Nilam (Rahasia)
Cinta yang Terluka
Di Hotel Diplomat, Mia duduk di ranjang, mengenakan kembali blus putihnya. Laki-laki itu memandangi wajahnya sejenak, lalu berkata pelan, "Kau tahu, kau bisa saja tinggalkan semua ini. Kau tidak perlu bertahan demi dia."
"Aku tidak bertahan demi dia," jawab Mia tenang.
"Lalu demi siapa?"
"Demi panggungku sendiri," katanya. "Demi kekuatan yang kubangun dari ketenangan. Dari fakta bahwa semua orang menganggap aku hanya istri. Padahal mereka tidak tahu, aku tahu lebih dari siapa pun."
Laki-laki itu mendekat, mencium dahinya. "Kau terlalu cerdas untuk hidup dalam bayangan siapa pun."
Mia tersenyum, tipis. "Tapi bayangan adalah tempat paling aman untuk menikam." Ia berdiri, menyambar tasnya. "Aku harus pergi."
***
Sementara, di kantor Tumpal Dongoran, telepon Tumpal Dongoran berdering tanpa henti sejak pagi. Semua panggilan dari jaringannya, berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan Nilam. Berita perceraiannya, meskipun disembunyikan, mulai menyebar di lingkaran terbatas. Tumpal duduk di kursinya, matanya menyala. Ia sudah menghubungi Barton, yang memberikan penjelasan singkat dan dingin, "Nilam sudah dewasa, Papa. Ini keputusannya." Barton menolak membahas Martin, hanya mengatakan ia dan Nilam sepakat berpisah secara baik-baik.
"Baik-baik?" Tumpal menggeram pada Lusiana yang duduk di depannya, masih dengan mata sembab. "Bagaimana mungkin perceraian bisa baik-baik setelah bertahun-tahun pernikahan, dan tidak ada satu pun dari kita yang tahu?"
"Mungkin memang itu yang terbaik, Pa," Lusiana mencoba menenangkan.
"Tidak!" Tumpal membanting tinjunya ke meja. "Ada yang tidak beres. Dan ini pasti ada hubungannya dengan Satria Raja. Aku sudah tahu Nilam bekerja di bawahnya. Dia tidak mungkin melupakan ambisinya yang lain."
Tumpal memikirkan kembali percakapannya dengan Tommy. Tommy memang ragu-ragu, tapi tidak banyak memberikan detail. Ada sesuatu yang Tommy sembunyikan.
"Lusiana, hubungi jaringan kita di pengadilan. Aku ingin semua detail perceraian Nilam. Setiap lembar dokumen. Aku ingin tahu siapa hakimnya, siapa saksinya. Semuanya!" perintah Tumpal.
"Tapi Papa, itu melanggar privasi..."
"Privasi?" Tumpal menatap istrinya tajam. "Privasi apa? Dia adalah menantuku, istri dari anakku! Dia bagian dari keluarga ini! Dan sekarang, dia bekerja untuk calon pemimpin negara yang punya sejarah kelam dengan jaringan bisnis kita. Aku tidak akan membiarkan Nilam menjadi pion dalam permainan kotor mereka."
Tumpal kemudian mengalihkan perhatiannya pada peta besar yang terpasang di dinding, menunjukkan konsesi tambang dan perkebunan di berbagai provinsi. Lingkaran merah menandai area-area yang dikuasai keluarga Sudjono dan Nasrullah, sebuah jaringan yang ia tahu akan segera bersinggungan langsung dengan langkah Nilam. "Aku akan mengawasinya," Tumpal bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.
"Dan jika dia melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri, atau kita... aku tidak akan ragu untuk menghentikannya." Ia meraih ponselnya, menghubungi seseorang di lingkaran jurnalis investigasi yang ia percayai. "Aku punya cerita untukmu," kata Tumpal, suaranya berat. "Tentang seorang politisi muda yang terlalu bersih, dan seorang ahli strategi yang terlalu misterius."
***
Malam itu, di tiga tempat berbeda, tiga orang merajut takdir mereka sendiri. Satria yang duduk sendiri di ruang kerjanya, membaca ulang pidato yang disusun oleh perempuan yang dia cinta dengan segenap jiwa. Mia yang kembali ke rumah, membiarkan wajahnya tetap tenang saat menyapa anak-anak dan penjaga rumah. Serta Nilam, yang sudah mulai menghapus file dari komputer pribadinya satu per satu.
Semua tahu, pemilu ini hanya awal. Yang mereka hadapi sebenarnya adalah babak baru yang tidak tertulis dalam naskah mana pun. Dan di antara mereka bertiga, hanya satu yang benar-benar siap menghilang tanpa jejak, tanpa luka yang bisa ditemukan publik. Sedangkan yang lain? Mungkin diam mereka adalah tanda perang yang belum dimulai. Empat minggu. Dan setelah itu, siapa yang akan tetap tinggal, dan siapa yang akan benar-benar pergi?
***
Raffles Hotel, Singapura.
Selasa, pukul 10.03 pagi.
Langkah Nilam nyaris tak terdengar di koridor hotel mewah itu. Di balik balutan gaun linen abu terang dan sepatu tanpa hak, perempuan itu tampak tenang. Padahal di dalam dadanya, jantungnya berlari secepat kereta. Tangannya sempat gemetar saat menekan tombol lift. Tapi sekarang, ia tenang. Sebisa mungkin.
Pintu kamar 734 sedikit terbuka. Tanda bahwa seseorang di dalamnya sudah menunggu. Tanpa mengetuk, Nilam mendorongnya pelan dan masuk.
Satria Raja berdiri di depan jendela besar, membelakangi pintu. Cahaya pagi membingkai tubuhnya yang tegap namun sedikit lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu di Jakarta. Begitu mendengar suara pintu ditutup, ia menoleh.
"Nilam." Hanya satu kata. Tapi beratnya bisa menghancurkan batu.
"Kamu datang juga," katanya lagi, suaranya pelan tapi terdengar jelas.
"Aku bilang jam sepuluh, kan?"
"Jam digitalmu masih setia pada presisi, ya?"
Nilam mengangkat bahu, lalu duduk di sofa berlapis beludru biru. Satria tetap berdiri, seperti ragu mendekat. Tapi akhirnya ia berjalan pelan ke arahnya, duduk di seberang. Hanya meja kopi bundar yang memisahkan mereka. Dan sekian banyak hal tak terucap.
"Hampir enam bulan kita tidak bertemu seperti ini," ujar Satria. "Bukan lewat rapat, bukan lewat dokumen, bukan lewat pesan terenkripsi. Dan enam bulan itu rasanya seperti seumur hidup."
Diam. Tatapan mereka saling mengunci. Tidak panas, tidak dingin. Tapi dalam. Sangat dalam. Seolah mereka berbicara dengan mata.
"Kenapa kamu minta bertemu di sini?" tanya Satria. "Kenapa bukan di Jakarta?"
"Karena aku tidak ingin ada yang tahu. Termasuk kamu."
"Termasuk aku?" alis Satria terangkat.
"Aku tidak ingin kamu merasa ini pertemuan penting."
"Dan kenyataannya?"
"Ini pertemuan terakhir."
Satria tertawa pelan, seolah tak percaya. "Nilam, kamu selalu dramatis setiap kita mulai bicara soal akhir."
"Aku serius, Sat. Setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi. Bahkan, kalaupun kamu mencariku, kamu tidak akan bisa."
Senyum Satria menghilang. Ia bersandar ke belakang, matanya kini menatap Nilam seperti baru sadar sesuatu yang penting. "Apa maksudmu?"
"Tiga minggu lagi pemilu selesai. Semua kerja keras kamu akan terbayar. Tapi aku tidak akan ada di sana saat kamu menang."
Satria menegakkan tubuhnya. "Nilam, tunggu. Apa maksud semua ini?"
"Aku akan pergi. Pindah. Ke tempat yang tidak kamu ketahui. Dengan identitas yang baru. Ini sudah direncanakan sejak lama."
Wajah Satria menegang. Napasnya sedikit terhenti. "Kamu bercanda."
"Tidak."
"Kenapa? Karena Mia?"
"Bukan cuma karena Mia. Tapi karena aku lelah menjadi bayangan. Menjadi suara yang tidak disebut. Menjadi cinta yang kamu sembunyikan seolah-olah memalukan."
"Jangan bilang kamu tidak tahu kenapa semua ini harus sembunyi-sembunyi!" Satria mengangkat suara. "Kamu tahu apa taruhannya kalau semua ini terbongkar. Kamu tahu betul!"
"Aku tahu, Sat. Aku tahu semua risiko. Tapi bukan berarti aku harus terus jadi penumpang rahasia dalam hidup kamu."
Satria berdiri, mulai berjalan mondar-mandir seperti biasa saat pikirannya tidak tenang. Tangannya mengusap wajah. "Nilam, kamu gila."
"Tidak. Justru kali ini aku waras."
Satria berhenti, menghadap langsung ke arahnya. "Jadi kamu mau buang semua yang kita punya begitu saja?"
"Kita tidak punya apa-apa, Sat. Bahkan aku tidak punya nama di hidup kamu. Di depan orang-orang, aku hanya analis politik. Atau juru pidato. Atau..." ia tertawa pahit, "penggoda pejabat."
Satria mengepalkan tangannya. "Kamu tahu aku cinta kamu."
"Tapi cinta tidak cukup."
"Kamu yang bilang padaku untuk bersabar, Nilam."
"Aku sudah sabar."
Mata mereka bertemu lagi. Kali ini tak ada pelarian. Tak ada topeng. Hanya dua orang yang mencintai dan saling melukai.
***