Nilam (Rahasia)

Mencari Nilam

Tumpal Dongoran kini adalah salah satu orang yang paling sibuk di Jakarta. Setelah pengungkapan Mia, ia bergerak cepat, seperti predator yang mencium aroma darah. Jaringannya yang luas, yang tadinya digunakan untuk mencari informasi, kini diaktifkan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang lebih konkret, terutama yang melibatkan Nilam. Ia tahu ada lebih banyak yang tersembunyi di balik peran Nilam dalam tim sukses Satria dan perceraiannya dengan Barton.

"Bagaimana progres penyelidikan terhadap Nilam?" tanya Tumpal kepada seorang penyidik swasta yang ia pekerjakan, suaranya tidak sabar.

"Jejak digitalnya bersih sekali, Pak Tumpal," jawab penyidik, terdengar sedikit frustrasi. "Seolah-olah dia tidak pernah ada. Tapi kami menemukan satu hal yang menarik. Beberapa jam setelah pengumuman kemenangan Satria Raja, ada sebuah IP address yang terhubung dengan akun anonim di sebuah forum investigasi global, mengunggah data tentang korupsi tambang yang mirip dengan yang diungkapkan Mia. Informasi itu sangat rinci".

Mata Tumpal menyala, sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. "Itu dia. Itu Nilam. Dia bekerja di balik layar, memanipulasi situasi. Dia memanfaatkan skandal ini untuk agendanya sendiri, agendanya melawan Sudjono".

"Tapi IP address itu menunjuk ke sebuah kota di Eropa Timur, Pak," lanjut penyidik, nadanya ragu. "Dan identitas akun itu sangat samar, tidak bisa dilacak sama sekali".

Tumpal Dongoran menghela napas. Nilam memang licik, seperti yang ia duga. "Dia tidak akan bisa bersembunyi selamanya. Kita akan terus cari. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan. Apa motif tersembunyi di balik semua ini?"

"Dan mengenai Sudjono, Pak Tumpal?"

"Sudjono adalah sasaran utamanya," Tumpal menyeringai dingin. "Nilam tidak mungkin melakukan ini tanpa motif dendam. Putri kandung yang tidak diakui... itu adalah alasan yang sangat kuat, sebuah bom waktu yang baru saja meledak". Ia tahu, pengungkapan Mia telah membuka kotak pandora yang selama ini dijaga ketat oleh dinasti-dinasti kaya raya. Ini adalah kesempatan baginya untuk membersihkan nama keluarganya, atau setidaknya, memastikan bahwa orang lain juga merasakan dampak dari kebusukan ini.

Tumpal mengambil telepon, menghubungi seorang jurnalis yang ia percayai. "Aku punya informasi tambahan untukmu. Tentang koneksi lama antara Sudjono dan Nasrullah, dan juga tentang peran seorang ahli strategi muda yang kini menghilang, sosok kunci yang mungkin terabaikan oleh media". Ia akan memastikan media tidak hanya fokus pada skandal utama, tetapi juga pada motif tersembunyi di balik semua ini, menggali lebih dalam dari sekadar permukaan.

***

Nilam, atau kini Clara Schmidt, duduk di depan laptopnya di sebuah apartemen kecil di pinggir kota Warsawa, Polandia. Salju masih turun tipis di luar jendela, menutupi jejak kakinya dari dunia yang baru saja ia goncang. Ia memantau berita dari Jakarta, setiap headline adalah hasil dari benih yang telah ia tabur. Kebenaran yang ia dambakan kini terkuak, tetapi dengan cara yang berbeda dari yang ia rencanakan. Mia telah mencuri show-nya, mengambil panggung yang seharusnya ia miliki.

Ia melihat wajah Satria di layar, tampak pucat dan lelah. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya, sebuah rasa bersalah yang tak terhindarkan. Ia tahu, Satria tidak bersalah dalam skandal korupsi ayahnya. Dia adalah korban, sama sepertinya, terjebak dalam jaring kebohongan dan ambisi orang lain. Namun, Satria kini harus menanggung akibatnya, menanggung beban yang tak seharusnya ia pikul.

Ponsel rahasianya bergetar lagi. Satria. Ia menatap layar itu lama, hatinya terbelah antara keinginan untuk menghubungi Satria, untuk menjelaskan segalanya, untuk menenangkan pria itu, dan tekadnya untuk tetap menghilang, untuk menjalankan misi yang lebih besar yang belum selesai. Ia menghela napas. Belum waktunya.

Nilam membuka forum investigasi. Pesan-pesan dari jurnalis lain membanjiri kotak masuknya, meminta lebih banyak data, lebih banyak petunjuk, haus akan informasi yang ia miliki. Ia mulai mengirimkan informasi yang lebih rinci, membeberkan jalur dana, nama-nama bank di luar negeri, dan detail tentang proyek-proyek fiktif, semua yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Ia bekerja tanpa lelah, merasa ada kepuasan aneh yang menjalar dalam dirinya. Dendamnya terhadap Sudjono mulai terbalaskan, satu per satu.

Namun, di balik semua itu, ada perasaan kosong. Kemenangan ini terasa hampa, tanpa makna sejati. Ia telah menghancurkan dua dinasti, tetapi ia juga telah kehilangan Satria. Belahan jiwa yang diramalkan itu kini adalah korban dari permainan yang ia mulai, sebuah ironi pahit yang harus ia telan.

Nilam menatap keluar jendela. Salju masih turun, menutupi jejak kakinya, memberinya ilusi keamanan. Ia tahu, penegak hukum akan mengejar, jurnalis akan terus mencari. Dan suatu hari, mungkin Tumpal Dongoran juga akan menemukannya. Tapi untuk saat ini, ia aman. Ia adalah Clara Schmidt, seorang wanita tanpa jejak.

***

Kembali ke Jakarta.

Mia, setelah konferensi pers yang mengguncang itu, kembali ke kediaman pribadinya. Ia tidak terlihat di depan umum lagi, memilih untuk mengamati dari balik layar. Ponselnya terus berdering dengan panggilan dari media, dari pengacara ayahnya, dari teman-teman sosialitanya yang penasaran dan ingin tahu lebih banyak. Ia mengabaikan semuanya, fokus pada tujuannya.

Ia duduk di sofa, memandangi cincin kawinnya yang masih melingkar di jari. Hubungannya dengan Satria telah berakhir, sebuah babak yang telah ia tutup dengan tangannya sendiri. Ia telah mengakhiri panggung sandiwara itu. Ia telah membebaskan dirinya dari beban nama Sudjono, meskipun itu berarti menghancurkan nama baik ayahnya sendiri.

Arif datang sore itu, wajahnya tegang, penuh kekhawatiran. "Kau melakukannya, Mia. Kau mengguncang negara ini. Tak ada yang menduga ini akan sejauh ini".

Mia tersenyum tipis, sebuah senyum penuh makna. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan".

"Tapi Satria..." Arif memulai, ragu-ragu.

"Dia adalah collateral damage," potong Mia dingin, tanpa penyesalan. "Dia memilih untuk menutup mata terlalu lama. Dia terlalu buta oleh ambisinya, dan oleh... perempuan lain. Dia harus menanggung konsekuensinya". Mia teringat akan Nilam. Ia tahu Nilam adalah bagian dari ini, bahkan mungkin salah satu dalang di balik semua ini, sebuah potongan puzzle yang kini mulai terlihat.

"Kau akan baik-baik saja?" tanya Arif, prihatin, melihat ketenangan yang mengerikan di wajah Mia.

Mia mengangguk, sorot matanya tajam. "Aku punya kekuatanku sendiri, Rif. Dan sekarang, aku punya kebebasanku. Aku akan menghadapi apa pun yang datang. Ini baru permulaan". Ia menatap ke luar jendela, ke arah kota yang kini dilanda kekacauan, sebuah kota yang sedang bergejolak. "Mereka semua akan jatuh. Satu per satu. Dan aku akan menyaksikan kejatuhan mereka".

Mia tahu, perjuangan ini baru permulaan. Ia akan memberikan kesaksian, menyerahkan semua bukti, dan memastikan penegak hukum menjalankan tugasnya sampai tuntas. Ini adalah pertarungannya. Pertarungan untuk kebenaran, untuk penebusan, dan untuk panggungnya sendiri yang ia ciptakan.

Malam itu, Jakarta yang kacau balau adalah gambaran nyata dari kehancuran yang telah dimulai. Satria Raja yang terpukul, Nasrullah Abdullah dan Sudjono yang menghadapi jeruji besi, Tumpal Dongoran yang memburu dendam, dan Nilam yang menghilang di Eropa. Semua karakter kini berada di jalur masing-masing, terpisah oleh pilihan dan rahasia yang mereka simpan. Dan di tengah semua reruntuhan itu, ramalan Abah Yusman tentang malapetaka, kini terasa begitu nyata, sebuah takdir yang tak terhindarkan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!