Padang Sajadah

Perfection

Hari ini Kota Metro terasa indah dalam pandanganku, kesyukuran berdendang di hatiku. Di depan masjid Taqwa yang megah ini, semua orang berkumpul begitu ramai untuk menghadiri akad nikahku bersama mas Iqbal.

Siti berjalan di samping kananku dan memegangi tangan kananku, dia benar-benar menjadi adikku sebentar lagi, Insyaallah. Di sebelahnya ada kak Faza, aku menatap wajahnya sejenak. Dia telah bersedia menjadi waliku karena kedua orangtua yang mangasuhku sejak kecil tidak bersedia menjadi wali, mereka merasa tidak berhak. Besok kak Faza akan berangkat ke Jogyakarta untuk launching novel perdananya, novel yang bagus. dan aku telah memintanya menjadi kakakku hingga aku kini mempunyai dua keluarga, kak Faza dan Azizah adalah keluargaku. Aku merasa bahagia wahai Allah.

Di sebelah kiriku, disana ada Azizah yang memegangi tangan kiriku. Kemudian di sebelah Azizah, ada Nurul, Ratih, Rini, Zulfa, Nabil dan Naurah, dan Fitri. Sedangkan di belakangku ada mbak Lala dan mas Ahmad, ada Siti dan Angga anak asuhku, serta Dion beserta Ibunya. Tak perlu ada keraguan akanMu ya Allah, kini hamba akan memulai segalanya dengan ridha dan kesyukuran padaMu.

Kami berjalan memasuki masjid, pintu-pintu di buka seluruhnya di setiap sisi hingga seolah memasuki sebuah kerajaan yang sangat luas. Inilah kemulyaan wahai Rabbku. Di ujung dekat dengan mimbar sudah banyak yang duduk menunggu kami, kami berjalan semakin dekat. Pegangan tangan Siti dan Azizah semakin menguatkanku untuk memulai langkah perjalananku.

Kami lewat di tengah manusia dan mendekati meja yang ditata rapi di dekat mimbar, dadaku bergetar karena kebesaranNya. Kukuatkan langkah kesyukuran ini terus berjalan.

Saat barisan kami mendekati meja di dekat penghulu, beberapa orang memisahkan dirinya dari barisan. Satu-persatu, ya, karena ini adalah acaraku. Hanya tinggal empat orang yang berjalan dan mendekati penghulu. Aku, Azizah, Siti dan kak Faza. 

Siti menggerakkan tangannya, aku heran dan menatap ke bawah, kearahnya.

“Kenapa adikku?” aku duduk dan mensejajarkan wajahku pada wajahnya.

“Aku sudah menepati janjiku pada Mbak kan?”

Aku benar-benar bingung, “Janji apa adikku?”

“Dulu aku pernah berkata pada Mbak. Nanti, pasti mbak Salwa akan kukenalkan pada Kakakku, Mbak pasti akan senang berkenalan padanya. Lihatlah, dia sudah duduk disana,” Siti menunjuk mas Iqbal yang sudah duduk di depan penghulu.

“Iya, kau telah menepatinya adikku. Dan dia memang lelaki terbaik menurut Mbak setelah akad terjadi, Insyaallah.”

Lagi-lagi aku tak bisa menggambarkan kesyukuran apa lagi kepadaMu ya Allah.

Siti dan Azizah memisahkan diri duduk dan hanya aku dan kak Faza yang terus berjalan hingga di depan penghulu. Aku duduk tepat di depan Azizah sedangkan kak Faza terus berjalan dan duduk di depan penghulu.

Aku duduk di sebelah keluarga mas Iqbal, dan dendangan lagu kembali mendengung di otakku. Di sebelahku telah ada dua wanita paruh baya lebih yang kaget melihatku.

“Kamu kan yang di Rumah Sakit yang dulu menangis bukan?”

Dua wanita itu adalah wanita yang meminta nasehatku dan Azizah, dan mereka yang meminta kami untuk mendoakan cucunya yang sedang sakit demam berdarah. Jangan-jangan...

“Benar, Siti adalah cucu kami yang kamu doakan itu. Dan kamu sekarang Alhamdulillah juga akan menjadi cucuku,” aku masih tak mengerti dengan semua ketetapanMu ya Allah, namun aku mulai mengikutinya karena pasti itu semua yang terbaik untuk hamba.

Beberapa orang sedikit bingung, sehingga Azizah menceritakan kejadian yang terjadi di Rumah Sakit sewaktu kak Faza sakit, kisah saat Siti juga sedang sakit demam berdarah. Semua memakluminya, hingga keadaan tenang kembali.

Aku menatap Azizah, dia tersenyum kepadaku.

Cerita tentang rahasiaMu masih berlanjut. saat itu...

“Masyaallah, Iqbal?” kak Faza terlihat terkejut ketika duduk di sebelah calon suamiku.

“Faza!” mas Iqbal tidak kalah kagetnya.

Mereka berangkulan erat sekali. Semua orang disana terpukau dengan terdiam menyaksikannya. Apalagi yang Kau persiapkan Allah? Hatiku kembali ingin mencoba menguak ketetapanNya.

“Jadi Salwa itu adikmu?”

Kak Faza mengangguk, “Sebaiknya biarlah isterimu nanti yang akan menjelaskannya.”

“Baiklah.”

“Kita nanti akan berbincang lagi, kita selesaikan dulu akad ini. Lihatlah, calon isterimu sudah menunggu dan orang disini juga telah tak sabar,” kak Faza menepuk pundak mas Iqbal.

Iqbal mengangguk.

Dan, dengan keheningan dan kekusyukan. Akad itu telah tertunaikan dengan lancar. Barakallahu laka wa baraka’alaika wa jama’a bainakuma fi khoiri. Lantunan doa menggema di seluruh penjuru masjid At-Taqwa.

Acara berakhir, kini statusku adalah seorang isteri.

Rombongan-rombongan mulai berpisah dan aku beserta keluarga baruku langsung diboyong kerumah mas Iqbal. Dan tamu-tamu orangtua mas Iqbal yang sekarang telah menjadi orangtuaku juga mulai berdatangan hingga malam menjelang, rasanya sedikit letih.

Hingga malam itu, mulai terasa sepi.

Mas Iqbal sedari tadi hanya sesekali melirik padaku. Aku menggapai tangan kanannya, dia tampak kaget. Lalu menatapku sedikit lama, ada desir-desir halus yang menyusup. Allah, inikah surga sebelum surga itu?

“Ayo Dik, istirahat. Sepertinya sudah tidak ada tamu lagi,” matanya begitu dalam menusuk mataku hingga ke hatiku.

Aku hanya mengangguk.

Kami berpamitan kepada bu Nisa dan pak Samsul, Siti telah terlelap. Kami berjalan beriringan menuju kamar pengantin. Allah, dadaku bergetar teramat cepat dan sangat susah dikendalikan lagi ketenangannya.

“Dik, kau ingat sewaktu pertama kali kita bertemu?”

“Sewaktu di terminal?” aku sedikit canggung.

“Iya, waktu itu aku merasa berdosa sekali pada Allah,” mas Iqbal menundukkan pandangannya.

“Kenapa merasa berdosa Mas?”

“Karena aku memapahmu dan menggendongmu ke mobil dan kau belum halal untukku. Semoga Allah mengampuninya.”

“Allah pasti mengampuninya Mas.”

“Kenapa kau yakin?”

“Lihatlah ketetapanNya yang akhirnya menyatukan kita, Dia ingin membayar dosa-dosa itu dengan kesyukuran karena taubat yang Mas lakukan dengan sungguh-sungguh.”

“Sungguh, hatiku tenang mendengarnya Dik.”

Dan pertama kali dalam hidupku bahwa aku dapat meneduhkan seorang yang spesial dalam hidupku. Bukankah tugas isteri shalihah adalah membuat tenang suaminya, apapun keadaannya.

“Baiklah kalau begitu. Jadi, bolehkah sekarang aku mengulangi untuk menggendongmu lagi Dik, sehingga mudah-mudahan Allah mengampuni dosaku yang dulu pernah kulakukan karena kau belum halal bagiku dan kini aku akan membayarnya lunas dengan menggendongmu setelah kau halal bagiku?”

Merah sempurna pastilah wajahku, aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Aku tak bisa lagi mengucapkan kata-kata.

Dan sebelum aku dapat berucap, mas Iqbal telah sempurna bergerak dan memapahku hingga aku telah berada di dalam gendongannya, aku dibopongnya. Jantung dan hatiku berpacu penuh kebahagiaan bercampur malu yang sangat. Aku dibawanya masuk ke dalam kamar dan kurebahkan kepadaku di pundaknya. Allah..., hamba serahkan jiwa raga padaMu, sungguh, Kaulah yang menentukan segalanya.

Di tepi ranjang itu mas Iqbal mencium ubun-ubunku yang mengucap doa, ”Allahumma innii as aluka khoiri haa wa khoiri maa jabal tahaa ’alaihi,”  aku mendesah lirih lembut mengamini. Seolah Malaikat berkumpul di sekeliling kami dan mengamini doa kami. Aku kembali meneteskan airmata.

Malam itu mas Iqbal bercerita bahwa kak Faza adalah seorang sahabatnya sewaktu di SMA, dialah yang mengajaknya mendalami ilmu Allah bersama. Karena sebelumnya mas Iqbal bercerita bahwa dia dulu sangat nakal dan sering berkelahi. Hingga Faza datang sebagai teman dan menawarkan cinta Allah padanya, saat orangtua mas Iqbal kewalahan mengurusinya. Ketika harapan hidup telah mulai hilang, dan sahabat itu datang. Dialah kak Faza.

Mereka merenda ilmu bersama, mendatangi majlis ta’lim dan bersama menetapi Allah. Saat bercerita itu mas Iqbal meneteskan airmatanya, aku mengusapnya dengan kedua tanganku.

Jujur, wajahnya begitu tampan. Alangkah indah Engkau ya Allah karena telah menciptakan wajah seindah ini.

Lagi-lagi kak Faza. misteriMu belumlah segalanya dapat kukuak, namun tentang donor ginjal apakah ini semua telah menjadi ketetapanMu walau aku yang memilihnya? Semakin aku berpikir untuk menguak misteriMu, namun semakin aku sadar bahwa manusia tidak mengetahuinya kecuali sedikit sekali.

Dan begitupun saat aku menceritakan kisahku, saat aku meneteskan airmata, mas Iqbal ganti yang mengusap airmataku.

Kami berjanji pada malam zafaf  ini, bahwa kami akan berusaha untuk selalu mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, serta bersama dalam ketaatan kepadaNya. Dan Allah melihat kami dari arsyNya, dan dia akan menetapkan yang terbaik bagi perjalanan hidup kami selanjutnya.

Sungguh, setiap ketetapanNya adalah yang terbaik dan kisahku tidak akan berakhir cukup disini. Allah pasti masih akan memberikan ketetapan-ketetapanNya, tapi aku yakin bahwa Allah hanya akan memberi yang terbaik pada hambaNya, apapun bentuknya.

 

Aku menyembahMu Allah

Di setiap celah ruang

Karena segalahnya tempat

Adalah padang sajadah

Tempat menghanyutkan seluruh sujud

 

Dan akan kuhadapi hari esok dengan kuasaMu, dengan izinMu dan dengan ridhaMu. Dan aku tersenyum ... sempurna sudah, aku kini memiliki keluarga baru, suami yang shalih dan kakak yang shalih serta sahabat-sahabat yang saling mengingatkan dalam kesabaan dan ketaatan.

 

dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. 

 

Untuk wanita-wanita perindu surga,

Sesungguhnya kemulyaan dipikulkan padamu,

Jagalah kesucian demiNya, karena darimulah para pahlawan akan lahir

Dan tak ada lagi tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah kecuali

Pada Rabb Semesta Alam, Allah ‘Azza wa Jalla

Menjelang Dzuhur, 8 Dzulqaidah 1429 H

 

Bagian ini Selesai...

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!