Naura
9. Diandra Elvina
Dua tahun pun berlalu begitu saja.
Orang-orang datang ketika senin hingga sabtu, karena ketika Ahad datang, Adam bangun dari pembaringannya dan pergi ke Danau Kenanga. Adam seharian akan memandangi jernihnya air danau di kursi bambu di bawah pohon jambu. Senyumnya mengembang, tak peduli ada apapun yang terjadi di dunia, dia menikmati pemandangan dan menatap wajah Naura dalam khayalannya.
Syarif pun disana, berdiri bersandarkan pohon jambu yang sudah besar itu.
”Kenapa kau masih saja tak berhenti memandangi air danau, dan senyumanmu itu,” Syarif menatap lurus ke depan, pandangannya jauh. Dia masih tak habis pikir, sudah ratusan hari berlalu, namun Adam masih saja seperti itu. Tubuh kurusnya, senyumnya di hari ahad, ”Apa yang kau lihat Adam?”
Adam mengambil batu kecil di bawah kursi bambu tersebut dan melemparkan ke permukaan air, tercipta pantulan dua kecipak di air, ”Setiap Ahad, Naura selalu menatap ke air Danau Kenanga. Danau ini tentu aku cintai dan sucikan, apapun yang dicintai Naura adalah kecintaanku juga. Adam hanya tercipta untuk Naura.”
Lagi-lagi, kata-kata itu membuat Syarif tak bisa berhenti menggelengkan kepalanya. Syarif juga berjanji dalam hatinya, dia belum akan menikah jika kondisi sahabatnya itu belum sembuh dan belum sadar dari kesedihannya. Dia sudah memiliki wanita yang dicintainya, namun dia menunda pernikahannya sendiri demi bisa sering menunggui sahabatnya itu.
Adam masih lurus menatap permukaan air yang datar demikian panjang, dia kembali mengingat masa-masa indah dirinya bersama Naura. Cinta mereka demikian suci, bahkan tak berani melakukan hal buruk sedikitpun yang dapat menodai cinta itu sendiri.
Setiap Ahad itulah pertemuan mereka, pertemuan yang entah bisa diibaratkan pertemuan paling agung dalam kehidupan Adam. Memandang Naura sudah cukup membahagiakannya.
”Kau harus sadar dari tidurmu Adam. Naura sudah bukan milikmu lagi, dia sudah menjadi isteri orang lain!” Kata-kata Syarif itu memang pelan namun tegas, namun tak pula membuat raut wajah Adam berubah. Dia tetap tersenyum seolah melihat surga di depannya, tak peduli apapun perkataan orang lain di sekelilingnya, surga tetaplah surga tak ada yang bisa mengalahkan keindahannya.
”Biarkan aku seperti ini Syarif, Kau adalah sahabat terbaikku. Ingatlah, bahwa aku adalah saudaramu yang tak akan pernah melupakanmu. Tapi..., hatiku ini hanya untuk Naura, selamanya...”
Tak ada lagi pembicaraan, Syarif pun berdiam sejenak kemudian kembali lagi meninggalkannya. Nanti, jika sudah senja, dia akan datang membawa motornya dan membonceng Adam untuk pulang. Ya, ada perubahan, kini Adam mau diantar mengendarai motornya, meskipun di sepanjang jalan dia hanya tersenyum dan kepulangannya pun berbeda, dia nampak bersedih meninggalkan danau kenanga.
Syarif pun melakukan itu semua dengan tulus, persaudaraan mereka lebih kuat dari persaudaran kandung atau mungkin sama. Jelasnya, mereka pernah menimba ilmu bersama di pesantren dan tidur bersama.
***
Di sisi lain.
Di ujung pulau yang lain, di sebuah kota besar dan megah dan dipenuhi kerlip lampu kota yang gemerlapan. Malam hari di kota, sudah seperti berada di antara bintang karena kerlip lampunya nampak memukau penglihatan.
Sayangnya. Ada sosok jiwa yang memang memiliki segalanya, namun matanya tak bisa melihat keindahan dunia. Dia buta sejak kecil dan juga kakinya lumpuh sehingga harus duduk di kursi roda sepanjang hari.
”Diandra! Diandra anakku!”
Sebuah suara dari seorang Ibu yang selalu menemani Diandra untuk ketika ibunya itu sudah pulang dan mereka akan mengobrol. Diandra selalu mendapatkan kisah baru dan begitu juga dengan apa yang terjadi dalam pandangan keindahan yang dirinya adalah seorang yang buta.
Dia hanya dapat melihat ketika ada orang yang menceritakan, betapa kisah itu dapat menggambarkan dalam imajinasinya apa yang tergambar. Bagi orang yang memiliki ujian berupa tak bisa melihat atu buta, maka arah yang terbaik untuk dapat digunakan sebagai gambaran baginya hanyalah mendengarkan kisah indah dunia dan indahnya warna.
Bagi Diandra, mungkin yang ingin dilihatnya hanyalah warna. Seperti apa warna itu sebenarnya, warna; merah, kuning, hijau, biru, putih dan hitam dan lain sebagainya. Mendengarkan warna saja sudah membuat Diandra tak bisa lepas dari imajinasinya, betapa indah melihat warna itu. Tak berani berharap lebih, Diandra hanya ingin bisa sekali seumur hidupnya melihat perbedaan warna, dengan itu mungkin hidupnya akan lengkap dan setelah itu dia rela jika harus dijemput Tuhan. Mungkin, mimpinya terlalu muluk-muluk untuk seorang yang sejak lahir sudah buta.
Hmm... Diandra menghembuskan napasnya, perlahan dan mencoba kembali kepada kenyataan. Baginya, imajinasi adalah segalanya. Bagi orang yang tak bisa melihat dan melangkahkan kakinya.
”Kenapa Ibu semangat sekali?” Diandra tersenyum, entahlah sebening dan secantik apa senyumannya itu, dia sendiri tak bisa melihatnya tapi itu adalah senyuman paling tulus yang selalu dia berikan untuk Ibunya, ”Apakah Ibu akan bercerita lagi pada Diandra tentang segala hal di dunia ini? Diandra menantikannya Ibu.”
Wanita setengah baya itu, Sarah Emin. Sarah merasa kasihan dengan puterinya itu, Diandra Elvina adalah anak keduanya, namun semua terbalik dengan kakaknya, Elfan Hamid. Elfan merupakan anak pertama dan mendapatkan segala fasilitas, bahkan kini tengah menyelesaikan pascasarjananya di bidang Bisnis dan Manajemen. Elfan juga sudah menjadi direktur salah satu perusahaan besar yang sudah diamanahkan untuk dikelola padanya.
Ibu dari Diandra, Sarah. Dia merasa bahwa Elfan sudah banyak mendapatkan kehidupannya yang baik. Dia sempurna dan mampu mengelola usaha dengan baik, sedangkan satu puterinya hanya bisa duduk di kursinya. Oleh karena itu, Sarah lebih banyak menggunakan waktunya untuk menemani Diandra.
Diandra, hanya duduk di kursi rodanya dan matanya tak bisa melihat.
”Ibu akan selalu bercerita untukmu, tapi selain itu ada kabar yang aneh yang viral belakangan ini di media online dan juga di televisi.”
Ada wajah yang berkerut di dahi Diandra yang begitu putih dan bersih, ”Berita aneh? Biasanya Ibu juga selalu bercerita soal berita aneh, lalu kenapa yang ini lebih aneh lagi sepertinya, hehehe,” Diandra tertawa dan bagi Sarah, tawa puterinya itu seperti emas baginya, bahkan melebihi seluruh harta yang dimiliki bersama suaminya.
Sarah diberitahu oleh suaminya untuk melihat link berita viral, yaitu seorang pemuda di sebuah desa yang memiliki airmata yang bisa menyembuhkan orang yang sakit, apapun sakitnya. Meskipun dalam berita yang dibaca Sarah, bahwa ada yang sembuh dan ada yang tidak ketika datang berobat kepadanya.
Obat penyembuhan itu pun aneh, karena penyembuhan dari airmatanya yang menetes karena dia terluka oleh cinta dan seperti orang linglung. Atau gila.
Hal itu pun sudah dikonfirmasi oleh utusan yang diutus ke tempat lokasi, dan dari banyak pernyataan bahwa banyak orang yang sembuh dengan airmata itu, bahkan yang lumpuh pun ada yang bisa berjalan kembali.
”Hmm.. Hmm...” Sarah merasa bingung hendak memulai ceritanya kali ini, karena hal ini tentu saja tabu dan aneh. Apalagi, dia diminta oleh suaminya untuk membujuk Diandra untuk mempercayai hal mitos seperti itu dengan harapan bahwa matanya yang buta serta kakinya yang lumpuh bisa sembuh.
Sebuah hal yang sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal.
”Ibu..., ayo katakan dan bercerita. Aku sudah menunggunya, kenapa Ibu seperti susah bicara?”
Wajah sumringah Diandra membuat Sarah kebingungan hendak memulainya. Namun, segalanya adalah untuk kebahagiaan Diandra, apapun yang terjadi adalah untuk Diandra. Hanya saja, Sarah merasa khawatir jika pengobatan itu tak berhasil, seperti yang sudah-sudah ada nampak wajah sedih dan kecewa yang tergambar dari wajah pualam Diandra, dan itu membuatnya sangat sedih.
”Hmm..., ada sebuah kisah menarik. Dimana, ada obat yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit dan kelainan. Bahkan, orang yang lumpuh bisa disembuhkan.”
Hening, Sarah tak meneruskan ucapannya, dia menunggu reaksi puterinya ketika menceritakan soal itu. Sarah pun masih terdiam hingga bermenit-menit dan tak biasanya reaksi Diandra begitu lama, karena biasanya dia akan langsung antusias setiap kali Ibunya itu bercerita.
Diandra menghembuskan napasnya perlahan, seperti biasanya ketika reaksi pada kisah yang membosankan, ”Ayah dan Ibu tidak putus asa untuk Diandra, keinginan ayah dan ibu sungguh luar biasa. Apa saja dilakukan untuk kesembuhanku, tapi... sudah terlalu lama keinginan itu tak terwujud. Kali ini, hal mustahil seperti di mitos yang terjadi di dunia modern. Ayah dan Ibu adalah orang terpelajar dan cerdas, tapi masih percaya dengan hal mitos seperti itu?”
Hening sementara, memang benar mitos penyembuhan dengan airmata seorang manusia adalah sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. Padahal, sejak kecil Diandra sudah menjalani pengobatan dari dokter spesialis manapun sehingga belum mendapatkan kesembuhan soal kakinya yang lumpuh dan matanya yang tak bisa melihat.
Operasi transplantasi pun sudah dua kali dilakukan dengan donor seseorang yang baru saja meninggal saat keluarga seseorang itu meninggal. Namun, kornea yang didonorkan itu tidak cocok, meskipun pada awalnya dideteksi cocok. Namun, resiko ini memang ada terjadi karena ada masalah pada sistem saraf yang tidak complete pada kornea Diandra.
Kondisi dengan alat modern dan sudah canggih saja dua kali kegagalan yang didapatkan dan malah menyebabkan infeksi pada sistem sarah Diandra.
Maka dari itu, kedua orangtua Diandra menstop operasi transplantasi mata pada puterinya itu takutnya akan menyebabkan masalah kesehatan lainnya karena setelah operasi itu Diandra mengalami sakit kepala beberapa kali.
Dan kini, ada yang lebih aneh karena ada airmata seorang lelaki muda yang tengah sakit bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan airmatanya tersebut.
Diandra pun tersenyum pada Ibunya meskipun tak melihat Ibunya tersebut, ”Ayah dan Ibu sudah sangat baik pada Diandra. Tidak perlu melakukan hal aneh untuk membahagiakan Diandra. Semua cinta ayah dan Ibu sudah cukup membahagiakan Diandra.”
Sarah meneteskan airmatanya mendengar ketulusan puterinya tersebut dan kesabarannya pada kondisinya itu, ”Ibu tahu puteriku, kamu memang sudah dewasa sekarang sehingga mampu menenangkan hati Ayah dan Ibumu. Namun, Ayahmu sudah mengirimkan beberapa utusan untuk mengecek kebenaran itu. Dan hasilnya, memang ada yang sembuh dengan ajaib semalam saja ketika kakinya lumpuh ataupun ada yang stroke dan tiba-tiba bisa berjalan lagi.”
”Sudahlah Ibu..., Biar Diandra sendiri yang akan bicara dengan Ayah. Ibu tenang saja, Diandra akan menjelaskan kepada Ayah agar tak usah percaya hal mitos seperti itu.”
Sarah pun tak bisa mengatakan apa-apa lagi, mungkin Ayahnya nanti Abdul Hamid bisa membujuk Diandra. Kedekatan Diandra dan Ayahnya juga sangat dekat, Hamid suaminya merasa kasih sayangnya lebih dicurahkan pada Diandra ketimbang putera pertamanya Elfan.
Hal itu tak lain karena Elfan lahir dengan kesempurnaan dan Diandra dengan cacat sejak kecil. Oleh karena itu, Hamid lebih banyak mempergunakan waktunya untuk bersama Diandra ketika sudah pulang dari mengurusi perusahaan yang semuanya bernaung di bawah keluarga Hamid.
”Baiklah, keputusan apapun nanti, kita bicarakan malam ini dengan Ayahmu.”
Diandra tersenyum lagi, ”Baiklah Ibu, sekarang Ibu harus bercerita lagi pada Diandra. Ceritakan sesuatu yang menarik untuk Diandra, Ibu.”
Sarah pun tersenyum, kali ini dia bercerita tentang kupu-kupu yang indah. Mereka melakukan metamorfosis dengan menjadi kepompong setelah memakan makanannya dan disimpan. Dia akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah dengan jutaan warna yang menghiasi sayapnya.
Diandra terpesona dengan kisah kupu-kupu itu, ingin rasanya dia melihat warna-warni sayap kupu-kupu. Bahkan, dia mendengarkan kisah dari Ibunya sambil membayangkan dengan imajinasinya, dia berada di antara pepohonan dan bunga-bunga. Dia berlari kesana kemari dan bermain bersama kupu-kupu yang terbang di sekelilingnya.
Diandra pun meresapi kisah ibunya, kebahagiaan yang indah. Diandra bersandar di pundak Ibunya yang duduk di sebelahnya. Sarah pun membelai rambut puterinya itu dengan lembut, dan Diandra tertidur begitu saja sambil mendengarkan kisah kupu-kupu.
Diandra bermimpi terbang bersama hewan yang bernama kupu-kupu, dalam imajinasinya kupu- kupu itu mengelilingnya. Namun bentuknya sesuai dengan gambaran imajinasinya. Hewan dengan kaki banyak dan memiliki sungut di kepalanya dan ada dua. Ada bulunya dan matanya kesana kemari indah ketika dipandang.
Yang lebih indah adalah kedua sayapnya yang terus mengepak. Sangat indah.