Naura
61. Apakah Kamu Mencintaiku?
Hotel semakin ramai, salah satu penyebabnya adalah menu makanan yang enak yang dimasak oleh pak Firman. Pak Firman merasa bersyukur karena kini dia sudah pasti mendapatkan pendapatan dan tak perlu bingung untuk membayar angsuran rumah dan juga sekolah putri – putrinya.
Putri yang pertama sudah hampir selesai dan hanya tinggal wisuda saja. Biaya wisuda dapat terbayarkan.
Pak Firman semakin bersemangat dan dia pun memberi semangat kepada kedua puterinya untuk terus sekolah dan memiliki cita – cita tinggi. Pak Firman pun selalu menceritakan soal Adam kepada kedua puterinya bahwa Adam adalah salah satu contoh orang yang mau bekerja keras dan kini memperoleh hasil dari usaha kerasnya.
Adam juga tidak pernah sombong dan selalu rendah hati. Dia lulusan pesantren dan terus bersekolah hingga perguruan tinggi.
Puteri pertama pak Firman adalah Nada dan puteri kedua masih sekolah menengah atas bernama Ratih. Keduanya sangat penurut dan bahkan sering membantu pak Firman dan Ibunya untuk membantu memasak makanan untuk menu di hotel Mata Air Surga.
Nada sendiri sudah pernah bertemu dengan Adam saat Adam datang ke rumahnya. Selepas ini dia juga sudah selesai kuliah, Nada ingin menemui Adam secara langsung dan ada keinginan untuk memintanya mengamalkan ilmunya dan dapat bekerja di Mata Air Surga. Entah di bagian mana, dia akan menurut.
Setidaknya untuk magang terlebih dahulu. Nada ingin mencari pengalaman dan dari rumah pun tidak jauh sehingga bisa mudah untuk pulang dan berangkat kerja.
Nada menjadwalkan ingin bertemu Adam dan meminta Ayahnya untuk membantu pertemuannya dengan Adam.
Adam memiliki daya tarik sendiri bagi Nada, orang yang patut dicontoh dan diteladani. Nada ingin belajar banyak hal dari Adam, seorang yang pernah terjatuh demikian dalam dan dapat bangkit untuk membuat perubahan besar bagi dirinya dan orang lain.
Semangat bekerja dan kegigihan itu adalah bagian dari kuliah yang sudah dipelajari oleh Nada. Dia mengambil kuliah jurusan manajemen di Fakultas Ekonomi. Nada ingin masuk ke manajemen Mata Air Surga setidaknya untuk magang terlebih dahulu tidak masalah baginya.
Pak Firman akan berusaha untuk membantu puterinya itu, dia akan bicara terlebih dahulu pada Adam soal keinginan puterinya itu.
Jika Nada dapat bekerja di Mata Air Surga tentunya itu tak jauh dari keluarga dan bisa berkumpul dengan orangtuanya. Tidak perlu jauh – jauh untuk mendapatkan pekerjaan jika ada yang dekat kenapa jauh.
Nada mengharapkan hal itu dan Firman akan mengusahakannya. Sepertinya, pak Firman harus mampir ke rumah Adam untuk meminta permohonan hal itu. Nada sudah lulus kuliah dan hanya tinggal wisuda, ijazah sudah ada dan tinggal bagaimana nanti keputusan Adam.
***
Malam hari. Adam tadi meminta izin pada Ibunya untuk pulang sedikit terlambat dan membawa kunci rumah. Jadi, ketika dia pulang dia bisa langsung masuk tanpa mengganggu Ibunya.
Adam mengunjungi beberapa tempat hingga sore hari, rasa lelahnya cukup berat. Dia pun mampir ke masjid hingga shalat Isya’.
Setelah isya’ Adam terasa lebih segar. Namun, dia tidak langsung pulang. Dia menuju taman di dekat Danau Kenanga. Suasana di taman dan dekat Danau saat malam cukup sepi. Dia sendiri melihat ke langit, kerlip bintang demikian indah juga ada bulan yang tak sempurna bulat.
Indah sekali malam ini. Angin semilir pun menambah kesyahduan malam. Adam duduk di sebuah bangku yang diukir indah dan bersantai di bawah sebuah pohon besar.
Adam pun merenung, sudah banyak hal yang dilalui Adam. Dia pun menekuri dan mengenang kehidupannya sendiri selama ini. Kehidupannya sudah tak sebentar di dunia, harusnya dia mulai melakukan hal yang bisa membuatnya bahagia dan tenang.
Namun, kadang kesepiannya pun melanda. Dan itu terjadi kadang tiba – tiba, padahal ada Ibunya namun perasaan kesepian itu kadang muncul begitu saja. Seperti malam ini, tiba – tiba dia merasa kesepian. Adam pun berdzikir perlahan dan menyebut nama Tuhannya.
Perasaannya jadi lebih tenteram, fase usianya adalah memang untuk menikah dimana dia membutuhkan seseorang yang bisa membuat hatinya tenang.
Saat masih menikmati suasana, hp Adam berdering. Adam kaget dan melihatnya, apakah telepon atau hanya pesan. Ada chat masuk, dari Diandra ternyata. Ada apa malam – malam begini?
”Kenapa kamu sendirian di taman?” chat pesan dari Diandra.
Adam pun kaget, darimana dia tahu kalau Adam duduk di taman. Adam pun mencoba memutar kepalanya, ke kanan dan ke kiri, lalu ke belakang dan lurus di depan. Semuanya terlihat biasa, memang ada orang yang masih menikmati indahnya malam. Tapi, tidak ada Diandra di sekitarnya.
Pesan lagi masuk ke hanphone Adam.
”Mencoba mencariku?” Chat Diandra lagi.
Adam masih kebingungan. Dia pun memencet beberapa huruf dan membalas chat dari Diandra.
”Kamu dimana? Kenapa bisa tahu aku di taman?”
Diandra membalas pesan lagi, ”Kamu pikir aku tak bisa merasakan dirimu dimana?”
Adam diam saja membaca chat pesan tersebut. Dia bilang bisa merasakannya, ada – ada saja. Namun, benarkah demikian, apakah sebesar itu perasaan Diandra hingga bisa merasakannya?
Adam pun kembali melihat hanphone-nya dan memencet huruf kembali.
”Jika kau tak sibuk, datanglah kesini. Malam ini bintangnya indah. Aku akan menjawab pertanyaanmu.”
Adam menutup handphonenya. Dia kembali duduk dan menatap langit, malam yang cukup dingin dan indah. Entah bagaimana Diandra bisa tahu dirinya di taman. Namun, beberapa menit kemudian seseorang datang dengan jaket yang cukup tebal. Itu Diandra, mungkin dia kedinginan.
Adam pun berdiri sejenak dan menatap arah datangnya Diandra, mereka saling tersenyum.
Diandra mendekat dan Adam memintanya untuk duduk, Adam pun mengikuti duduk. Jarak mereka cukup jauh, sekitar satu meter. Tidak seperti pasangan kekasih yang biasanya tak berjarak.
”Malam ini indah bukan?” Adam menatap langit kesunyian memang tak mengenakkan jika dilanjutkan berlarut – larut.
Diandra diam sejenak, dia menatap wajah Adam dari samping. Diandra pun tersenyum, ”Katakan padaku Adam, kenapa kamu menyendiri disini? Apa kau kesepian?”
Adam menatap Diandra sejenak, ”Aku akan menjawabmu setelah kamu menjawab pertanyaanku. Dari mana kamu tahu kalau malam ini aku di taman?” Adam masih penasaran.
Terdengar suara tawa lembut dari Diandra, ”Baiklah..., kamu mau jawaban yang jujur atau jawaban asal ini Adam?”
”Tentu saja jawaban yang benar Diandra, awas kalau kamu berbohong.”
Adam sedikit kesal dari nada bicaranya, dan itu tidak membuat Diandra takut melainkan malah semakin tertawa pelan. Senyuman diandra dan tawanya yang lembut itu membuat jantung Adam sedikit berdebar. Debaran halus yang tiba – tiba menyelimuti seluruh tubuhnya.
Mungkin, Adam sudah merasakan bahwa kehadiran Diandra amat berarti baginya. Dari suaranya saja, membuat Adam mulai tergetar hatinya. Ini mungkin cinta kedua bagi Adam, tak tahu apakah ini cinta yang lain selain cintanya pada Naura? Atau Adam sudah bisa melupakan Naura dan menggantikan tempat di hatinya kini untuk Diandra.
Diandra tersenyum kecil lagi, ”Aku tadi menelpon Ibumu, katanya kamu pulang agak malam. Aku cek ke semua tempat, katanya kamu pulang saat maghrib. Jadi aku mencoba meneropong dari lantai atas mobil setelah Isya’. Dan, aku menemukanmu disini.”
Diandra merasa menang dengan semua itu. Adam pun terkecoh, bahwa Diandra memang mencarinya dan menemukannay disini.
”Dasar kau Diandra, kamu memang wanita yang cerdas untuk menjadi seorang intelijen.”
Mereka berdua pun tertawa bersama sambil menatap bintang yang gemerlapan bergantian berkedip dari satu bintang ke bintang yan lain.
”Baik, aku sudah berkata jujur padamu. Sekarang jawab pertanyaanku Adam,” Diandra mulai terlihat berbicara serius. Kali ini, dia menekankan ucapannya dengan pelan dan tegas, ”Apa kamu memikirkan persoalan tadi siang?”
Adam pun mendesah perlahan, mencerna pertanyaan dari Diandra itu, ”Aku mencoba memikirkan jalan takdirku di masa depan. Mencoba menguak rahasia apa yang disimpan untukku. Namun, aku seolah tak menemukan jalanku untuk maju. Jadi, mungkin aku putuskan untuk mengalir seperti air saja. Seperti air Danau Kenanga yang tenang tetap jernih, apapun yang terjadi.”
Adam mendesah pelan, Diandra juga mendengar desahan berat dari Adam tersebut.
”Adam,” Diandra menatap Adam dalam – dalam, ”Pernahkah terpikir bahwa kebahagiaanmu sendiri itu penting? Kamu selalu ingin tampil baik dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Tapi, aku melihatmu lupa bahwa kamu sendiri butuh kebahagiaan itu. Kamu seperti seekor burung.
Seekor burung yang terbang mereka merasa bebas. Dengan sayapnya mereka bisa melakukan apapun dengan terbang kemanapun. Sayangnya, kamu terbang sendirian dan merasa kesepian Adam.”
Diandra menunduk dan Adam seolah berpikir dalam pada perkataan Diandra barusan, seolah mengena dan membuatnya tak bisa membantah.
Sebebas – bebasnya Adam dalam bertindak, dia sangat kesepian dan itu kadang menyela di relung jiwanya. Dia punya Tuhan namun perasaan ingin berkomunikasi dengan seseorang itu juga dibutuhkan. Seorang Ibu bisa menjadi seorang teman bicara yang dibutuhkan namun itu beda hal dengan sosok yang bisa bergandengan tangan bersama menghadapi semua ujian kehidupan.
”Jangan pernah menganggap dirimu mampu melakukan banyak hal sendirian Adam, karena itu bisa menghancurkan dirimu sendiri,” Diandra kembali berujar, meski suara lembut itu cukup membuat kritikan pedas pada pendirian dan keteguhan Adam yang dia pegang selama ini.
”Apa yang kamu ucapkan memang benar Diandra, aku tersesat di persimpangan keegoisanku sendiri. Dan, saat aku sedih dan merasa sepi, aku akan mencoba menenangkan diriku sendiri dan itu yang akan terus aku lakukan untuk bertahan hidup.”
Diandra mendengarkan Adam dengan seksama, kasihan Adam, dia seperti terpenjara oleh ketidakberdayaannya. Dia tak berani melawan karena kekangannya itu sangat kuat. Janjinya telah melebihi kemampuannya untuk melawan, dia menyerah dan menjalani hidupnya dalam kekangan itu. Meskipun dia ingin keluar dari kekangan namun dia tak mampu melepaskan belenggu tersebut.
”Adam... pandanglah wajahku sejenak.”
Permintaan Diandra itu cukup aneh, Adam pun seolah refleks dan kepalanya bergerak meskipun itu berat. Namun, Adam pun memaksakan kepalanya untuk melihat wajah indah Diandra. Di timpa sinar rembulan yang tak sempurna bulat, wajah itu bersinar seperti rembulan yang begitu indah.
Wajah pualam yang mampu menyihir hati Adam, dalam keremangan malam itu Adam tersenyum melihat wajah cantik Diandra.
Diandra pun menatap kedua mata Adam dengan seksama, ”Adam..., katakan padaku dengan jujur. Apakah kau mencintaiku?”
Pandangan mereka bertemu, beberapa lampu yang di taman turut memberi cahaya dari masing – masing sisi. Sinar rembulan meskipun tak benderang membayang tatapan mereka berdua, gelap memang menyapa namun keduanya seolah sepasang mata yang ingin meyakinkan satu sama lainnya.
”Katakan padaku Adam, apa kau mencintaiku? Jawabanmu ini akan menentukan segalanya bagiku, bagimu dan bagi masa depan orang lain di sekitar kita,” Diandra benar – benar membutuhkan jawaban sebenarnya dari Adam, dan dia sudah mempersiapkan diri dengan semua jawaban yang akan diberikan Adam.
Di sisi lain, Adam juga merasa tak berdaya dengan sumpah yang sudah diucapkannya kepada Naura. Bukan malu tak bisa menepati pada Naura, melainkan sumpah itu benar – benar dia sumpahkan kepada Tuhannya, Allah.
Lalu, bagaimana Adam harus bertindak selanjutnya setelah ini? Apa tidak hanya memberi harapan palsu kepada Diandra jika dia mengatakan cinta sedangkan dia tak bisa berbuat banyak untuk cinta itu dan tak bisa melindungnya?
Apakah ucapan cinta semata itu cukup membahagiakan orang yang dicintainya? Itu mustahil dalam sebuah ikatan. Mengatakan cinta berarti rela bersama dan berkorban serta menerima segala kelebihan dan kekurangan. Jika cinta hanya diucapkan lalu ditinggalkan begitu saja, itu sama saja hanya meninggalkan luka.
”Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu Diandra, jika aku menjawab maka semua jawabanku akan salah. Di satu sisi benar namun salah dan di satu sisi salah tapi benar. Lalu, aku harus berbuat apa Diandra?”
Diandra memutar tubuhnya perlahan, dia menatap rembulan kembali. Sudah diduga oleh Diandra, Adam benar – benar terpenjara dalam kekangan yang sulit dia lepaskan.
Seperti tahanan yang ingin bebas, namun gembok jerujinya sudah tak bisa dibuka atau kuncinya sudah dilemparkan dan hilang.
Dia kehilangan tujuan dan harapan untuk mencintai orang lain, dia seperti mayat hidup yang berjalan. Karena siapapun yang hidup tanpa cinta itu sama saja kematian itu sendiri.
”Baiklah, sekarang jawab saja pertanyaanku. Apa kau mencintaiku Adam? Dan, jawab saja dengan jujur, jangan kau pikirkan bagaimana cinta itu akan musnah atau tumbuh!”
Tegas, dan ketegasan Diandra itu membuat Adam lemas tak berdaya.
”Aku... Aku mencintaimu Diandra, aku menemukanmu dalam kegelapanku dan aku merasa bahwa kau dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkan lukaku.”
Adam menatap Diandra, itu yang keluar dari dalam lisannya. Diandra memaksanya untuk mengungkapkan apa yang menjadi keluh dan rahasianya selama ini. Adam tak lagi berpikir akan apa yang terjadi selanjutnya setelah dia jujur. Dia hanya ingin Diandra kini tahu, itu saja.
Diandra tersenyum pelan dan matanya kembali dari pandangan ke Adam dan kini menatap rembulan. Senyumnya mengembang dan kedua kakinya bergantian ke depan dan ke belakang, berselingan dengan kaki kanan dan kaki kirinya.
Hatinya berdendang riang, rindu yang bertemu dan membuncah penuh haru, senyumnya pun semakin merekah, semerekah bunga mawar dari kuncupnya setelah sekian hari menunggu mekarnya.
Itulah hati Diandra saat ini, entah kenapa tak ada keraguan lagi dalam hatinya soal masa depan.
Bahagia hatinya membuncah, lebih bahagia lagi dan persis seperti detik dimana dirinya bisa melihat dan bisa berjalan. Hari ini seperti hari itu, dia sangat bahagia dan bahkan seolah rembulan di langit sana bisa dicapainya dengan tangannya dan dikenakan mahkota di kepalanya.
Seperti mimpi indah yang menjadi kenyataan.
Adam sendiri menjadi heran, padahal dia merasakan kalau jawabannya barusan akan membuat Diandra kesusahan karena jika dua orang saling mencintai tapi tidak bisa bersatu bukankah itu sebuah penderitaan panjang?
”Sebenarnya..., apa yang terjadi padamu Diandra? Kenapa kamu menanggapi jawabanku begitu ringan? Padahal bagiku itu adalah sebuah malapetaka. Jawabanku akan menghancurkanmu jika kamu mencintaiku juga.”
Adam merasa bingung karena Diandra malah terlihat bahagia dengan senyumannya yang begitu indah. Meski begitu itu amat membingungkan bagi Adam sendiri.
Kali ini, Diandra menatap Adam begitu sejuk dan indah, ”Adam..., tahukah kamu bahwa kamu memiliki janji dengan Tuhanmu. Dan aku juga memiliki janji dengan Tuhanku.”
Angin berhembus, taman pun mulai sepi karena malam mulai larut dan anak – anak sudah pulang ke rumahnya masing – masing. Mereka mulai diajak pulang oleh orangtuanya untuk beristirahat demi kesehatan dan hari esok untuk memulai titah hari baru lagi.
Diandra mengingat janjinya saat datang ke rumah Adam dahulu, saat matanya buta dan kakinya lumpuh. Saat itu dunia seperti sempit dan seperti kehidupannya hanya di kamar saja. Luasnya dunia seperti sepetak kamarnya yang selalu ditempatinya. Saat itu, keputusaasaan dan kegelapan adalah teman bagi kesendirian Diandra.
Maka, saat bertemu Adam dan bahwa airmatanya bisa menyembuhkan penyakit. Dia bersumpah di hadapan Ibunya dan tentu saja sumpahnya ditujukan pada Tuhan. Dia akan menikahi orang yang itu, yang mampu menyembuhkannya, Adam.
”Sumpahku adalah menikahimu Adam, jika aku bisa sembuh. Aku bersumpah dengan kesadaran penuh, namun dengan berjalannya waktu sumpah itu memang harus diucapkan karena aku melihat kepribadianmu dan bahagia dekat denganmu. Janjimu yang dalam kalau kamu akan menikah dengan Naura, maka itu juga sumpahmu karena cintamu yang demikian besar pada Naura.
Kamu terpenjara oleh janjimu dan aku juga terbelenggu oleh janjiku. Kita sama – sama orang yang terpenjara di dunia cinta Adam.”
Adam mendengarkan penjelasan dari Diandra, dia juga menyadari bahwa Diandra pernah bersumpah bahwa jika bisa sembuh saat itu dengan airmatanya maka dia bersumpah akan menikahi Adam.
Kini..., Adam semakin bingung dengan penjelasan Diandra tersebut. Jika keduanya sama – sama terhalang oleh janji dan sumpah mereka. Lalu, bagaimana mereka harus menyelesaikan semua ini?
”Jadi..., apakah kita ditakdirkan sebagai orang yang akan nelangsa hingga ujung akhir kita nanti Diandra?” Adam menatap wajah pualam milik Diandra, wajah itu begitu indah disorot lampu rembulan malam.
”Tidak seperti itu Adam..., kadang orang cerdas memiliki celah dalam dirinya hingga dia terlihat tak sempurna. Karena memang hanya Allah yang maha sempurna. Kita harus melihat sumpah kita, maka kita tak akan melanggarnya. Dan, aku bahagia dengan semua ini, malam ini kita akan mencatat sejarah hidup kita Adam.”
”Maksudmu apa Diandra? Aku tidak mengerti, bagaimana kamu bisa terlihat bahagia dan tersenyum dalam hal seperti ini? Kita akan menderita di masa depan, dan bagaimana kamu bisa bertahan dengan sumpahmu itu?”
Adam semakin penasaran, kali ini dia benar – benar dibuat bingung oleh Diandra. Biasanya dia yang selalu membuat orang lain berpikir keras, namun kini dialah yang berpikir keras untuk merangkai maksud dari Diandra.
”Kamu jangan berpikir terlalu keras Adam, hidup itu harus dinikmati bukan?”
Adam sekarang yang jadi agak kesal dengan maksud Diandra.
”Sudah, kamu jangan buat aku bingung lagi Diandra. Kamu sudah membuatku sulit, kalau kamu tidak menjelaskan aku akan melemparmu ke danau sekarang juga. Cepat jelaskan maksudmu Diandra!”
Adam tegas dan terlihat kesal, hal itu membuat Diandra semakin tertawa kecil. Apa baginya semua ini lucu? Adam semakin tidak mengerti.
”Diandra, aku mohon jelaskan...”
Kalimat Adam terhenti begitu saja, dia berhenti bicara karena Diandra memberikan secarik lembaran kepada Adam. Adam bingung dengan tindakan Diandra, dan Diandra masih melihat rembulan sambil menyerahkan lembaran kecil tersebut. Adam menerimanya dan melihat tulisan di lembaran itu.
Ini ???