Nilam (Rahasia)

Tujuan Mia

Dua bulan telah berlalu sejak badai pengungkapan Mia Sudjono Utama mengguncang Jakarta. Kota ini, yang tadinya dipenuhi euforia kemenangan, kini diselimuti awan gelap ketidakpastian politik. Tuntutan hukum terhadap Sudjono dan Nasrullah Abdullah terus bergulir, menghadirkan babak baru dalam sejarah hukum dan politik negara. Satria Raja, yang seharusnya dilantik sebagai presiden, kini berada dalam pusaran investigasi. Reputasinya hancur lebur, impiannya luluh lantak.

Di kediaman pribadinya yang kini terasa sepi dan dingin, di mana gema langkahnya sendiri pun terasa asing, Satria Raja menghabiskan hari-harinya dalam isolasi. Pengawal masih berjaga di luar, seperti bayangan kaku yang lebih mirip penjaga tahanan daripada pelindung. Satria jarang keluar, menghindari sorotan media yang masih memburunya seperti kawanan elang yang tak pernah menyerah. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan pribadinya yang dipenuhi aroma kertas tua dan kayu, membaca buku-buku filsafat dan sejarah, mencari makna di tengah reruntuhan hidupnya.

Tommy adalah satu-satunya orang yang masih setia mendampingi Satria. Setiap hari, ia datang membawa kabar terbaru dari luar berupa laporan investigasi yang semakin memberatkan, desas-desus politik, dan kadang, hanya sekadar menemani Satria dalam keheningan yang menyesakkan.

“Kasus ayahmu dan Sudjono semakin kuat, Sat,” kata Tommy suatu sore, meletakkan berkas tebal di meja kayu. “KPK menemukan banyak bukti baru. Jaringan mereka sangat rapi, tapi Mia punya data yang sangat lengkap. Sulit untuk menyangkalnya.”

Satria hanya mengangguk pelan, matanya menatap kosong ke luar jendela, ke arah langit Jakarta yang mendung. Ia sudah tahu. “Aku tahu, Tom. Aku sudah berbicara dengan ayahku di tahanan,” suaranya terdengar serak, hampir tak terdengar. “Dia mengakui semuanya. Dia bilang, dia melakukannya untukku.” Sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya. “Untuk kekuasaanku.”

Tommy menghela napas, menatap sahabatnya dengan iba. “Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan menghadapi ini,” jawab Satria, suaranya sedikit lebih tegas, ada percikan tekad yang baru bangkit. “Aku akan memberikan kesaksian. Aku tidak akan melindungi siapa pun yang bersalah, bahkan ayahku sendiri.” Ia menatap Tommy, sorot matanya tajam. “Aku harus membersihkan namaku, Tom. Bukan untuk politik, tapi untuk diriku sendiri. Untuk membuktikan bahwa aku bukan bagian dari kebusukan itu.”

Tommy mengangguk, bangga melihat tekad yang mulai kembali di mata Satria. “Itu keputusan yang benar, Sat. Meskipun akan sangat berat.”

“Berat adalah hal yang paling tidak aku takuti sekarang,” Satria tersenyum getir. “Aku sudah kehilangan segalanya. Impianku, jabatanku, dan...” Ia tidak melanjutkan kalimatnya, namun Tommy tahu siapa yang dimaksud. Nilam.

“Kau sudah coba menghubunginya lagi?” Tommy bertanya hati-hati, memecah keheningan.

Satria menggeleng, pandangannya kembali kosong. “Ponsel rahasianya masih belum memberikan balasan. Aku tahu dia membaca semua pesanku. Aku mengirim email, tapi tidak ada balasan. Dia benar-benar menghilang. Seolah-olah dia tidak pernah ada.” Satria teringat kembali percakapan mereka di Singapura. Rencana Nilam untuk menghilang. Apakah Nilam tahu ini akan terjadi? Apakah dia sengaja menghilang untuk melindungi dirinya sendiri dari badai ini, setelah misinya selesai? Rasa sakit karena pengkhianatan itu masih menusuk dalam, seperti belati dingin. Tetapi, di sisi lain, ada juga kekaguman atas kecerdasan dan keberanian Nilam. Perempuan itu telah merencanakan segalanya dengan sempurna.

“Tumpal Dongoran masih memburunya,” kata Tommy, mengubah topik. “Dia mengirim penyelidik ke mana-mana. Dia yakin Nilam adalah dalang di balik semua ini, atau setidaknya, dia punya peran besar dalam mengungkap semuanya.”

Satria mengangguk. “Tumpal adalah singa tua. Dia tidak akan menyerah. Dan dia punya jaringan yang kuat.”

“Dan Mia?” tanya Tommy.

“Mia... dia mengajukan gugatan cerai secara resmi. Pengacaraku sedang mengurusnya,” jawab Satria, suaranya kembali dingin, seperti lapisan es. “Dia menjatuhkan aku dari panggung. Aku tidak tahu apa lagi yang dia inginkan.”

Tommy diam, ia tahu Mia tidak hanya ingin menjatuhkan Satria atau ayahnya. Mia ingin menebus dirinya, membangun panggungnya sendiri, terlepas dari bayang-bayang Sudjono dan Satria Raja.

***

Tumpal Dongoran kini menjadi sosok yang disegani di Jakarta. Pengungkapan skandal korupsi besar itu memberinya panggung untuk menunjukkan pengaruhnya. Ia tidak hanya menyuplai informasi kepada media, tetapi juga secara aktif bekerja sama dengan penegak hukum, memastikan kasus itu tidak berhenti di tengah jalan. Namun, di balik semua aktivitasnya, ada satu hal yang belum terselesaikan: Nilam Cita Resmi.

“Bagaimana dengan hasil penyelidikan terbaru tentang Nilam?” tanya Tumpal kepada kepala tim penyidik swasta yang ia pekerjakan, suaranya dipenuhi ketidaksabaran.

“Kami melacak sebuah IP address yang terhubung ke sebuah forum investigasi global, Pak Tumpal,” jawab penyidik, menunjukkan layar tabletnya. “IP address itu digunakan untuk mengunggah informasi yang sangat mirip dengan yang diungkapkan Mia. Dan IP itu berasal dari sebuah kota kecil di Eropa Timur.”

Tumpal mengerutkan kening. “Eropa Timur? Sejauh itu?”

“Ya, Pak. Tapi kami tidak bisa melacaknya lebih jauh. Dia menggunakan dark web dan server berlapis. Profesional sekali. Seolah-olah dia sudah merencanakan ini jauh-jauh hari,” jelas penyidik.

“Dia memang merencanakan ini,” Tumpal berkata dingin, pandangannya mengeras. “Dia menggunakan Satria Raja sebagai alat, lalu menghilang setelah semuanya meledak. Dia ingin menjatuhkan Sudjono, dan dia tidak peduli siapa yang harus dia korbankan.” Tumpal bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta yang menjulang, seolah mencari sosok Nilam di antara hiruk pikuk kota.

“Aku tidak akan membiarkannya lolos, dia tidak boleh lolos dari ini. Dia harus bertanggung jawab atas kekacauan ini, dan juga atas Barton.” Ia teringat seharusnya Nilam tetap menjadi istri Barton dan pewaris firma hukumnya.

“Terus cari,” perintah Tumpal, nada suaranya tegas. “Tidak ada tempat yang cukup jauh baginya untuk bersembunyi. Aku ingin tahu apa yang dia lakukan di sana. Apa yang dia rencanakan selanjutnya.” Tumpal tahu, ini bukan hanya tentang keadilan. Ini adalah tentang kehormatan dan pengkhianatan. Dan ia tidak akan berhenti sampai Nilam menghadapi pertanggungjawaban.

***

Di sisi lain kota, Mia Sudjono Utama merasakan sesuatu yang sepi yang bukan hanya berasal dari lantai kaca kantornya. Ia duduk di ruang rapat yang biasanya dipenuhi staf, kini hanya ditemani dua penasihat hukum yang setia. Matanya tersapu layar yang menampilkan cuplikan-cuplikan pemberitaan, wawancara, potongan video sidang, komentar warganet yang berubah-ubah antara simpati dan kecaman.

Mia tidak menyesal atas apa yang dilakukannya; ia tahu konsekuensi akan datang. Namun ada bagian dalam dirinya yang tak pernah ia duga: seberapa cepat kebenaran akan memecah hidup-hidup orang-orang di sekitarnya. Ia tidak memikirkan Satria sebagai alat, ia memikirkan kebenaran sebagai keharusan moral. Dan ketika kebenaran menimpa, dampaknya tak lagi bersih dari korban.

“Apa yang kau harapkan, Mia?” tanya salah satu penasihatnya, suaranya cemas. “Apakah kau ingin membersihkan semua ini hingga ke akar, meski itu menghancurkan keluarga-keluarga yang terlibat?”

Mia menatap diam, jarinya menggulung ujung mug kopi. “Aku ingin akuntabilitas,” katanya singkat. “Aku ingin sistem ini tidak lagi menjadi permainan beberapa orang. Kalau harus ada yang jatuh, biarlah kebenaran yang menang. Aku tidak mencari balas dendam pribadi.” Tapi di matanya ada sesuatu yang lebih kompleks; ada luka yang lama, rasa dikhianati, dan juga—entah bagaimana—kelegaan.

***

Di tengah pusaran itu, cerita Barton berdesir di balik layar. Kehilangan Nilam bukan hanya soal hati, tetapi juga amanah. Barton sibuk menata puing-puing reputasi firma hukumnya yang mulai goyah. Ia memanggil pengacara, menutup pintu kantor untuk menerima klien-klien penting secara tertutup. Namun malam-malamnya tetap kosong. Ia menatap satu-satunya foto pernikahan mereka, bertanya-tanya apakah kebohongan yang menumpuk adalah alasan yang membuat ia bisa mencintai dan membenci pada waktu yang sama.

Ada juga suara-suara kecil yang mulai berbisik: mengapa Nilam yang menghilang? Apakah ia memang sekutu Mia, atau ada rencana lain yang lebih rumit? Sejumlah wartawan lepas mulai merangkai teori, menyusun teka-teki dari bukti-bukti digital yang bocor dan rumor di lorong-lorong pengadilan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!