pun membeli banyak perlengkapan untuk masak dan juga mempersiapkan jenis makanan untuk besok hari. Hari pertama masakannya harus spesial, begitu pikir pak Firman. Dia pun belanja bahan makanan sekaligus untuk besok dan bersiap untuk membuat masakan terbaik.

Belanjaan pak Firman juga ditanggung untuk permodalan awal dari hotel. Jadi, pak Firman tidak perlu modal terlebih dahulu. Pak Firman juga menyempatkan untuk mampir di rumah pemilik toko elektronik yang dirinya menebeng tempat untuk biasanya membuka warung makan lesehannya.

Dia berpamitan dan mengucapkan terima kasih jika selama ini sudah diberikan tempat untuk berdagang.

Hari – hari pak Firman akan mulai berubah mulai dari sekarang.

***

Adam berjalan – jalan mendekati Danau Kenanga. Dia baru saja melihat laporan di Rumah Sakit dan melihat banyak hal disana. Banyak perubahan yang terjadi termasuk adalah pelayanan dalam segala hal untuk kebaikan para pasien.

Saat mendekati pinggiran danau yang biasanya menjadi tempatnya istirahat. Banyak anak – anak bermain berlarian, ada yang membawa balon dan juga ada yang bermain bola di taman yang ada di sekitar Danau Kenanga.

Namun, matanya tak bisa lepas karena ada seseorang yang tengah duduk menghadap ke Danau. Dari jarak sejauh 30 Meter, Adam merasakan hawa keberadaanya bahwa itu adalah Naura.

Entah kenapa, hawa keberadaan Naura meskipun sudah lama dilupakannya namun dia merasakan bahwa Naura adalah wanita itu.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika waktu sudah berlalu, Adam pun berjalan mendekati wanita itu dan semakin dekat. Kakinya menginjak rerumputan hijau dan semakin dekat. Adam sudah bisa mengontrol dirinya dengan baik sekarang. Apapun itu, Naura adalah orang yang pernah dicintainya dan Adam jujur akan hal itu. Namun, takdir tidaklah mengatakan hal itu, Naura hanya akan menjadi kenangan.

Soal janjinya, itu adalah urusan yang berbeda.

Adam mengucapkan salam, Naura sedikit kaget dari reaksi pundaknya yang terangkat. Sedang menikmati indahnya Danau Kenanga dan mensejukkan jiwanya namun dia merasa bahwa orang yang baru saja menyapanya pastilah Adam.

Jiwa mereka dulu pernah tersambung dalam ikatan, jadi jika salah satu menyapa mereka maka kenangan jiwa mereka yang dulu tersambung masih memiliki ikatan kenangan yang tersisa.

Adam tidak duduk melainkan berdiri dan kedua tangannya memegangi kursi sandara panjang. Di sisinya yang lain, Naura duduk dan menatap keindahan danau.

”Masih mengingat kenangan disini Naura?” Adam berbicara perlahan, mencoba mencairkan suasana.

”Benar, rasanya angin disini sangat sejuk dan bisa membuat hatiku lebih tenang,” Naura pun menjawab tanpa menoleh.

Keduanya asyik menatap sejajar kearah danau tanpa saling mencoba menatap. Mereka tak mau melakukan hal itu meskipun bisa.

”Adam...” suara Naura lirih, persis seperti beberapa tahun yang lalu ketika Naura selalu memulai bicaranya dengan memanggil Adam terlebih dahulu. Dan, Adam hapal akan hal tersebut yang selalu menjadi kenangan mereka dan menjadi kenangan yang dalam bagi Adam.

”Kenapa Adam sering ke tempat ini?”

Pertanyaan itu yang tiba – tiba muncul dalam pikiran Naura, entah kenapa dia merasa bahwa Adam selalu muncul di Danau Kenanga. Apakah memang dia masih sama seperti dulu yaitu menunggui Danau Kenanga ataukah memang ada pekerjaan disini.

”Rumahku dekat dari sini Naura, aku bersama Ibuku pindah di perumahan di ujung sana. Di proyek Mata Air Surga ini.”

Penjelasan Adam itu cukup membuat Naura menjadi jelas, jadi bukan seperti apa yang ada di pikirannya. Dimana, Naura takut kalau Adam masih mengingatnya dan tak bisa melupakannya dan terus berada di Danau Kenanga.

Naura merasa bersalah setiap saat pada Adam, akan pengkhianatan cintanya. Jika Adam belum bisa melupakannya dan terus saja tersiksa hingga selalu berada di Danau ini maka itu adalah kesalahannya.

Namun, setelah Adam sembuh dari sakitnya dan lama bersama Diandra. Apakah mereka sudah menikah? Pertanyaan itu pun muncul dalam pikiran Naura.

”Adam..., Apa Apakah kamu sudah menikah?’

Meski ragu, akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Naura. Pelan dan Adam masih jelas mendengarnya.

”Mungkin suatu hari nanti Naura...”

Naura pun mengangguk, tanda bahwa dia menyadari bahwa Adam saat ini belum menikah dan masih berstatus bujang.

”Aku selalu mendoakan kebahagiaan untukmu Adam. Selalu...” Angin berhembus dan membelai kulit mereka, dedaunan ada yang jatuh menimpali pemandangan dan diterpa angin dan mendarat di rerumputan dengan syahdu.

”Berhati – hatilah Naura jika kau mendoakan orang lain,” Adam lebih kuat menggenggam kayu atas pada sandaran kursi, Naura pun dapat merasakan sandarannya bergerak. Artinya, ada berbicara sambil memiliki intonasi penekanan dalam kata – katanya itu.

”Apa maksudmu Adam?” Naura pun penasaran.

”Berhati – hatilah jika kau mendoakan kebahagiaan orang lain. Biasanya, orang yang mendoakan orang lain terkadang lupa pada doanya sendiri. Mungkin, dia ingin orang lain bahagia, namun dia sendiri tidak bahagia.”

Naura kaget mendengar jawaban Adam. Seolah hatinya membenarkan soal itu, apakah Adam tahu masalah dirinya dan suaminya?

Kali ini, Adam meneruskan kata – katanya, ”Jangan kau doakan kebahagiaan orang lain sebelum kau berdoa untuk kebahagiaanmu sendiri. Jangan seperti lilin yang menerangi sekelilingmu namun membakar dirimu sendiri. Jadilah seperti jarum yang menyulam baju untuk dirimu sendiri, sekiranya sudah cukup bajumu maka kau bisa menjahit untuk oran lain.”

Naura tak bisa melepaskan pandangannya, dia tergerak untuk melihat Adam yang santai sambil tetap memandang danau yang terpampang di depan mereka.

Kali ini, Naura merasa bahwa luka Adam terbalas untuknya. Dulu, dia membuat Adam tak bisa dan tak berdaya saat dia memutuskan meninggalkannya. Namun sekarang, kini Naura yang sedang dibalas dan dijatuhkan sejatuh-jatuhnya.

Naura merasa bahwa dirinya seolah bahagia, namun itu lebih nampak menunjukkan bahwa dia tak bahagia.

”Adam sudah bijak sekarang,” dan itulah kata yang keluar dari bibir Naura sambil mendesah dan menyerah pada Adam. Adam yang dulu tidak seperti ini, kini kata – katanya lebih terasa pedas dan tegas. Adam yang dahulu selalu membuat suasana romantis dan selalu memuji denan syair dan kata sastranya.

Dunia memang terus berputar, dan Naura menyadari hal itu kini. Dulu dia menghancurkan hidup Adam, dan kini Adam menghancurkan dirinya meskipun hanya dengan kata – kata kiasannya.

”Kamu benar Adam, aku kini seperti raga tanpa jiwa. Mungkin, ini balasan Tuhan terhadapku. Kini..., aku mengerti betapa roda itu berputar,” Naura pun tak bisa membendung perasaannya, kehancuran yang dihadapinya saat ini. Terkatung dan tak jelas, sudah berbulan – bulan bahkan suaminya tak menghiraukannya.

”Roda memang selalu berputar Naura. Namun..., roda saat berhenti lebih cepat hancur karena tak pernah dipakai. Kadang, manusia harus diberi ujian agar dia bisa menjadi mutiara.”

Dan, kata – kata Adam itu membuat Naura merasa bahwa kini giliran dirinya yang diuji oleh Tuhan. Ini memang pembalasan takdir untuknya, dulu mengkhianati dan kini dikhianati.

Sempurna, dan biarlah. Naura harus tegar, dulu Adam juga mengalami ini dan bisa lulus ujian. Sekarang gilirannya, apakah dia akan menyerah atau bertahan dan bersabar.

”Terima kasih Adam, nasehatmu kali ini akan aku ingat selalu.”

Adam hanya tersenyum sambil menatap danau yang jernih.

”Aku pamit dulu Adam... kali ini, semoga kita selalu bahagia, amin. Assalamu’alaikum Adam.”

”Wa’alaikum salam Naura,” Adam tak bisa lagi lurus menghadap danau, dia menatap Naura dan Naura menatapnya untuk perpisahan. Naura berdiri dan tatapan mereka masih bertemu.

Naura berlalu meninggalkan Adam, meninggalkan kenangan dan meninggalkan kelemahan. Kini, dia harus kuat, dia mendapatkan kekuatan baru, inspirasi baru untuk menghadapi hari – hari barunya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!