Nilam (Rahasia)
Aku Selalu Ada
Satria mengalihkan pandangan dari tabletnya. Napasnya mengalir berat sebelum akhirnya ia memandang Tommy dengan mata yang lebih suram dari biasanya, menunjukkan beban yang dipikulnya. "Aku tidak buta, Tom. Justru karena aku bisa melihat segalanya dengan terang, aku jadi tahu betapa salahnya aku dulu. Betapa semua ini memang menuju ke titik yang sekarang. Titik di mana aku tak bisa lagi pura-pura jadi orang lain," ucapnya lirih namun tegas, ada kesedihan mendalam dalam pengakuannya.
Tommy bangkit dari sofa, berdiri di depan meja kerja sahabatnya itu, posturnya menunjukkan tekad untuk menghadapi Satria. "Dan kamu mau bilang semua ini bukan karena egomu? Kamu sudah punya istri, Sat. Nilam pun sama. Dan kalian memutuskan untuk..." Tommy menggantung kalimatnya, tidak sanggup mengucapkan kata-kata itu.
"...mencintai satu sama lain," potong Satria cepat, matanya menantang Tommy.
"Bukan keputusan, Tom. Cinta ini datang tanpa kami undang. Bukan rencana, bukan rekayasa. Kami mencoba menghindar, sungguh. Tapi aku tahu kamu tidak akan mengerti. Atau kamu memang sudah mengerti tapi nggak mau ngerti," jelas Satria, ada keputusasaan samar dalam suaranya.
Tommy mendecak pelan, rahangnya mengeras. "Kamu pikir aku nggak ngerti? Justru karena aku ngerti, aku datang ke sini. Benar, aku terlalu dungu kalau sampai nggak ngerti apa yang terjadi, tapi kamu jauh lebih bodoh karena membiarkan semuanya terjadi. Kamu punya kendali!" Suara Tommy meninggi, ada kemarahan yang tersimpan. "Aku kenal kamu, Sat. Kamu nggak akan bisa diam lama di dalam situasi kayak gini. Kamu akan bertindak. Dan kalau kamu bertindak, semuanya bisa hancur." Tommy menekan kata-kata terakhirnya, mencoba menyadarkan Satria akan konsekuensi tindakannya. Dia tahu betul sifat impulsif Satria ketika sudah yakin akan sesuatu.
Satria memejamkan matanya sejenak, seperti menimbang-nimbang kata yang akan keluar, mencari jalan keluar dari dilema ini. "Aku akan bicara dengan Mia. Aku akan akhiri semuanya dengan cara yang paling manusiawi. Entah kamu percaya atau tidak, tapi aku yakin Mia sama sepertiku. Tidak pernah ada namaku di hatinya. Aku yakin itu," ucapnya, nadanya penuh keteguhan.
Tommy mendengus, tawa sinis keluar dari bibirnya. "Dan kamu pikir Barton akan semudah itu melepaskan Nilam? Dia tahu soal kamu?" Ia menuntut jawaban, tak percaya begitu saja.
"Barton sudah melepaskan Nilam. Kamu nggak perlu khawatir tentang itu," Satria menjawab datar.
"Dan kamu percaya?" suara Tommy meninggi, nyaris gemetar oleh tekanan, rasa curiga menguasai dirinya. "Sudah secepat itu? Bukankah itu terlalu mudah, Sat? Nilam itu misterius, Sat. Ada sisi darinya yang kamu belum tahu. Kamu yakin dia sejujur yang kamu kira? Dan Tumpal Dongoran, pengacara kondang itu, membiarkan putranya bercerai begitu saja tanpa kegaduhan sedikit pun?" Tommy melontarkan rentetan pertanyaan, setiap kata adalah cerminan kekhawatirannya yang mendalam akan jebakan yang mungkin menanti.
Satria bangkit dari kursinya, menatap Tommy lurus, ada tekad membara di matanya. "Aku tahu siapa dia. Aku tahu ada luka dalam dirinya yang belum sembuh. Tapi aku juga tahu, di balik semua itu, dia memilihku sama seperti aku memilihnya."
Tommy menghela napas panjang, kedua tangannya bertumpu di meja, menguatkan diri. "Lalu kalau semua ini benar, kamu siap menghadapi malapetakanya? Ramalan itu bilang, kehancuran akan datang. Bukan hanya untukmu, tapi untuk semua yang dekat denganmu. Karirmu, reputasimu, bahkan orang-orang yang mendukungmu." Tommy menyuarakan ketakutan terbesarnya, konsekuensi yang akan menimpa bukan hanya Satria, tetapi juga mereka yang berada di sekelilingnya.
Keheningan menguasai ruangan, hanya denting jam dinding yang terdengar mengiringi pikiran masing-masing yang berputar kacau. Satria berjalan pelan ke jendela besar di balik mejanya, memandang ke luar, ke langit Jakarta yang penuh polusi, seolah mencari jawaban di sana.
"Aku tidak takut pada malapetaka, Tom," Satria akhirnya memecah keheningan, suaranya kini lebih tenang, namun penuh keyakinan. "Yang aku takutkan, adalah kalau aku melewatkan kesempatan ini. Kesempatan untuk hidup jujur terhadap diriku sendiri."
Tommy menggeleng pelan, rasa sedih menyelimuti dirinya. "Kamu berubah, Sat." Dulu Satria adalah pria pragmatis yang selalu menempatkan ambisi di atas segalanya.
Satria tersenyum miris. "Mungkin karena akhirnya aku tahu, menjadi manusia itu artinya juga berani mengambil risiko. Bahkan risiko kehilangan segalanya."
Mereka terdiam lama, dua sahabat yang kini berada di persimpangan jalan, dengan pandangan yang berbeda tentang masa depan.
Tommy akhirnya membuka suara, lebih pelan, lebih tenang, namun dengan ketegasan yang tak goyah. "Kamu pikir Nilam akan bertahan di sisimu setelah badai itu datang?"
Satria menoleh perlahan. Tatapannya tajam, nyaris sendu, mencerminkan kerentanan yang jarang ia tunjukkan. "Kalau dia tidak bertahan, mungkin memang itu bagian dari ramalan. Tapi kalau dia bertahan, maka aku tahu dia adalah belahan jiwaku yang sebenarnya."
"Sat, jalanmu menuju kursi nomor satu tinggal selangkah lagi," Tommy melanjutkan, suaranya kembali meninggi, penuh peringatan. "Apa kamu sudah memikirkan dampaknya kalau skandalmu dengan Nilam terbongkar? Kamu jangan egois. Ingat, Eka mati-matian mendukung dan percaya padamu. Aku bukan bagian dalam tim suksesmu, tapi aku orang yang paling tahu perjalananmu sejauh ini." Tommy tidak hanya khawatir akan Satria, tapi juga semua orang yang telah berjuang bersamanya.
"Pemilihan tinggal beberapa minggu lagi. Aku yakin, semuanya akan baik-baik saja. Sampai saat itu tiba, aku dan Nilam bisa bersembunyi dalam terang," Satria berusaha meyakinkan, atau mungkin lebih tepatnya, meyakinkan dirinya sendiri.
"Ingat Sat," Tommy menekan setiap kata. "Bermainlah dengan rapi. Jangan tinggalkan jejak yang tidak bisa kamu hapus nantinya." Ini adalah batas terakhir Tommy, sebuah nasihat yang ia berikan sebagai seorang sahabat.
"Thanks," jawab Satria, singkat namun tulus. Dia tahu, Tommy tidak akan pernah pergi dari sisinya. Semua hal buruk pernah mereka lalui. Dan mereka berhasil. Tommy adalah satu-satunya orang yang mengenal Satria jauh lebih baik daripada Satria mengenali dirinya sendiri. Sebuah bentuk persahabatan yang terjalin bukan hanya dalam keadaan baik-baik saja. Mereka akan saling menjaga satu sama lain.
Tommy mengangguk pelan, lalu mengambil kunci mobil dari saku celananya. Saat ia berjalan ke arah pintu, ia berujar tanpa menoleh, suaranya kini penuh makna. "Kalau kamu benar, aku akan jadi orang pertama yang berdiri di belakangmu. Tapi kalau kamu salah, aku harap kamu cukup kuat untuk tidak menyeret semua orang ke dalam kehancuran."
Pintu tertutup pelan, meninggalkan Satria seorang diri di dalam ruangan yang tiba-tiba terasa lebih sempit dari biasanya. Dia menarik napas dalam. Dia tahu, tidak ada jalan kembali. Dan mungkin memang ini saatnya memilih antara cinta atau kehancuran yang ditakdirkan. Sebuah pilihan yang jelas tidak mudah. Bahkan, sejujurnya Satria pun ragu dengan pilihan dia saat ini.
***