Nilam (Rahasia)

Alasan

Satria sedang meninjau dokumen hukum ketika ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Ia ragu-ragu, lalu mengangkatnya.

"Halo?"

"Satria Raja." Suara itu adalah suara wanita. Suara yang ia kenal betul, namun kini terasa asing, dingin. "Aku sudah tahu di mana Nilam berada. Dan aku ingin bertemu dengannya. Bersamamu."

Jantung Satria berdegup kencang. "Mia? Kau di mana? Kau sudah tahu Nilam ada di mana?"

"Itu tidak penting," jawab Mia. "Yang penting adalah aku tahu. Dan aku ingin kau ikut. Ada banyak hal yang perlu diluruskan. Antara kita bertiga."

"Kapan? Di mana?" Satria bertanya, suaranya dipenuhi campuran amarah dan antusiasme. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu.

"Aku akan memberimu detailnya setelah aku mendapatkan konfirmasi dari Nilam," kata Mia. "Bersiaplah. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang." Mia menutup telepon. Satria menatap ponselnya, tangannya gemetar. Mia telah menemukan Nilam. Dan Mia ingin ia ikut.

Ia bangkit, mondar-mandir di ruang kerjanya. Semua teka-teki akan segera terjawab. Kenapa Nilam menghilang? Apa motifnya? Apa yang Mia ketahui? Ini bukan lagi tentang kursi presiden. Ini adalah tentang kebenaran pribadi, tentang pengkhianatan, dan tentang cinta yang terkoyak.

Satria memanggil Tommy. "Tom, kita harus bersiap. Mia sudah menemukan Nilam. Dan dia ingin kita ikut."

Tommy terkejut. "Mia? Bagaimana bisa?"

"Aku tidak tahu. Tapi ini akan jadi akhir dari semua ini, atau awal dari babak yang lebih besar," kata Satria, sorot matanya tajam. Ia merasakan adrenalin mengalir dalam dirinya. Akhirnya, setelah berbulan-bulan dalam ketidakpastian, ia akan mendapatkan jawaban.

***

Email balasan dari Mia masuk.

Subjek: Re: Re: Kita Perlu Bicara Isi: Wina. Satu minggu dari sekarang. Hotel Sacher. Kamar 305. Sendirian. Hanya kita berdua. Aku akan pastikan Satria juga ada di sana, tapi dia tidak akan tahu tentang pertemuan kita sebelumnya. Ini antara kita, Nilam. Jangan kecewakan aku.

Nilam membaca email itu. Wina. Hotel Sacher. Mia menginginkan pertemuan tiga pihak, tetapi ia ingin bertemu Nilam secara terpisah terlebih dahulu. Ini adalah jebakan, atau sebuah kesempatan langka. Perasaan gentar dan harapan bercampur aduk dalam dirinya.

Nilam memutuskan. Ia akan pergi. Ia akan menghadapi Mia. Ia akan menghadapi Satria. Ia akan mendapatkan semua jawaban yang selama ini menghantuinya.

Ia mulai membuat pengaturan perjalanan. Penerbangan dari kotanya ke Wina. Hotel terpisah yang dekat dengan Hotel Sacher. Ia memeriksa setiap detail, memastikan keamanannya. Kota Wina, meskipun dikenal dengan sejarah dan keindahannya, kini menjadi panggung bagi pertemuan yang penuh ketegangan ini.

Jaring intrik yang dulu ia rajut, kini mulai merapat di sekelilingnya. Tetapi kali ini, ia akan menghadapinya. Ia tidak akan lari.

Dalam satu minggu ke depan, di Wina, sebuah kebenaran pahit akan terkuak, dan takdir tiga jiwa yang terjalin dalam kekuasaan, cinta, dan dendam, akan mencapai puncaknya. Ini akan menjadi pertemuan yang mengubah segalanya.

***

Wina, kota yang termasyhur dengan keindahan arsitektur barok dan simfoni klasik, pagi itu terasa seperti panggung teater yang sunyi, menunggu tirai diangkat. Udara sejuk bulan Mei menyapu jalanan yang masih lengang, namun di balik ketenangan itu, ada ketegangan yang menggantung. Hotel Sacher, sebuah mahakarya arsitektur Wina yang mewah dan penuh sejarah, menjadi saksi bisu bagi pertemuan yang akan menentukan nasib tiga jiwa yang terjalin dalam benang-benang rumit kekuasaan, dendam, dan cinta.

Nilam tiba di Wina sehari sebelumnya. Ia menginap di sebuah hotel kecil tak jauh dari Hotel Sacher, mengamati setiap detail, memastikan tidak ada mata-mata yang mengikutinya. Pakaiannya sederhana, topi lebar dan kacamata hitam menjadi penyamaran terbaiknya. Ketegangan memuncak di dalam dirinya. Pertemuan ini adalah pertaruhan besar. Mia, sang lawan yang tak terduga, telah memanggilnya. Dan Satria, pria yang ia cintai namun juga ia korbankan, akan hadir pula. Setiap detiknya di Wina terasa seperti hitungan mundur, menuju kebenaran yang tak terhindarkan, dan sebuah pertarungan yang harus ia hadapi.

Pukul 09.45 pagi, Nilam melangkah menuju Hotel Sacher. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengenakan trench coat cokelat dan scarf sutra yang menutupi sebagian wajahnya. Di dalam tasnya, ia membawa flash drive cadangan berisi semua informasi yang ia miliki tentang Sudjono dan Nasrullah Abdullah, sebagai jaminan terakhir. Ia tidak akan datang tanpa persiapan.

Ia memasuki lobi hotel yang megah, menatap sekeliling. Tidak ada tanda-tanda Mia atau Satria. Ia menuju resepsionis, menanyakan kamar 305 seperti yang diminta Mia. Resepsionis mengangguk, memberinya kunci cadangan. "Nyonya Mia sudah menunggu," katanya ramah.

Nilam menaiki lift, merasakan setiap detik terasa begitu lama. Ia menatap pantulan dirinya di cermin lift. Wajah yang sama, tapi kini lebih tegas, lebih matang. Ia bukan lagi Nilam yang dulu, yang lari dari masa lalu. Ia adalah Clara, yang siap menghadapi segala konsekuensi.

Pintu kamar 305 terbuka. Mia sudah berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun abu-abu gelap yang elegan, rambutnya tergerai, dan wajahnya tanpa riasan yang tebal. Matanya menatap Nilam dengan tajam, sebuah tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa ingin tahu, ada kemarahan, tapi juga ada semacam pemahaman.

"Kau datang," kata Mia, suaranya tenang, tanpa emosi. Ia mundur, membiarkan Nilam masuk.

Nilam melangkah ke dalam. Kamar itu adalah suite mewah dengan pemandangan kota Wina yang indah. Ada meja kecil dengan dua cangkir teh yang sudah siap.

"Aku tahu kau tidak akan melewatkan ini," kata Mia, menutup pintu. "Duduklah".

Mereka duduk di kursi berhadapan. Keheningan menggantung di antara mereka. Dua wanita cerdas, dua lawan yang tak terduga, kini berhadapan langsung.

"Kau tahu mengapa aku memintamu datang?" tanya Mia, memecah keheningan.

Nilam mengangguk. "Kau ingin menudingku sebagai dalang di balik semua ini".

Mia tersenyum tipis, senyum yang dingin. "Kau memang dalangnya, kan? Putri yang tidak diakui, kembali untuk membalas dendam kepada ayahnya. Dan kau menggunakan Satria sebagai pionmu".

Nilam menatap Mia lurus di mata. "Aku tidak pernah menggunakan Satria. Aku mencintainya".

Mia tertawa sinis. "Cinta? Kau pikir aku sebodoh itu? Kau menghilang tepat setelah Satria dinyatakan menang, setelah aku mengungkap semua kebusukan itu. Itu terlalu rapi untuk disebut cinta".

"Aku punya alasanku," Nilam membela diri. "Alasan yang lebih dalam dari sekadar dendam".

"Alasan apa?" desak Mia, nada suaranya sedikit lebih tajam. "Alasan yang membuatmu menghancurkan hidup seorang pria yang mencintaimu, dan seorang pria yang selama ini menjadi suamimu?".

Nilam menarik napas dalam. "Aku melakukannya untuk ibuku. Untuk harga diri yang diinjak-injak. Sudjono, ayahmu, dia adalah seorang pengecut yang meninggalkan ibuku setelah menghamilinya. Dia membiarkan kami hidup dalam kehinaan, dalam kemiskinan, sementara dia membangun kerajaan di atas nama kotornya".

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!