Padang Sajadah
Dalam NaunganMu
“Kabar gembira Salwa!” Mbak Lala mendekatiku sehabis shalat dzuhur. Aku yang sedang mengetik di komputer hingga berjingkat pundakku karena kaget.
Huff! Lega, “Memangnya ada kabar apa Mbak?” aku menatap mata Mbak Lala yang ceria.
“Kau ingin tahu?”
Aku mengangguk.
“Ada dua kabar yang menggembirakan satu untukku dan satu kita semua.”
“Apa itu?” aku sangat antusias, aku sangat penasaran.
Mbak Lala menatapku dalam, “Aku sudah menerima lamaran mas Ahmad dan acara walimahnya satu minggu lagi dari sekarang dan yang sa...,”
“Barakallah Mbak!” aku memeluknya erat dan memotong perkataannya karena saking gembira. Kami larut dalam pelukan bahagia itu.
“Beneran Mbak?” Teguh mendekati kami.
Mbak Lala mengangguk dan jadilah Teguh yang dari tadi berdiri tak jauh dari kami segera berlari dan memberitahukan kabar gemira itu pada dua temannya yang sedang mencetak buletin serta undangan-undangan yang sudah menumpuk. Mbak Lala jadi merah wajahnya.
“Dan kabar keduanya?” aku menatapnya.
Mbak Lala menoleh kearah tiga karyawan yang tengah tersenyum pula, “Kalian semua mohon kesini sebentar, ada kabar baik untuk kita semua,” tiga karyawan itu mendekati kami dan ikut duduk dengan kursi plastik.
“Toko percetakan kita ini sekarang sudah bertambah ramai, ruangan ini sudah tidak cukup lagi untuk menampung semuanya terutama pesanan kita yang kini selalu bertambah banyak karena kepercayaan para pelanggan. Mulai bulan ini, gajian kalian dinaikkan.”
Gema tahmid mendengung dari lisan-lisan kami sebagai tanda kesyukuran kami yang mendalam. Memang benar, beberapa waktu yang lalu pesanan semakin bertumpuk hingga kami pulangnya sering mendekati waktu maghrib.
“Tapi ada satu permasalahan yang juga harus kita selesaikan,” aku dan ketiga pegawai Aneka Printing menunggu penjelasan selanjutnya dari mbak Lala, “Karena itulah yang sedang mbak pikirkan. Aku mencoba bicara dengan Bapak, karena dialah yang mendirikan percetakan ini. Bahwa, kita harus melebarkan toko ini jika kita ingin menampung semakin banyak pelanggan.
Bapak memberiku nasehat dengan sebuah cerita tentang kisah seorang pemuda pemancing. Suatu hari pemuda ini datang ke sebuah sungai yang dikabarkan bahwa ikannya sangat banyak dan besar-besar. Dia melihat seorang tua yang tengah memancing pula bersamanya.
Si pemuda kurang kurang beruntung karena sudah menunggu begitu lama, namun tak satu juga pun kailnya bergerak. Umpannya pun tidak sedikitpun disentuh ikan-ikan. Sebaliknya, orang tua yang memancing di dekatnya sangat mujur karena ia menangkap beberapa ikan dan sangat besar ukurannya. Anehnya, setiap kali orang tua itu mendapatkan ikan tersebut ia selalu mengangkatnya tinggi-tinggi dan melihatnya dengan teliti lalu diukurnya ikan tersebut.”
Aku, Sarman, Teguh dan Firman mendengarkan dengan seksama. Cerita mbak Lala sangat bagus, dia ternyata pandai bercerita, “Lalu Mbak?”
“Setiap kali ikan itu diukur, tiba-tiba ikan tersebut dilemparkan kembali ke dalam sungai, karena itu keranjang wadahnya kosong dan tidak terisi sama sekali. Sang pemuda yang memancing di sebelahnya heran dan bertanya kenapa setiap kali mendapatkan ikan dan besar tetapi selalu dibuangnya kembali ke dalam sungai? Orang tua itu dengan tenang menjawab, ‘Tidak bisa! Tidak bisa aku ambil, karena piring di rumahku tidak cukup besar untuk menaruh ikan sebesar itu!’
Bapak berpesan bahwa kita harus membuka sebesar-besarnya jiwa kita menerima apapun keadaan, dan berapa besarnya bisnismu di masa depan, tergantung berapa besar jiwamu. selain itu harus dipersiapkan wadah penampungan rezeki Tuhan dengan wadah yang besar pula. Maka mbak mempunyai inisiatif kita pindah dari sini dan menyewa sebuah tempat yang lebih besar agar dapat menampung lebih banyak pelanggan serta menambah beberapa orang karyawan.”
Hening.
“Bagaimana menurut kalian?” mbak Lala memperhatikan kami satu-persatu.
“Menurut saya Mbak, kita tetap disini saja karena tempat ini sangat strategis. Bukankah jika kita mencari tempat yang baru kita butuh promosi ulang kembali serta harus bekerja dari awal lagi dan belum tentu nanti tempat tersebut strategis. Ini berarti kita main spekulasi dan perlu analisis yang panjang.”
“Benar itu Mbak,” Firman membenarkan.
Mbak Lala tampak berpikir sejenak, jemarinya nampak mengetuk-ngetuk kursi.
“Memang benar kata kalian, selain itu Mbak juga mempunyai masalah tentang biaya ekspansi karena memang uang kas tinggal dua ratus juta dan itupun masih kurang untuk melebarkan sayap.”
Kami semua terdiam, dan saling berpikir dalam inspirasi masing-masing.
“Aku ada ide,” aku menatap mereka satu persatu. Kuperlihatkan wajah seriang mungkin karena itulah yang dilakukan para CEO saat menyampaikan gagasan mereka tentang kemajuan usaha perusahaan. Aku pun mengikutinya, walau aku tak terlalu banyak belajar tentang manajemen perusahaan dan hanya membaca lewat buku-buku tentang biografi enterpreneurs.
“Apa itu Salwa?” mbak Lala menatapku bersemangat.
“Iya apa Mbak?” Teguh ikut penasaran.
“Katakan pada kami,” Sarman dan Firman tidak kalah antusias.
Aku tak boleh mengecewakan harapan mereka.
“Kita harus siap menghadapi apapun dalam sebuah usaha. Orang sukses selalu mencari jalan sedangkan orang yang gagal selalu mencari alasan dan setiap kali kegiatannya tak sesuai yang diharapkan, dia akan menyalahkan keadaan. Seperti kisah dua orang pemuda yang bekerja di sebuah pabrik besai. Kedua orang pemuda adalah karyawan baru.
Di pabrik itu, pemiliknya mengambil dua pelat besa dan dua martil untuk diberikan kepada mereka masing-masing satu pelat besi dan sebuah martil. Mereka diminta untuk memukul pelat besi tersebut sampai pelat besi patah atau putus. Setelah itu, baru dia akan bersedia menerima mereka berdua yang memposisikan mereka sesuai test tersebut.
Kedua pemuda itu mengambil peralatan yang diberikan itu, masing-masing mencari tempat untuk memulai memukul besi. Setelah beberapa saat lamanya, pemuda pertama datang kepada pemilik pabrik dan mengatakan kepadanya, “Tidak bisa! Pelat besinya terlalu keras!” pemilik pabrik hanya tersenyum.
Selang beberapa lama, pemuda kedua datang kepadanya. Dengan muka penuh keyakinan dan semangat dia berkata, “Pak, saya ingin bertanya apakah ada martil yang lebih kuat?” wajahnya menandakan bahwa dia benar-benar ingin menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Usaha jika tetap ingin bertahan maka harus mempromosikan produknya dengan sesuatu yang selalu diminati konsumen, menyediakan apa yang mereka inginkan. Memberikan pelayanan yang terbaik sehingga mendapat imbalan yang sesuai. Ini adalah usaha yang panjang untuk selalu melakukan pembaharuan, namun kita harus melakukannya dengan penuh semangat, profesional dan sikap jujur.
Maka, saya mengusulkan untuk membuat ruko baru, kebetulan kemarin waktu saya pulang saya mampir di dekat pasar dan melihat sebuah ruko besar yang ingin dijual. Saya memperkirakannya akan mudah menjalankan promosi serta letaknya tidak jauh dari sini...,”
“Tapi Mbak, disini lebih baik. Bukankah kita dilarang spekulasi jika analisis tidak kuat, apalagi ini menyangkut hidup dan matinya usaha,” Firman sedikit protes.
Aku tersenyum, “Tidak hanya disitu penjelasanku, selain kita membeli ruko itu sebagai ekspansi usaha, disini kita akan tetap beroperasi. Bukankah tempatnya tidak terlalu jauh, sehingga jika di salah satu tempat memang memiliki order yang berlebih bisa ditransfer ke toko yang baru nantinya. Maka, kita akan bisa menampung konsumen lebih banyak dan membuka lapangan kerja baru. Bagaimana menurut kalian?”
“Usul yang sangat bagus,” Teguh bersemangat, Firman dan Sarman mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi Salwa,” kini mbak Lala yang terlihat keberatan, “Mbak tidak punya modal sebesar yang kau pikirkan. Mbak hanya punya sedikit, kalau membukan toko kecil seperti ini mungkin bisa. Atau, kita membuka juga namun sebesar ini juga?” mbak Lala menawarkan ide juga.
“Tidak Mbak,” aku menatap mbak Lala mantap, “Toko yang aku sebutkan tadi adalah toko harganya terjangkau dan besar, dan dijual karena pemiliknya ingin menutup usaha dealer motornya karena ingin beralih profesi dan kita akan memanfaatkannya untuk pelebaran usaha kita.”
“Lalu uangnya?”
“Alhamdulillah, aku masih punya uang tabungan yang ketika digabung dengan uang mbak insyaallah cukup.”
“Benarkah? Berarti mulai sekarang kita jadi mitra yang sama-sama memiliki saham? Baiklah aku sangat berantusias kalau begitu. Aku yakin, usaha percetakan ini akan menjadi usaha besar dengan kerja keras kita,” mbak Lala tersenyum ceria, mungkin baginya lengkap sudah kebahagiaannya.
“Insyaallah Mbak, bukankah Allah yang menentukan segalanya dan kita hanya berusaha menjemput ketetapanNya yang selalu terbaik untuk kita semua,” aku memelankan suaraku.
Hening sejenak.
“Astaghfirullah,” mbak Lala mengulangi istighfarnya beberapa kali. Aku, Teguh, Firman dan Sarman juga beristighfar. Allah, jikalau iman telah tertanam kuat dalam hati hambaMu, maka hatinya akan sangat sensitif ketika kekeliruan terjadi walau hanya sebiji dzarah sekalipun. Maka, ampunilah kami ya Allah jika lidah dan seluruh organ kami bermaksiat kepadaMu. Karena kadang tanpa sengaja kami sendiri membuat luka dosa semakin mengangga.
Jika bukan karena ampunanMu, entah apa jadinya kami.
© © ©
Matahari kembali memanggang Kota Metro, hari-hari ceria kembali menyibak duka-duka setiap kegelapan. Buktinya, jalanan aspal tetap ramai dan dentingan suara para pedagang di sekitar pasar masih ceria menghadapi hari. Rumus tercanggih untuk menghadapi hari ini adalah dengan memulainya lewat senyum dan doa serta keceriaan akan optimisme. Bahwa, semua ketetapanNya adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya.
Sarman dan Firman kulihat sibuk menata ruangan pagi ini, ahad yang cerah. Sarman yang hanya lulusan Sekolah Dasar itu kini telah memiliki tiga orang anak, dia bekerja di Aneka Printing sebelum menikah, jadi usaha ini adalah usaha orangtua mbak Lala. Sedangkan si Firman masih memiliki satu orang anak, keinginan mereka untuk belajar agama begitu kuat hingga aku sering meminjam buku di perpustakaan dan meminjamkan untuk mereka.
“Assalamu’alaikum,” si Teguh datang, dia adalah paling kecil di antara kami. Dia sedang sekolah di SMA Negeri 1 Metro. Dia anak yang pandai, dia bekerja untuk membiayai sekolahnya sehingga datang ketika pulang sekolah. Sekarang dia tengah menyiapkan ujian akhirnya, dia selalu mendapat juara tiap tahunnya di kelasnya.
Kami menjawab salamnya, dia langsung berbenah dan menata kertas-kertas serta pajangan yang harus diperlihatkan di dalam dan diluar ruko. Lihatlah, dia teramat ceria bekerja, dia juga aktif di Rohani Islam Sekolah, dia salah satu pengurusnya yang mengurusi organisasi. Namun, dia selalu bercerita kalau dia tidak bisa terlalu aktif karena harus bekerja. Dia hanya bisa membantu teman-temannya di balik layar, mungkin menyiapkan perlengkapan acara ta’lim dan menatanya ketika malam, atau bagian pembuatan pin, pamflet-pamflet, stiker atau desain grafis untuk background acara.
Aku selalu membesarkan hatinya bahwa tidak semua hal bisa kita lakukan, namun sekecil apapun pengorbanan kita kepada Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakannya sedikitpun. Aku bangga padanya.
Toko yang sudah kami beli sebagai ekspansi usaha percetakan sudah kami beli dua hari yang lalu. Uang sisa operasi aku campurkan dengan uang mbak Lala, ternyata masih sisa maka kami gunakan sebagiannya untuk membeli satu plong lagi di toko yang lama agar lebih besar. Di toko yang baru ternyata begitu besar, bahkan tiga kali lebih besar dari toko yang lama. Mulai minggu depan baru akan diisi dengan barang-barang serta kini sedang merekrut karyawan baru. Hari-hari yang sibuk namun penuh keasyikan dalam hati-hati kami.
Wajah-wajah kami sangat ceria, besok adalah hari pernikahan mbak Lala dengan mas Ahmad. Hingga, kami beberapa hari ini sering mencandai mbak Lala. Wajahnya selalu merona merah, dan dia pasti akan mengalihkan pembicaraannya dengan ganti menanyaiku kapan aku menikah? Kalau sudah seperti itu mbak Lala pasti ganti tersenyum kepadaku. Allah, alangkah indah dunia ini bersamaMu.
‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah ‘Azza wa Jalla memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. Dan supaya Allah ‘Azza wa Jalla menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).’ (QS. Al-Fath : 1-3).
Dan semua terasa indah, sangat indah.
Hari-hariku setelah menjalani operasi kulalui dengan ketenangan. Bahwa, semuanya telah Kau atur wahai Rabbku. Rumus termudah untuk selalu dekat denganMu sebenarnya hanya ada dua.
Dengan bersyukur dan bersabar atas segala ketetapan yang Kau tentukan, namun yang belum terjadi kita harus berikhtiar mengejarnya, menggapai cita-cita adalah bagian dari sebab turunnya ketetapan Allah dan doa adalah kekuatan tertinggi seorang mukmin.
‘Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi ( Tentara langit dan bumi adalah penolong yang dijadikan Allah ’Azza wa Jalla untuk orang-orang mukmin di bumi seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin topan, dan sebagainya.) dan adalah Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.’ (QS. Al-Fath : 4).
Dan, kusujudkan setiap jiwaku. Dimanapun aku berada. Izinkanlah selalu, aku belajar untuk selalu menjadi yang Kau inginkan.
© © ©
Sore ini saatnya pulang. Mbak Lala tentu saja tidak bekerja karena beliau besok menikah. Jadi, aku yang mewakili semua kegiatan siang tadi dan semua karyawan menerimaku dengan baik walau aku paling baru bekerja disini, namun karena imanlah yang menjadikan iri itu adanya untuk kebaikan semata. Itulah apabila tsiqah sudah menancap dalam hati manusia.
Aku pamitan dengan mereka.
“Hati-hati Mbak,” Teguh mengantarku hingga di depan ruko. Dan mereka masih memberesi dan tinggal menutup roll ruko. Tidak biasanya Teguh berpesan seperti itu? Tapi, bukankah karena iman yang menyatukan kami? Aku tersenyum dan bersyukur dengan segenap jiwa dan raga.
Aku berjalan mendekati mobil angkot, pikiranku melayang membayang seluruh perjalan hidupku. Semuanya indah wahai Tuhanku.
Bagaimana kabar kak Faza?
Aku melihat bayangannya terpantul di langit. Empat hari yang lalu dia telah pulang dan dinyatakan pulih, hanya butuh istirahat lebih banyak. Aku sedikitpun tak menyesal mendonorkan ginjalku padanya, karena aku yakin dan percaya padanya. Ginjal itu hanya akan digunakannya untuk kebaikan, merangkai bersama organ lain dan mengangungkan Rabb Semesta Alam.
“Kampus! Kampus! Kampus!” seorang kernet tengah berdiri di pintu masuk angkot. Aku segera mendekatinya.
Saat itulah...
Kepalaku terasa berat, dan perutku sedikit perih. Allah..., kenapa lagi ini? Apakah aku telah melakukan kedzoliman dan dosa pada hari ini? Bukankah setiap hal yang terjadi disebabkan ulah manusia sendiri? Allah, ampuni dosa-dosa hamba.
Kukuatkan kakiku berpijak, kukuatkan. Allahuakbar! Lisanku tak henti-henti membesarkan namaNya. Aku harus kuat, semakin dekat. Tinggal sedikit lagi.
Saat satu langkah memasuki mobil, seluruh persendianku terasa lemah dan tak kuat menyangga lagi. Mataku berkunang-kunang, aku memegangi kepalaku. Sangat sakit, dunia berputar-putar, matahari sore terasa menusuk-nusukku, dedaunan di pepohonan seolah terkena angin beliung, dan bumi bagai bergetar.
Aku tak kuat menyangga tubuhku lagi, seseorang lelaki yang tengah memasuki mobil dan berada di sebelahku berteriak kepadaku, “Mbak! Mbak!” namun suara itu semakin melemah. Sempat kulihat wajahnya saat tiba-tiba menubruk tubuhku yang sudah hilang kesadaran. Dan semua gelap, Allah tak apa aku hilang asalkan Engkau tetap menaungiku dalam cahayaMu. Aku ridha, apapun yang terjadi.