Naura
68. Hanya untuk Adam
Adam sudah tahu apa yang terjadi dan dia sudah mendapatkan kabar soal kecelakaan maut yang menimpa Sandi dan isteri keduanya. Namun, Adam kaget karena mendapatkan kabar bahwa bayi lelaki yang bersama mereka selamat. Itu adalah sebuah keajaiban.
Bayi kecil itu tak bisa tidak, membuat Adam untuk segera menggendongnya. Bayi yang tidak tahu apa-apa dan sudah kehilangan kedua ibu dan ayahnya. Adam mencoba menyunggingkan senyumannya pada bayi lelaki yang masih menangis itu. Bayi itu memahami, dia menatap Adam dengan pandangan bersinar. Dia diam dan menatap kedua mata Adam.
Hingga, Naura dan ayahnya datang. Mereka melihat Adam yang menggendong bayi kecil itu dan duduk di kursi di koridor rumah sakit.
”Hai... Sayang,” Naura menyentuh kulit bayi tersebut, matanya berkaca melihat bayi selucu itu harus terpisah dari kedua orangtuanya.
Bayi laki – laki menggemaskan itu masih dalam dekapan Adam, Naura membungkuk dan jemarinya menyentuh pipi bayi tersebut. Tanpa terasa, airmata Naura pun jatuh perlahan hingga ke pipinya.
Wajah Naura dan wajah Adam cukup dekat walaupun mereka tak saling bertatapan. Keduanya sama – sama melihat wajah lucu dan tidurnya bayi lelaki yang masih dalam dekapan Adam.
Seorang anak yang harus ditinggal kedua orangtuanya saat dia masih kecil. Lelaki kecil yang akan selalu dalam penjagaan Tuhan karena dia tak lagi memiliki orangtua kandung. Takdir yang membuat seorang anak kecil harus hidup seorang diri tanpa merasakan kasih sayang kedua orangtua kandungnya.
Begitulah takdir, adanya hanyalah untuk dihadapi dan musibah sebesar apapun hanyalah ujian bagi setiap manusia. Siapa yang paling bisa bersyukur dan menerima segalanya, maka mereka adalah orang-orang yang akan dimulyakan Tuhan.
”Takdir sudah mencampakkan kita semua Adam. Entah bagaimana Tuhan membuat rencananya pada kita,” ucap lembut Naura.
Sedikit memelankan ucapannya, Naura masih saja menggoda bayi kecil itu. Matanya pun basah, takdir memang seolah mempermainkan nasib manusia, namun seyogianya itu semua adalah jalan yang harus ditempuh manusia.
Adam mendongak melihat atap langit – langit lorong rumah sakit tersebut. Pandangannya nampak kosong dan mendengarkan seksama perkataan Naura barusan.
”Kita dipertemukan kembali dalam kondisi yang benar – benar berbeda Naura. Mungkin, ini adalah jalan yang harus kita pilih. Jalan yang harus kita lalui. Namun, semua akhir dari kisah ini, kita masih belum bisa mengetahuinya.”
Adam pun mendesah, dia bergerak dan menyerahkan bayi mungil itu dalam dekapan Naura. Naura pun menyambut bayi yang mulai terlelap dalam tidurnya. Mata mereka pun bertatapan sejenak, dan mereka dua saling tersenyum meskipun ada airmata yang membasah pada mata mereka.
”Selamat tinggal Naura, Assalamu’alaikum,” suara Adam sedikit serak dan pelan.
Naura menggendong dan memposisikan agar pegangannya pada bayi itu sempurna. Dia pun menjawab salam dari Adam dan Adam pun meninggalkannya di lorong itu. Adam terus berjalan pergi dan melewati Hasan yaitu ayah dari Naura.
Hasan pun teringat bagaimana dia dulu mencampakkan Adam saat di Danau Kenanga dan menyebutnya lelaki miskin. Menyadari bahwa Adam telah melunasi hutang – hutangnya dan tak menyimpan dendam dia pun menyatukan kedua telapak tangannya di dadanya.
Saat Adam melewati Hasan, mata mereka pun tertemu.
”Maafkan aku Adam, semua yang terjadi...”
”Sudahlah Pak! Tak masalah,” Adam hanya tersenyum sambil melihat pak Hasan, ”Selama kita sudah menyadari kesalahan yang kita perbuat, kita masih bisa bertaubat. Semoga di masa depan, kita menjadi orang yang lebih baik, amin,” Adam juga menangkupkan kedua telapak tangannya.
Mereka saling menunduk dan Adam pun meninggalkan mereka berdua di lorong itu. Sementara, kedua mayat baik Sandi maupun Firla sudah dibawa oleh masing – masing keluarganya untuk dimakamkan.
Adam berkelok dan hilang dalam pandangan Naura dan pak Hasan. Adam melangkah dan pergi, dalam hatinya ada kecamuk luar biasa yang menjadi perang batin.
Kenapa, saat dirinya sudah bisa melupakan Naura dan akan menikah dengan Diandra hal ini terjadi? Kenapa dirinya kembali ragu dan tiba – tiba berharap bahwa segalanya dimulai awal lagi seperti dulu.
Saat dirinya hanya memiliki Naura di sampingnya. Lalu..., bagaimana perasaan Diandra dengan kondisi saat ini? Adam pun bimbang tentang hal ini. Dia pun terus berjalan dan mengucapkan istighfar dalam hatinya.
Adam hanya manusia biasa, dia hanya bisa menyerahkan segalanya pada Allah. Tentang apapun yang akan terjadi, Adam akan menjalaninya. Tidak boleh berandai, dan tidak boleh menerka masa depan. Semua atas kehendakNya dan kehendakNya adalah yang terbaik.
Adam yakin akan hal itu.
***
Langkah kaki Adam sudah tak terlihat lagi. Naura merasa tubuhnya gemetar sekaligus sedih.
Kesedihan karena kehilangan mantan suaminya yang tiba – tiba meninggal, meskipun kesedihan itu tidak berlebihan karena sebelumnya Sandi sudah membongkar siapa dirinya dan selama ini hanya membuatnya sebagai mainan semata.
Namun, kesedihan yang paling dalam adalah ketika Adam yang dulu ditinggalkan dan dicampakkan. Naura juga tidak berani berharap pada Adam berlebihan karena dia sudah merasa dirinya tak pantas untuk Adam.
Dirinya merasa kotor dan hina sekarang. Dulu, mereka bahkan saling mencintai seperti langit dan bumi yang tak pernah terpisahkan. Atau..., Naura menatap dengan kesedihannya. Atau seperti langit dan bumi yang memang selalu bersama dan hanya saling menatap, namun tak pernah bersama.
Mungkin itulah hubungannya dengan Adam.
Naura kemudian menatap bayi lelaki kecil dalam dekapannya. Dia tertidur lelap dan wajahnya teramat tenang. Naura pun tersenyum, sungguh indah menjadi seorang bayi yang tak memiliki masalah dalam hidupnya. Masalanya hanya butuh minum susu dan kasih sayang.
Menjadi dewasa dan mengenal cinta, apalagi terluka karenanya. Sungguh sesuatu yang membuat jiwa menjadi tertawan karenanya.
Perjalanan Naura terbayang dari semua hal sejak dirinya kecil. Masa paling indah adalah ketika dirinya di hari Ahad dan bertemu dengan Adam. Meskipun tak melakukan apapun, disana dia benar – benar bahagia dengan segala kebersamaan bersama lelaki dekil dan lugu itu.
Itu dulu.
Adam bahkan tidak berubah, hanya saja dia kini bijak dan dewasa. Dulu yang selalu dikatakannya adalah kata – kata romantis dan gombal serta selalu melucu untuk Naura.
Semuanya berubah sekarang dan Naura merasakan kalau semakin lama perubahan pun terus terjadi. Hingga, dia menyadari bahwa seluruh cintanya memang hanyalah untuk Adam. Sejak dulu dan hingga sekarang.
Dia bahkan berusaha keras untuk melupakan Adam dan mencintai suaminya Sandi. Namun, karena sejak awal pernikahannya adalah sebuah paksaan maka seberapa kuatpun dia berusaha untuk mencintai Sandi, nyatanya semua itu gagal.
Dan, sekuat apapun dia berusaha melupakan Adam, hal itu malah membuat Naura semakin mencintai Adam dalam hatinya yang terdalam.
Kini, semuanya sudah berakhir untuk dirinya. Entah bagaimana Adam selanjutnya. Namun, satu hal yang menjadi keyakinan Naura saat ini. Dia tidak akan mencintai siapapun lagi di dunia ini kecuali Adam.
Dulu, ketika tiap Ahad, Adam selalu berjanji bahwa Adam tidak akan menikah kecuali dengan Naura. Dan sekarang, dia meyakinkan dirinya dan bersumpah atas nama Tuhannya.
Naura tidak akan mencintai lelaki manapun kecuali Adam. Itu hal yang dia ucapkan dengan sungguh – sungguh dan tanpa keraguan sama sekali.
Hal itu setelah Naura merenung dan melihat bayi mungil dalam dekapannya. Naura kini harus menanggung semua dosa yang dulu besar bagi seorang pencinta. Yaitu, mengkhianati cintanya.
Kali ini, untuk menebus hal itu. Naura berjanji bahwa cintanya seluruhnya hanya untuk Ada. Bahkan, Naura rela jika harus menjadi budak bagi cinta, menjadi budak bagi Adam ketika Adam menikah dengan orang lain.
Tak ada keraguan lagi dalam hati Naura, bahwa dia akan melayani Adam di seluruh sisa hidupnya.
Naura pun mencium kening bayi mungil nan lucu tersebut. Beberapa orang lalu lalang melewati Naura di lorong rumah sakit tersebut. Namun, tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam hati Naura, dan di sana, hanya ada cinta untuk Adam.
Hati yang penuh kecamuk dan bagaimana dia akan menjalani hidup di masa depan. Semua terasa hancur dan sulit untuk diterima. Cinta dan kehilangan, semuanya teramat tipis bagi makhluk hidup bernama manusia.
***
Adam terduduk di ruang makannya. Ibunya tahu bahwa Adam terlihat sangat gelisah. Halimah pun duduk di kursi di sebelah Adam dan memperhatikan wajah Adam dengan peci hitamnya.
Adam seperti merenung dan berenang dalam lautan khayalannya sendiri.
”Kau tak bahagia Adam, Puteraku...?” Halimah dengan seksama memperhatikan wajah puteranya dari samping kanannya.
Masih dalam keadaan kuyuh dan lemah. Adam memperhatikan kedua mata ibunya tersebut, hanya ada ketulusan di mata tersebut tak ditemukan ada yang lain disana.
Adam pun malam itu bercerita bahwa suami Naura sudah meninggal dunia dan dia meninggal bersama isteri keduanya. Sebelum meninggal, Adam juga bercerita kalau suami Naura datang menemuinya dan meminta uang Rp 5 Milyar untuk menebus hutang – hutang keluarga Naura.
Jadi, selama ini Naura menikahi Sandi karena demi menyelematkan keluarganya dari kehancuran.
Naura menikahi Sandi karena hutang 500 juta rupiah, Adam pun membayarkan hutang itu dan Sandi langsung menceraikan Naura. Sandi sendiri tidak mencintai Naura dan hanya demi kesenangan dan menganggap Naura sebagai budaknya saja.
Adam terlihat basah matanya, dia bercerita kenapa hal itu terjadi saat dirinya sudah bisa melupakan Naura dan mulai mencintai Diandra. Apa yang diinginkan Tuhan sebenarnya bagi kisah Adam, begitulah Adam berkisah hingga sang Ibu merasakan apa yang terjadi dalam gejolak hati puteranya itu.
Halimah menyentuh kedua tangan Adam dan menenangkannya, ”Jangan kau ragukan sedikitpun takdir dari Allah, Anakku. Ingatlah, kita ini manusia terkadang tidak mengetahui bahwa Tuhan memberikan apa yang terbaik untuk kita, bukan memberikan apa yang kita inginkan melainkan apa yang kita butuhkan.
Dan..., ikutilah kata hatimu. Karena hatimu itu tidak akan pernah mengkhianati dirimu.”
Pandangan mereka pun bertemu dan Adam larut dalam pelukan Ibunya. Sudah lama rasanya dirinya tak lagi memeluk ibunya kecuali saat kecil saja.
Ibu adalah orang yang paling mengerti putera – puterinya, apapun yang kau rahasiakan meskipun Ibu tak mengetahui kisahnya hanya saja kesedihan dan sakitnya seorang anak, seorang Ibu jauh lebih sakit merasakannya.
”Doakan anakmu ini kuat Ibu,” Adam pun meneteskan airmatanya.
”Selalu Adam..., Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
Malam pun terus beranjak. Namun satu hal yang Adam pahami sekarang adalah, bahwa esok hari akan datang, dan Tuhan mempersiapkan hadiah terbaik untuknya, selama dia sabar dan ikhlas menjalani hidupnya.
***
Pernikahan antara Adam dan Diandra tinggal hari lagi. Adam beres – beres pada semua pekerjaannya di Mata Air Surga. Diandra tentu saja menunggu di rumah orangtuanya.
Persiapan sudah 90 persen selesai.
Kini, Adam sedang mempersiapkan apapun pekerjaan agar selesai dengan cepat di seluruh lini usaha Mata Air Surga.
Dia pun teringat akan pak Firman. Adam menelepon pak Firman dan telepon pun diangkat. Adam meminta puterinya Nada Naura untuk datang, pak Firman pun akan menyampaikan hal itu.
Adam ingin urusannya selesai dulu semuanya dan dia dapat melaksanakan pernikahan dengan segera.
Adam meyakinkan dirinya, bahwa pernikahannya yang akan dilakukan dengan Diandra adalah pilihan terbaik dalam keputusannya. Adam juga sudah meminta petunjuk kepada Allah dan wajah Diandra adalah wajah yang selalu muncul dalam ingatannya.
Sekitar setengah jam kemudian Nada Naura yang merupakan puteri dari pak Firman datang menemui Adam.
Adam mempersilakannya duduk dan menjelaskan bahwa dia bisa bergabung dalam Mata Air Surga. Nada sangat gembira dengan kabar tersebut. Adam akan menempatkan Nada di divisi manajemen Mall di Mata Air Surga.
Nada diharapkan belajar dulu dengan baik kepada kepala Manajemen utama di mall tersebut yang membawahi semua manajemen di mall itu. Baik dari segi produk ketersediaannya, kemudian personalia, pelayanan, marketing dan lain sebagainya.
Nada merasa gembira akan hal itu. Adam juga menceritakan akan menikah sebentar lagi jadi dia tidak akan bisa mengawasi dengan total pada Mall dan lainnya. Nada mengerti, dia juga diceritakan ayahnya bahwa pak Adam akan menikah dengan Diandra.
Meski ada ketertarikan dalam diri Nada, namun dia menyadari siapalah dirinya untuk orang sehebat pak Adam yang mampu mengelola dengan baik Mata Air Surga. Meski begitu, Nada menganggap Adam sebagai kakaknya sendiri jika memang perasaannya tak tersampaikan.
Adam menghubungi kepala manajemen di Mall dan meminta untuk membimbing orang rekrutannya yaitu Nada. Nada pun diberikan nomor telepon kepala manajemen tersebut.
Persoalan beres, Nada pun pamit dan akan mulai bertugas esok hari. Adam pun juga keluar untuk mengecek dan evaluasi baik di rumah sakit maupun ke hotel. Hari ini Adam mengusahakan semuanya selesai sehingga bisa ditinggalkannya untuk melaksanakan pernikahannya.
Detik – detik hari semakin terasa cepat saja, meski berpacu namun Adam ingin jangan sampai usaha ada yang keteteran.
Dalam pernikahannya nanti, Syarif juga sudah dihubunginya untuk ikut serta menyaksikan pernikahannya. Syarif akan datang bersam isteri dan anaknya, dia juga sangat bahagia akhirnya Adam bisa memulai hidup baru dengan semangat baru kembali.
Semua rencana memang harus direncanakan oleh manusia, mereka akan berusaha untuk bisa mencapai harapan tersebut. Tawakkal kepada Allah adalah menjalankan usaha dan doa dengan baik. Semua hal harus diserahkan pada Allah, semua rencana memang harus direncanakan. Namun, bahkan jika satu detik kemudian yang akan kita jalani, kita tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi.
Langit siang ini pun cerah, secerah pikiran Adam. Namun, meski begitu hatinya ada yang terasa kurang. Tentu saja hal itu hanyalah memikirkan nasib Naura selanjutnya. Namun, hidup harus berjalan dan dia sudah memilih jalannya sendiri.