Padang Sajadah

Kangen Siti

Aku rindu Siti..., wajah bercahayanya membuatku rindu, aku juga rindu bertemu bu Nisa. Bagaimana kabar mereka? Hatiku seolah tertambat dan bersama mereka.

Maka, sore yang cerah ini, sepulang dari toko Aneka Printing aku mampir kesana. Di dalam angkot kubuka kertas kecil yang kusimpan dalam tas. Alamat bu Nisa. Tidak terlalu jauh dari kampus, di daerah sebelum Lampung Timur termasuk daerah antara dua daerah. Di daerah yang sering disebut 38. aneh-aneh saja manusia di dunia ini, angka saja dibuat menyebutkan nama sebuah daerah maupun tempat. Ada dari angka 1 mungkin sampai 50, mungkin untuk mempermudah dan begitulah perkembangan yang terjadi di dalam tatanan masyarakat. Mencari yang termudah, mencari yang easy, simple.

“Kiri.”

Sang kernet mobil menepukkan tangannya di body mobil sehingga menimbulkan bunyi yang bisa didengarkan sang sopir. Mobil berhenti di sekitaran perbatasan dua daerah, aku turun dan langsung menuju belokan sebelah kanan. Persis arah yang ditunjukkan bu Nisa tempo hari. Hatiku terasa bergetar lebih cepat, ada desiran halus yang tiba-tiba menyusup. Aku sendiri tidak tahu kenapa, yang jelas banyak yang ingin aku tanyakan kepada bu Nisa.

Rumah nomor lima tepat sebelah kiri, semakin dekat. Rumah nomor lima, tepat. Rumah yang sederhana, ditata dengan taman bunga yang begitu indah. Dan aku tidak perlu bertanya kepada orang rumah bu Nisa, karena Siti tengah duduk di teras. Sedang belajarkah? Dia memegang sebuah buku kecil, dari kejauhan tidak jelas buku apa yang dibacanya. Umurnya kutaksir sekitar 12 tahunan.

“Assalamu’alaikum,”Aku mengucapkan salam dari gerbang setinggi satu setengah meter itu.

Sejenak. Siti menutupkan bukunya dan menjawab salam, dia menatapku, mungkin memastikan. Dia bergerak berjalan mulai ke gerbang, “Mbak Salwa!” wajahnya sumringah dan berlari kearah gerbang, dia membukakan gerbang dengan tangannya yang mungil. Dia menghulurkan tangan dan mencium punggung tangan kananku, senyumnya begitu indah. Dalam dekapannya Mushaf yang berukiran indah telah tertutup. Jadi, sedari tadi dia sedang membaca Al-Quran?

Aku duduk mensejajarkan wajahku tepat di depan wajahnya, kutatap matanya. Jika anda bosan, pandanglah mata seorang anak. Disana ada harapan dan antusiasme.  Ya, di mata seorang anak kecil ada harapan dan semangat. Semangat karena tidak pernah berputus harapan ketika berusaha berjalan, tidak pernah berputus harapan jika belajar bicara. Intinya, seorang anak tidak akan pernah berputus asa hingga hasilnya adalah kita ketika dewasa. Kita bisa melakukan apapun karena kita sewaktu kecil tidak pernah berputus asa ketika berusaha. Lalu, setelah dewasa kita sering merasa bosan berkarya? Putus asa ketika menggapai asa? Putus harapan ketika beramal? Bosan dalam melakukan kebaikan? Weak, supple, unstressed. Sungguh menggelikan.

“Ayo masuk,” Siti menggapai tanganku dan menuntunku masuk ke dalam rumah. Aku mengikuti langkah-langkah kecilnya.

Bu Nisa keluar rumah, “Siapa yang datang puteriku?” bu Nisa melihat kearahku, “Subhanallah, ada bidadari yang mengunjungi rumah ibu ternyata. Ayo masuk ke dalam saja.”

Aku menyalami dan mencium tangan bu Nisa.

“Angin apa yang membawamu kesini Nak?” bu Nisa duduk di sebelah Siti, di meja tamu itu telah tersedia air putih dan snack keripik dan makanan kecil lainnya.

“Angin iman Bu,” aku tersenyum sambil sedikit bercanda. Namun, sebenarnya aku tidak bercanda. Imanlah yang telah membawa langkahku kemari, keinginan untuk menguak rahasiaNya, menguak ketetapanNya tentangku.

“Masih penasaran dengan jati dirimu?”

Aku mengangguk, “Aku ingin tentang hakikat ketatapanNya Bu, tentang musibah yang menimpaku, tentang segala hal yang masih membingungkanku.”

“Kau  masih ragu akan ketetapanNya?”

“Tidak Bu, saya telah yakin padaNya, hanya saja aku belum mengetahui hakikat keseluruhannya.”

“Hakikat apa yang ingin kau ketahui?”

“Tentang musibah.”

Bu Nisa mengelus jilbab hijau muda kecil milik Siti, Siti hanya mendongak dan tersenyum, “Manusia yang hidup di dunia ini, memiliki harapan kesenangan serta ketenangan menjalani hidup ini tanpa ada cobaan dan musibah. Sayang, harapan itu tak pasti karena cobaan akan terjadi tuk menguji sabarnya diri dan ketakwaan. Dan kau bertanya hakikat musibah?”

Aku menatap kedua matanya yang teramat meneduhkan. Ya, tanpa aku menjawab lagi dengan diamku dia pasti tahu kalau aku tengah menantikan jawabannya. Jawaban tentang Calamity, disaster.

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-‘Ankabuut : 2-3)  Kau tahu maksudnya Nak? Setiap musibah itu pasti akan menghampiri setiap muslim, baik dia bersedia atau tidak. karena itu sebagai bukti dari iman yang ada di hatinya. True. Ada yang dipersiapkan Allah ketika kita bisa melewati ujian dengan ridha padaNya.

Dengan musibah, proofing (Membuktikan) dan terbuktilah, akankah manusia tetap tegar dan kuat menjalaninya dengan penuh keikhlasan atau terjerumus ke dalam keputusasaan?

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (QS. Muhammad : 31) Dengan musibah itulah, terbuktilah sudah keimanan yang ada pada setiap manusia. Dengan musibah yang diberikan kepada manusia juga menjadikan manusia berfikir bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Uang? Popularitas? Keluarga? Perniagaan? Pujian? Pangkat? Semuanya tak ada yang sempurna. Hingga, Allah mengirimkan musibah agar kita berfikir bahwa surga itu begitu nikmat dan tentu kita akan merindukan surga hingga memotivasi kita untuk terus beramal shalih kepadaNya.

Katakanlah setelah kita mengetahui hakikat musibah, mulai saat ini kita hanyalah milik Allah yang akan kembali kepadaNya, kapan saja dan dimana saja. Perbanyak berdoa padaNya, memohon ampunan dari setiap kesalahan agar dapat mendapat keridhaan dan pertolongan dalam setiap ujian. Bukan pada doa kita agar musibah tidak menimpa kepada kita, melainkan  doa kita adalah semoga Allah menegarkan dan membuat kita bisa melewati setiap ujian dengan keikhlasan, tidak pernah berputus asa, dan memohon agar setiap ujian itu lebih meningkatkan derajat manusia. Musibah itu bagi seorang muslim tidak ada kecuali menambah kemuliaannya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

“Tapi Bu, kenapa musibah yang menimpaku terasa berat? Kenapa aku sadar ketika seolah-olah semuanya telah terlambat?”

“Istighfar anakku, Allah Mahatahu segala yang ada di bumi dan di langit. Dia tidak akan pernah salah dan terlambat, Dia tahu mana yang terbaik dan apa yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap  kaum yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 286).

Kita tidak sekalipun kecewa padaNya, apalagi kita menyalahkan takdir dan ketetapanNya. Jikapun terbesit di dalam pikiran, maka segera buang jauh-jauh karena syetan sedang menghembuskan rayuan dan godaan yang akan menjauhkan kita dari rahmatNya. Bukan pada besar kecilnya musibah itu, melainkan telah Allah sesuaikan dengan kemampuan manusia tersebut. Jika engkau diberikan musibah sesuatu, maka yakinlah itu sesuai dan musibah itu mungkin tidak diberikan kepada orang lain karena Allah tahu mungkin hanya engkau yang sanggup dan orang lain dengan ujian dalam bentuk lain karena hanya orang itu yang sanggup menghadapinya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!