Naura

59. Ancaman

Kebiasaan Naura memang tidak berubah sejak dulu. Sejak di pesantren, dia selalu membaca buku, buku apa saja dibacanya yang ada diperpustakaan. Setelah masuk sekolah menengah sekalipun. Naura tak bisa menghilangkan kebiasaan membacanya. Dia menyibukkan diri dengan membaca sejak sekolah.

Kali ini, Naura kembali membaca buku. Sudah lama sekali dia lupa pada kebiasaan membacanya itu. Buku itu membuat kangen saat sedang sendirian dan bingung hendak melakukan apa.

Namun, kebiasaan membaca yang dimulai lagi, memang lebih sulit. Naura bahkan sudah mulai bosan ketika membaca beberapa lembar buku. Namun, dia memaksanya untuk tetap membaca, hingga akhirnya, dia benar-benar merasa bosan.

Naura jadi teringat pertemuannya dengan Adam. Adam yang terluka dan pernah menjadi penghuni di hatinya.

Pertemuannya dengan Adam menyiratkan satu hal padanya. Adam sudah tidak seperti dulu, dia sudah lulus dari ujian sakitnya dan kini telah bisa menjalani hidupnya dengan baik.

Ketenangan dalam dirinya pun muncul sekarang, benar karena dia sudah tidak khawatir lagi bagaimana nasib Adam. Dan entah kenapa, Naura masih saja memikirkan kebahagiaan Adam yang dulu dikhianatinya.

Adam sudah bahagia, kini dirinya yang harus berganti mendapatkan luka. Tuhan memang adil, kini dirinya harus gantian menanggung luka. Bahkan, sejak kehamilan Firla tak sekalipun Sandi bicara padanya.

Sandi hanya pulang saat tertentu dan mungkin hanya mengambil baju atau mengambil sesuatu dari ruangannya saja. Setelah itu dia pergi lagi, meskipun Naura mengajak bicara namun Sandi seolah tak menggubrisnya.

Bi Fatma juga melewati Naura barusan dan memintanya untuk sarapan pagi, Naura pun bergegas ke ruangan makan. Dia melihat makanan, makanan sederhana.

Tak masalah bagi Naura, dia sudah biasa makan seadanya dulu sewaktu di kampungnya. Naura mengambil nasi dan lauk dan mengucapkan doa lalu mulai memakannya sambil menajak bi Fatma untuk makan bersama.

Bi Fatma sudah biasa makan bersama Naura, apalagi itu adalah rumah besar yang hanya ada mereka berdua. Tuannya, Sandi pun sudah jarang atau bisa dibilang tak tidur di rumah itu lagi.

Bi Fatma juga merasakan bagaimana sepi dan tersiksanya hati seorang isteri yang tidak dihiraukan suaminya. Apalagi suaminya menikah lagi dan lebih suka bersama iseri mudanya.

Bahkan bisa jadi, sudah hampir setahun ini suami Naura tidak pernah tidur di rumah lagi.

Bi Fatma ikut makan bersama Naura, namun Naura sepertinya ingin bertanya sesuatu pada bi Fatma karena memandanginya cukup lama.

”Berapa yang dikasih mas Sandi, Bi?” Tanya Naura ingin tahu, Sandi memberikan uang belanja makanan pada bi Fatma jadi dia tak tahu berapa jumlah uang untuk makanan untuk jatah mereka.

Bi Fatma sendiri adalah dulu bekerja memasak di rumah Sandi beserta ayahnya Rodin. Karena dipercaya oleh Rodin, maka dia diminta untuk menemani Naura dan Sandi dengan rumah tangga mereka.

Bi Fatma pun bercerita bahwa memang semenjak tuan Sandi menikah lagi, jatah bulanan untuk makan terus berkurang. Entah kenapa, hanya saja bi Fatma mencoba dengan uang itu sebisa mungkin untuk belanja makanan setiap harinya.

Bi Fatma sendiri digaji dari Tuan Sandi dan saat itulah bi Fatma bercerita bahwa sejak bulan kemarin dirinya belum dibayar oleh Tuan Sandi.

Naura pun kaget mendengar cerita itu, pantas saja Naura merasakan perbedaan dari makanan yang disajikan bi Fatma. Setidaknya, meskipun uang belanja kurang tapi gaji bi Fatma tidak boleh ditunda harusnya.

”Nanti, Naura akan menelepon mas Sandi, Bi. Gaji harus dibayarkan, bi Fatma sudah bekerja dengan baik.”

Bi Fatma berterimakasih pada Naura, Naura sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Mereka sudah cukup lama bersama, jadi merasakan bagaimana suka duka yang terjadi diantara mereka.

Makanan yang tersedia di meja makan saja diusahakan oleh bi Fatma dengan menghemat sebisa mungkin agar uang bulanan cukup. Namun,  karena nonanya yaitu Naura tadi bertanya maka dia pun menjelaskan agar tidak salah paham.

Selesai makan, Naura hendak menelpon nomor suaminya. Namun, sebelum mengambil hanphone ada orang yang datang dari suara bel rumah.

Suara bel pintu rumah terdengar hingga intonasinya agak cepat, berarti orang itu ada urusan penting sehingga tak sabar. Apakah itu suaminya, Sandi?

Naura bergegas keluar menuju ruang tamu, disana nampak bi Fatma yang tadi sudah selesai makan sedang berbicara dengan dua orang di pintu masuk itu. Sepertinya, mereka terlibat pembicaraan serius.

”Apakah saudara Sandi pernah bulan beberapa hari ini?” Tanya salah satu lelaki yang berdiri tegak itu, satunya di belakangnya diam sambil mendampingi rekannya.

Bi Fatma menjawab bahwa tuannya, Sandi memang sudah sekitar dua bulan tak pulang. Pulang hanya mengambil baju dan langsung pergi lagi.

Karena penasaran ada apa, Naura pun muncul dan kedua lelaki itu menyapa pada Naura. Naura meminta kedua tamunya untuk masuk sejenak, mereka pun masuk karena tuga yang mereka laksanakan juga. Mereka harus memberitahukan hal penting pada keluarga Sandi tentunya.

Saat duduk di ruang tamu, Naura meminta bi Fatma untuk ikut duduk menemani Naura. Ada minuman air putih kemasan sehingga bi Fatma juga menyuguhkan kepada kedua tamunya tersebut.

”Kami datang untuk memberitahukan bahwa...,” lelaki yang tadi berbicara itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas lingkarnya. Sebuah map dan dia menunjukkan kepada Naura, lalu membuka pada bagian surat keputusan dari pihak Bank.

Naura mengambil kertas itu dan membacanya baik – baik.

Lelaki tamu itupun menjelaskan perlahan agar wanita di depannya memahami situasinya, ”Jika selama 3 hari ini saudara Sandi tidak bisa menyanggupi perjanjian, maka mungkin ada aset dari beliau yang akan disita. Jika ada itikad baik mungkin tidak semua akan disita oleh pihak Bank. Itu semua tergantung kerjasama yang baik dari saudara Sandi.”

Lelaki itu mengakhiri penjelasannya. Waktu yang diberikan oleh pihak Bank adalah selama 3 hari dan Sandi harus memiliki itikad baik.

Sandi sendiri susah dihubungi dan susah ditemukan hingga sekarang. Pihak Bank kerepotan ketika menghubungi dan menemukannya.

Tiga aset milik Sandi juga dijadikan jaminan untuk pinjaman yang cukup besar. Dari mulai pabrik, rumah terbarunya yang ditinggali sekarang dengan Firla dan rumah yang ditinggali Naura.

Naura memahami sekarang bagaimana proses semuanya, dulu dia tak mengerti jadi hanya banyak diam. Kini, dia semakin mengerti kenapa Sandi juga tak datang ke rumah dalam waktu lama. Mungkin, suaminya tengah memikirkan permasalahan ini dengan sangat sulit.

Sandi juga tak menceritakan apa – apa kepadanya, mungkin dirinya sudah tidak seperti seorang isteri yang mengerti akan dirinya.

Inilah nasib yang harus ditanggung oleh Naura sekarang, semuanya berada di ujung tanduk. Apakah suaminya juga bisa menyelesaikan masalah ini atau tidak. Naura pun memberitahukan kepada dua lelaki tamunya itu untuk memberi waktu, dia akan menemukan suaminya atau berusaha menghubunginya.

Kedua orang itu pun menjelaskan kalau mereka hanyalah menjalankan tugas dari atasan mereka. Mereka pun pamit dan memohon maaf jika dalam bertamu ada kesalahan.

Perginya kedua tamu dari utusan bank itu langsung membuat Naura lemas kembali. Belum selesai satu kasus dirinya, kini muncul kasus yang lain yang membuatnya semakin berpikir keras.

Ujian baginya masih dimulai. Lalu, dia mengingat Adam kali ini. Andai saja... dulu... namun Naura segera menepis perasaan khayalnya itu. Kini semua sudah terjadi, dan dirinya kini harus menghadapi akibat dari perbuatannya dulu yang sudah membuat Adam sakit, kini dirinya benar – benar merasakan akibat dari perbuatannya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!