Nilam (Rahasia)

Apa Bapak Bahagia?

Tiga minggu sejak pertemuan pertamanya dengan Satria Raja, Nilam mulai merasa bahwa ritme kerjanya bukan lagi sekadar adaptasi. Dia sudah ikut turun ke lapangan, terlibat dalam beberapa pertemuan penting dengan mitra program, bahkan sempat berbicara langsung dengan beberapa kepala daerah. Ia tahu, inilah puncak dari segala dinamika pekerjaan: ketika profesionalisme harus berdampingan dengan ketegangan pribadi yang tidak bisa ia jelaskan sepenuhnya.

Hari itu, mendung menggantung di atas Jakarta. Agenda sore cukup padat: pertemuan internal tim inisiatif literasi dan kesehatan, pembahasan tindak lanjut MoU dengan NGO luar negeri, lalu briefing terakhir untuk kunjungan lapangan ke NTT minggu depan. Namun, satu agenda yang tak tertulis membuat jantung Nilam berdetak lebih cepat. Pertemuan pribadi dengan Satria di ruang kerjanya, dijadwalkan tepat pukul lima sore.

Ruang kerja Satria sunyi saat Nilam masuk. Dinding kaca memantulkan bayangan langit kelabu dan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Meja kerja rapi. Di tengah ruangan, Satria duduk sambil membolak-balik berkas.

"Kamu datang tepat waktu," ucapnya tanpa menoleh.

"Saya biasa begitu, Pak," jawab Nilam tenang.

Satria meletakkan berkas, lalu menatap Nilam. "Kamu tidak perlu terlalu formal kalau hanya berdua begini," katanya, ada nada kelembutan yang tak terduga.

"Saya lebih nyaman begini."

Satria mengangguk, seolah sudah menduga. Ia menggeser secangkir kopi ke arah Nilam. "Kopi hitam, tanpa gula. Saya ingat kamu bilang kamu benci manis-manis buatan," ujarnya.

Nilam sedikit terkejut, hatinya menghangat tipis. "Kapan saya bilang begitu?"

"Di lapangan waktu itu. Saat kita menunggu mobil di lokasi puskesmas. Kamu sempat menolak teh botolan," jawab Satria cepat. "Saya ingat detail kecil."

Nilam diam. Ada sesuatu dalam nada suara Satria. Bukan rayuan, tapi semacam ketertarikan yang terlalu rapi disembunyikan di balik formalitas. Itu membuat napasnya tertahan, seperti ada simpul tak kasat mata di dadanya.

"Pak Satria, boleh saya tanya sesuatu?" Nilam akhirnya angkat suara.

"Tentu."

"Kenapa saya? Dari semua orang yang bisa Bapak rekrut, kenapa saya yang tidak pernah terlibat dalam dunia politik sebelumnya? Bahkan nama saya belum pernah muncul di lingkaran mana pun," tanyanya, suaranya sedikit bergetar.

Satria tak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan menuju jendela, menatap ke luar. "Ketika kamu datang ke sini tiga minggu lalu, saya sudah memberikan kesempatan kepada kamu untuk menanyakan hal itu. Kamu pasti masih ingat jawaban kamu. Kenapa sekarang kamu bertanya?"

"Tidak ada alasan khusus. Saya hanya ingin tahu," jawab Nilam, pandangannya tak lepas dari Satria.

Satria memandang wajah Nilam dengan tatapan yang mampu menimbulkan getaran lain di hati Nilam.

Wajah itu, Satria yakin di wajah yang kini ada di depannya adalah wajah yang sudah dia kenal lama sekali. Jika ucapan Abah Yusman benar, Satria tak menyangkal kalau perasaannya mengatakan ada ruang interaksi tak kasat antara dirinya dengan Nilam.

Ruang yang terbentuk atas nama takdir. Wajah yang selalu ingin direngkuhnya dalam hangat dekapan. Dan perasaan itu tak pernah Satria temukan saat bersama Mia. Mia... ia menikahinya karena tuntutan keluarga, karena kecocokan latar belakang, bukan karena hasrat yang menggebu seperti ini. Ia menghormati Mia, tapi tidak lebih dari itu.

"Karena kamu tidak berasal dari lingkaran mana pun," jawab Satria pelan. "Alasan itu membuatmu bersih. Netral. Tidak berpihak pada siapa pun."

"Tapi saya menantu Tumpal Dongoran," tukas Nilam, tak bisa menyembunyikan nada sinisnya.

"Justru itu," Satria berbalik memunggungi Nilam. "Saya butuh seseorang yang tahu cara berpikir orang-orang seperti Tumpal. Tapi juga cukup berani untuk tidak jadi bagian dari permainan orang-orang di sekeliling Tumpal."

"Bapak menganggap saya sedang membelot dari keluarga saya sendiri?"

Senyum Satria tipis. "Saya menganggap kamu memilih jalanmu sendiri. Dan itu butuh keberanian. Saya jatuh hati dengan keberanian kamu."

Nilam menahan napas. Kata-kata itu mengguncang lebih dari yang ia duga. Sebuah pengakuan yang begitu jujur, menjalar ke seluruh sarafnya, membakar sesuatu yang selama ini ia kunci rapat.

***

Setelah pembicaraan itu, ritme kerja Nilam dan Satria berubah. Mereka tak hanya bertemu di rapat besar, tapi juga dalam pertemuan-pertemuan kecil yang lebih strategis dan lebih intim. Meskipun masih menjaga jarak profesional, ada semacam ketegangan emosional yang mulai membentuk pola.

Bukan romansa yang terang-terangan, melainkan semacam magnetisme diam-diam antara dua orang yang sama-sama menyadari bahaya dari keterlibatan personal.

Di salah satu malam lembur, ketika kantor sudah sunyi, mereka kembali duduk berdua. Satria tengah membahas rencana pilot project pengiriman tenaga medis muda ke pedalaman, dan Nilam—seperti biasa—memberi catatan hukum dan mitigasi risikonya.

"Kamu sangat sistematis," puji Satria.

"Itu cara saya bertahan hidup," jawab Nilam.

Satria menatapnya. "Di rumah kamu sendiri pun kamu harus bertahan?"

Pertanyaan itu terlalu personal. Tapi Nilam tidak menolaknya. Ia memandang jauh ke luar jendela, seolah mencari jawaban di kegelapan Jakarta. "Saya menikah dengan pria yang sangat pintar menyusun strategi. Bahkan dalam urusan rumah tangga," katanya lirih.

"Kamu tidak bahagia?"

"Apa Bapak bahagia?"

Giliran Satria yang terdiam. Matanya menatap lurus, tapi tidak fokus. "Kami pasangan yang cocok dalam foto," jawab Satria diplomatis.

Kalimat itu membuat hati Nilam tercekat. Karena itulah kata-kata yang sering ia pikirkan tentang dirinya dan Barton. Kesamaan itu terasa pahit sekaligus manis.

Beberapa hari kemudian, Nilam dan Satria bertemu di sebuah taman kecil di kawasan Menteng. Bukan restoran mahal, bukan ruang VIP. Satria datang dengan kemeja putih tanpa pin jabatan, membawa dua gelas kopi yang ia beli sendiri di pinggir jalan.

Nilam duduk di bangku taman, mengenakan blus biru muda dan celana kain. Ia tampak tenang, seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berubah di mata mereka berdua. Sebuah pengakuan diam-diam bahwa pertemuan ini bukan kelanjutan dari masa lalu, melainkan awal dari sesuatu yang baru.

Satria duduk, menyerahkan satu gelas kopi, dan memulai dengan kalimat yang sudah ia siapkan tapi tetap membuatnya gugup. "Aku tidak tahu akan ke mana arah ini. Tapi aku ingin menjalaninya tanpa menuntut jawaban di awal."

Nilam tersenyum tipis. "Mungkin itu memang satu-satunya cara yang benar untuk mengenal seseorang," jawabnya, ada kelegaan dalam suaranya.

Mereka berbicara hampir dua jam. Tentang hal-hal yang selama ini disimpan di balik layar karir dan ambisi. Tentang ketakutan. Tentang luka. Tentang kemungkinan. Dan ketika mereka berpisah sore itu, tak ada janji yang diucapkan. Tapi ada sesuatu yang tak terucap, namun saling dipahami. Bahwa mungkin, mereka bisa mencoba.

Malam itu, saat Nilam tiba di rumah, Nina sudah tidur. Bekal makan siang besok sudah disiapkan, seperti biasa. Di meja makan, ada surat kecil dari Barton. "Aku ke Balikpapan, tiga hari. Ada seminar. Jaga diri baik-baik," tulisnya tenang.

Surat itu dingin. Seperti rutinitas. Seperti catatan kantor yang tak perlu emosi. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menikah, Nilam duduk di kursinya, memandangi surat itu, lalu menangis tanpa suara. Tangisan itu terasa seperti pelepasan, air mata untuk semua bagian dirinya yang tak pernah utuh.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!