Padang Sajadah
On Mission
Sabtu, Hari ini tidak ada jam kuliah. Aku berkunjung ke rumah Azizah dan Zulfa, mereka tentu juga libur karena di STAIN libur kuliah setiap sabtu dan minggu. Di Universitas Muhammadiyah Metro tidak ada libur, kecuali memang tidak ada mata kuliah. Karena, hari minggu pun beberapa prodi tetap memiliki jam kuliah, tergantung kesepakatan antara Dosen dan para Mahasiswanya.
Langit begitu cerah tanpa penghalang sedikitpun, matahari dhuha ini teramat menyejukkan, angin semilir begitu teduh. Sebentar lagi panas pasti akan menyapa, aku harus segera berangkat, bismillah.
“Salwa.”
Aku menengok ke belakang. Wajahnya teramat indah dengan balutan mahkota jilbab, seolah menatapnya sedang berada di sebuah danau yang teramat jernih lagi bening.
“Ada apa Rin?”
“Aku ikut bersamamu. Aku juga ingin bertemu dengan orang-orang yang mampu melunakkan hatimu itu. Aku ingin tahu seperti apa mereka dan aku juga belajar kepada mereka. Boleh ya?”
Lihatlah Rabb, jika iman telah Kau tiupkan. demiMu mereka mau melakukan apa saja, demi sebuah kedekatan denganMu.
“Tentu saja boleh. Ayo berangkat.”
Baru berjalan dua langkah, sebuah suara menghentikan langkah kami.
“Tunggu aku!” dari dalam jalur kost, sesosok wanita hampir berlari dan wajahnya teramat bahagia hingga keceriaan menyemburat di wajahnya.
“Kamu kenapa Ratih?” Rini tersenyum melihat polah sahabatnya, persis seperti anak kecil saja, aku juga tersenyum.
Ratih tepat berdiri di depan kami. Dia mengatur nafasnya, “Apakah kalian akan meninggalkanku menetapi iman? Apa kalian lupa kebersamaan dan kesepatakan kita?”
Dan Allah-pun tersenyum pada kami. Kebersamaan, perjumpaan, dan kebahagiaan kami hanyalah karena Engkau ya Allah.
Kami melenggang kaki kami karenaMu, berjalan karenaMu, tersenyum karenaMu, berdzikir untukMu, melihat daun yang berguguran karenaMu, mendengar karenaMu, bernafas hanya karenaMu, berujar kata hanya karenaMu. Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.’ (Al-An’aam : 162).
© © ©
“Rumahnya disini?” Ratih menatapku.
Aku mengangguk, “Ayo masuk,” aku mendahului mereka memasuki gerbang, mataku sempat kaget menatap tempat jahit Azizah. Tutup? Apakah hari ini dia sedang ada keperluan? Hatiku tiba-tiba tidak tenang. Pintu samping yang menuju kamar-kamar kost tertutup? Ada sebuah suara lirih mendengung, seperti tangisan.
“Assalamu’alaikum,”
Sebuah suara jawaban salam terdengar. Kami sengaja masuk dari arah rumah, bukan di samping kanannya yang merupakan pintu masuk kost, karena pintu tersebut tertutup. Seorang wanita berusia lima puluh tahunan keluar dan menyambut hangat kami. Dia adalah pemilik rumah, Ibu angkat dari Zulfa. Namanya Ibu Sud, aku baru tahu dari Zulfa kalau dia Ibu angkatnya. Zulfa adalah anak yang dulu pernah bertemu di jalan Tegineneng ketika bu Sud sedang ke Bandar Lampung. Dan bu Sud mengambilnya sebagai anaknya.
“Kenapa lama tidak kesini Salwa?”
“Maaf, baru sempat Bu,” memang aku telah berhari-hari tidak main, “Oya Bu, sekarang Azizah dan Zulfa dimana? Kenapa kamar-kamar kost terlihat sepi dan tutup, bukankah biasanya Azizah selalu buka toko jahitnya?”
Bu Sud menatapku sejenak.
“Kamu belum dikabari?”
“Dikabari apa Bu?” hatiku deg-degan, mendesir. Pasti ada sesuatu.
“Kakaknya Azizah masuk Rumah Sakit lagi, ginjalnya kumat. Sekarang Azizah dan Zulfa di Rumah Sakit.”
“Innalillaahi wainailaihi raji’un. Kak Faza?
“Kami akan kesana Bu.”
“Ya, itu lebih baik. Kalian harus menguatkan Azizah, dia sangat mencintai Kakaknya melebihi dirinya sendiri.”
Aku mengangguk, “Tapi Bu, tadi saya sempat mendengarkan suara orang lirih merintih atau menangis dari dalam barisan kost. Lalu, kenapa pintunya terkunci?”
Bu Sud mendesah nafas pelan, “Kau sudah mendengar cerita dari Azizah dan Zulfa tentang Nurul Fajriah? Wanita yang amat menyesal karena dosanya terhadap teman kost Faza?”
Aku mengangguk.
“Dialah orangnya, semua yang kost sekarang sedang pulang kampung. Dan Nurul, tidak punya tempat lagi kecuali disini. Dia merasa bersalah dan berbuat dosa besar hingga setiap malam selalu menangis.”
“Bu, aku ingin menemuinya sejenak sebelum ke Rumah Sakit. Bolehkah?”
“Tentu saja, lewatlah dari rumah Ibu. Kita masuk lewat sini,” bu Sud masuk dan kami bertiga mengikutinya. Ada dorongan kuat yang menuntun lisan dan gerakku untuk menemui wanita itu. Wanita yang menurut Azizah telah bersungguh-sungguh dalam taubatnya.
“Kau temui saja dia,” bu Sud memberikan isyarat tangannya mempersilakan aku masuk melewati dapur yang langsung menuju barisan kamar kost.
“Kalian mau ikut kesana?”
Ratih dan Rini saling tersenyum, “Sepertinya kami menunggu disini saja. Kau akan lebih leluasa menemuinya, kami akan mendengarkan cerita darimu saja nanti.”
Aku tersenyum, dan kakiku mulai melangkah. Suara rintihan itu terdengar menggetarkan hatiku, telingaku semakin jelas mendengarkan. Suara itu teramat menyayat hati. Langkah kakiku mulai mendekati pintu kamarnya.
“Wahai Tuhanku, pemilik jiwaku yang berlumur dosa ini. Kau tahu jiwaku telah kotor, selamatkanlah jiwa hamba ini. Sembuhkan Hafidz yang Kau cintai, sembuhkan dia ya Rabbi. Jikapun aku yang harus menggantikannya, aku bersedia. Sungguh
Ampuni hamba ini, astaghfirullah.
Ampuni hamba yang berlumur dosa ini...
ampunanMu adalah kekuatan dalam diriku. Aku akan berusaha untuk bertahan hidup untukMu, maka biarkanlah aku melihat Hafidz sembuh. Dan biarkanlah aku menjadi isteri bahkan budaknya sekalipun. Allah..., Allah..., Allah....
wahai hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Majikanmu. Wahai hamba yang lalai, kembalilah kepada majikanMu. Wahai hamba yang lari, kembalilah pada Majikanmu, Majikanmu menyerumu setiap malam dan siang hari sambil berkata, ‘Siapa yang mendekat satu jengkal, maka aku akan mendekat padanya sehasta, lalu siapa yang mendekat padaKu sehasta, maka Aku akan mendekat padanya satu depa, dan siapa mendekat padaKu sambil berjalan, maka Aku akan mendekat padaNya sambil berlari kecil’. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kaulah yang Maha Mendengarkan setiap doa hamba-hambaMu. Harapanku, Kaulah harapanku ya Rabbi...”
Suara itu terdengar kian menyayat, kesedihan akan dosa-dosanya benar-benar besar. Demi cinta yang suci padaMu, kukuatkan azzamku, kukuatkan pijakanku, hatiku bergetar mendebar. Alangkah kuatnya cinta Nurul kepadaMu, hingga rintihan doanya membakar kecemburuanku, kecemburuan bersama denganMu.
“Assalamu’alaikum,” aku memberanikan diri mengucapkan salam, pintu kamarnya terkunci.
Suara serak dan berat terdengar menjawab salamku. Dan wajah yang sembab itu menyembul dari balik pintu. Walau semburat wajahnya basah dengan airmata, namun wajahnya adalah wajah bidadari, teramat cantik dan cemerlang. Belum pernah aku melihat wajah secantik itu. Allah, alangkah indahnya Kau ciptakan wajahnya.
Dia manatapku, “Masuklah wahai hamba Allah.”
Aku masuk di belakangnya dan dia duduk di atas sajadah berukiran masjid berwarna hijau, aku duduk di sampingnya.
“Namaku Salwa Salsabila, panggil saja Salwa,” kulihat wajahnya sedari tadi tak terbersit senyum sama sekali. Apakah kesedihan akan dosa-dosanya membuat wajah cantiknya menjadi seperti ini? Walau cahaya nampak dari wajahnya, namun hanya kesedihan yang nampak disana.
“Apakah kau teman Azizah?” dia menatapku.
“Ya.”
“Dia sering bercerita tentangmu. Alhamdulillah, Allah ‘Azza wa Jalla akhirnya mempertemukan aku denganmu. Dia mengabulkan doaku.”
Hening.
“Aku melihat cahaya di wajahmu saudariku,” Nurul menatapku dalam.
Aku melihat wajahnya, “Di wajahmu juga nampak cahaya Nur.”
“Kau bohong padaku bukan? Kau hanya berusaha menghiburku bukan? Percuma Salwa, dosa-dosa lebih besar dari kebaikan yang telah kulakukan. Aku telah melakukan dosa besar,” ada penekanan dalam ucapannya, airmatanya kembali mengalir.
Aku mengambil sapu tanganku dan mengusap airmatanya, “Aku sudah mendengar tentang kisahmu, telah sampai kisah itu padaku. Maka, aku berkeinginan dan berdoa pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk mempertemukan aku denganmu. Apakah kamu tahu, kenapa aku ingin bertemu dengan orang yang selalu menangisi dosanya setiap malam dengan merintih?”
Matanya menatapku, “Kenapa saudariku?”
“Karena aku ingin menyampaikan kabar gembira dari Rabb Semesta Alam untukmu, untuk orang yang melakukan dosa. Maukah kau mendengar kabar gembira itu?”
“Aku ingin mendengarnya, katakanlah.”
“Rabb Semesta Alam berfirman, ‘Sungguh, taubat di sisi Allah itu hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, lalu mereka bertaubat dengan segera, maka, mereka itulah yang taubatnya diterima oleh Allah.’ (QS. An-Nisaa’ : 17) Bahwa dosa-dosamu telah diampuniNya. Dan kau harus meneruskan hidupmu dengan kebaikan-kebaikan.”
“Kau tahu dosa yang kulakukan terlalu besar. Aku telah mendzalimi orang yang sangat dicintai Allah ‘Azza wa Jalla, aku telah menghentikan dzikirnya sehingga aku harus menggantikan dzikir itu untuknya. Aku telah melukai orang yang teramat putih hatinya, dia kini hanya bisa menggigil dan memanggil Tuhannya, dia terus menderita dengan tubuh berbalut kulit saja.”
Ada penekanan dalam nada bicaranya. Kemudian, tangis lirihnya terdengar kembali menembus dinding-dinding kamar itu.
“Bukankah kau tahu bahwa engkau melakukan dosa itu karena lantaran kebodohan saja dan keterpaksaan? Dan kau segera bertaubat padanya. Lihatlah, kau dicintai Allah hingga kau menikmati ibadahmu. Kau dicintaiNya, tapi kau juga tak boleh mendzalimi dirimu sendiri.”
Hening kembali.
“Kau tahu?” ucapannya diselingi isak tangis. Aku terus mendengarkannya, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret mukanya, mereka itulah orang-orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.’ QS. Al - Furqaan : 34). Kau ketika nanti kita akan berdiri di padang mahsyar? Ketika kita terdiam menunggu hisab dariNya. Dosa-dosa itu akan menutupi kita dan terlihat dengan jelas di depan semua makhlukNya.
‘Manusia akan berkeringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang berkeringat sampai kedua mata kaki mereka, ada yang sampai kedua lutut mereka, ada yang sampai pusar mereka, ada yang sampai punggung, ada yang berenang dan ada yang sampai tenggelam.’ ( HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Imam Ahmad). Betapa kengerian itu telah mampu membuat aku tak berani menatap dosaku. Aku telah menyakiti orang yang shalih, seorang waliNya. Dan Allah tidak ridha dengan itu.”
Tangisnya pecah memenuhi ruangan kamar itu.
“Kau tahu Nur, ‘Ada tujuh orang yang Allah naungi mereka di bawah naunganNya di hai tidak ada lagi naungan selain naunganNya? Merekalah Imam yang adil; pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah; laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah juga karenaNya; laki-laki yang diajak (melakukan perzinaan) seorang wanita yang cantik lagi terhormatk, lalu dia mengatakan, ‘Aku takut kepada Allah,’; seorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kiri tidak tahu keadaan tangan kanannya; dan seorang yang mengingat Allah dalam kesendirian sehingga air matanya bercucuran.’ (HR. Bukhari dan Muslim).
Kau harus yakin padaNya, kau berusaha taubat nashuha. Dan Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosamu. Jika demikian kau tak boleh merusak diri dengan alasan bertaubat, kau harus tahu betapa orang-orang yang mencintaimu khawatir dengan keadaanmu, mereka melakukan apa saja agar kau kembali menatap dunia dengan ceria.”
“Siapa yang mencintaiku?” nadanya protes.
“Apakah kau tidak merasakan cinta mereka saudariku? Azizah yang melakukan apapun agar kau mau menjaga makanmu, Zulfa yang kadang mengompresmu kala kau demam, mereka yang mencintaimu dan tentu saja almarhum Ibumu tak akan ridha jika kau terus bersedih dan menyakiti dirimu sendiri. Dan aku pun mencintaimu karena Allah, hingga aku hanya ingin bertemu dan mengatakan kabar dari Allah, bahwa Allah mengampunimu walau dosamu kau bawa padaNya sebesar gunung-gunung atau memenuhi bumi.”
“Kau tak mengerti apa yang kurasakan Salwa.”
Karena inikah Azizah bercerita agak susah membujuk Nurul, begitupun Zulfa yang kewalahan menasehatinya.
“Jadi kau tetap bersikeras seperti ini? Bagaimana dengan Ibumu di sisiNya, bagaimana dengan Hafidz yang kau dzalimi? Apa kau merasa bahwa mereka menyukai kau seperti ini? Dan, apakah kau juga rela saudariku, jika kau menambah daftar menyakiti orang-orang yang mencintaimu, bagaimana dengan Azizah? Bagaimana dengan Zulfa?
Sungguh, Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tanganNya setiap malam agar orang yang berbuat kejelekan di siang hari mau bertaubat. Dan Dia juga membentangkan tanganNya di siang hari agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari mau bertaubat. (HR. Muslim dan Imam Ahmad).
Allah sudah berjanji mengampuni dosa hamba-hambaNya, sebesar apapun dosanya selama tidak menyekutukanNya. Kini, semua terserah padamu saudariku. Kami semua mencintaimu, dan kami tak ingin kau menyakiti diri sendiri terus-menerus. Daripada kau terus menyakiti diri sendiri dan selalu bersedih. Kenapa kau tidak berusaha melakukan kebaikan-kebaikan yang bisa kau hadiahkan untuk orangtua, dan kau juga bisa berusaha untuk menyembuhkan sakit yang diderita Hafidz. Itu lebih baik, dan cobalah untuk menghargai nikmat sehat yang Allah anugerahkan padamu.
Hingga kita tidak disebutnya sebagai hamba yang menampik pemberianNya. Sebagai hamba yang tidak bisa bersyukur.
Sebagai pesanku yang terakhir, ingatlah firman Allah ‘Azza wa jalla, ‘Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dantidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). (yakni) Akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal di dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; Maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al – Furqaan : 68-70).
Semua keputusan ada di tanganmu saudariku. Maafkan jika aku menyinggung hatimu, namun hanya cinta yang membuatku kesini. Hanya karena ketetapanNya aku datang kesini. Selamat tinggal. Assalamu’alaikum,” aku memeluknya dan berdiri untuk pamitan.
“Wa..., Wa’alaikumsalam warahmatullah.”
Aku keluar dari kamar itu. Di pintu terakhir kali aku menatapnya, dan tersenyum kepadanya, “Aku mencintaimu karena Allah, hanya karenaNya.”
Kakiku mulai melangkah, aku harus bergegas ke Rumah Sakit dan hatiku terasa lega. Sangat lega, roomy, relieved.
Ratih dan Rini tersenyum menyambutku, “Ayo ke Rumah Sakit,” mereka mengangguk. Seperti hari yang mulai menanjak, tunduk patuh pada Rabb yang menciptakannya.