Nilam (Rahasia)

Hidup Baru Nilam

Di sebuah kota terpencil di Eropa Timur, Nilam mulai merasa cemas. Kota itu nyaris tak berwarna, bangunan-bangunan tua dengan jendela tinggi, cat terkelupas, dan kabut musim gugur yang membuat setiap langkah terdengar menggema. Di luar, lonceng gereja berdentang lambat. Setiap suara terasa seperti peringatan.

Meskipun ia telah mengambil langkah-langkah ekstrem untuk menjaga anonimitasnya dengan mengganti nama, menyewa apartemen dengan identitas palsu, dan tidak pernah keluar tanpa mantel panjang serta topi yang menutupi wajah, laporan-laporan dari forum investigasi global mulai terasa terlalu dekat. Ada beberapa jurnalis yang bertanya tentang detail spesifik yang hanya ia dan segelintir orang tahu. Sesuatu telah bocor.

Ia tahu, Tumpal Dongoran sedang bergerak.

Nilam melihat sebuah berita dari Jakarta. Foto Tumpal muncul di layar: ia sedang duduk di sebelah seorang jurnalis investigasi terkenal dalam sebuah konferensi pers. Cahaya lampu kamera memantul di wajah Tumpal yang tegas. Tatapan matanya tajam, seperti seseorang yang sedang mencium darah. Jantung Nilam berdebar kencang. Ia tahu, Tumpal tidak akan berhenti sampai ia ditemukan.

Selama bertahun-tahun, Tumpal selalu punya naluri untuk membongkar rahasia orang lain, tapi kini, insting itu diarahkan padanya. “Kau tak akan bisa bersembunyi selamanya, Nilam,” seolah bayangan Tumpal berbisik dari layar.

Kecemasannya meningkat ketika ia membaca laporan terbaru tentang kasus Sudjono. Beberapa aset di luar negeri yang dulu ia duga hanya diketahui oleh lingkaran Sudjono, kini ikut dibekukan. Itu berarti seseorang telah memberikan informasi internal ke otoritas internasional. Ada orang lain yang memiliki peta yang sama dengannya atau bahkan lebih lengkap.

Dan ia tahu siapa orang itu.

Mia.

Nilam menggenggam cangkir tehnya. Cairan panas itu gemetar di tangannya. Ia tahu, waktunya hampir habis. Jika Mia menemukan semua potongan data yang dulu mereka bagi bersama Satria, maka seluruh sandi yang ia sembunyikan di balik forum anonim itu akan terbaca.

Ia memutuskan untuk mengambil langkah baru. Ia tidak bisa lagi hanya bersembunyi. Ia harus bergerak lebih cepat, lebih tajam. Menyerang sebelum ditemukan.

Ia mulai menyusun laporan panjang. Bukan laporan sembarangan, namun dokumen setebal seratus halaman berisi catatan rahasia tentang jaringan korupsi lintas negara, transaksi tambang, hingga nama-nama yang tak pernah muncul di publik. Laporan itu juga mencakup hal-hal yang belum pernah ia berani tulis. Upaya pembungkaman saksi, manipulasi media, dan operasi bayangan yang dilakukan oleh Sudjono melalui lembaga-lembaga amal palsu.

Kali ini, ia menulis dengan tangan yang gemetar tapi pasti. Ia tahu, begitu laporan itu keluar, tidak akan ada jalan kembali. Ia menulis pula beberapa detail masa lalunya, tanpa menyebut nama, hanya “saksi anonim dengan akses keluarga terhadap jaringan lama.”

Tujuannya ganda. pertama, untuk menambah beban bukti agar Sudjono tak bisa lagi mengelak. Kedua, untuk menciptakan gangguan, mengalihkan perhatian para jurnalis ke arah cerita yang lebih besar, jauh dari dirinya sendiri.

Di tengah keheningan itu, ponsel rahasianya berdering. Nada getar pendek, hanya dua kali. Ia tahu siapa itu sebelum melihat layar.

Satria.

Nilam menatap layar lama sekali. Sudah tiga bulan ia menghilang. Tiga bulan sejak ia memutus semua kontak. Tapi Satria masih mencoba menghubunginya. seorang pria yang dulu ia kagumi, cintai, dan pada akhirnya… khianati.

Ia menutup matanya. Bayangan wajah Satria muncul jelas: tatapan teduh, suara rendah yang menenangkan, cara ia memegang tangannya di malam sebelum pemilu. Semua terasa jauh dan asing sekarang.

Ia menekan tombol reject.

Belum waktunya. Ia belum siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Belum siap mengakui sejauh apa ia telah menggunakan cinta Satria sebagai jalan masuk menuju lingkaran kekuasaan.

***

Sementara itu, di Jakarta, Satria berdiri di balkon apartemennya, menatap langit yang kelabu. Sejak badai pengungkapan Mia tiga bulan lalu, ia merasa hidupnya tak lagi punya arah. Ia, presiden terpilih yang nyaris dilantik, kini hanya bayangan dari dirinya sendiri. Media memburunya, partai menjauhinya, dan hukum menantinya seperti pintu besi yang tak bisa ia elak.

Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang berubah. Ia mulai menemukan kekuatan lain, kekuatan untuk menghadapi kebenaran, bahkan jika kebenaran itu menghancurkan.

Ponselnya berdering. Nama Mia muncul di layar. Ia menatapnya sesaat, lalu mengangkat.

"Satria," suara Mia terdengar tenang. Terlalu tenang.

"Aku tahu ini bukan waktu yang mudah untukmu."

"Apa yang kau inginkan, Mia?" suaranya dingin, menahan emosi. "Kau sudah menjatuhkanku. Apa lagi?"

Hening sejenak di ujung telepon.

"Aku hanya ingin tahu," kata Mia perlahan, "apakah kau sudah sadar siapa yang sebenarnya menarik benang di balik semua ini? Atau kau masih buta oleh ramalan konyol itu?"

Satria menegang. Ia tahu Mia bicara tentang Nilam.

"Nilam bagian dari semua ini," jawabnya datar. "Dia menghilang tepat setelah semuanya terbongkar. Tapi aku belum tahu seberapa dalam keterlibatannya. Aku akan menemukannya."

Mia tertawa pelan, tawa tanpa kehangatan.

"Mungkin kau tak perlu mencarinya sejauh itu," katanya. "Kadang, kebenaran justru berdiri di depan mata. Tapi manusia terlalu sibuk menyalahkan takdir."

"Apa maksudmu?" tanya Satria, alisnya mengerut.

"Kau akan tahu," jawab Mia pelan. "Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak pernah berniat menghancurkanmu. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku. Kebenaran itu… selalu menuntut harga."

Telepon terputus.

Satria terdiam lama. Di balik rasa marah, ia justru merasa ada sesuatu yang lebih besar, lebih gelap dari sekadar pengkhianatan pribadi. Seolah ada jaring tak terlihat yang menjerat mereka semua. Dirinya, Mia, Nilam, bahkan nama besar seperti Sudjono.

Ia membuka laptopnya, mencari folder lama berisi catatan Abah Yusman.

“Pilih dengan benar. Jika tidak, malapetaka akan datang dari orang terdekatmu.”

Kalimat itu kini seperti kutukan. Nilam, belahan jiwanya yang menghilang, putri dari musuh politiknya. Mia, istrinya yang membawa kehancuran lewat kebenaran. Ia, Satria, telah berdiri di tengah jaring laba-laba, tanpa sadar menjadi mangsa.

Ia membuka lembar catatan terakhir Abah Yusman. Seorang perempuan akan membawamu ke puncak, tapi jika hatimu tak benar, ia juga akan menyeretmu ke dalam kehancuran.

Satria menatap tulisan itu lama. Ia akhirnya paham. Kehancuran itu bukan politik. Kehancuran itu adalah hati.

"Aku akan menemukanmu, Nilam," bisiknya pelan. "Dan aku akan menemukan kebenaran yang sebenarnya."

***

Di sisi lain dunia, Nilam menekan tombol send.

Laporan rahasia setebal itu kini terkirim ke tiga jurnalis investigasi terkemuka di Eropa, Amerika, dan Asia. Ia menatap bilah kemajuan di layar hingga 100%. Setelah itu, ia menutup laptopnya perlahan, seolah menutup sebuah babak dalam hidupnya.

Namun rasa lega itu tak bertahan lama.

Sebuah notifikasi baru muncul di layar.

Judulnya: Tanggapan terhadap unggahan lama – Forum Global Transparency.

Ia membukanya dengan jantung berdebar. Di dalamnya hanya ada satu paragraf:

 “Kebenaran adalah pedang bermata dua. Terkadang, yang paling murni niatnya justru yang paling terluka. Aku tahu siapa kau. Dan aku tahu mengapa kau melakukan ini.”

Nilam membaca kalimat itu berulang kali. Setiap kata terasa seperti tusukan di dada. Ia tahu gaya penulisan itu, ritme kalimatnya, bahkan tanda titik di akhir.

Mia.

Ia terpaku. Seluruh tubuhnya membeku.

Mia telah menemukannya.

Tiba-tiba, angin dingin menerpa dari jendela yang sedikit terbuka. Lampu di sudut ruangan bergetar pelan. Nilam berdiri, menutup tirai dengan tergesa. Di kejauhan, lonceng gereja kembali berdentang. Pelan tapi berulang, seperti tanda bahaya.

Ia merasakan dingin merayap di punggungnya.

Ia pikir ia sudah bebas. Ia pikir dengan meninggalkan Jakarta, dengan mengganti identitas dan menghapus masa lalunya, semuanya akan berakhir.

Tapi kini ia tahu, bayangan Jakarta tak pernah pergi.

Mia, Tumpal, dan Satria—tiga sosok dari masa lalunya—masih mengintai di setiap sudut pikirannya.

Dan di antara ketiganya, hanya satu yang ia tak sanggup hadapi.

Satria.

Nilam menatap pantulan dirinya di jendela. Di luar, kabut semakin tebal, menelan cahaya kota kecil itu.

Dalam hati, ia tahu: permainan ini belum selesai.

Ini baru permulaan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!