Nilam (Rahasia)

Kemenangan

Di sebuah hotel lain, tak jauh dari pusat kota.

Tumpal Dongoran duduk di hadapan layar televisi di kamar hotelnya, menonton siaran langsung perhitungan suara. Wajahnya keras, kerutan di dahinya semakin dalam. Di sampingnya, beberapa orang kepercayaannya, termasuk seorang jurnalis investigasi yang ia panggil.

"Bagaimana progresmu?" tanya Tumpal, menatap jurnalis itu.

"Data awal sudah ada, Pak Tumpal," jawab jurnalis, memegang tabletnya. "Perceraian Nilam Cita Resmi dan Barton Dongoran memang disembunyikan rapat. Tidak ada pemberitaan sama sekali. Tapi jejak dokumen pengadilan sudah kita temukan. Kesepakatan damai, tanpa drama. Aneh, bukan?"

"Sangat aneh," gumam Tumpal. "Barton bukan tipe yang mau membuat masalah, tapi dia juga tidak akan menyerah begitu saja. Dan Nilam... dia terlalu cerdas untuk tidak punya motif lain".

"Dan mengenai Sudjono, Pak Tumpal. Kami menemukan beberapa koneksi lama antara perusahaan tambang dan beberapa konsesi milik Sudjono di Kalimantan yang terkait dengan keluarga Nasrullah Abdullah".

Tumpal Dongoran menyeringai tipis. "Sudah kuduga. Mereka semua sama busuknya. Lalu, apa hubungan Nilam dengan semua ini?"

"Kami sedang menggali lebih dalam, Pak Tumpal. Ada indikasi bahwa Nilam Cita Resmi adalah putri kandung Sudjono, anak yang tidak diakui".

Meskipun Tumpal sudah tahu, mendengar konfirmasi itu dari jurnalis tetap membuatnya terkejut. "Jadi, dia kembali untuk membalas dendam? Dan dia menggunakan Satria Raja sebagai alat?"

"Itu kemungkinan terbesarnya, Pak Tumpal," jurnalis itu mengangguk. "Dia punya motif, dia punya kecerdasan, dan dia punya akses langsung ke Satria Raja".

Tumpal memejamkan mata. Putaran takdir ini terasa seperti lelucon pahit. Nilam, yang ia anggap menantunya, anak yang ia siapkan untuk mewarisi kerajaannya, ternyata adalah putri musuh bebuyutannya, dan kini menjadi bagian dari intrik yang bisa menghancurkan semuanya.

"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi," Tumpal berkata dingin. "Aku tidak akan membiarkan Satria Raja, atau Sudjono, atau siapa pun, merusak apa yang sudah kubangun". Ia menatap layar televisi yang menampilkan wajah tersenyum Satria Raja. "Persiapkan narasi tandingan. Kita akan serang mereka dengan informasi yang tepat terkait keterlibatan Nilam dan Sudjono. Aku tidak akan membiarkan kecurangan itu menang. Apalagi kalau kecurangan itu berasal dari orang yang kusayangi sendiri".

Tumpal tahu, dia harus bertindak. Dia akan melindungi nama baik keluarganya, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan Nilam.

***

Malam hari, Hotel Diplomat, kamar 1206.

Arif, "Bayangan" Mia, tiba di kamar 1206, yang kini menjadi saksi bisu pertemuan rahasia mereka. Mia sudah menunggunya, duduk di tepi ranjang, matanya menatap kosong ke luar jendela. Dia tidak mengenakan busana kampanye, hanya gaun tidur sutra yang membuatnya terlihat rentan.

"Bagaimana?" tanya Arif, langsung ke intinya.

"Satria menang," jawab Mia datar. "Angka quick count sudah menunjukkan hasil yang mutlak. Dia akan menjadi presiden berikutnya".

Arif mengangguk. "Lalu? Apa rencanamu?"

Mia berbalik, menatap Arif. Ada kesedihan yang dalam di matanya, tetapi juga tekad yang membara. "Aku tahu tentang perceraian Nilam. Dan aku tahu tentang rahasia ayahku dengan mertuaku".

Arif terdiam. "Bagaimana kau tahu?"

"Aku punya mata dan telinga di mana-mana," Mia tersenyum getir. "Dan aku punya informasi yang lebih valid daripada sekadar gosip. Nilam adalah putri kandung ayahku, dari hubungan gelapnya dulu".

Arif menatap Mia, terkejut. "Itu..."

"Sangat mengejutkan, bukan?" Mia mengangguk. "Jadi, seluruh sandiwara ini bukan hanya tentang cinta segitiga atau politik kotor. Ini tentang dendam seorang anak perempuan yang kembali untuk menghancurkan ayah kandungnya, menggunakan suamiku sebagai bidak".

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan membiarkan mereka berbahagia sebentar," kata Mia, suaranya dipenuhi dingin. "Biarkan Satria merasakan kemenangan. Biarkan Nilam merasakan manisnya pembalasan. Aku akan menunggu saat yang tepat".

"Kapan itu?"

"Setelah mereka merasa aman. Setelah mereka berpikir semuanya sudah berakhir. Saat itulah aku akan menjatuhkan mereka. Dengan cara yang bersih, tapi mematikan".

Mia tahu, dia memiliki bukti kuat tentang korupsi dan kolusi antara ayah Satria dan ayahnya sendiri. Bukti yang selama ini ia simpan rapat, menunggu momen yang paling efektif untuk digunakan. Kemenangan Satria justru akan membuat kejatuhannya lebih dramatis.

"Aku tidak akan membiarkan ayahku lolos begitu saja," kata Mia. "Dan aku tidak akan membiarkan Satria dan Nilam membangun kebahagiaan mereka di atas reruntuhan yang kubangun. Aku juga berhak atas panggungku sendiri".

Arif mendekat, memeluk Mia. "Aku akan selalu di sisimu".

Mia membalas pelukan itu, merasakan kekuatan yang mengalir dari Arif. Ia tahu, dalam pertempuran ini, ia tidak sendiri. Ia memiliki Arif, kebebasannya, dan juga kartu as yang siap ia mainkan. Setelah dirasa cukup, Mia gegas kembali. Ada Satria yang sedang menunggu. Ada panggung kemenangan yang harus mereka ramaikan.

***

Markas tim sukses Satria Raja.

Sorakan histeris memecah keheningan malam. Hasil quick count dari seluruh provinsi sudah keluar. Satria Raja dinyatakan sebagai pemenang Pemilihan Umum Presiden. Selebrasi besar-besaran pecah. Lampu sorot menyala, confetti berhamburan, dan jurnalis berebut mendekat.

Satria Raja berdiri di panggung, di samping Mia, yang tersenyum sempurna di depan kamera. Ia mengangkat tangan, menyapa pendukungnya. Ia adalah pria yang paling bahagia di Jakarta malam itu. Dia telah mencapai puncaknya.

Nilam berdiri di belakang panggung, di antara kerumunan timnya. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Ia mengamati Satria dan Mia, dua boneka di panggung kekuasaan. Misi pertama selesai. Satria telah menjadi presiden. Sekarang, giliran misi berikutnya. Misi yang sesungguhnya.

Ia meraih ponsel khususnya. Membuka kalender. Satu hari lagi. Besok. Ia akan terbang. Menghilang.

Ia menatap Satria yang sedang berpelukan dengan Mia di atas panggung. Satria adalah pria yang ia cintai, pria yang memberinya perasaan jujur yang belum pernah ia rasakan. Tetapi dia juga adalah anak dari seorang Nasrullah Abdullah, yang terkait dengan Sudjono, pria yang menghancurkan hidup ibunya. Nilam tahu, ia harus melakukan ini. Untuk ibunya. Untuk dirinya sendiri.

Di tengah sorakan kegembiraan, ia mulai menyelinap keluar dari kerumunan. Tidak ada yang memperhatikannya. Mereka semua terlalu sibuk merayakan kemenangan. Di luar gedung, sebuah taksi sudah menunggunya. Ia masuk ke dalam, taksi melaju pelan, membelah lautan massa yang masih berpesta.

***

Pagi harinya, Jakarta masih merasakan euforia kemenangan. Satria Raja bersiap untuk konferensi pers pertamanya sebagai presiden terpilih. Timnya sibuk menyusun agenda, menyiapkan lokasi.

Namun, ada yang aneh. Nilam tidak datang ke kantor. Ponsel utamanya tidak aktif. Riko dan timnya mencoba menghubunginya, tetapi tidak ada jawaban.

Satria Raja, yang baru saja menerima ucapan selamat dari beberapa menteri, tiba-tiba merasakan firasat buruk. Ia meraih ponsel khususnya, mengetik pesan untuk Nilam: Di mana kau? Kita harus bicara.

Tidak ada balasan.

Di bandara, sebuah pesawat tujuan Eropa baru saja lepas landas. Di dalamnya, duduk seorang wanita yang mengenakan topi lebar dan kacamata hitam. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi. Ia menatap awan di bawahnya, meninggalkan Jakarta, meninggalkan masa lalu.

Nilam Cita Resmi telah menghilang.

Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, permainan yang lebih besar baru saja dimulai. Tumpal Dongoran sudah bergerak, dan Mia sedang menyusun bidak terakhirnya.

Badai yang dinanti telah tiba.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!