Naura
71. Tidak Mungkin Kembali
Cinta yang sudah membuat Naura tak bisa lagi menentukan jalan hidupnya. Jika Adam masih memiliki cinta untuknya. Itu sudah cukup bagi Naura, seluruh hidupnya adalah penderitaan. Maka, ketika Adam sudah tak bisa bersamana. Dia hanya perlu untuk pergi dari dunia ini.
Tangan Naura mulai menghilang di dalam derasnya aliran sungai. Adam mencoba berenang sekuat tenang. Beruntung dia dulu selalu berlatih berenang bersama dengan Syarif di danau. Itu mereka lakukan sejak kecil dan selalu bermain di danau.
Adam terus berenang kearah Naura meskipun aliran airnya sangat deras. Adam harus bisa mencapai Naura, apapun yang terjadi. Dalam pikirannya sekarang adalah bahwa Naura harus selamat.
Jemari Naura yang tersisa akhirnya hilang dalam permukaan air yang deras, Adam langsung menahan napasnya dan menyelam ke dalam air dan melihat di dalam air, Naura seperti sudah pingsan atau matanya menutup.
Dalam derasnya aliran air sungai itu, air sungai yang dialirkan dari Danau Kenanga ke pemukiman desa dan pertanian.
Dalam derasnya arus sungai itu, Adam meraih pinggang Naura dan sekuat tenaga menariknya ke atas air. Mata Naura yang semula terpejam dan pasrah akan hidupnya, kini dia merasa ada yang menariknya dan dia pun membuka matanya dalam air yang jernih itu.
Naura melihat Adam yang kesusahan menarik tubuhnya keatas. Dia merasa bersalah sepersekian detik, namun dia juga merasa kesulitan bernapas di dalam air itu.
Adam terus mencoba berenang untuk mencapai permukaan, mereka terseret arus air namun Adam terus berupaya dengan tangan kiri dan dorongan dari kedua kakinya untuk berusaha sampai keatas.
Meski mereka terus terseret arus, Adam tetap terus berusaha. Hingga, dia dapat mencapai permukaan dan menghirup oksigen. Lalu tangan kanannya yang memegang Naura diangkatnya keatas agar Naura juga mendapatkan oksigen.
Mereka terus terseret air dan Adam terus mengangkat tubuh Naura agar mendapatkan oksigen. Hingga, Adam merasa kelelahan pada fisiknya.
Semakin susah Adam mempertahankan tubuhnya dan juga menjaga tubuh Naura agar selalu di atas.
Namun, saat melihat ke arah bawah ada sebatang pohon yang ambruk hingga ke tengah sungai. Adam melihat hal itu dan bersiap memegangi dahan pohon ambruk tersebut. Itu kesempatan untuk bertahan.
Apapun yang terjadi, Naura harus selamat. Itu saja yang ada di pikiran Adam. Air semakin deras menerjang. Adam dan Naura masih terlihat kesusahan bernapas, mereka sudah mendekati batang pohon yang ambruk tersebut.
Sampai.
Adam mencoba meraih salah satu ranting pohon tumbang tersebut.
Klaak!
Cabang dahan itu patah, Adam tetap berusaha sambil memegangi Naura. Dia mendapatkan dahan yang lebih besar dan meraihnya. Dapat! Pegangan Adam sangat kuat pada batang besar itu.
Mereka terhenti dari hempasan gelombang air. Tangan kanan Adam masih memegangi Naura. Adam sangat kelelahan, namun dia berusaha sekuat mungkin untuk menarik tubuh Naura. Naura pun juga berusaha memegangi dahan – dahan yang dapat ditariknya.
Sekuat tenana, Naura juga dapaat mencapai batang pohon yang besar karena dibantu Adam. Naura berusaha menempatkan tubuhnya di batang pohon itu. Tangan kanan Naura sudah dapat merangkul batang pohon, ditambah Adam mendorong tubuhnya agar dapat menaiki batang pohon itu.
Adam terus mendorong tubuh Naura hingga mampu sempurna berada di atas batang pohon ambruk itu. Sepertinya pohon tumbang itu sudah beberapa hari karena banyak ranting yang sudah patah terkena hempasan aliran sungai yang deras.
Naura berkali – kali bernapas cepat, dia mencoba mengembalikan energi dan tenaganya sambil menenangkan diri sembil merangkul kuat batang pohon besar itu.
Adam sudah kelelahan dan masih memegangi ranting dan dahan. Dia mencoba naik perlahan dengan segenap kemampuannya. Napasnya memburu karena kelelahan.
Adam dapat mencapai dahan yang cukup besar, namun karena tekanan dua orang besar itu batang pohon besar seolah terombang – ambing karena derasnya arus. Tubuh mereka berdua cukup memberatkan batang pohon tumbang tersebut.
”Naura..., aku mohon, hhhh... jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi,” sambil mengatur napasnya yang berat, Adam mencoba menenangkan Naura.
Mereka basah kuyup dan sangat kedinginan malam hari tersebut.
”Adam..., kenapa kau menyelamatkanku? Apa yang kamu inginkan jika aku masih hidup?” Naura meneteskan airmatanya.
Mata mereka pun bertatapan, keduanya teringat kisah – kisah indah di hari ahad, setiap kali mereka bertemu dan tersenyum bersama. Saat – saat paling indah dalam hidup mereka, hidup sederhana dan tidak memikirkan apapun kecuali perasaan mereka berdua saja.
Tapi..., itu adalah masa lalu yang tidak mungkin kembali.
”Kamu sudah memiliki Diandra, berbahagialah dan biarkan aku pergi Adam.”
Mata Adam pun berair sambil tetap memegangi dahan itu sekuat tenaga. Adam kesulitan naik ke batang pohon karena bisa jadi batang itu akan jatuh karena sudah sangat tidak stabil.
”Kamu tidak boleh mengakhiri hidupmu sesuka hatimu Naura, ingatlah bahwa aku adalah Adam yang kamu kenal. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu Naura!”
Sedikit keras, Adam merasa kesal pada Naura karena Naura kini seolah berbeda dari biasanya. Adam jadi berpikir, apakah Naura tengah cemburu padanya karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Diandra.
”Lalu Adam, apakah kamu mau meninggalkan Diandra dan bersamaku seperti dulu lagi?”
Tantangan Naura itu demikian membuat dada Adam bergetar. Benar saja, apakah Naura kini tengah cemburu kepada Diandra. Itulah yang terbesit dalam pikiran Adam. Adam mulai menenangkan dirinya, dia sedikit naik dari dahan ujung pohon yang tumbang dan separuh tubuhnya bisa terangkat keatas dan hanya perut ke bawah yang masih terendam air dan menahan aliran air yang deras tersebut.
”Apakah itu yang kau inginkan Naura? Apakah kamu tega menyakiti hati Diandra? Lalu, bagaimanakah kalau aku mencintai kalian berdua?” Adam menata napasnya, tengannya mencengkeram dahan dengan kuat.
Tiba – tiba ada senyuman di bibir Naura, ”Adam..., maafkan aku,” Naura memelankan suaranya dan suara lembutnya seolah kembali seperti sediakala, ”Aku hanya mengujimu. Mendengarmu mengatakan bahwa kamu masih mencintaiku itu sudah cukup bagiku Adam. Kamu harus bahagia, dan menikahlah dengan Diandra.”
Naura terdiam dan menatap Adam dengan teduh, ”Sebagai permintaanku, apakah engkau nanti mau mencariku di akhirat. Katakan kepada Rabb kita, bahwa kau mencariku untuk menjadikanku bidadarimu di surga nanti Adam. Anggaplah itu sebagai permintaanku untukmu, hanya itu permintaanku Adam.”
Keheningan benar – benar tercipta, ciprat air saat derasnya aliran sungai menghantam batang pohon tumbang itulah yang tersisa suaranya. Angin juga menimpali malam mereka di atas batang pohon yang tumbang itu.
Mereka menunggu bantuan, karena batang itu tak muat untuk mereka naik seluruhnya bersama.
”Jika kamu berjanji untuk hidup bahagia, maka apapun permintaanmu aku akan menyanggupinya Naura.”
Mata mereka pun kembali saling menatap.
”Tidak Adam, aku tidak mau apapun. Permintaanku hanya cukup itu saja, cari aku di akhirat nanti dan mohonlah kepada Rabb kita. Bahwa, kau akan menjadikanku bidadarimu di surga nanti. Jadi, aku bisa hidup dengan tenang Adam.”
Tatapan mereka pun lekat tak bisa goyah lagi, keduanya benar – benar kembali seperti beberapa tahun yang lalu saat keduanya saling tersenyum bersama di pinggir Danau Kenanga.
Namun, lamunan mereka tak bisa bertahan lama karena batang kayu yang roboh itu seperti tak bisa menampung mereka berdua.
Aliran semakin deras dan batang pohon yang mereka gunakan untuk berlindung limbung kesana kemari.
”Naiklah Adam,” Naura menghulurkan tangan kanannya kearah Adam. Adam pun melihat Naura, Adam sendiri tidak tahu kenapa kisah mereka hingga seperti ini dan membawa mereka pada kondisi saat ini.
Adam pun berpikir, bahwa mungkin saja. Salah satu dari mereka tidak akan selamat karena pohon tumbang itu semakin bergeser ke tengah karena beban kedua tubuh mereka.
”Cepat Adam, kayunya bisa patah nanti,” wajah Naura tampak panik.
Adam tersenyum dan meraih tangan Naura, Naura dengan sekuat tenaga menarik tangan itu dan berusaha keras membuat tubuh Adam bisa naik seluruhnya ke atas pohon.
”Naura,” wajah Adam tenang saat melihat wajah panik Naura, ”Naura..., dengarkan aku.”
Naura pun terdiam dan menatap Adam. Batang kayu bergerak sedikit, tanda bahwa mereka tidak boleh bergerak berlebihan.
”Tenang Naura, jangan banyak bergerak.”
Mereka pun tak membuat gerakan apapun. Mereka hanya saling menatap, jika memang ini akhir mereka berdua maka mereka sudah siap.
Dari atas sungai dan jalanan terjal atas sungai, suara teriakan menggema. Mereka berteriak sambil menelusuri jalanan di pinggir sungai.
”Adam! Naura! Kalian dimana! Adam! Tuan Adam!”
Beberapa teriakan dari beberapa orang datang, pasti Nada yang mencari bantuan dengan cepat.
”Kami disini! Saya Adam!”
”Kita akan selamat Adam, tunggulah dan jangan lepaskan tanganku Adam.”
Naura masih tengkurap di atas batang pohon dan Adam masih separuh tubuhnya di air. Mereka saling bertatapan, namun kayu terus bergeser dan Adam yang mampu merasakan getaran pohon itu tak kuat menampung kedua tubuh mereka.
”Naura, dengarkan aku.”
Kedua mata mereka saling menatap dengan dalam.
”Katakan Adam.”
”Tolong teruslah hidup bahagia, dan..., sampaikan pada Diandra jika dia tak perlu menungguku. Katakan padanya untuk meneruskan hidupnya tanpaku...”
Naura tak habis pikir apa yang dikatakan oleh Adam. Dia pun membelalakkan matanya, ”Adam! Apa yang kamu kata....”
Klaaakkk!
Dahan itu patah, Naura berusaha keras memegang tangan Adam. Sekuat tenanga dia memegangi satu tangannya pada kayu besar dan satunya memegang Adam. Namun karena derasnya air sungai. Pegangan tangan Naura terlepas.
Tubuh adam terseret aliran deras air sambil dahan patah yang juga menimpali tubuhnya. Adam masih berusaha memegang kayu yang tersisa namun tak kuat menampung tubuhnya.
Di saat itu, Adam merasakan bahwa hanya senyuman yang bisa dia tinggalkan untuk Naura untuk terus hidup bahagia.
Senyuman itu terakhir dilihat Naura dan Adam menghilang dari pandangan Naura karena gelap.
”Adaaaammmm! Adaaammmmm! Adaaammmm!”
Teriakan membahana bersama beberapa orang yang turun dan melihat seorang wanita berada di atas batang pohon yang tumbang. Perempuan itu sedang berteriak – teriak menatap derasnya air mengalir.
Mereka adalah orang – orang dan karyawan di Mata Air Surga dan juga orang – orang yang sempat diberitahu ada yang tenggelam.
Mereka menyelematkan Naura dan yang lain segera menyusuri ke bawah sungai yang mengalir dengan deras. Sederas airmata Naura yang terus memanggil nama Adam.