Naura

69. Adam dan Naura

Seorang wanita nampak menggendong bayi mungil di pinggir Danau Kenanga. Dia duduk di kursi yang kini telah terlihat indah dan diperbaiki dengan baik. Di bawah pohon jambu dia menghirup udara yang demikian sejuk. Itu adalah Naura, hari-harinya kini terasa hidup dengan melihat bayi mungil yang digendongnya.

Bayi dari Sanda dan Firla. Dunai ini memang aneh, dia tak melahirkan namun dia yang merawat bayi mungil tersebut. Dunai memang segala sesuatunya penuh kejutan, tidak ada yang tahu detik berikutnya apa yang akan terjadi.

Seorang wanita yang sangat muda mendekati wanita yang menggendong bayi tersebut.

”Mbak Naura ya?” sapa wanita tersebut.

Naura menoleh dan melihat gadis muda tersebut. Senyumnya sangat manis dan dia pun meminta izin untuk duduk di dekat Naura. Mereka meninkmati angin segara dari pinggir Danau Kenanga.

”Aku sudah mendengar kisah cinta mbak Naura dan pak Adam. Kisah cinta kalian sungguh luar biasa.”

Kalimat tersebut membuat Naura yang masih mendekap bayi tersebut kaget. Siapa sebenarnya gadis ini sehingga dia tahu kisah cintanya dengan Adam. Bayi dalam dekapan Naura juga masih terlelap dalam tidurnya.

”Siapa kamu ini wahai Nona?” Naura melihat kearah gedis cantik tersebut.

Gadis itu tersenyum kearah Naura, ”Namaku juga Naura, aku Nada Naura. Aku kini bekerja dan mulai hari ini bekerja di bagian manajemen. Aku sudah lama mendengar kisah cinta mbak Naura dan Adam. Meskipun semua hal yang terjadi, namun di hati kalian masih ada cinta.”

Naura menatap danau, ”Mungkin, seperti langit dan bumi. Mereka hanya bisa saling memandang dan merasakan namun tidak ditakdirkan bersama. Hanya, saling mendukung dengan doa.”

Nada menepuk pundak Naura, ”Aku tadi bertemu dengan pak Raka, dia ada di lantai atas Mall saat mengantar saya kepada kepala bagian manajemen. Dan, saya melihat pak Raka lama melihat ke bawah di Danau ini. Dia melihat anda cukup lama, dari matanya saya melihat masih ada cinta di matanya untuk mbak Naura.

Meskipun..., Pak Adam memang memiliki segala hal tentang makna cinta. Bahkan saya sangat mengaguminya. Tiga hari lagi, Dia akan menikah dengan nona Diandra. Jadi sebaiknya..., mbak Naura bisa ucapkan perpisahan kepadanya dengan baik.”

Naura sedikit kaget dengan berita tersebut. Ada ganjalan dalam hati Naura, dimana dirinya memang berharap seperti dulu dan bisa bersama Adam. Namun, kondisinya sekarang sudah tak pantas, juga dengan pernah mengkhianati Adam. Selain itu, dia akan segera memulai hidup barunya yang bahagia dengan Diandra.

Naura harus bisa melupakan Adam.

”Kamu masih gadis, kamu sebaiknya dapat mengambil pelajaran dari kisah kami. Bahwa cinta, harus diperjuangkan sejak awal. Jangan menyerah pada cinta dan ketidakberdayaan.”

”Mbak Naura benar. Cinta memang harus diperjuangkan,” Nada tersenyum menatap Naura, lalu dia menyentuh pipi lucu bayi dalam dekapan Naura.

Nada pun berdiri dan berpamitan pada Naura, ”Saya izin ya mbak, masih ada kerjaan di kantor, hari ini saya masih belajar jadi harus belajar banyak. Mbak Naura sehat ya dan selalu bahagia.”

Naura tersenyum dan keduanya saling tersenyum. Ada – ada saja anak itu, dia sungguh ceria dan dapat menghibur sedikit hati Naura yang sedang lara.

Sepeninggalnya Nada, Naura kembali menekuri pandangannya pada air danau. Tiga hari lagi, Adam akan menikah dengan Diandra. Apakah dirinya bisa rela membiarkan Adam menjadi milik orang lain dan dirinya bisa hidup tanpa Adam?

Naura melihat bayi mungil, bayi Firla. Enaknya anak kecil, dia belum memiliki perasaan mendalam tentang cinta. Dia begitu polos dan hidup dengan ketenangan. Mungkin, ketenangan adalah apa yang dicari Naura saat ini.

Huffft, Naura menghembuskan napasnya perlahan. Dia berdiri dan mulai meninggalkan Danau Kenanga, meninggalkan semua kenangan indah di masa lalu. Kini, apa yang akan dilakukannya pun dia masih bimbang. Kemana langkahnya berjalan, dia pun sedang mencari jalan pulangnya sendiri.

***

Hari yang membahagiakan akan tiba bagi Diandra. Dia mematut dirinya di depan cermin untuk kesekian kalinya.

Dua hari lagi. Malam ini terasa sangat lama bagi Diandra. Diandra menghubungi Adam melalui pesan singkat.

”Jangan lupa, besok berangkat naik pesawatnya,” tulis Diandra dan mengirimkannya segera ke Adam.

1 menit dan hp Diandra berbunyi.

”Aku sudah pesan pesawat, Insyaallah besok pagi berangkat,” tulis pesan itu, dari Adam.

Berbunga – bunga hati Diandra. Dunia seakan panggung bagi dirinya dan kini semua hal di dunia ini sedang memperhatikannya. Seolah – olah dunia ini hanya miliknya seorang.

Kebahagiaan yang membuncah dan tidak ada lagi rasa gelisah dan juga khawatir. Diandra pun kembali menulis pesannya kepada Adam.

”Mulai sekarang, akulah satu – satunya bidadarimu Adam. Ingat itu,” Diandra mengirimkan pesan singkat tersebut. Bibirnya yang lembut itu tersenyum, tanda bahwa dia benar – benar membayangkan bahwa Adam berada di depannya dan mereka akan menikmati semua detik waktu yang berlalu, bersama – sama.

Di ujung seberang sana, Adam juga tersenyum melihat pesan dari calon isterinya, Diandra.

Adam menaruh hanphone-nya di meja di dalam kamarnya. Meskipun hari bahagianya sebentar lagi akan terjadi yaitu hari pernikahan. Namun, entah kenapa dia masih saja memikirkan wanita lain.

Bukan soal cinta kepada Naura, melainkan soal kasihan kepada Naura yang selama ini dirinya juga ternyata menderita.

Sama seperti dirinya, yang terlalu lama menderita karena cinta dan ketidakberdayaan, namun Naura menderita dengan kepura – puraan untuk mencintai seseorang padahal sedang dipermainkan.

Adam menghembuskan napasnya agak dalam, dia pun kembali ke Mata Air Surga. Hari ini mungkin hari terakhirnya di Mata Air Surga karena besok pagi dia akan pergi ke Ibukota untuk menikah dengan Diandra.

Hari ini, Adam ingin menyelesaikan semuanya terlebih dahulu, entah sampai pukul berapa dia akan selesai dan berpesan ke beberapa kepala manajerial yang akan ditinggalkannya untuk beberapa hari.

Adam lalu berkeliling ke semua lini usaha di Mara Air Surga untuk terakhir sebelum keberangkatannya besok pagi untuk persiapan pernikahannya.

Ibunya, Halimah sudah di hubungi untuk mempersiapkan apa saja yang akan dibawa besok. Syarif juga sudah dihubungi dan juga beberapa rekan dan tetangga yang akan ikut juga sudah disiapkan segalanya.

Kebahagiaan akan segera menghampiri, kini, Adam fokus kepada hari spesial dalam hidupnya. Maka dari itu, hari ini hari terakhirnya untuk menyelesaikan beberapa kendala dan masalah dalam bisnisnya.

***

Adam baru saja selesai shalat berjamaah di masjid jami’ yang tidak jauh dari Danau Kenanga.

Dzikirnya cukup lama, dia berdoa meminta kepada Tuhannya agar diberikan ketetapan hati dan diberikan akhir yang terbaik dalam setiap urusannya. Itu yang dia panjatkan saat ini.

Selesai shalat, Adam keluar dan hendak memakai sandalnya. Tiba – tiba ada Nada yang juga keluar baru selesai shalat.

”Kamu sampai malam belum pulang Nada?” Adam bertanya penasaran saat Nada memakai sandalnya.

”Belum Pak, ini mau pulang. Saya ingin belajar banyak hal untuk menambah wawasan saya sehingga tadi saya memeriksa hal – hal apa saja yang harus dikembangkan di mall dan segala persediaannya,” wajah Nada menatap Adam sejenak dan dia sudah siap lagi dengan mengambil tasnya yang ditaruh di keramik luar masjid.

Saat Adam hendak pergi dan berpamitan, Nada sempat bertanya padanya soal malam begini Adam belum pulang juga.

”Bukannya pak Adam besok pagi berangkat untuk persiapan pernikahan Pak?”

Adam pun tersenyum, dia membetulkan peci hitamnya, ”Benar, maka dari itu saya ingin menyelesaikan beberapa...”

Tuuuttt Tuuttt Tuuttt

Telpon Adam berdering.

”Tunggu sebentar,” Adam menghentikan percakapannya dengan Nada dan melihat hanphone-nya. Mata Adam pun membulat seketika, itu panggilan dari orang yang sangat dikenal Adam. Ada apa gerangan?

”Assalamu’alaikum Naura,” suara Adam pelan namun Nada sempat mendengarnya karena jaraknya yang dekat.

Kebisuan seolah terdengar beberapa detik.

”Baiklah saya akan kesana, jembatan tiga ya.”

Ada raut wajah yang seperti gelisah sedang ditampakkan dari wajah Adam, namun Adam segera dapat menetralisir perubahan wajahnya itu dan dia berpamitan pada Nada dengan ketenangan yang dibuat senormal mungkin.

”Ehh... saya pamit dulu ya Nada, kamu kerja yang tekun dan terus semangat ya. Assalamu’alaikum.”

Nada pun mengangguk, ”Iya pak, Wa’alaikumsalam.”

Adam melewati Nada dengan langkah yang agak cepat. Nada merasakan ada sesuatu yang terjadi.

Jembatan tiga? Nada tidak sengaja mendengar hal itu, tempat itu tidak terlalu jauh dari Danau Kenanga dan masjid itu. Air danau merupakan sumber air yang mengalir untuk para petani, airnya dialirkan melalui jembatan tiga karena di bawah jembatan itu dibuat tiga jalur.

Jaraknya tidak terlalu jauh, Adam juga meninggalkan mobilnya di masjid itu dan berjalan cukup cepat.

Nada merasakan ada sesuatu, feelingnya mengatakan hal itu. Tanpa diperintah, kakinya seolah segera melangkah dan juga berjalan kearah jembatan tiga.

Apa yang akan dilakukan Naura disana? Apakah untuk kata perpisahan karena mereka tak bisa bersatu? Nada tidak ingin mencampuri urusan mereka, hanya saja dia akan melihat semata jika tak ada masalah maka dia akan pergi juga.

Namun, perasaannya mengatakan kalau ada sesuatu yang terjadi. Dan, Nada terus berjalan kearah jembatan tiga.

***

”Adam..., bisakah kamu datang ke jembatan tiga sekarang?”

Itulah tiba – tiba yang keluar dari mulut Naura. Dia menelepon Adam dan mendapatkan nomor telepon itu dari Nada kemarin. Dia sempat meminta nomor telepon Adam.

Naura ingin mengucapkan permintaan maafnya sekali sebelum Adam menikah dan memulai hidup baru dengan Diandra.

Naura ingin berusaha mengungkapkan sesuatu dan mengucapkan selamat tinggal. Bayi dalam dekapannya pun tidur dengan lelap, dia memberikan baju tebal dan penutup kepala bagi bayi itu.

Bayi itu kini masih dirawat olehnya, Rodin yang merupakan kakeknya masih berduka dengan kematian Sandi dan meminta Naura untuk merawat anak itu.

Di jembatan tiga itu, ada lampu penerang yang dipasang berjejer, di bawah lampu – lampu dibuatkan kursi panjang. Naura duduk disana. Di bawah lampu terang itu, sinar bulan juga terlihat cerah malam ini.

”Assalamu’alaikum Naura,” suara Adam sambil mendekati Naura.

Naura menatap Adam dengan mata yang jernih dan bening, ”Wa’alaikumsalam Adam. Maaf mengganggu waktumu sebentar. Duduklah sebentar jika kamu berkenan.”

Adam tak bisa menolaknya, dia pun tiba – tiba selalu teringat kenangannya bersama Naura saat di Danau Kenanga dulu. Dia akan menuruti semua kata – kata Naura.

”Kenapa malam – malam begini kamu disini Naura?” Adam melihat Naura dari samping, lampu jalan di atasnya menambah elok wajah itu. Wajah itu tidak berubah sama sekali. Masih saja, Naura yang dulu setiap ahad ditemuinya di Danau Kenanga.

”Aku sudah memikirkan matang – matang. Sebelum kamu pergi dan menikah, aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu Adam. Aku akan berdoa untuk kebahagiaanmu.”

Adam mendengarkan baik – baik dan tak berani menyela sama sekali.

”Adam..., aku ingin meminta maaf padamu atas apa yang sudah aku lakukan padamu di masa lalu.”

Adam segera ingin memotong ucapan Naura, ”Itu sudah lama Naura... aku sudah...”

”Ssttttt!” Naura menghentikan ucapan Adam, ”Biarkan aku bercerita kali ini Adam.”

Adam pun terdiam, dulu Adamlah yang selalu bercerita setiap saat di hari Ahad dan Naura hanya tersenyum dan mendengarkan apapun yang diucapkan Adam.

”Aku sudah membuat janji untukku Adam, hal ini adalah rasa bersalahku karena mengkhianatimu. Aku telah berjanji, bahwa Aku tidak akan mencintai siapapun di dunia ini, kecuali hanya mencintaimu Adam,” pandangan Naura berkaca – kaca. Ada getaran dalam tubuh Naura.

”Naura..., jangan katakan itu!” Adam tekejut mendengar hal itu keluar dari mulut Naura, ”Jangan katakan hal seperti itu Naura. Kumohon.”

”Tidak Adam. Aku pantas mendapatkannya. Jadi..., kau berbahagialah dengan Diandra, dan biarlah aku yang akan menjadi lilin yang akan mendoakan kebahagiaanmu dan menerangi jalan kalian berdua.”

”Naura....,” tubuh Adam gemetar, persis seperti saat Naura dulu memutuskannya dan kini hal itu terjadi lagi. Tubuh Adam gemetar.

”Jika kamu berkata seperti itu Naura..., lalu... apa yang harus aku lakukan! Aku hanya seorang manusia, aku tidak berdaya akan semua yang terjadi Naura. Jangan kau bebani aku dengan hal seperti ini!” tubuh Adam benar – benar gemetaran, matanya hampir tak bisa menahan airmatanya yang membasah, dan akhirnya jatuh juga.

Adam dalam kebimbangan. Jika dirinya bahagia dan ingin menumbalkan hati seorang Naura, lalu apa bedanya dirinya dengan orang – orang yang telah membuat Naura menjadi mainan juga.

Apakah dia bisa bahagia diatas derita Naura?

”Kamu jangan sedih Adam, kamu akan selalu berbahagia. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan. Karena, aku sudah menghancurkan kebahagiaanmu dulu, kini biarlah aku yang menerima takdir buruk itu.

Aku akan terus mencintaimu Adam. Meskipun aku hanya bisa memandangmu dari tempat yang jauh,” suara Naura sangat pelan dan dalam.

Adam bahkan semakin tak berdaya dengan kata – kata Naura tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi dalam takdir hidupnya? Adam semakin tak bisa menangkap maksud Tuhan untuk kisah hidupnya kali ini.

Disini, di jembatan tiga ini, perasaan Adam sampai pada puncaknya. Cinta yang membelenggu, kebahagiaan yang didamba, cinta sejati yang mengorbankan, kesetiaan yang menunggu, dan takdir yang menunggu.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!