Naura
63. Nada Naura
Adam duduk di kantornya, dia sedang memberesi beberapa hal dan melihat beberapa catatan – catatan.
Ada beberapa perjanjian baru dan Adam juga harus menandatanganinya, sebelum tanda tangan, dia akan mengecek terlebih dahulu semua poin dalam kesepakatan jangan sekedar tanda tangan karena itu bisa berbahaya tanpa kita mengetahui maksud poin yang ada dalam surat perjanjian.
Adam juga melihat banyak hal terutama laporan dari setiap bidang usaha dan juga seluruh bisnis usaha dari Mata Air Surga.
Di samping itu, dia sedang menunggu pak Firman. Bukan untuk urusan bayaran atau apapun, melainkan karena pak Firman ingin menghadap pada Adam karena ada sesuatu hal.
Adam menyanggupinya, dia ingin bertemu di rumah saja namun Pak Firman mengatakan ini urusan bisnis jadi dia ingin di kantor pusat Mata Air Surga saja. Adam pun mengiyakan dan sudah menunggu sejak pagi tadi.
Meskipun mereka janjian pukul 09 pagi, namun Adam juga harus mengerjakan banyak hal jadi dia datang lebih awal. Beberapa lembaran ada yang belum detail tentang poin kerjasama sehingga Adam meng-cancel dan memberitahukan kepada asistennya untuk mempertanyakan ulang poin yang belum selesai dan ditandai oleh Adam.
Beberapa menit kemudian, kantor Adam kedatangan tamu. Dia adalah pak Firman dan seorang wanita. Sepertinya Adam masih ingat siapa itu, dia adalah putri dari pak Firman.
Adam pun meminta pak Firman untuk masuk ke ruang tamu saja yang lebih luas dan suasananya juga lebih nyaman.
Jadi, tidak ada istilah seperti bos dan anak buah, melainkan rekan atau sahabat saja. Adam mempersilakan pak Firman dan puterinya itu duduk dan mereka saling bertegur sapa dan basa – basi terlebih dahulu.
Pak Firman semakin kagus pada sosok Adam yang mampu memanajemen daerah sekitar Danau Kenanga yang dulu hanya belukar dan dipenuhi pohon besar dan perkebunan. Kini disulap dengan banyaknya bangunan dan usaha serta perumahan.
Bahkan, tempat ini sekarang sangat ramai karena banyak orang yang ingin sekedar mencari hiburan bisa datang ke Mata Air Surga dan di dalamnya sudah lengkap hendak liburan seperti apapun.
Manajemen yang dilakukan Adam menurut pak Firman tentu bukan sembarangan karena semua tertata dengan rapi. Mulai dari penataan tata letak usaha hingga jalan utama dan ada gang yang disiapkan untuk mobilitas Mata Air Surga agar lebih mudah dijangkau dan tidak masalah dengan kendala lokasi setiap usaha.
Minuman datang, OB sudah siap dengan senyumannya sambil menaruh minuman di meja mereka.
”Silakan Pak, mbak dan pak Adam,” ucap Eko dengan senyumannya, OB Eko memang sangat ramah pada siapapun. Dia pun betah berada di Mata Air Surga karena tempat kerjanya nyaman dan saling menghormati sesama pekerja.
”Iya mas Eko, kamu sudah minum teh belum?” Kini, Adam yang giliran menanyai Eko yang masih berdiri memegang nampan menuman tadi.
”Sudah Pak,” begitu jawaban Eko sambil pamitan balik lagi ke belakang. Adam mencoba akrab dengan siapapun, hal ini akan memicu kenerja mereka semakin baik karena mereka merasa dianggap dan dijadikan bagian dari usaha yang sedang digeluti bersama.
Adam juga mempersilakan kedua tamunya itu untuk minum teh sambil bicara santai.
Setelah cukup lama, pak Firman mengungkapkan alasannya datang ke kediaman Adam di tempat kerja ini. Tak lain tak bukan adalah soal puteri pertamanya yang sudah lulus kuliah.
Ketimbang mencari pekerjaan yang jauh dari orangtuanya, wanita itu atau Nada namanya ingin bekerja di tempat Mata Air Surga. Entah di bagian mana saja, Nada akan siap ditempatkan selain itu juga jika memang belum dibutuhkan maka puterinya itu bisa untuk magang terlebih dahulu untuk mencari pengalaman kerja.
Nada hanya menunduk dan mendengarkan suara bapaknya yang terus menceritakan keinginan mereka datang kemari.
Adam pun menanyakan Nada tentang kuliah yang diambilnya dan jurusan apa. Dengan terbata namun akhirnya bisa menguasai dirinya. Nada menceritakan soal kuliahnya di Prodi Ekonomi jurusan manajemen.
Adam ingin mendengarkan penjelasan dari Nada sendiri tentang tujuan bisnis dan juga manajemen yang dihadapi oleh sebuah perusahaan dan dunia usaha.
Adam ingin mendengar langsung dari puteri pak Firman tentang apa yang dipahaminya dalam bisnis. Biasanya, mereka yang baru lulus kuliah belum praktek selalu bicara idealisme atau bahkan melulu keuntungan semata.
”Apa yang ingin kamu lakukan di Mata Air Surga jika kamu bergabung disini Nada?” Adam bertanya langsung pada Nada. Nada pun diberikan kode oleh Adam untuk menjawabnya sendiri.
Mereka masih duduk di ruang depan kantor, sejuk dan banyak ikan serta hiasan hijau bunga dan tanaman lainnya.
Pak Firman pun memberi kode pada Nada untuk bicara sendiri, ini adalah kesempatannya. Jalan masa depannya harus dilakukan sendiri.
Nada pun berdehem sebentar, Adam menunggu penjelasannya. Mungkin grogi karena ini pengalaman pertamaanya hendak melamar pekerjaan. Bahkan, ini terkesan interview meskipun santai suasananya.
”Saya akan menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan peraturan yang ada di Mata Air Surga. Selanjutnya, saya akan berusaha bekerja yang terbaik setelah ditetapkan masuk di divisi yang mana,” Nada menjelaskan cukup jelas dan juga cukup terang. Dia mampu menguasai pembicaraan dan komunikasi dengan baik.
”Saya akan belajar banyak hal dan juga sebisa mungkin mengerjakan yang terbaik pada bagian saya. Jika ada ide bagus maka saya akan segera sampaikan kepada atasan saya karena usaha tanpa inovasi maka sama saja siap untuk digusur dengan usaha baru yang lainnya.”
Cukup panjang lebar dan Adam puas dengan penjelasan dari Nada.
Adam pun menghentikan penjelasan panjang dari Nada dengan memberi kode melalui tangan kanannya. Nada pun menghentikan penuturannya, itu diucapkannya natural karena dia terus belajar tentang manajemen bisnis yang merupakan studi kuliah yang diambilnya.
Meskipun teori banyak tapi praktek tetap berbeda dan pasti akan menemui banyak hal dari semua teori. Namun, teori itu menggambarkan apa yang terjadi dalam praktek jadi tentu saja itu sangat penting dan bermanfaat.
Nada tersenyum setelah menjelaskan tentang apa yang akan dilakukannya jika masuk ke Mata Air Surga. Jilbab hijau mudanya nampak anggun dikenakannya. Pak Firman mengajari anak – anaknya dengan baik soal agama dan akhlak mereka.
”Apakah Nada membawa curiculum vitae untuk saya masukkan ke dalam projek manajemen personalia? Jika belum, besok juga tidak masalah ya.”
”Jadi..., puteri saya diterima disini Mas?” pak Firman tampak gembira.
Adam pun tersenyum, ”Tenang saja pak Firman, saya akan berusaha untuk memasukkan Nada ke dalam salah satu divisi yang tepat untuknya. Sekalian untuk dia belajar dan mencari pengalaman. Saya juga perlu melihat divisi apa yang kosong sehingga Nada bisa masuk disana.”
Mereka saling tersenyum dan pak Firman pun puas.
”Saya bawa kok Pak,” Nada mengambil sesuatu dari tasnya, dia mengeluarkan map yang dimasukkan dalam tas punggungnya.
Nada memberikan map dan isinya itu kepada Adam, dia berdiri sebagai bentuk kesopanannya. Adam pun menerimanya. Setelah melihat sejenak, dia mengangguk dan akan segera memprosesnya. Nanti, dia akan mengabarinya jika sudah ada kabar dari semua divisi.
Pak Firman sekali mengucapkan terima kasih pada Adam dan juga Nada sangat senang dan juga berteri kasih. Nada semakin mengerti bagaimana sikap seorang yang benar – benar mengerti akan bisnis yang baik. Dia sangat kagum pada pak Adam, dimana dia bisa bicara dengan leluasa pada siapapun meskipun dia membawahi banyak usaha.
Kekaguman Nada itu juga mungkin terasa aneh di hati Nada sendiri. Ada rasa ketertarikan yang muncul dari Nada, entah karena sebagai seorang yang kagum atau perasaan yang lain.
Pak Firman dan Nada pun pamitan pada Adam. Mereka pun pergi. Seperginya mereka, Adam membawa berkas itu yang masih terbuka di meja belum ditutupnya. Dilihatnya sejenak fotokopi KTP milik Nada tersebut.
Mata Adam membulat agak kaget, nama dari puteri pak Firman itu adalah NADA NAURA.
Kenapa bisa ada nama Naura lagi? Batin adam menjadi merasa aneh. Naura dan Naura, dan ini Naura lagi. Adam tak mau berpikir panjang lagi dia harus bisa melupakan nama itu. Tapi, Diandra Naura juga sebentar lagi akan menjadi isterinya bukan?
Mungkin dua hari ini, Adam akan ke ibukota untuk bertemu kedua orangtua Diandra. Diandra sendiri sudah pulang duluan tadi pagi.
Ketika akan pergi, seorang pegawai datang menemui Adam.
”Pak, ada yang ingin bertemu katanya sebentar saja.”
Adam jadi berpikir siapa tamunya kali ini. Bukankah tidak ada janji sebelumnya, namun Adam ingin melihatnya kata pegawai itu tamunya mengatakan bahwa ini sangat penting. Adam pun menyuruh pegawai itu untuk meminta tamunya masuk di ruangan depan itu saja.
Beberapa menit kemudian, seorang lelaki datang dengan senyumannya. Adam mengingat – ingat siapa orang itu. Merasa pernah bertemu tapi entah dimana dan kapan. Tapi memorinya cepat berputar.
”Anda?”