Nilam (Rahasia)
Pertempuran
Pekan-pekan berikutnya menjadi medan pertempuran yang tak terlihat. Berita perceraian Nilam dengan Barton, yang tadinya dirahasiakan, mulai bocor. Meskipun tidak secara langsung menyebut Satria, bisik-bisik tentang Nilam yang tiba-tiba berani mengambil langkah besar dalam hidupnya mulai menjadi perbincangan di lingkaran sosial dan politik. Banyak hal yang dipertaruhkan. Tentang karir Nilam, kedekatannya dengan Satria, permusuhan Tumpal dan Satria, kecemburuan Barton, bahkan rasa tidak suka Mia pun mulai mencuat. Semua orang tiba-tiba mengeluarkan analisisnya.
Tommy, yang sudah mewanti-wanti Satria, kini menjadi lebih aktif. Ia tahu betul permainan kotor di dunia politik. "Bersembunyi dalam terang" adalah strateginya: tetap tampil di depan publik, menjalankan kampanye seperti biasa, tetapi dengan ekstra hati-hati.
"Kita harus lebih cerdas, Sat," kata Tommy dalam salah satu pertemuan strategi mereka. "Mia pasti akan berbicara. Tumpal Dongoran jelas tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencoba menguburmu. Kita harus pastikan tidak ada celah. Jangan sampai ada foto, jangan ada pertemuan rahasia. Jika kalian bertemu, pastikan itu di tempat yang sangat publik, seolah-olah kalian hanya rekan kerja biasa."
Satria dan Nilam menerapkan strategi ini dengan disiplin ketat. Pertemuan mereka menjadi sangat jarang, dan jika ada, selalu di tempat yang ramai atau di bawah pengawasan Tommy atau tim keamanan Satria. Komunikasi mereka sebagian besar melalui pesan singkat dan telepon di jalur yang dienkripsi. Rasanya seperti kembali ke masa-masa awal, di mana setiap momen bersama adalah sebuah kejahatan tersembunyi.
Namun, godaan untuk bertemu secara pribadi tetap kuat. Terkadang, mereka akan menghabiskan waktu di Singapura, seperti yang direncanakan, menggunakan nomor khusus yang tidak terlacak. Di sana, jauh dari mata-mata Jakarta, mereka bisa menjadi diri mereka sendiri, meski hanya untuk sesaat. Lilin kecil di meja makan, tangan yang saling menggenggam di taman kota, atau sekadar tawa lepas yang tak perlu ditahan. Di tengah tekanan, kebersamaan singkat itu menjadi penguat bagi Nilam dan Satria.
"Tumpal Dongoran tidak akan berhenti, Sat," Nilam pernah berbisik di telepon suatu malam, suaranya terdengar lelah namun penuh tekad. "Dia akan melindungi nama baiknya dengan caranya, dan itu berarti menghancurkan siapapun yang dia anggap ancaman. Tapi aku... aku tidak menyesalinya."
Tekanan semakin meningkat. Beberapa media mulai mengendus adanya sesuatu. Pertanyaan tentang kehidupan pribadi Satria mulai muncul dalam sesi wawancara. Tim lawan politik pun mulai menyebarkan rumor halus, mencoba mengaitkan perceraian Nilam dengan "pihak ketiga" yang dekat dengan lingkaran politik.
Mia, dari balik layar, menggunakan pengaruh keluarganya. Bocoran informasi, artikel-artikel provokatif yang samar-samar namun mengarah, mulai muncul di portal-portal berita online yang kurang terpercaya.
Tumpal Dongoran, di sisi lain, bergerak lebih senyap namun mematikan. Beberapa proyek bisnis Satria yang sedang berjalan tiba-tiba menemui hambatan birokrasi, atau partner bisnis tiba-tiba mundur tanpa alasan jelas. Ini adalah taktik Tumpal untuk mencekik Satria secara finansial dan merusak reputasinya di mata investor.
"Ini baru permulaan, Sat," kata Tommy, suatu malam, setelah mereka berhasil meredam salah satu isu di media sosial. "Mereka sedang menguji kita. Mereka ingin melihat seberapa jauh kita bisa bertahan sebelum panik."
Satria menatap layar laptopnya, melihat grafik popularitasnya yang sedikit menurun setelah munculnya rumor. Ia tahu ini adalah harga yang harus ia bayar. Namun, ketika ia teringat senyum Nilam, ketenangan yang ia rasakan saat bersama perempuan itu, ia tahu ia tidak bisa menyerah. "Aku tidak akan panik, Tom," jawab Satria. "Aku sudah memilih jalan ini. Dan aku akan menghadapinya. Apapun konsekuensinya."
Tommy menghela napas. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita pastikan kalau badai ini tidak menenggelamkanmu, Satria Raja. Ini akan jadi pertarungan terberat dalam hidupmu, bukan di bilik suara, tapi di panggung gosip dan intrik politik."
Satria mengangguk, matanya menatap tajam ke depan. Ia tahu, ramalan "malapetaka" yang disebutkan Tommy kini terasa sangat nyata. Namun, di tengah semua kehancuran yang mengancam, ada satu hal yang terasa benar: ia akhirnya hidup jujur.
Dan itu, untuknya, adalah keberanian yang lebih besar dari sekadar memenangkan kursi presiden. Ia akan mencari celah hukum, dan bahkan mungkin mempertimbangkan untuk berbicara langsung dengan media jika diperlukan, asalkan kejujurannya dan cintanya pada Nilam bisa tetap berdiri tegak.
***
Raffles Hotel. Pekan depan. Jam 10 pagi.
Sebaris pesan membuat Nilam tersenyum tipis. Tak ada nama pengirim, sebab nomor itu, yang ia beli khusus lima tahun lalu, memang sengaja tak disimpan. Untuk komunikasi rahasia dengan Satria. Singapura, negara tetangga yang terpercaya menjaga privasi, menjadi oase mereka dari hiruk pikuk politik Jakarta.
Nilam meletakkan ponsel rahasianya tanpa membalas. Tak pernah ada basa-basi di antara mereka; hanya lokasi dan waktu pertemuan yang singkat. Ia menyandarkan punggung, mencoba rileks. Hampir enam bulan ini, tidur nyenyak jadi sebuah kemewahan baginya. Sebagai tim sukses Satria Raja, Nilam bekerja ekstra keras di balik layar. Perempuan 37 tahun ini adalah pembisik utama dan otak di balik strategi komunikasi serta branding Satria dengan slogan "Perubahan Baru".
Di permukaan, Nilam tampil sebagai representasi suara perempuan dan kaum muda dengan ide cemerlang. Kecerdasan otaknya tak diragukan, terbukti dari latar belakang pendidikannya di bidang hukum dari universitas terbaik di Indonesia, dilanjutkan ke Harvard University.
Ambisi Nilam jelas, menempatkannya di posisi strategis sebelum usia 40. Kantornnya yang nyaman di jantung Jakarta adalah pencapaian yang memicu kekaguman sekaligus iri. Berita miring tentangnya, mulai dari tuduhan simpanan pejabat hingga terlibat prostitusi internasional, tak mampu menggoyahkannya. Ia tahu, bukan hanya otaknya yang brilian, penampilannya pun bak bintang, dengan postur 178 cm dan berat 62 kg yang membuatnya tampak seperti model papan atas.
Nilam mulai menyadari potensi dirinya sejak SMP. Saat SD, tubuh menjulangnya dan kondisi keluarga yang berbeda membuatnya minder dan jadi bahan olok-olok. Ia nyaris tak punya teman, lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan. Buku-buku dilahapnya, membentuknya menjadi si kutu buku berpengetahuan luas. Nilai akademik tinggi dan juara berbagai lomba menjadi satu-satunya cara membungkam mulut teman-temannya. Hal itu menumbuhkan keyakinan bahwa ia tak butuh teman; cukup mengandalkan kemampuannya untuk meraih semua mimpi.
Dulu, Nilam kecil bercita-cita menjadi polisi, jaksa, hakim, atau pengacara. Profesi apa pun yang memberinya kewenangan untuk memenjarakan orang-orang yang sering menghina dia dengan sebutan "Nilam si anak haram". Label itu melekat karena tak ada nama ayah kandung dalam akta lahir dan dokumennya. Setiap kali ia bertanya pada ibunya, sang ibu hanya terdiam, mengusap kepalanya, dan air mata yang berlinang membuat Nilam mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sejak itu, Nilam berusaha keras menutup dan menulikan telinganya dari omongan yang kerap membuat hatinya meradang.
***