Padang Sajadah
Cahaya yang Bersinar
Ba’da ashar. Udara sore Kota Metro membelai jilbab kami, tergesa berjalan kearah matahari tenggelam. Melewati taman kota, melewati masjid At-Taqwa, melewati barisan kantor Walikota dan Kejaksaan.
“Ayo lebih cepat Iza,” aku melihat kearah Azizah, dia berjalan sedikit lambat.
“Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana? Bukankah ini sudah sore, mengapa kita kearah pasar?”
Aku tersenyum padanya, “Kau ingin kak Faza cepat sembuh?”
“Tentu saja, tapi kenapa kita kesini?”
Aku memegang tangannya erat, “Pokoknya ayo ikut aku, sebelum tutup.”
Aku tak lagi menanggapi kata-katanya, dia masih saja bingung namun akhirnya mengikuti langkahku lebih cepat. Kami berhenti di sebuah Bank, kami masuk.
“Kenapa kesini? Ini kan bank. Kamu mau pinjam uang?”
“Sudahlah, ayo,” aku menulis di kertas pengambilan rekening. Aku tulis dan aku ambil semua uang yang berada di sana. Ternyata benar, disana ada 500 juta. Azizah kaget ketika aku menutup rekening dan mengambil semua uang. Kami memasukkan semua uang tersebut dalam sebuah tas, dua tas.
“Ini uang siapa?” Azizah masih kebingungan.
“Uangku. Sudahlah, ayo kita segera urus biaya operasi kak Faza,” Azizah kulihat masih kebingungan.
Sore itu kami mengurus semua biaya yang diperlukan untuk biaya operasi transplantasi kak Faza. Semuanya sudah beres.
“Tapi Azizah,” dia menatapku lagi.
“Uang itu...,”
“Hey! Kau tahu siapa aku?”
Azizah menggeleng.
“Aku adalah saudaramu, kita ini bukan orang lain lagi. Kalian adalah keluargaku.”
“Tapi, masih ada kendala yang harus kita lakukan.”
“Apa itu Iza?”
“Dokter tidak memperbolehkan ginjalku didonorkan karena jika dipaksakan bisa membahayakan kak Faza dan aku. Aku tidak tahu lagi harus mencari kemana ginjal yang sehat dan cocok untuk kak Faza.”
“Aku sudah mendapatkannya.”
Ada keceriaan dalam wajahnya yang bening, “Siapa? Aku akan sangat berterima kasih pada orang itu jika perlu aku akan membalas budi baiknya dengan menolong apapun permintaannya,” lihat saja dari bahasanya, jika sudah senang kadang manusia tidak terlalu sadar dengan apa yang diucapkannya hingga dalam sebuah hadits diceritakan seorang yang menemukan kembali kuda dan bahan makanannya yang hilang di padang pasir. Saking gembiranya hingga mengatakan, “Wahai Tuhan, akulah tuanmu dan kaulah hambaku.”
“Orang itu belum mau mengatakan namanya. Yang jelas, ginjalnya sehat dan darahnya sama dengan kak Faza dan kemungkinan besar antara pendonor dan pasien akan selamat dan operasi bisa berjalan dengan lancar.”
“Jadi..., selama ini kau berusaha mencari dana dan pendonor sendirian. Kau tidak mengajakku Salwa?”
“Aku melihat kamu masih terus saja sering murung. Makanya aku tidak mau mengganggumu. Aku mencoba mencari biaya dan pendonor. Aku...,”
Azizah tersedu dan memelukku. Seolah semua rahasiaMu semakin terbuka walau belum semuanya. The secret? Ya rahasiaMu-lah yang akan terus kukuak.
“Jika saja aku tak yakin bahwa ini semua telah digariskan oleh Allah, aku tak akan pernah bertemu denganmu, menjalin ukhuwah bersamamu. Dan firasatku mengatakan bahwa pendonor yang bersedia membagikan ginjalnya kepada kakakku adalah kamu orangnya Salwa. Benarkah itu?” Azizah terisak.
Aku menepuk pundaknya, “Aku telah melihat segalanya di dunia ini, seperti harapan yang berpijar benderang esok hari. takdirNya adalah pasti berlaku, namun untuk hal yang belum terjadi itu masih bisa kita rubah dengan usaha kita. Jika pun aku tidak yakin bahwa pertemuanku dengan kak Faza sudah digariskanNya maka aku pun tak akan memberikan ginjalku ini padanya.”
“Salwa, ternyata kau lebih banyak tahu dari aku tentang mengenalNya. Aku banyak belajar darimu.”
Alam semesta menerangkan pada kita bahwa setiap ciptaanNya memiliki kelebihan di satu sisi dan mungkin memiliki kelemahan di satu sisi. Maka benarlah kata seorang filosof besar yang berkata, “Teman dan buku yang bersentuhan dengan anda, akan menentukan nasib anda.” Sahabat akan menjadi referensi bagi sahabatnya dan buku yang dibacanya pula dapat mempengaruhi pemikirannya. Karena tindakan bermula dari pemikiran.
© © ©
Aku telah siap!
Aku memakai baju operasi. Hatiku bukannya diliputi ketakutan seperti ketakutan seseorang pada ancaman dan kematian yang siap menerjang. Melainkan, hatiku begitu tenteram dan ridha padaNya. Entahlah, yang jelas aku merasa tenang.
”Siapkan dirimu baik-baik,” bu Anita kembali menguatkanku. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk padanya. Kami berjalan bersama, dan aku berjalan di belakangnya.
”Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tiada ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau, Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hambaMu, aku akan berusaha memenuhi janji yang telah Engkau buat semampuku, aku berlindung kepadaMu dari kejelekan perbuatanku, aku mengakui nikmatMu terhadapku, aku juga mengakui dosaku, maka ampunilah dosaku karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau.” (HR. Bukhari).
Saat hendak memasuki ruangan operasi, nampak di luarnya. Kulihat wajah-wajah yang cemerlang bercahaya menatapku semuanya, setiap gerikku seolah mereka perhatikan dari ujung kaki hingga ubun-ubunku.
Langkahku seolah seringan kapas ketika mendekati mereka.
Seorang anak kecil di antara mereka berlari menubrukku dan aku langsung mengangkatnya dan memeluknya. Lihatlah Allah, airmatanya mengalir dan airmataku pun tak kuasa bertahan. Di belakangnya berdiri bu Nisa dan pak Samsul yang telah basah matanya.
”Mbak, jangan tinggalkan Siti.”
Semua menatap kami, airmata mereka mengalir dan ada yang tak kuat melihat kami sehingga langsung dan berbalik serta mengusap airmatanya dari arah belakang.
”Kau masih ingat hidup itu memiliki sesuatu yang bisa membuat segalanya menjadi indah,” Siti mengangguk, ”Apa itu?”
”Believe.”
Aku mengelus jilbabnya, ”Kau benar adikku, kau harus percaya pada Allah. Kau juga harus percaya pada Mbak, suatu saat kita pasti akan bertemu kembali dan kita akan merangkai bunga dan cerita bersama lagi. Bagaimana?” aku tersenyum menatapnya.
Siti tersenyum pula, ”Ya, seperti air. Dia akan terus mengalir menetapi fitrahnya dan akhirnya semua muara akan terpusat pada satu tempat dan mereka akan bersatu kembali untuk merajut cerita.”
Anak yang cerdas. Aku melangkah dan masih tetap menggendongnya. Aku melewati bu Nisa, dia memelukku erat.
”Kau wanita yang kuat Salwa, terima kasih atas penjelasanmu pada suamiku. Ternyata kau lebih mahir dari apa yang kuperkirakan, kau dapat menjelaskan lebih dari alasan yang kuberikan,” bu Nisa menangis sambil membisikiku.
Aku memberikan Siti pada bu Nisa.
Pak Samsul masih sempat berujar kepadaku, ”Bapak sudah tidak pernah merokok lagi. Kami ingin kau tegar dan berjuang, lalu kembali dan berbincang kembali. Aku akan merindukan itu anakku,” lelaki itu menitikkan airmatanya. Aku terus melangkah, dan wajah Dion tiba-tiba muncul sambil menangis serta mencium tanganku. Dan Mbak Lala telah berdiri di hadapanku, airmatanya mengalir.
”Kenapa tokonya tidak dibuka? Sampai mengajak semua pegawai,” kulihat di tempat duduk tiga orang karyawan mbak Lala tampak sedang duduk-duduk namun wajah mereka juga terlihat sedih.
”Kau pikir kami bisa bekerja dan kamu sedang berjuang sendiri. Kami akan mengantarkanmu agar kau tidak merasa sendirian karena kami semua bersamamu,” mbak Lala tersenyum walau airmatanya juga ikut menyembul keluar, kulihat tiga orang pegawai Aneka Printing. Aku teringat bersama mereka bekerja, dan mereka sering bertanya masalah-masalah mereka. Oh..., wajah mereka pun kini tampak meneteskan airmata di sela senyum mereka.
Aku melangkahkan langkahku kembali, wajahku menatap Nabil yang berdiri di samping kiriku kini. Aku melewatinya sambil menepuk pelan pundak kirinya, kulihat tadi wajahnya amat berharap agar operasinya berjalan lancar. Hingga banyak orang yang mengantarkan aku ke ruang operasi. Aku berusaha tegar berjalan terus. Hingga di ujung pintu kulihat Azizah dan Naurah disana.
Aku telah sampai di hadapan mereka.
”Kuatkan dirimu Salwa, percayalah padaNya sebagai Penentu segala sesuatu,” nada suara Naurah teramat menyejukkan. Selain cantik dia juga pandai di kampus, aku dan dia sekampus bahkan aku pernah menjadi salah satu muridnya mengaji ketika awal masuk di semester satu yaitu kegiatan BBQ yang wajib dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah.
Aku mengangguk padanya.
”Ayo Salwa,” dokter Anita mengingatkanku.
”Baiklah dok,” aku bergegas memasuki pintu. Namun, tangan kiriku tertahan oleh sebuah pegangan yang memegang tepat di pergelangan tanganku. Azizah telah sempurna basah wajahnya, wajahnya tampat bercahaya.
”Kenapa?”
Dia tidak bersuara namun pegangan tangannya tak juga dilepaskan.
”Kau tak ingin segera bercerita lagi dengan kak Faza? Aku akan berusaha menolongnya dan hanyalah ini yang bisa kuberikan.”
Dia tak juga melepaskan pegangannya.
”Salwa ayo segera, dokter sudah menunggu,” kepala bu Anita menyembul keluar dari pintu masuk tersebut.
”Iya Dok, sebentar,” dokter Anita masuk kembali ke ruangan itu, ”Aku harus segera masuk Iza.”
”Aku ingin kalian berdua bersamaku, aku ingin kalian berusaha keras untuk selamat. Kalian harus berusaha keras untuk kembali bercerita bersamaku.”
Aku mengangguk, ”Ingatlah bahwa ketetapan Allah ’Azza wa Jalla adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Jika kita yakin itu dan berusaha keras maka Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan usaha para hambaNya yang berusaha keras dalam menggapai ridhaNya.”
Azizah memelukku untuk terakhir kali sebelum aku masuk ke ruangan operasi. Kami berpelukan mesra, menyatu bagai beberapa debu yang berdebur di tiup angin dan bersama terbang melayang mencari tempat mukim yang tepat agar dapat bersama dan membentuk kebersamaan.
Kami berpegangan tangan hingga terlepas dan aku menghilang masuk, wajah-wajah mereka yang teramat indah adalah suatu kenikmatan. Aku teringat sebuah kisah tentang seorang dokter yang memiliki sepasang tangan yang hangat.
Di Negara Jepang, ada seorang dokter ahli penyakit kanker yang telah sangat berjasa untuk orang banyak. Ia mempunyai tekad yang kuat dan mengagumkan yaitu ingin menolong orang-orang di dunia dan membuat mereka dapat tersenyum. Setiap tahun ketika musim dingin datang, sang dokter selalu menaruh sebuah kompor penghangat di dalam ruangan prakteknya dan selalu dihidupkannya. Dan, setiap akan memeriksa pasien, ia selalu menghangatkan kedua tangannya terlebih dahulu agar hawa panas tetap bertahan di telapak tangannya.
Umumnya setiap pasien yang berobat kepadanya, selalu datang ke tempat praktek beliau dengan hati penuh kekhawatiran akan penyakit ganas yang mengancam jiwanya, kemungkinan ketakutan-ketakutan begitu jelas muncul. Saat para pasien itu duduk berhadapan dengan seorang dokter dan menghulurkan tangan untuk diperiksa denyut nadinya sebagai awalan dalam proses pemeriksaan. Dalam pikiran para pasien sejak mereka di rumah hingga tempat praktek, wajah mereka adalah wajah-wajah kekhawatiran sehingga takut menghadapi masa depan yang sesungguhnya.
Namun, keajaiban terjadi pada setiap pasien yang datang kepadanya. Ketika tangan mereka bersalaman merasakan ada kehangatan yang muncul dari tangan sang dokter. Merasakan adanya sebuah aliran yang hangat yang mengali ke dalam tubuh pasien maka dan secara tidak sadar, mereka menjadi lebih tenang dan khawatir terkurangi serta menjadikan mereka optimis terhadap penyakit yang dideritanya.
Sang dokter tersebut, yang selalu memeriksa dengan denyut nadi dengan tangan yang hangat itu, memberikan rasa aman dan menimbulkan rasa percaya diri pasien. Ia adalah seorang dokter besar yang sesungguhnya. Sepotong hidupnya adalah cahaya bagi kehidupan yang membutuhkan cahayaNya. Light.
Jika sepotong hidupku tak bisa bermanfaat banyak bagi orang lain. Minimal, kedatanganku adalah dapat menjadikan orang lain tersenyum. Atau, setidaknya ginjalku dapat digunakan kak Faza untuk memperbaiki moral orang lain, ginjal itu akan dibawanya untuk berdakwah kepada Allah ’Azza wa Jalla dan akan menjadikan banyak pahala dari Allah.
Allah..., kedipkan mataku karenaMu, langkahkan kakiku karenaMu, dan berilah senyumku juga karenaMu.
© © ©
Aku berbaring di atas ranjang dengan ruangan serba putih. Beberapa dokter dan perawat tengah sibuk kesana – kemari membawa perlengkapan untuk melakukan operasi. Aku melihat dokter Anita, kami bertatapan, dia tersenyum sambil membawa sebuah wadah besi. Dia mengangguk, dan aku pun mengangguk. Bismillah.
Decision, determination, constancy Kusujudkan seluruh hidupku padaMu Allah, hingga hilanglah diriku, tak secuilpun yang tersisa. Hamba ridha dengan segala ketetapanMu yang terjadi atas hamba. Sungguh, semuanya adalah keindahan walau Kau bungkus dalam ujian dan cobaan. Karena, itu semua adalah sebagai rasa cintaMu, agar Kau dapat membedakan mana hamba yang kembali padaMu atau yang mundur ke belakang.
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (sesat) dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy – syams : 8-10).
Kutatap langit atap putih di atasku, teramat jernih, sejernih hatiku kini.
Aku memejamkan mataku, terbayanglah semua siluet kisah tentang perjalanan hidupku. Semuanya tergambar dalam keadaan sejelas-jelasnya bagai rembulan saat purnama tanpa penghalang.
Di awal setiap hal
Selalu...
Ada celah yang akan timbul
Disanalah...
Jalan yang sesungguhnya
Kuhanya manusia yang berlumur dosa
Bisakah kudatang padaMu dan menengadahkan tanganku
Kuketuk pintuMu, walau pun aku tak tahu tanggapanMu
Karena setiap celah adalah kesempatan
Untuk menyerahkan setiap detik usia
Hingga denting gemericik air yang terakhir
Mengalir
Bersama keyakinan bahwa Kau datang, membawa kedamaian.
Beberapa perawat dan dokter datang memasuki ruangan, aku hanya mengangkat sedikit kepalaku memastikan. Kak Faza telah didatangkan. Ranjangnya didorong hingga sejajar dengan diriku, berjarak satu meter di sampingku.
Wajahku kutengokkan ke kiri, dia masih belum sadar.
Wajah indahnya nampak pendar cahaya terlihat, berkilauan. Luster nampak berpencar ke seluruh ruangan, udarapun terasa begitu sejuk. Reflected shine, glare.
Aku menatap lekat wajah bercahaya itu. Bayanganku tak terganggu sedikitpun ketika para dokter saling berseliweran di antara kami, mereka seolah orang – orang bingung yang sedang mencari sesuatu yang hilang. Bayanganku padanya tidak pernah sirna. Saat aku pertama kali berbincang dengannya. Saat itu...
Dia sedang mendekati sepeda di garasi depan kost, aku sedang masuk dari arah luar kebetulan baru pulang dari kampus. Aku berjalan memasuki gerbang hendak melewati garasi. Aku menatapnya sejenak, wajah yang tampan, Mungkin salah satu Mahasiswa yang kost di Baitul’ilmi. Aku hendak melewatinya, hatiku deg-degan, Di tangan kiriku memegang es juice yang berwarna putih pekat. Walau sedikit grogi aku berjalan melewatinya dengan santai. Aku berjalan semakin mendekat, dan angin panas siang ini benar tengah memanggang segala yang ditemuinya.
Sedari tadi laki-laki itu menunduk, setelah sekilas melihat wanita itu ada sesuatu yang bermain di hatinya. Semakin dekat kulihat ia memejamkan matanya sejenak, mungkin ia tengah mencoba mengajak berdialog antara hati dan pikirannya.
Saat aku semakin dekat, kulihat matanya mulai membuka kembali. Dia menegurku, ”Assalamu’alaikum Mbak,” suaranya baru terucap ketika aku telah melewatinya sekitar dua setengah meter.
”Wa’alaikumsalam, kak Faza memanggil saya. Ada perlu apa?” aku berbalik dan menatapnya. Aku tertegun berdiri di hadapannya. Jujur, melihat kak Faza yang sebenarnya sangat tampan, hatiku juga berdegub-degup, mendesir. Apalagi Lelaki itu adalah salah seorang yang terkenal di kampus Universitas Muhammadiyah Metro, atas beberapa prestasi yang tidak mungkin didapat kecuali orang yang ulet belajar dan berusaha. Detik-detik itu teramat mendebarkan.
”Mbak kuliah di Universitas Muhammadiyah kan?” suaranya sangat lembut.
”Iya Kak, tapi masih semester empat. Memangnya ada apa Kak?” hatiku semakin berbunga-bunga karena merasa diperhatikan. Kuncup bunga bermekaran di hatiku waktu itu, walau sedari tadi lelaki tampan itu terus menunduk.
”Sebelumnya saya minta maaf jika ini menyinggung anda. Saya juga punya seorang adik perempuan. Dia kini masih kuliah semester dua di STAIN, dia selalu berpesan kepadaku bahwa seorang wanita itu dilihat dari akhlaknya. Disitulah letak kecantikan dan kemulyaan seorang wanita.”
”Maksud Kakak?” aku tak paham.
”Adikku berkata, cantik tidaknya seorang wanita cukuplah dilihat dari perilakunya, karena itulah yang akan abadi dari hidupnya. Cantiknya wajah bisa pudar kapan saja, namun sikapnya akan selalu hidup walau kematian telah menjemputnya. Perilaku itu bagai kristal atau hablur yang mengkilap, dia bersih lagi jernih. dan..., seseorang apalagi wanita akan terlihat indah dan anggun apabila minum juice dengan tangan kanannya lalu duduk. Maaf jika ini menyinggung Mbak, saya pamit dulu. Assalamu’alaikum.”
Saat kak Faza meninggalkanku, bumi tempatku berpijak seolah bergetar. Aku tak bisa bergerak dan es juice dalam plastik yang kupegang jatuh dan cipratannya tak kuhiraukan hingga mengenai kakiku.
Kak Faza ...
Semua memori tentangnya berkelebat dalam pikiranku bagai slide yang besar ditampilkan secara jelas dalam pikiranku.
”Brakk!” pintu terkuak patah.
”Apa yang kau lakukan!” Faza berteriak keras.
”Tolong aku!” aku berteriak melihat ada kesempatan untuk dapat melepaskan diri.
”Plak!” pukulan itu tertahan oleh kibasan tangan kanan kak Faza. Saat tubuh lelaki yang hendak menodaiku itu sedikit berputar ke kanan, kesempatan bagi kak Faza lalu tangan kanannya membentuk lancipan, lurus jari-jarinya dan pukulan kuat bersarang di tengkuk lelaki jahat itu. Tubuh itu terhuyung, menabrak lemari kaca di samping ranjang. Alat rias di depan cerminku itu berantakan.
Slide itu membuyar, dan hilang. Lost, vanish. Hingga seolah kembali kumelihat wajahnya yang kini menutupkan matanya. Dia begitu tenang, pantas saja dia dicintai banyak manusia. Dan Naurah serta Nabil? Mereka lebih layak untuk menjadi isterimu kak. Aku tak bisa berharap lebih padaNya, biarlah ginjalku menyatu bersamamu, agar dapat menjadi manfaat bagimu, wahai jiwa bercahaya.
”Kak Faza...,” tiba-tiba lisanku tak bisa kucegah, “Bangunlah, aku datang untuk membalas budi baikmu.”
Sebuah suntikan terasa menusuk tangan kananku. Nyess!
Operasi siap dimulai.
Aku tak menghiraukan suntikan itu. Aku masih melihat wajah kak Faza, dan…, ada airmata yang mengalir dari kedua matanya yang terpejam. Tanganku tak kuasa lagi kutahan. Dia bergerak sendiri ingin mencapai kedua mata kak Faza, aku sungguh-sungguh tak bisa menahannya lagi ya Allah.
Kaukah yang menggerakkannya?
Semakin dekat tanganku hendak mencapai wajah bercahaya itu. Semakin dekat, airmatanya sudah menetes ke bantalan tidurnya. Tinggal lima centimeter. Tiba-tiba pandanganku kabur, memburam dan kepalaku mulai berat.
Tangaku terkulai dan mataku terpejam. Pendar serba putih menggelap, seperti ketika sore hari, kala matahari terpendam dari arah barat. Maka, malam akan memainkan perannya. Kini, kupasrahkan jiwa dan ragaku padaMu... dan aku datang padaMu.
Allah...