Nilam (Rahasia)

Satria Bersaksi

Sementara itu, Satria, yang memutuskan untuk bersaksi, mulai menata kembali dirinya menjadi manusia yang akan memasuki ruang pemeriksaan publik. Persiapan mentalnya tidak mudah. Setiap hari ia berlatih mengingat kembali percakapan-percakapan penting, menelaah dokumen-dokumen yang mungkin dipertanyakan, dan menata hatinya agar tidak runtuh di hadapan para hakim dan publik.

Setiap kata diberi tanda. Kalimat demi kalimat dibaca dengan seksama. Satria mencari celah bagaimana dia bisa membela diri dan mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu tentang huru hara ini.

Malam sebelum hari pernyataan resmi itu, Satria berjalan ke balkon rumahnya, memejamkan mata, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Di kejauhan, suara kendaraan kota dan nyala lampu tak kunjung padam. Ia membayangkan wajah ayahnya di ruang tahanan, wajah Nilam yang menghilang seperti bayangan pagi di Singapura, wajah Mia yang menyulut semua ini demi alasan yang ia sendiri kadang tidak sepenuhnya mengerti.

Tommy berdiri di sampingnya tanpa kata. Mereka berdua tahu, keputusan yang akan diambil Satria bukan hanya soal membersihkan nama. Itu soal memilih jalan yang mungkin menghancurkan sisa-sisa hubungan lama, mengakui kenyataan yang pahit, dan menerima akibat yang tak ringan. Namun di bawah semua itu, ada sesuatu yang sederhana dan manusiawi: keinginan untuk berdiri tegak sekali lagi, bahkan jika dunia memutuskan sebaliknya.

Pagi harinya, ketika mobil meluncur menuju gedung KPK, kabel-kabel media sudah terpasang di trotoar. Kamera-kamera mengunci wajah-wajah yang akan menjadi pusat perhatian. Satria menatap ke cermin mobil, melihat dirinya sendiri. Seseorang yang pernah bermimpi besar, kini sekadar manusia dengan kelelahan di kelopak mata. Ia menarik napas panjang, lalu berkata lirih pada dirinya sendiri: “Untuk kebenaran. Untuk akhir yang tenang.”

Di ruang sidang yang padat, di bawah lampu-lampu yang keras dan tatapan yang menunggu, Satria naik ke tempat saksi. Pertanyaan, jawaban, bisik-bisik yang menunggu ledakan. Ketika ia membuka mulutnya, suaranya tidak gemetar seperti yang ia bayangkan. Ada ketenangan aneh yang muncul dari pengakuan: bahwa menerima kebenaran, apa pun konsekuensinya, membuatnya lebih manusiawi daripada hidup di balik bayang-bayang kebohongan.

Di luar gedung, di suatu sudut yang tak terlihat kamera, seseorang mengangkat telepon, mengirimkan pesan pendek: “Dia bersaksi.” Di Eropa Timur, di sebuah kamar kecil yang dijauhkan dari kebisingan dunia, layar komputer berkedip. Dan di meja ruang rapat Tumpal, rencana-rencana baru mulai disiapkan. Perang hukum politik ini belum usai. Namun sesuatu telah berubah: cerita tidak lagi sebatas permainan elit, kisah manusia biasa yang terluka, yang memilih untuk berbicara atau menghilang, kini menentukan arah sejarah untuk waktu yang tak singkat.

Dan di antara semua itu, sebuah pertanyaan tetap menggantung: ketika semua debu mengendap, siapa yang akan tersisa, yang menegakkan kebenaran, atau yang tersisa di belakang sebagai sisa-sisa kekuasaan? Satria tidak tahu jawabannya. Ia hanya tahu bahwa malam-malam panjangnya mungkin akan berakhir, atau setidaknya berubah bentuk. Ia menutup mata sejenak, membiarkan suara hakim, bisik-bisik pengacara, dan bunyi kamera menjadi latar. Di dalam dirinya, ada satu hal yang sederhana. Ia ingin bisa menatap cermin dan melihat dirinya sendiri tanpa harus memandang ke belakang lagi.

Semuanya sudah tidak sama. Bahkan untuk berbalik pun Satria sudah tak bisa. Saat ini, ia hanya memiliki dua kemungkinan. Terus melangkah atau menyerah dan mengakui kalau dirinya kalah.

Begitulah hari-hari baru itu dimulai dengan pengakuan, perburuan, pengadilan, dan keputusan-keputusan yang akan mengubah lintasan hidup banyak orang. Tak ada yang mudah, tak ada yang bersih. Tapi bagi sebagian, kebenaran telah dimulai; dan untuk Satria, itu adalah jalan yang harus ia tempuh, walau itu berarti kehilangan lebih banyak lagi.

***

Nilam, dengan identitas barunya, menjalani kehidupan yang tenang dan teratur di sebuah kota kecil. Ia tinggal di sebuah apartemen minimalis, bekerja sebagai freelancer untuk sebuah perusahaan data analisis. Uang hasil kerjanya cukup untuk menopang hidupnya, jauh dari kemewahan yang ia kenal di Jakarta, tapi juga jauh dari intrik dan bahaya yang mengancam.

Ia masih secara teratur memantau berita dari Indonesia. Setiap kali membaca tentang perkembangan kasus Sudjono dan Nasrullah, tentang bagaimana Satria menghadapi tekanan yang tak berkesudahan, ada campuran emosi yang melandanya. Kepuasan atas dendam yang terbalaskan, namun juga rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya, seperti parasit tak terlihat.

Suatu malam, ia melihat sebuah wawancara eksklusif dengan Mia di sebuah stasiun televisi internasional. Mia terlihat tenang dan berwibawa, menjelaskan motivasinya untuk mengungkap kebenaran. Ia bicara tentang nilai-nilai moral, tentang pentingnya transparansi, dan tentang komitmennya untuk membersihkan nama baik keluarga.

"Saya melakukan ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun," kata Mia dalam wawancara itu, dengan senyum tipis di bibirnya. "Saya melakukannya untuk kebenaran. Dan untuk masa depan yang lebih baik bagi negara ini".

Nilam mematikan televisi. Mia telah berhasil membangun citra dirinya sebagai pahlawan, seorang perempuan yang berani mengorbankan segalanya demi kebenaran. Ironisnya, Mia telah mengambil peran yang dulu Nilam impikan untuk dirinya sendiri.

Ia membuka laptopnya. Masih ada beberapa data yang ia simpan, seperti harta karun tersembunyi. Data yang lebih rinci tentang keterlibatan pihak ketiga dalam kasus tambang itu, nama-nama bank di negara lain, dan rincian transaksi gelap yang belum terungkap sepenuhnya. Ia telah menjatuhkan inti permasalahan, tetapi masih ada cabang-cabang yang belum terpotong. Seharusnya ia merasa puas, tetapi ada kegelisahan yang tak terlukiskan, seperti riak air yang tak pernah tenang di dalam dirinya. Ia telah meninggalkan Satria di tengah badai, dan meninggalkan Tumpal Dongoran dengan amarah yang membara. Hidup barunya, yang seharusnya memberinya kedamaian, terasa hampa.

Ia meraih ponsel rahasianya, sebuah benda kecil yang menyimpan sejuta rahasia. Mengaktifkannya. Pesan dari Satria langsung masuk, bertumpuk-tumpuk, mencerminkan keputusasaan:

Di mana kau? Aku butuh kau sekarang.

Lalu pesan-pesan berikutnya, semakin putus asa:

Nilam, tolong balas. Aku mencemaskanmu.

Aku tahu kau punya motif lain. Aku tahu kau putri Sudjono. Tapi aku mencintaimu, Nilam. Aku ingin tahu kenapa.

Kalau kamu memerlukan dukungan, kamu tahu aku selalu mendukungmu. Kita bisa menghadapi semuanya bersama. Tapi tolong jangan menghilang seperti ini.

Nilam membaca pesan-pesan itu, air mata mengalir di pipinya, membasahi wajahnya yang lelah. Ia bisa merasakan keputusasaan dan kekecewaan Satria yang menusuk jauh ke dalam hatinya. Ia telah menghancurkan Satria, tidak hanya dengan menghilang, tetapi juga dengan membiarkan rahasia itu menghantamnya tanpa persiapan. Ia mengetik balasan, tetapi menghapusnya lagi. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ia melakukan ini untuk dendam? Bahwa ia mengorbankan Satria demi misinya sendiri? Terlalu menyakitkan. Ia mematikan ponsel rahasianya lagi. Tidak ada jalan kembali sekarang.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!