Nilam (Rahasia)
Takdir Pertemuan
Satria dan Tommy ibarat sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Hanya ada satu masalah yang selalu membuat mereka berseberangan.
Pertemuan mereka dengan Abah Yusman, seorang ahli spiritual yang ditemui Satria di perjalanan dinasnya ke pedalaman, mengubah tatanan pemikiran Satria.
Abah Yusman, dengan aura kebijaksanaan dan pandangan mata yang menembus jantung, tidak pernah memberikan ramalan langsung, melainkan petuah-petuah yang terasa seperti kunci rahasia.
“Orang yang ditakdirkan bertemu, pasti akan bertemu dalam berbagai cara,” ucap Abah Yusman ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Petuah itu selalu terngiang, membuat Satria selalu mencari 'tanda' dalam setiap pertemuannya. Ia pernah mencoba berinteraksi lebih dalam dengan rekan-rekan wanita di forum-forum, mencari petunjuk dalam setiap senyum atau tatapan. Setiap kali ada koneksi yang menjanjikan, ia akan menarik diri, karena hati kecilnya selalu berbisik, "Bukan ini."
Sejak pertemuannya dengan Abah Yusman, langkah-langkah Satria berubah.
Bukan semata cara ia berjalan atau gestur tubuhnya yang kini lebih lambat dan tertata, tapi sesuatu yang lebih mendalam. Arah pandangnya, caranya memandang hidup, dan terutama, caranya memandang dirinya sendiri.
Esok paginya, di antara kepungan agenda rapat, wawancara media, dan tekanan partai yang tak henti mengirimkan instruksi halus, Satria duduk lebih lama dari biasanya di teras apartemennya.
Segelas teh pahit mengepul di tangannya. Langit Jakarta masih menggantung awan sisa hujan malam sebelumnya, dan bau tanah basah membangkitkan kenangan akan warung kopi itu, warung di mana kata-kata Abah Yusman menggugurkan banyak keyakinan lamanya seperti daun tua yang akhirnya jatuh juga.
Satria memejamkan mata.
Dalam keheningan itu, ia menyadari bahwa selama ini ia berjalan dengan dua kaki yang tak seimbang.
Satu kaki berdiri di atas ambisi, yang lain terperangkap dalam luka masa lalu yang tak kunjung selesai.
Ia mencintai kekuasaan bukan karena kebesaran visi, tetapi karena ia takut menjadi kecil. Ketakutan itu mendorongnya untuk terus naik, mengumpulkan kekuasaan, agar tidak ada lagi yang bisa meremehkannya atau membandingkan Satria dengan ayahnya.
Ia mendambakan cinta, tetapi selalu menyelubunginya dengan syarat dan batas yang ia ciptakan sendiri. Pernikahannya dengan Mia adalah sebuah kontrak, sebuah aliansi yang menguntungkan, bukan sebuah ikatan emosional.
“Jodoh adalah siapa yang membuatmu merasa pulang, bahkan ketika kau sendiri.” suara Abah Yusman menggemakan ruang pikirannya.
Dan ia sadar.
Ia tidak pernah sungguh-sungguh pulang. Selama ini, rumah hanyalah bangunan fisik, bukan tempat di mana jiwanya merasa nyaman dan tenang.
***
Dua hari setelah perbincangan dengan Tommy, Satria membuat keputusan pertama yang mengejutkan: ia membatalkan pertemuannya dengan seorang konsultan politik yang selama ini memoles citranya di media. Sebuah tindakan yang akan mengguncang pondasi karier politiknya, namun terasa begitu benar. Ia sudah muak dengan topeng yang selalu ia kenakan.
Ia memilih pergi ke rumah ibunya di Samarinda, tanpa pengawal, tanpa pemberitahuan kepada staf, hanya membawa sebuah tas kecil dan kepala yang penuh dengan kegelisahan yang ingin diredam. Dalam perjalanan itu, ia mencoba melepaskan setiap gelar dan jabatan yang melekat padanya, mencoba menjadi "Satria" saja.
Sang ibu, perempuan yang kini menua dengan tubuh rapuh namun mata yang tetap tajam, menyambutnya dengan keheningan yang hangat. Tak ada pertanyaan berlebihan, hanya pelukan yang lama.
Di rumah panggung kayu itu, Satria merasakan kembali tanah yang dulu ia injak dengan telanjang kaki dan suara malam yang jauh dari bunyi klakson atau sirene iring-iringan kendaraan pejabat. Suara jangkrik mengingatkannya pada kesederhanaan yang telah lama ia lupakan.
Di malam pertama ia menginap, ibunya bertanya dengan suara pelan, “Kamu kenapa pulang tiba-tiba, nak?”
Satria menatap wajah ibunya, lalu menjawab jujur, “Aku sedang mencari pulang, Bu. Bukan ke tempat, tapi ke diriku sendiri.” Ia merasakan beban bertahun-tahun terangkat dari pundaknya.
Ibu Satria tak banyak bicara. Ia hanya mengelus kepala anaknya seperti dulu, saat Satria kecil menangis. Sentuhan lembut itu adalah kunci yang membuka pintu emosi yang terkunci rapat.
Sentuhan itu seperti membuka keran air yang selama ini ditahan. Beruntung, Nasrullah Abdullah sedang tidak ada di rumah. Menghadiiri sebuah simposium di Bali.
Di kamar yang remang, Satria menangis untuk pertama kali setelah bertahun-tahun.
Bukan tangis untuk kekalahan. Tapi untuk semua penyangkalan yang kini akhirnya ia akui. Tangisan itu adalah pengakuan atas kelelahan, kepalsuan, dan kekosongan yang selama ini ia sembunyikan. Ia menangisi dirinya yang telah lama hilang.
Waktu yang dia habiskan di Samarinda menjadi titik refleksi. Ia mulai menulis dalam buku catatannya, mencoba menjabarkan kekacauan dalam pikirannya.
Ia berjalan menyusuri jalan kampung, menyapa tetangga-tetangga lama yang kini lebih tua, duduk di warung kopi kecil di pasar subuh, dan menyadari betapa jauh dirinya telah terseret dari nilai-nilai awal yang membuatnya dulu ingin masuk politik: mengubah, bukan mempertahankan yang mapan; mendengarkan, bukan menundukkan.
Ia mengingat kembali semangatnya di awal karir, saat ia masih percaya pada idealisme dan kekuatan perubahan. Sekarang, ia hanya sibuk mempertahankan citra dan posisinya. Ia mulai membuang satu per satu topeng yang telah ia kenakan: topeng politisi ambisius, topeng suami yang bahagia, topeng pria yang selalu benar.
Di tengah semua itu, satu pertanyaan terus menyelinap, siapa yang sebenarnya dia cari untuk berbagi hidup ini?
Ia menulis di buku catatannya, "Jodoh bukan soal perjanjian, bukan tentang rencana-rencana besar, bukan tentang seseorang yang memujiku atau merasa cocok di atas kertas. Jodoh mungkin adalah seseorang yang hadir tanpa menuntut. Yang bersedia duduk bersamaku dalam diam, dan dalam diam itu, aku merasa cukup. Dia adalah cermin yang memantulkan diriku yang sebenarnya, tanpa polesan."
Dan dari kalimat itu, ingatannya melayang kepada satu nama: Nilam.
Mereka pernah berbicara singkat, hanya sebatas pertemuan di sela rapat kerja, sebuah obrolan ringan di meja makan malam di forum diskusi publik, dan satu kali percakapan yang tidak selesai di halaman parkir Gedung Djuanda.
Nilam tidak istimewa dalam cara yang mencolok, tidak menggoda seperti wanita-wanita di dunia politik yang suka bermain metafora dan strategi. Tapi ia punya sesuatu yang sulit Satria abaikan: keheningan yang tenang. Sebuah kehadiran yang tidak ingin menaklukkan, tapi juga tidak tunduk.
Ada ketulusan dalam setiap gerakannya, kejujuran dalam tatapan matanya yang teduh. Dia tidak mencoba menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
Satria mengingat betul malam itu, ketika ia mengomentari presentasi Nilam soal peran perempuan dalam distribusi anggaran desa.
“Argumentasimu terlalu lembut,” katanya saat itu. “Ini politik. Perlu yang lebih tajam.” Ia mengucapkannya dengan nada superioritas khas politisi.
Nilam menatapnya, dan menjawab tenang, “Justru karena ini politik, kita perlu bahasa yang tidak melukai.” Ekspresi wajahnya datar, tanpa emosi berlebihan, namun matanya memancarkan keyakinan yang kuat.
“Yang tajam seringkali tidak menyelesaikan, hanya membelah.” Kalimat itu menampar kesombongan Satria, menembus lapisan-lapisan topengnya.
Dan sejak malam itu, Satria tak pernah bisa benar-benar melupakan kalimat itu. Kalimat yang menantang segala yang ia yakini tentang kekuasaan dan cara meraihnya.
Kalimat yang sekarang terasa seperti kunci. Kunci untuk memahami dirinya sendiri, dan mungkin, kunci menuju rumah yang selama ini ia cari. Kunci untuk membuka sebuah kenyataan besar.
***