Naura

7. Obat Airmata karena Cinta?

Sesuatu yang terkadang tidak dipikirkan dan ingin dilupakan, namun terkadang selalu keluar begitu saja tanpa memikirkannya. Keinginan pak Karta untuk sembuh dan juga rasa ragu akan airmata yang mampu menyembuhkannya, sesuatu yang masih saja selalu muncul dalam pikiran pak Karta.

Pak Karta tak peduli dan terus berusaha melupakan mimpi anehnya bertemu lelaki tua dan penyembuhan airmata Adam. Meski masih saja kadang terlintas pikiran aneh itu, namun kini Dia menganggap itu hanya bunga tidur semata, mungkin seperti khayalannya semata karena ingin sembuh.

Kejadian hal selanjutnya membuatnya semakin ragu kembali. Iya benar! Mimpinya tentang lelaki tua dan memberitahunya jika ingin sembuh maka pak Karta bisa mengambil airmata Adam dan mengusapnya pada kaki yang lumpuh. Mimpi itu datang lagi, meskipun pak Karta sudah berdoa pada Tuhan untuk memberikannya mimpi yang lain saja.

Mimpi kali ini serasa nyata bagi pak Karta. Lelaki tua itu bahkan seolah memaksa pak Karta untuk mendatangi Adam dan meminta sedikit airmatanya. Dia akan bisa berjalan dan menjadi obat bagi sakitnya yang sudah dideritanya lebih dari 3 tahun tersebut.

Sudah tiga malam berturut-turut pak Karta mengalami mimpi aneh tersebut. Dia mulai berpikir bahwa itu adalah petunjuk dari Tuhan. Pak Karta tak bisa lagi merasa ini mimpi biasa, dia pun mencari puteranya yang masih di rumah dan belum bepergian.

Pak Karta meminta anaknya tersebut untuk mengantarnya segera. Mau tidak mau, puteranya pun menjadi bingung karena tidak biasanya bapaknya itu memaksa pergi dan harus segera pergi sekarang juga. Heri adalah putera dari pak Karta tersebut, namun Heri tak tahu apa keperluan dari Bapaknya tersebut.

Heri meminta waktu sebentar untuk sarapan pagi, barulah dia akan mengantarkan Bapaknya itu. Pak Karta pun menunggu anaknya selesai sarapan, Heri pun jadi buru-buru menghabiskan makanannya karena melihat bapaknya yang gelisah tidak seperti biasanya.

Selesai sarapan, Heri membawa motornya keluar, ”Mau kemana to Pak? Kayaknya mau ada masalah besar saja!” Heri pun masih penasaran, dia merasa seperti mau ada bencana saja sehingga bapaknya memaksa diantarkan ke suatu tempat.

”Mau ke tempatnya Adam, anaknya bu Halimah,” jawab pak Karta.

Heri tak mau bertanya lagi dan meminta bapaknya untuk naik ke motor dan membantu memegang tongkat bapaknya tersebut. Heri menghidupkan mesin motor dan melaju.

Dia jadi berpikir sejenak. Eh! Bukannya tadi bapak bilang ke tempat bu Halimah atau Adam ya? Seorang lelaki yang disebut gila oleh semua orang di desanya. Ngapain bapak minta diantar kesana? Ah entahlah!

Heri pun tak peduli lagi dan melaju motornya dengan cepat menuju rumah Adam, membelah pagi dan membonceng ayahnya yang dibantunya naik dan Hero juga memegangi tongkatnya di depannya sambil tetap menyetir motornya.

Rumah kecil milik Halimah kini sepi, suara Adam tak lagi terdengar seperti biasanya saat mengaji Qur’an. Sudah setahun, Adam seperti pesakitan bahkan untuk makan selalu disuapi Halimah.

Airmata Adam menetes tanpa disadari pemuda lemah itu.

”Assalamu’alaikum,” suara seseorang mengagetkan Halimah yang tengah menyuapi puteranya. Dia bergegas menjawab salam dan keluar, kenapa tiba-tiba ada tamu, siapa mereka? Tidak biasanya, biasanya Syarif datang mengucap salam dan langsung masuk ke rumah.

Bu Halimah melihat tamunya itu. Tamunya adalah pak Karta, membawa tongkat penyangga di tangan kanannya menekannya dan mempermudah jalannya.

”Ada apa pak Karta, tumben?” Halimah terkaget, ”Oya, silakan masuk dulu, duduk dulu,” Halimah mempersilakan pak Karta dan anaknya itu untuk duduk terlebih dahulu. Mereka pun duduk dan suasana agak hening sejenak. Barulah pak Karta memulai pembicaraannya dengan agak berat.

”Saya...” Pak Karta menggerak-gerakkan tongkatnya sambil duduk gelisah, dia ragu hendak berkata, ”Saya...”

”Ada apa ini?” suara yang datang dari luar tiba-tiba, suara Syarif. Syarif heran, tak biasanya ada tamu yang mendatangi rumah sahabatnya itu. Syarif melihat tamu itu, pak Karta, ada apa? Syarif pun bergegas duduk di sebelah bu Halimah.

”Jadi... begini,” pak Karta mulai bercerita, ”Tiga kali saya bermimpi yang sama. Mimpi itu, saya disuruh ketempat nak Adam. Saya harus mengoleskan airmata Adam ke kaki saya yang lumpuh agar sembuh.”

Anak pak Karta, Heri pun kaget dan tak tahu apa-apa dia hanya diminta segera mengantar bapaknya itu untuk ke rumah Adam dan bu Fatimah. Baru dia tahu kalau Bapaknya bermimpi aneh seperti itu.

Ketiga orang yang mendengarkan penjelasan pak Karta seolah terbengong mendengar penjelasan pak Karta tersebut. Tak masuk akal, tapi? Syarif menatap wajah ibu Halimah, matanya pun bingung mau berkata apa. Bahkan, Adam setiap Ahad selalu menatap danau Kenanga dan disebut banyak orang sudah gila karena cinta.

”Tapi pak Karta, anak saya...” bu Halimah merapatkan bibirnya perlahan, kerutan di wajahnya terlihat, ”Anak saya bukan dukun atau bukan wali..., Dia hanya anak saya yang malang.”

Pak Karta terdiam sejenak, ”Ehm ..., Saya juga tidak tahu Bu, tapi di mimpi itu seperti nyata, seorang lelaki tua bahkan memintaku tiga kali. Bolehkah saya meminta airmatanya meskipun setetes saja?”

Airmata? Bu Halimah selalu menyuapi anaknya itu, memang airmatanya tak pernah berhenti menetes hingga sesekali bu Halimah harus mengelap airmata anaknya itu. Wajah Adam bahkan sudah sangat kurus dan kuyuh. Makannya sedikit bahkan minum pun Halimah harus menyuapinya dengan sendok.

Halimah menatap Syarif, matanya seolah bertanya pada sahabat baik anaknya itu. Mata Syarif pun berkedip dan gerakan anggukannya perlahan mengisyaratkan untuk Ibunya yang membuat keputusan. Apapun keputusanmu Ibu, Aku akan selalu mendukungmu, kau yang terbaik!

”Baiklah pak Karta, tunggu sebentar,” bu Halimah pergi ke dapur kecilnya, ruang tamu itu bersebelahan dengan semua kamar, rumah kecil dan gubuk dari papan itu benar-benar sederhana. Bu Halimah kembali ke ruang tamu, membawa sendok dan wadah tutup botol kecil, dia langsung ke kamar Adam beberapa saat.

”Naura..., Adam hanyalah untukmu ...,” suara Adam lirih terdengar. Mata Halimah pun setiap kali melihat kondisi puteranya itu ikut melelehkan airmatanya. Halimah meminta izin puteranya untuk menyeka airmata Adam. Ditadahkan sendoknya di pipi kanan Adam, tepat di bawah matanya, dan airmata Adam mengalir dalam sendok itu. Satu tetes di mata kanan dan satu tetes di mata kiri, Adam tidur miring ke kanan.

Dua tetes, cukup. Bu Halimah memasukkan sedikit air itu ke tutup botol plastik itu, hanya sedikit. Bu Halimah pun melakukan itu hanya karena tak tega melihat pak Karta memohon.

Halimah keluar dari kamar Adam dan duduk di ruang tamu kembali. Membawa sendok yang berisi airmata Adam.

”Segini cukup pak Karta?” Menyodorkan sendok itu ke hadapan pak Karta.

Pak Karta menerimanya tanpa sungkan. Tanpa diduga siapapun, pak Karta memegang sendok itu di tangan kirinya dan tangan kanannya meraih semua air itu meskipun sedikit dan langsung mengoleskannya ke kaki kanannya. Terus berulangkali, bahkan sampai habis pun tak bersisa. Karta masih terus memoleskannya dari ujung kaki hingga ke pahanya. Seperti tak sabar seolah bayi kecil ingin berjalan, adakah perubahan yang dialami pak Karta langsung?

Beberapa saat tak ada perubahan yang terjadi. Karta berupaya bangkit, tetap tak bisa digerakkan kakinya. Seolah kecewa, Dia bingung dengan semua mimpinya. Karta pun meminta pamit, dengan wajahnya kecewa. Pak Karta meminta puteranya Heri  untuk membantunya berjalan lagi agar cepat. Wajahnya malu dan menuju motor, mereka pulang.

Halimah menatap kepergian pak Karta dan puteranya itu hingga motor menderu hilang dari pandangan. Ada apa lagi ini ya Allah? Batinnya membatin. Bagaimana ada kejadian aneh yang menimpa anaknya di saat kesedihannya masih dirasakan oleh puteranya.

Jangan sampai di bilang di masa depan bahwa anakku adalah dukun, Anakku adalah Adam. Dia adalah anak yang sangat dekat dengan Allah swt selama Halimah mengenal baik puteranya itu.

Bu Halimah mengucap Istighfar dan masuk kembali ke rumahnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!