Padang Sajadah
Keputusan yang Diambil (3)
Aku begitu menikmati setiap bahasa dari awal yang isi novel itu menyulutkan semangat dan mengobarkan optimis. Enthusiasm. Seolah dari awal aku membaca, isinya adalah teman bicara yang menceritakan kisahnya, dan tersenyum kepada pembaca untuk mengikuti semua kisahnya.
Aku melanjutkan bacaaanku hingga tanpa terasa malam semakin merangkak. Tapi, aku tak peduli, mata dan hatiku seolah terbuka teramat lebar melihat dan membaca novel kak Faza.
”Ini suratnya,” bagian BAAK memberikan secarik kertas padaku dan tanganku bergetar menerimanya.
”Ditandatangani di bawahnya.”
Suara itu semakin membuat seluruh tubuhku bergetar. Nadiku berdenyut lebih cepat demikian pula jantung dan nafasku terasa sedikit sesak. Tak pernah kubayangkan sama sekali, akhirnya kejadian yang kutakutkan benar-benar terjadi. Maka, biarlah become. Dan, aku hanya berusaha menetapi dengan cinta setiap ketetapanMu.
”Sudah ditandatangani belum?”
”Belum Pak,” kenapa tanganku begitu gemetaran? Kenapa ragu tiba-tiba menyentak kalbuku. Tidak! Aku tak boleh ragu, biarlah nantinya aku akan mengejar ketertinggalanku ini. Toh, semua pasti berjalan atas dasar ketetapanNya. Aku harus yakin pada keputusanku ini.
”Kamu ragu Anakku?”
Lelaki tua di hadapanku itu menatapku. Dia sedari tadi sudah memintaku untuk menangguhkan niatku untuk mengambil cuti. Aku tak menceritakan masalahku, bahwa aku harus mengalah untuk adikku masuk kuliah.
”Insyaallah, saya mantap Pak, satu semester saja. Semoga Allah ’Azza wa Jalla memberikan kemudahanNya.”
Bismillah. Aku tak ragu lagi manakala dalam khayalku, kulihat Ibu dan ayah tersenyum di sisiNya kepadaku. Aku juga melihat adikku tersenyum dengan menenteng buku-buku mata kuliah. Ya, aku harus bisa melawan untuk sementara keinginanku di kuliah. Toh, aku masih bisa belajar banyak melalui guru-guru alam dan buku-buku yang akan kubaca.
Tangaku menandatangani surat cuti tersebut. Dan legalah hatiku, bersama bahagia karena telah memberikan yang terbaik untuk adikku.
Semoga inilah yang terbaik dariMu. I’m believe it.”
Aku mulai membaca dari mulai pukul 19.45 setelah isya’ hingga sekarang telah memasuki tengah malam. Aku tidak bosan sama sekali, airmataku kadang menetes kala perjuangan berat itu harus diuji dengan fitnah dan godaan uang serta wanita. Aku semakin penasaran dengan ending cerita.
”Sungguh Allah, demi kemulyaanMu dan demi keagunganMu, hamba berusaha ikhlas jika ini yang terbaik untuk hamba.’ Tanganku bergetar menyentuh keningnya yang memanas.
”Tapi Allah, jikalau Kau berkenan. Mohon jangan ambil dia ke sisiMu sekarang, karena aku sangat membutuhkannya.”
”Kak..., panas Kak, kepalaku sakit sekali. Aku tidak kuat bertahan, aku tidak kuat lagi Kak,” rintihan Ratna benar-benar menyayat hatiku. Aku ingin menangis, namun jika aku terlihat bersedih di hadapannya, itu hanya akan menambah sakitnya dan tentu saja membuatnya putus harapannya.
”Kamu tahu Adikku,” Ratna yang kesakitan melihatku dalam-dalam. Aku menghirup udara pelan dan dalam di sekitarku, ”Kau akan sembuh. Ingatlah, kita telah banyak melewati masa-masa sulit bersama. Lebih sulit dari ini semua, kamu harus yakin. Kamu harus tegar, kamu harus optimis agar terus hidup, jangan pernah sedikitpun menyerah. Kau tak mau kan melihat Kakak menangis?”
Ratna mengangguk.
”Buatlah aku tersenyum adikku. Karena aku mencintaimu karena Allah, Kakak sangat mencintaimu maka berusahalah untuk sembuh. Jangan kau urusi dan permasalahkan biayamu. Kakak akan berusaha memberikan segala yang terbaik untukmu.”
Airmatanya mengalir, dan aku pun mengusapnya.
Sakit yang dideritanya telah terlambat dibawa berobat, karena dia menutupi sakitnya. Dia tak mau menyusahkanku.
Aku keluar kamar rawat itu ketika dokter datang dan meminta izin padaku untuk memeriksanya. Aku keluar, di koridor itu adalah saksi bahwa tangisku tak bisa kutahan lagi. Aku harus selalu tegar, harus selalu tegar! Sedikit pun tak boleh menyerah. Allah..., kuatkan hambaMu.
Airmataku ikut menetes bersama bahasa yang mengalir dari setiap huruf yang tertulis di novel tersebut. Dan, aku tak bisa menahan airmataku lagi untuk keluar kala kubaca di akhir novel tersebut. Kak Faza menulis.
Ratna memegangi infus dan menangis menatapku, matanya teramat redup dan penuh dengan airmata. Dia mengusap airmataku yang turut pula menetes. Dia menatapku syahdu. Tangannya memegangi tangan kananku kuat, seolah ada setrum kekuatan yang tersalur darinya.
Waktu merambat, seolah semua begitu berat. Sudahkah waktunya bagiku ya Allah? Tubuhku telah lelah ya Allah...
Kulihat di sekeliling Ratna, semua orang datang, mereka keluar masuk kamar rumah sakit itu. Satu-persatu masih kulihat mereka. Semua meneteskan airmatanya untukku. Allah, terima kasih karena kemulyaan ini, begitu terasa cintaMu hingga semua manusia mencintaiku dan merasa sayang atasku.
Itu cukup mewakili kuasaMu wahai Rabbku.
”Kumohon bertahanlah, kuatkan dirimu Kak. Yakinlah padaNya kau akan sembuh. Kau tak boleh meninggalkanku Kak.”
Suara Ratna masih terlalu kuat kudengar. Namun, perlahan suaranya mengecil dan seolah remang-remang.
”Aku mencintaimu karena Allah Kak. Bangunlah...,” kepalaku seolah semakin ringan seperti kapas. Tangan Ratna yang memegangi tanganku seolah semakin lama semakin tak terasa. Tanganku seolah tak terasakan apa-apa lagi. Bahkan, yang mana tanganku? Aku tak bisa menggerakkan sama sekali.
Allah, maafkanlah orang-orang yang mungkin telah menyakitiku. Maafkanlah orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku semasa hidupku, ampuni aku, Ratna dan seluruh kaum muslimin yang benar-benar mengharapkan wajahMu, amiin.
Ada sebayang putih yang muncul dari arah belakang Ratna ketika mataku mulai kehilangan ketajamannya. Dia tersenyum, semakin cepat dan singkat. Semilir angin yang menyapaku membuatku tiba-tiba merasa nyaman dan tenang. Hatiku teramat teduh, seteduh hati insan yang pulang dengan ridha padaNya. Walau semua berlalu, langit di penjagaanNya akan selalu berwarna biru. Dan semua kisahku akan sampai pada kisahku selanjutnya.
Aku mengusap airmataku. Sapu tanganku telah basah, sungguh bagus. Kak Faza memang pintar mengolah kata dan membuat pembaca terbawa arus cerita dan seolah terbawa dalam ceritanya.
Masyaallah!
Aku mengulangi membaca di bagian akhir novel yang dibuat kak Faza, aku benar-benar tak percaya. Aku baru menyadarinya. Kuulangi lagi sekali, aku benar-benar berdzikir mengagungkan namaNya.
Aku benar-benar ternganga. Bukankah kak Faza menyelesaikan novel ini sudah lama? Tapi..., apakah dia tahu tentang musibah yang akan menimpanya? Karena novel ini dibuat ketika aku belum mengenalnya. Lalu..., darimana dia membuat perumpamaan bahwa dia akan sakit dan dikunjungi banyak orang yang mencintainya?
Lalu..., aku benar-benar sempurna meneteskan airmataku, jatuh di atas kertas novel tersebut. Aku mengulang beberapa paragraf terakhir di novel tersebut.
Ada sebayang putih yang muncul dari arah belakang Ratna ketika mataku mulai kehilangan ketajamannya. Dia tersenyum, semakin cepat dan singkat. Semilir angin yang menyapaku membuatku tiba-tiba merasa nyaman dan tenang. Hatiku teramat teduh, seteduh hati insan yang pulang dengan ridha padaNya. Walau semua berlalu, langit di penjagaanNya akan selalu berwarna biru. Dan semua kisahku akan sampai pada kisahku selanjutnya.
Apakah...? apakah kak Faza telah memiliki firasat ini?
Tidak! Takdir itu adalah ketetapanNya yang telah terjadi dan yang belum terjadi masih bisa dirubah bukan? ... Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga kaum tersebut merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... (QS, Ar-Ra’d : 11).
Aku berlari masuk menuju kamar kak Faza, Azizah terjaga melihat wajah Kakaknya yang tengah terbaring. Aku mendekati dan duduk di sebelahnya. Azizah melihatku sejenak lalu pandangannya beralih kepada kak Faza kembali.
”Kau belum istirahat Iza?”
”Bagaimana aku bisa beristirahat Salwa, kau lihat dia tengah membutuhkanku.”
”Tapi, aku yakin jika kak Faza sadar dia tidak akan membiarkanmu tak tidur sampai begini.”
”Darimana kau bisa tahu dan menebaknya?” Azizah melihatku.
Aku mengangkat novel itu, ”Dari novel ini.”
”Iya, kau benar. Aku juga tahu itu. Tapi, kini dia tidak tahu, aku ingin menemaninya sebelum semuanya terlambat.”
Deg! Aku tak tahu perasaan apa yang tiba-tiba menjalar dalam hatiku.
”Apa maksudmu terlambat Iza?” aku menatapnya lekat-lekat.
Dia menoleh kearahku, “Bukankah kau yang bilang kemarin, bahwa semua ketetapanNya adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya.”
Semuanya terbayar lunas, ridha dan ikhlas adalah kunci ketenangan.
”Apakah kau sudah membaca akhir dari novel kak Faza?”
Azizah hanya menggeleng.
”Dia...,”
”Hentikan Salwa,” suaranya berkata pelan namun tangannya memegang pundakku lembut. Akupun menghentikan ucapanku.
”Aku sudah mengetahuinya. Biarlah, bukankah ketetapanNya adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya?”
Sekali lagi aku tak bisa mengerti dengan kehidupan ini, semakin dimengerti semakin bingung aku dibuatnya. Namun, Allah mengetahui segalanya, aku pun tak perlu ragu lagi.
”Sudah terkumpul berapa uang untuk kak Faza?”
”Lima puluh juta, itu sudah dari siswa-siswa setiap sekolah dan beberapa sahabat kak Faza. Lalu, uang transfer buku tersebut telah digunakan kak Faza untuk membayar semua biaya kuliahku hingga selesai. Aku baru mengetahuinya kemarin ketika aku melihat semua alokasi biaya kuliahku telah di jamin dengan uang sepuluh juta atas nama kak Faza. Kau tahu Salwa, dialah anugerah terbesar dalam hidupku...,” airmatanya menetes dan jatuh begitu saja. Teramat bening dan lembut.
Aku memeluknya. Kami larut dalam kebersamaan cinta dan harapan kepadaNya.
© © ©
Allah, hidupku telah banyak melakukan khilaf dan dosa. Ampunilah setiap kesalahan yang telah hamba lakukan, rahmati seluruh hidup hamba, jadikan hamba adalah manusia terbaik yang bermanfaat bagi manusia yang lain.
Allah, seluruh tempat adalah sajadah untuk bersujud kepadaMu, menundukkan seluruh hati dan organ kepadaMu, menundukkan ketaatan di bumi manapun aku berpijak. Allah, jika besitan muncul dalam hati hamba untuk mendonorkan ginjal hamba adalah terbaik maka mantapkanlah niat hamba ini.
Hamba yakin, ginjal yang akan kudonorkan akan membawa kebaikan bagi ummat Islam. Karena akan sangat berguna bagi orang yang shalih yang Kau cintai Allah, yang seluruh hidupnya digunakan untuk membelaMu, untuk mengagungkan kalimatMu. Allah, lancarkanlah semuanya, amiin.
Aku melipat mukena di mushola Rumah Sakit itu. Malam dingin menerpa pori-pori di wajahku.
Malam tadi setelah aku berbincang dengan Azizah, aku memutuskan sendiri ke ruang bu Anita dan meminta untuk diperiksa ginjal dan darahku. Alhamdulillah, darahku cocok dengan kak Faza namun aku belum mengetahui kondisi ginjalku. Aku meminta bu Anita untuk memeriksanya segera.
Melihat tekadku yang kuat bu Anita akhirnya memeriksanya. Ternyata, ginjalku kuat dan bahkan kemungkinan besar jika dilakukan operasi transplantasi maka pasien dan pendonor akan selamat dan juga aku dinyatakan kemungkinan besar akan bisa bertahan dengan satu ginjal hingga tua karena ginjal yang sehat.
Dan, satu hal lagi. Aku teringat percakapanku dengan wanita yang kuanggap sebagai Ibu kandungku yang ternyata adalah majikan dari almarhum ibu kandungku yang sesungguhnya sewaktu aku keluar dari ruangan bu Anita.
”Assalamu’alaikum Nyonya,”
”Wa’alaikumsalam Puteriku, bagaimana keadaanmu Nak?” kutangkap kekhawatiran dari nada suaranya.
”Aku baik-baik saja Nyonya...,”
”Sungguh Salwa, jangan panggil Mamimu ini dengan Nyonya. Panggillah seperti dulu, panggil Mami.”
“Maafkan Saya Nyonya, Saya tidak bisa. Saya telah menyusahkan bapak dan nyonya dan selalu membuat masalah. Tapi, kali ini saya menelpon karena saya memiliki masalah dan saya membutuhkan bantuan Nyonya.”
Hening. Aku menunggu jawabannya.
“Apa yang kau butuhkan Puteriku, katakanlah,”
”Aku membutuhkan uang untuk biaya operasi teman saya, dia sedang dalam keadaan kritis.”
”Berapa yang kau butuhkan Puteriku?” ada senyum terukir bersama kesyukuran di seluruh jiwaku.
”Dua ratus juta Nyonya,” bagi mereka, pastilah uang itu tidak terlalu banyak. Dulu, aku sering mendapatkan uang yang banyak dari mereka, ”Baiklah, aku meminta uang itu kepada Nyonya sebagai pinjaman. Suatu hari nanti jika aku memiliki uang aku akan...,”
”Tidak perlu Puteriku. Telah banyak pengorbanan bi Murni pada kami, telah banyak kebaikan yang kalian berikan pada kami hingga kami melampaui masa-masa akan ketakutan perceraian dan masalah keluarga kami. Bi Murni tulus tak pernah meminta upah kepada kami, karena semua upahnya dia katakan untukmu hingga kami menyanggupinya. Sesungguhnya setelah kau pergi kami telah mentransfer uang 500 juta ke rekeningmu, ambillah dan jika kau membutuhkan lagi suatu hari nanti kami akan berusaha memberikannya.”
Subhanallah. Hatiku tak hentinya mengagungkan dzikir padaNya.
”Tapi Nyonya, apakah itu tidak berlebihan?”
”Tidak Puteriku, sampai kapanpun aku akan menganggapmu sebagai anakku. Walau, mungkin Papimu kurang bisa menerimamu. Tapi, Mami sangat berharap kau jangan memutuskan silaturahmi kita.”
”Salwa akan menghormati kalian sebagaimana budi yang telah kalian berikan pada kami. Alhamarhum Ibuku juga telah banyak berhutang budi pada Bapak dan Nyonya, suatu hari nanti jika aku bisa membalasnya maka akan kubalas dengan balasan yang terbaik.”
”Bolehkah Mami bertanya padamu puteriku?”
”Silakan Nyonya. Jika bisa kujawab akan kujawab sebisa saya.”
”Apakah engkau telah menemukan apa yang kau cari? Tentang kesejatian rahasia ketetapan Allah terhadapmu?”
”Sudah Nyonya, alhamdulillah.”
”Apa yang kau temukan, apa jawabannya?” suara wanita itu teramat peduli dan ingin tahu.
”Apakah Nyonya ingin tahu jawaban apa yang kucari?”
”Iya Puteriku, katakanlah.”
”Setiap ketetapan dari Allah adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Semua kejadian yang kita alami, dari kejadian yang menimpa almarhum Ibuku dan semua kejadian yang terjadi antara kita. Semuanya adalah atas kehendakNya, dan itulah yang terbaik menurutNya. Yang perlu kita ubah adalah bagaimana kita melakukan yang terbaik setelah semuanya, apakah kita akan tetap menjadi hambaNya yang ikhlas atau menjadi yang kecewa padaNya.”
Hening... tak ada suara sedikitpun dari seberang.
”Puteriku..., aku bangga padamu. Doakan Mami agar juga menemukan keyakinan itu, agar Mami bisa menjalani hidup ini dengan baik.”
”Amiin, selalu Nyonya.”
Semua sudah jelas. Angin malam ini menguatkan langkahku, membingkai setiap ketetapan yang telah Kau tuliskan. Untuk setiap kebahagiaan yang berada di depan, harus kita jemput dan tak boleh lemah atau putus harapan sedikitpun. Karena aku hanya punya satu keyakinan padaMu wahai Tuhan.
Aku percaya padaMu...