Padang Sajadah
Bertanya Soal Doa
“Siti, kamu belajar dulu ya?” senyum bu Nisa seolah menyadarkan percakapan kami yang terlalu asyik.
Siti sangat patuh, dia berdiri dari sebelahku, seolah dia tahu segala bahasa yang tersirat maupun hanya isyarat. Dia menghampiri bu Nisa dan meraih tangannya serta mengecup punggung tangan ibunya, “Siti masuk dulu, tolong Umi ajak mbak Salwa menemui Allah,” Siti mengangguk dan tersenyum kearahku lalu masuk ke dalam.
“Deg!” anak sekecil itu? Tadi dia bilang apa? Pendengaranku baru menyadarinya, dia berkata, “Tolong Umi ajak mbak Salwa menemui Allah?” alangkah jernih hatinya hingga kata-kata sedahsyat itu bisa keluar dari bibirnya. Sedangkan, aku baru saja mendengarnya hari ini? Allah, Kau telah menuntun jalan hamba, jalan yang Kau tunjukkan semakin terasa dekat.
“Aku ingin meminta tolong padamu Nak?” bu Nisa menatapku seolah memelas, wajahnya seolah penuh pengharapan.
“Menolong Ibu. Aku tidak punya apa-apa Bu?”
“Aku tahu kau orang yang tepat.”
“Orang yang tepat?” aku benar-benar bingung.
“Ini hanya urusan ringan, tapi bagiku sangat besar Nak. Maukah kau membantuku?”
Aku benar-benar bingung. Tapi, seolah kerangka di kepalaku tak bisa kutahan, dia bergerak sendiri ketika melihat wajah bu Nisa. Dan, kepalaku mengangguk tanpa kuperkiran, “Baiklah Bu. Tapi, dengan kesanggupan saya.”
Wajah bu Nisa cerah, secerah matahari yang bersinar tanpa penghalang sama sekali. Dan, cerita itu mengalir dalam ingatanku dengan pelan-pelan dan kadang sedikit cepat intonasinya. Beberapa penjelasan yang diucapkan menuntutku menghafal dan memahami dengan cepat, sebuah misi yang aneh menurutku. Tapi, bu Nisa kembali memegang kedua tanganku dan mengharapkan bantuanku. Teramat pentingkah urusan ini? Urusan sepele seperti ini? Aku tidak mengerti ada apa di balik ceritanya, tapi suatu saat aku pasti akan mengetahui hakikat di dalamnya. Aku yakin itu, ada sesuatu yang maknanya mendalam.
Setelah bu Nisa menceritakannya, wajahnya terlihat teramat lega. Masih ada beberapa waktu untuk menjalankan misi sangat simple itu, masih ada waktu sebelum kumandang shalat isya’, masih ada waktu bagiku untuk bertanya pada bu Nisa tentang segenap permasalahan yang masih mengganjal di pikiranku.
“Saya masih punya beberapa hal yang mengganjal Bu.”
“Katakanlah.”
“Ini masih tentang kelanjutan hal musibah Bu,” bu Nisa memerhatikanku serius, “Bukankah Allah berfirman bahwa dia pasti akan mengabulkan doa-doa hambaNya, dan itu pasti?”
“Ya, lalu?”
“Banyak orang-orang yang bertanya-tanya, mengapa begitu banyak hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang menengadahkan tangannya berdoa padaNya, memohon kepada Allah, namun doanya itu tidak juga dikabulkan? Padahal, jika dilihat secara dzahir bahwa orang yang berdoa termasuk ahli ibadah, dia menjauhkan dirinya dari maksiat. Jika orang yang berdoa melakukan maksiat, makanan dan minumannya dari hal-hal yang subhat mungkin Allah bisa saja tidak mengabulkannya, namun jika orang yang shalih berdoa dan doanya tidak juga dikabulkan Allah. Sebenarnya kenapa bisa terjadi?” aku benar-benar bingung dengan pertanyaan ini.
“Yang perlu dicamkan pertama kali adalah bahwa firman Allah dan janjiNya adalah pasti benar, dan bahwa seorang hamba akan diberi ganjaran pahala setiap kali ia mengangkat kedua tangannya lalu berdoa. Doa adalah ibadah (HR. Tirmidzi dari Nu’man bin Basyir ra.), baik doa tersebut dikabulkan atau belum dikabulkan. Namun, untuk menghilangkan keraguan-keraguan akan pengabulan doa, akan coba Ibu paparkan beberapa hal penyebabnya.
Pertama, doa hambaNya selalu dikabulkan. Hanya saja, kita tidak mengetahui bentuk jawaban doa tersebut. Bisa jadi pengabulan doa itu berupa dijauhkannya keburukan dari seseorang yang berdoa. Atau, jawabannya doa itu disimpan sebagai tabungan di akhirat kelak. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw
Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi melainkan Allah akan memberikannya salah satu dari tiga perkara; disegerakan jawaban akan doanya, disimpan untuknya sebagai tabungan di akhirat, atau dipalingkan darinya keburukan yang senilai dengan doa yang dipanjatkan tersebut. (HR. Imam Ahmad hadits hasan).
Contohnya seperti ini. Ada seorang yang berdoa (Ya Allah, karuniakanlah aku rezeki), lalu Allah mengabulkan permohonannya dengan memberikannya rezeki baik di dunia atau kelak di akhirat. Ketika suatu keburukan akan menimpanya, Allah menyelamatkannya dari keburukan itu. Bisa jadi, ketika ia akan diserang penyakit dan musibah yang akan menguras uang dan hartanya untuk berobat, Allah ‘Azza wa Jalla mencegah penyakit atau musibah itu (lantaran doa yang dipanjatkannya). Atau, Allah menahannya dari sesuatu yang tidak bermanfaat, dan berbagai contoh yang lainnya.
Orang yang lain mungkin berdoa, “Ya Allah, sembuhkanlah penyakitku dan hilangkanlah penderitaanku.” Namun, ia dapati penyakitnya tidak kunjung sembuh. Padahal, sebenarnya tanpa ia sadari penyakit tersebut akan bertambah parah, namun dengan doanya, Allah telah menyelamatkannya dari itu.
Yang lain mungkin berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku rezeki.” Allah Mahatahu bahwa rezeki yang melimpah akan mengurangi derajatnya di surga kelak. Maka, Allah simpan jawaban atas doa yang ia panjatkan itu agar kelak derajatnya di surga akan semakin bertambah karena kenikmatan surga jauh lebih baik dan kekal adanya.
Karenanya, tidak ada alasan lain bagi seorang hamba selain terus menerus berdoa karena Allah akan menanggapi setiap doanya dan memberikan kepadanya kepada kebaikan, baik yang dia minta atau yang tidak di harapkan.
Kedua, sebagaian Ulama berpendapat bahwa yang dimaksud Allah mengabulkan setiap doa hambaNya yang berdoa dapat dilihat dari firman Allah yang berbunyi, ‘(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).’ (QS. Al-An’aam : 41). Dalam ayat ini sebenarnya juga untuk orang-orang musyrikin. Doa orang-orang kafir terserah pada ketetapan Allah, namun untuk orang Mukmin telah tetap dikabulkan.
Ayat tadi tentu saja bukan mutlak untuk orang kafir, karena segala urusan hanya ditanganNya. Jika Allah berkehendak, Dia akan mengabulkan dan memenuhi permintaannya. Dan, jika Allah berkehendak Dia akan menahannya.
Ketiga, maksud dari doa yang dikabulkan adalah hamba memohon agar Allah ‘Azza wa Jalla menerima amal-amal baik mereka dan memberikan ganjaran atas ketaatan mereka. Adapun jawaban atau terkabulnya doa (menurut keterangan ini) adalah akan memenuhi janjiNya kepada mereka untuk melimpahkan ganjaran pahala kepada para hamba yang taat. Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunianya... (QS. Asy-Syuuraa : 26).
Jadi, Allah akan menerima amal orang yang beramal dan memberikan pahala kepadanya. Penguat bagi keterangan ini adalah sabda Nabi saw bahwa “Doa adalah ibadah.”
Keempat, sebagian Ulama yang lain berpendapat bahwa seseorang yang berdoa terkadang meyakini bahwa kebaikan dan maslahat (benefit) terletak pada pengabulan doanya. Padahal, bisa jadi sebaliknya, justru kemaslahatan tidak terdapat dalam pengabulan doanya. Sehingga dia mendapatkan tujuan utama dalam berdoa yaitu mendapatkan kemaslahatan dengan tidak terkabulnya doa. Terkadang kebaikan dan benefit justru terdapat pada ditunda atau ditolaknya sebuah doa.
Sebagai contoh, terkadang seseorang berdoa agar Allah memudahkan perjalanannya menuju sebuah negeri dalam rangka mencari rezeki. Dia pun kemudian berdoa dengan sungguh-sungguh. Padahal, Allah telah mempersiapkan rezekinya di negeri tempat tinggalnya, sehingga Allah tidak mengabulkan doanya. Namun, Allah melimpahkan kepadanya rezeki yang luas di negerinya sendiri.
Atau, bisa jadi di negeri yang dituju ia akan mengalami bencana, sehingga Allah menghalangi perjalanannya agar terhindar dari bencana tersebut. Allah adalah Dzat Yang Mahatahu, sedang kita tidak mengetahui apa-apa kecuali atas izinNya, itupun hanya sedikit. Kita hanya sering memandang dari dzahir-nya saja.
Contoh yang lain lagi, terkadang seorang lelaki ingin menikahi seorang wanita yang menjadi idamannya karena menurutnya wanita tersebut sangat baik, cantik, dan memesona. Sementara, menurut pengetahuan Allah, menikahi wanita tersebut adalah sebuah keburukan. Misalnya, ia seorang wanita yang mandul, bertutur kata kasar, tidak amanah terhadap diri dan rumahnya, atau dia wanita yang tidak dapat berbuat baik terhadap keluarga suami dan orangtuanya, serta bukan wanita yang berprilaku baik. Karenanya, Allah ‘Azza wa Jalla memalingkan keburukan itu dari lelaki yang berdoa tadi namun lelaki itu sendiri tidak menyadarinya.
Kelima, sebagian Ulama berpendapat bahwa makna kata ujiibu adalah asma’u (Aku mendengar) sehingga maksudnya Allah mengabulkan doa hambaNya ialah Allah mendengar permohonan setiap orang yang berdoa padaNya. Sebagaimana dalam shalat kita mengucapkan, ‘Sami’allaahu liman hamidah’ berarti Allah menjawab.
Keenam, maksud dari doa yang dikabulkan adalah tobat dari segala dosa-dosa karena seorang yang bertaubat memanjatkan doa kepada Allah ketika dia bertaubat. Sedang terkabulnya doa menurut keterangan ini adalah diterimanya taubat. Karena Allah akan selalu menerima taubat hambaNya hingga hamba itu sendiri bosan meminta ampun padaNya.
Ketujuh, jawaban atas doa terkadang sengaja diakhirkan agar seseorang semakin bersungguh-sungguh dalam berdoa sehingga setiap kali ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, Allah memberi pahala kepadanya dan mengangkat derajatnya karenanya, para Nabi diuji dengan beberapa ujian dan cobaan sehingga mereka berdoa dan berdoa, namun jawaban dari doa mereka selalu ditangguhkan meski mereka sudah sangat bersungguh-sungguh dalam berdoa. Perhatikanlah kisah nabi Ayyub as. yang selama 18 tahun menderita sakit, saat itu beliau tak pernah putus harapan dalam berdoa kepadaNya hingga Allah memulyakannya.
Yang Kedelapan, adanya penghalang yang menghambat terkabulnya doa seperti; seorang yang memanjatkan doanya mengandung maksiat atau dosa serta memutuskan tali silaturahmi, penghalang yang lain juga karena adanya orang yang berdoa adalah orang orang yang terzalimi terhadap orang yang mendzalimi. Doa orang yang terdzalimi akan mengalahkan doa orang yang mendzalimi.
Contohnya adalah, seorang yang telah melakukan kedzaliman mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, sedangkan orang yang ia dzalimi sedang kesakitan, menderita, dan mendoakan kejelekan padanya. Doa manakah yang didengarkan Allah? Sungguh, tidak ada penghalang antara doa seorang yang terdzalimi dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
Penghalang yang lainnya adalah orang yang makanan dan minumannya haram, pakaiannya juga dari hasil yang haram, lantas akankah doanya dikabulkan oleh Allah? Sungguh, Allah hanya menerima dari yang baik, karena Allah Mahabaik dan tidak menyukai kecuali dari yang baik.
Kesembilan, sebagian Ulama berpendapat lagi bahwa pengabulan doa adalah bila orang yang berdoa telah melaksanakan adab-adab dalam berdoa, memenuhi syarat-syaratnya, dan menghilangkan penghalang dari doanya.
Kesepuluh, tidak melakukan sebab terkabulnya doa. Seperti seorang yang berdoa agar diluaskan rizkinya namun ia hanya duduk-duduk berdiam diri tanpa mau berusaha. Tuhan memberikan makanan kepada setiap burung, tetapi Dia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarangnya. (J.G. Holland).
Perbuatan yang hanya berdoa tanpa mau berusaha meraihnya berarti bukan tawakkal dan perbuatan ini bertentangan dengan firman Allah, ‘... Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.’ (QS. Al-Mulk : 15). Setiap doa harus disertai usaha sebagai sebab tercapainya doa tersebut dengan berusaha meraihnya dengan sungguh-sungguh pula sebagaimana kesungguhan doanya.”
Bu Nisa mengakhiri penjelasannya.
Adzan Isya’ berkumandang kembali memenuhi seantaro jagad, suara indah memanggil jiwa-jiwa yang telah merindukanNya. Sahutan-sahutannya menggema, mendebarkan seluruh sendi orang yang beriman, segera bangkitkah jiwa yang mendengarnya? Atau serasa tak lagi mendengarnya? Itulah pilihan yang harus diambil, dan itulah kemulyaan atau kehinaan.
Allah, alangkah kerdil hamba berpikir tentangMu selama ini. Masih banyak ilmu yang belum kukuak tentangMu, ternyata perjalanan mengenalMu lebih menantang dari semua hal yang pernah kulalui dalam hidup ini. Dan aku bahagia ya Allah, sungguh. Niatku tidak berubah sama sekali, langkahku tidak goyah sama sekali, aku akan terus mencari jawaban atas setiap ketetapanMu, setiap hal yang Kau pilihkan untuk hamba dan setiap detik yang menimpaku. Bukankah Kau yang mengatur segalanya? hingga daun yang jatuh di seluruh penjuru dunia ini, dimanapun tempatnya jatuh adalah atas ketetapanMu.
Shalat didirikan, aku dan Siti menjadi makmum. Bu Nisa begitu syahdu menyenandungkan ayat-ayatNya hingga serasa tak ada lagi diriku, yang ada hanya kebesaranMu, airmataku meleleh, hangat dan indah segalanya. Seolah malaikat-malaikat menyelubungi kami, hatiku merasa tenteram, kesejukan menerpa di setiap penjuru. Allah, segalanya indah...
Seusai shalat Siti menatapku, matanya begitu jernih dan kedua tangan mungilnya bergerak dan mengusap airmataku.
“Jangan bersedih, Allah akan selalu bersama kita Mbak,” wajahnya seolah begitu dekat denganku, hatiku serasa nyaman berada di dekatnya.
Aku tak kuasa lagi, aku memeluknya. Aku mendekapnya, “Mbak gak nangis, Mbak bahagia sekali. Mbak mulai menemukan apa yang selama ini Mbak cari, Mbak mulai mengerti segalanya.”
Bu Nisa memeluk kami berdua dalam dekapannya, sejuk terasa. Aku merebahkan kepalaku di pundaknya. Inikah perasaan indah yang selalu kurasakan bersama almarhum Ibu, namun aku selalu menyakitinya. Ya Allah, izinkahlah kami nanti bertemu di surgaMu, dan kami akan menikmati surga bersama, aku akan memeluknya dan mengatakan.
“Aku mencintaimu Ibu, aku rindu padamu,” lisanku tak bisa bertahan, seluruh rindu mempengaruhi seluruh sel yang ada di tubuhku. Lisanku berujar apa adanya, sesuai dengan hatiku. Legalah hatiku ketika lisanku tak tertahan mengucapkan kata-kata yang belum pernah terucap di depan ibuku.
“Kau merindukannya anakku?”
Bu Nisa menatap lekat wajahku. Aku mengangguk.
“Dia pasti juga merindukanmu, jiwa seorang Ibu itu lebih terang cahayanya dari mentari yang bersinar, kasihnya terbentang sepanjang jalan yang tak memiliki ujung. Seorang Ibu akan mempertaruhkan nyawanya demi melihat senyum di kedua sudut bibir anaknya, demi mendengar tangis mungil yang teramat dirindukannya. Seorang Ibu tak akan berhenti berdoa untuk anaknya, sedetik sekalipun. Mereka akan terus-menerus berdoa demi kebahagiaan anaknya.”
“Aku sangat merindukannya, aku ingin melihat senyumnya. Dulu, yang kulihat adalah wajah sedih dan wajah sayangnya walau aku menyakitinya.”
“Kau ingin dia tersenyum?”
“Sangat ingin.”
“Jadilah wanita yang shalihah.”
“Maksud Ibu?”
“Doa seorang anak yang shalih dan shalihah akan sampai kepada orangtuanya, doa itu akan menjadi penambah amalan. Bahkan, ada seorang yang harusnya masuk neraka namun Allah memasukkannya ke surga karena lantaran mendapatkan kiriman amal dari anaknya.”
Menjadi shalihah? Bagaimana caranya?
“Bagaimana menjadi wanita shalihah Bu?”
Bu Nisa tersenyum, dia berdiri dari duduknya. Lalu berjalan masuk ke dalam, aku hanya terdiam menunggu apa yang akan dilakukannya. Banyak hal yang harus aku pelajari dari bu Nisa, dia mempunyai sisi-sisi yang masih membingungkan dan ketulusan hati yang susah ditebak.
Bu Nisa keluar dari dalam, dan kembali ke ruang tamu. Dia membawa sebuah buku, dan tepat ketika duduk di sebelahku dia menyerahkan buku tersebut.
“Kamu baca saja buku ini Salwa, banyak hal yang bisa kau pelajari disini.”
Aku menerimanya. Buku, ‘Jalan ke Surga.”
“Bawalah dan jika kau mempunyai waktu luang bacalah.”
“Iya Bu, terima kasih.”