Padang Sajadah
Ingat akan Ibu
Ahad sore...
Kami telah terpekur di ruang tunggu ini cukup lama, sedari tadi Azizah tertunduk. Kak Faza telah sadar dari pingsannya tadi pagi, dia butuh banyak istirahat. Aku dan Azizah sempat panik ketika kak Faza merasakan sakit di perutnya dan pingsan.
“Hidup memang tak akan pernah dari yang namanya masalah, malah jika manusia mengatakan dia tidak punya masalah maka dia adalah orang paling bermasalah di muka bumi ini,” Azizah seolah berbicara sendiri, aku mendengarkannya saja, “Kadang kita ingin tampil perfect dan kuat di hadapan orang yang kita cintai. Tapi, kadang apakah benteng pertahanan akan selamanya tak tertembus oleh setiap serangan? Apakah jiwa ini akan terus kuat bertahan memberi agar orang yang dicintainya terus dapat tersenyum? Apakah kita...,” aku menengok kearahnya, airmatanya menetes.
Aku mengusap airmatanya, “Aku sahabatmu Iza, walau kita bertemu belum lama namun Allah telah mempersatukan hati kita. Kau telah mengajariku banyak hal terutama bagaimana mengenal Allah..., kini, aku ingin mendengarkan ceritamu.”
“Peluklah aku, aku hampir tak kuat Salwa.”
Entah siapa yang menggerakkan tubuhku hingga langsung condong mendekatinya dan merangkul tubuhnya, kami berangkulan. Dia terisak dalam pelukanku, Allah yang mengilhamkan setiap kehendakNya pada seluruh ciptaanNya. Setiap hal di dunia ini, dia berhak mengatakan Kun (jadilah) maka akan terjadi semua hal yang menjadi kehendakNya.
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. As Sajdah: 5-6).
“Kak Faza..., kak Faza...”
“Ada apa dengan kak Faza? Bukankah tadi sebelum ashar kau bilang dia tak apa-apa hanya pagi tadi pingsan karena kondisinya masih lemah?” hatiku mendesir kala nama itu disebut. Aku telah banyak berbuat dosa padanya namun setelah kuceritakan dia hanya tersenyum dan dengan mudah memaafkanku. Lelaki itu hanya tersenyum dan berujar lembut, “Semua hal di dunia ini adalah kehendakNya, hidup kita dan seluruh rangkaian di dalamnya adalah dalam penjagaan dan kuasaNya. Kita harus selalu bersyukur pada karuniaNya dengan cara mencintai kehidupan ini dan berbuat sesuai kehendakNya. Hidup ini akan terasa indah jika kita bisa saling memaafkan, itulah yang dikehendakiNya,” sungguh, lelaki yang amat memesona itu tak jauh beda dengan Azizah adiknya. Hati mereka sama-sama lembut.
“Aku tidak bisa setegar kak Faza Salwa, Dia...”
Aku melepas pelukannya. Aku menatap wajahnya tenang, “Katakanlah.”
“Luka di ginjalnya ternyata bukan luka luar saja, dia terkena Pyelonephritis atau infeksi ginjal. Kini, fungsi ginjalnya sedang bermasalah. Ada alternatif pengobatan yang bisa digunakan yaitu dengan transplantasi yaitu donor ginjal, jika dengan cara hemodialisis atau cuci darah tak akan berdampak lama karena ginjalnya hanya buatan. Selepas ashar tadi aku memeriksakan ginjalku, tapi ternyata dokter melarangku mendonorkan ginjalku karena ginjalku lemah.”
Kami sama-sama terdiam. Aku dapat membaca pikirannya dari sorot matanya, sulit pastinya mencari pendonor ginjal yang bersedia mendonorkan ginjalnya, belum lagi biayanya yang pasti besar.
“Selalu ada jalan jika kita menyandarkan segalanya pada Allah, dimanapun kita berada.”
“Kamu benar Salwa. Selalu ada jalan jika kita bertawakkal padaNya, kita harus ridha pada setiap putusanNya karena itulah yang terbaik,” dia tersenyum kepadaku, matanya yang berair segera dihapusnya, “Ayo makan, tadi Zulfa sudah membawakan makanan untuk kita.”
Senyum kami menyatu, merdu semerdu malam Kota Metro malam ini. Setenang dan setentram jiwa yang ridha dalam setiap naunganNya.
© © ©
Aku mengedipkan mataku, kriyip-kriyip. Blinded by the glare. Hujan rintikkah? Aku menyipit membuka mataku pelan. Senyum bidadari nampak satu meter di hadapanku bermahkotakan mukena sempurna hendak shalat. Aku tersenyum sedikit malas sambil mulutku sedikit manyun kurasa. Dia memercikiku dengan air sisa wudhu dari kipasan jari-jarinya.
“Kau sudah lupa doanya?”
Aku berupaya mengingat sekuat tenaga. Ingat juga, laa ilaa ha illallahu wahh dahulaa syarii kalahu, lahulmulku walahul hhamdu wahuwa ‘ala kullii syay in qadiir. Alhamdulillahi wasubhaa nallaahi walaa ilaaha illallaa hu wallaahu akbar, walaa hawla walaa quwwata illaa billaah. (HR Bukhari dari Ubadah bin Shamit ra. Nabi saw bersabda Barangsiapa yang bangun malam dan mengucapkannya kemudian dia berkata ‘Allahummaghfirlii=Ya Allah ampunilah aku’ atau ia berdoa, niscaya doanya akan dikabulkan. Jika dia berwudhu setelah itu dan mendirikan shalat maka shalatnya akan diterima).
‘Tiada Illah yang berhak (diibadahi) selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, milikNya segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, dan tiada Ilah yang berhak (diibadahi) selain Allah, Allah Mahabesar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.’
Aku tertidur dalam posisi duduk bersandar di meja. Setelah membaca doa walau terbata-bata, seolah mata ini masih lengket terasa. Sangat susah untuk membuka secara lebar. Aku menaikkan kedua tanganku manja padanya, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Dasar Salwa manja,” Azizah meraih tanganku erat dan membantuku berdiri.
“Biarin, karena ada sahabat yang selalu bersamaku.”
“Bagaimana lelaki shalih akan melamarmu nanti kalau bangun saja harus dibangunkan?”
“Ya kan aku masih belajar, jadi pelan-pelan,” aku sedikit mengeraskan suaraku.
“Sttt...,” Azizah meletakkan telunjuknya tepat di tengah bibirnya, aku heran. Dia lalu menunjuk ke kamar tidur, disana... kak Faza sedang shalat dalam posisi duduknya. Aku segera membungkam mulutku tanda paham.
“Cepetan wudhu, aku shalat dulu ya?”
Aku mengangguk dan segera menuju kamar mandi. Kesegaran air wudhu seolah menenteramkan setiap dosa yang masih melekat, seperti itulah Rasulullah saw mengajarkan fadhilah wudhu, bagaimana jika ada manusia yang mandi lima kali sehari tentu saja bersih, itulah shalat ditambah lagi dengan shalat-shalat sunnah dan wudhu juga menghapus dosa dari tiap-tiap organ tubuh manusia. Teramat sejuk mengaliri setiap pori, buhul-buhul yang diikatkan syetan terlepas setelah kita berwudhu.
Aku keluar dari kamar mandi. Ya, dengan mendahulukan kaki kanan, ‘Ghufronaka.’ Aku mengambil tasku di meja kecil plastik di kamar tersebut, Azizah shalat di samping kak Faza. Aku keluar kamar dan menuju mushala Rumah Sakit. Mushala itu nampak sepi, udara teramat dingin menusuk, musim panas Kota Metro akan terasa dingin menggigit kala malam menyapa. Tubuhku menggigil seolah hingga sampai tulang sum-sum. Very the deep.
Kubuka tas dan mengambil mukena, kukenakan. Aku berdiri menghadapMu ya Allah, dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaan karena hanya Engkaulah yang memiliki hak mengatur. Kupersembahkan hidupku seluruhnya kepadaMu, maka izinkanlah ya Allah.
Allahuabar. Aku larut hingga rekaat terakhir witir, tak membekas dalam dekapanNya, diriku seolah sirna. Walau aku belum mengetahui makna ikhlas, karena makna ikhlas hanya diketahui oleh orang yang telah benar-benar lama bercengkerama denganNya, yang telah lama melawan syetan, yang telah lama istiqomah melaksanakan perintahNya, yang telah lama melawan nafsunya hingga membelenggu nafsu menjadikan nafsu mutmainnah yaitu yang mengajaknya pada kebaikan-kebaikan.
“Ya Allah, hanya milikMu segala puji, Engkaulah Yang Mengurusi langit-langit dan bumi serta siapapun yang berada di antara keduanya, hanya milikMu segala puji, milikMu segala kerajaan langit dan bumi serta siapapun yang berada di antara keduanya, hanya milikMu segala puji, Engkaulah cahaya langit-langit dan bumi serta siapa saja yang berada di antara keduanya, hanya milikMu segala puji, Engkaulah Maharaja langit-langit dan bumi, hanya milikMu segala puji Engkaulah Al-Haq (Yang Mahabenar), janjiMu adalah benar, firmanMu adalah benar, perjumpaan denganMu adalah benar, surgaMu adalah benar, nerakaMu benar, hari kiamat juga benar, seluruh para Nabi adalah benar, Muhammad saw adalah benar, ya Allah untukMu aku berserah diri, kepadaMu aku bertawakal, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku kembali, dengan (ilmu dari) Engkau aku memerangi (musuhMu), kepadaMu aku berhukum, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Yang Maha mendahulukan dan Maha mengakhirkan, tiada Ilah yang hak disembah kecuali Engkau atau selain Engkau.” (HR. Bukhari dan Muslim, doa Nabi saw setelah shalat malam).
“Demi kemulyaanMu dan demi semua nama yang Engkau miliki, ampunilah hambaMu ini dari segala dosa-dosa. Izinkahlah hamba untuk berada di barisan orang-orang yang ikhlas dan beriman kepadaMu. Amiin.”
Aku melipat mukena yang kupakai dan segera kumasukkan ke dalam tas, pukul 04.25, subuh sebentar lagi, aku ingin ke kamar sebentar mungkin Azizah butuh bantuan. Saat memasukkan mukena, mataku tertahan pada sebuah figura berukuran 3 R foto. Hatiku bergetar melihat wajah tirus itu, kuambil namun jemari-jemariku bergetar mendekati fotonya. Sampai...
Aku mengambil dan mengangkatnya tepat di depan wajahku. Tak bisa kulukiskan semua kelebat pikiran di otakku. Dia adalah Ibu kandungku, yang selama hidupnya selalu kusakiti. Ibu...
Ibu...
Tahukah kau betapa penatnya dunia
Kau memangku setiap duka anak-anakmu
Kasihmu tak terbalas
Sepanjang jalan kenangan
Namamu terukir indah di setiap hati manusia
Ibu...
Jika kau dengar jerit hatiku
Jika kau dengar rindu senyumku
Untuk menuai penyesalan
Dan merajut sisa umurku
Untuk mengusap seluruh duka yang kau derita
Aku akan rela
Allah... Berikanlah yang terbaik untuknya,
Karena Engkau Maha Pemberi balasan terbaik
Wajah yang tersenyum dalam foto itu telah menyihirku untuk mengingat kenangan bersamanya. Kenangan yang memilukan hati setiap hati Ibu yang berada di dunia dan seisinya, tidak hanya manusia yang memiliki hati, tapi hewan pun diilhami untuk mencintai anak-anak mereka, mengorbankan hidupnya demi anak-anak mereka.
Hingga akhirnya...
Kau ikhlaskan seluruh hidupmu
Walau tetesan darah perjuanganmu mengalir
Demi anakmu menghirup udara dunia
Untuk bertasbih kepadaNya