Padang Sajadah
Perjuangan untuk Menemukan Cinta
Wahai ibu berjilbab, aku harus mulai mencarimu dimana?
Mendung yang berarak diterpa angin dan berpindah-pindah membentuk sketsa figurasi seolah mengisyaratkan padaku untuk terus berupaya. Seperti angin yang telah Allah ‘Azza wa Jalla ilhamkan untuk terus bertiup, semilir ataupun speedy.
Seperti angin yang selalu menuntun kapal berlayar sesuai kehendakNya.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur. (QS. Asy-Syuuraa : 32-33).
Semingggu ini aku telah bolak-balik ke terminal Kota Metro. Setiap orang yang turun dan naik angkot kuperhatikan satu-persatu terutama yang memakai jilbab, dan terutama lagi yang perawakannya di atas 30 tahun. Aku berteduh di depan toko Aneka Printing, disana aku dapat memantau dengan leluasa setiap orang yang naik dan turun mobil angkot di terminal. Itulah rutinitasku semiggu ini dari sepulang kuliah hingga sore lalu pulang menemani Azizah menunggui kak Faza di Rumah Sakit.
Si pemilik toko percetakan, mbak Lala kini akrab denganku. Dia memintaku bercerita, hingga aku menceritakan kejadian yang menimpaku. Dia sangat terharu dan bahkan menyuruhku untuk menunggu di dalam jika lelah, jika shalat aku selalu di mushola toko tersebut. Tokonya cukup besar, tiga plong dan di atas loteng adalah tempat mushola dan sebagian barang-barang gudang.
Bahkan, mbak Lala selama seminggu ini sering bertanya tentang Islam padaku. Mungkin, karena melihat penampilanku yang berjilbab. Padahal, aku baru belajar. Itupun sudah aku ceritakan padanya, namun dia tidak peduli. Dia juga sebenarnya juga ingin memakai jilbab namun ketika kutanya katanya belum siap, aku hanya tersenyum. Mudah-mudahan suatu saat, lunakkanlah hatinya ya Allah untuk mengenakan jilbab, lunakkanlah hati seluruh muslimah di dunia untuk memakai hijabnya. Alangkah damainya....
Semenjak pulang dari Bandar Lampung setelah Ibu kandungku meninggal, aku benar-benar tak pernah lagi melihat isi ATM-ku. Biasanya aku selalu mengambilnya dua atau empat hari sekali. Kini, apakah dua orang yang selama ini kuanggap orangtua kandungku masih mengirimkan uang?
”Biarlah Allah yang akan menjawabnya, Tuan dan Nyonya. Aku ingin tahu, apa kehendakNya sehingga aku mengalami hal ini. Aku ingin menemukan jawaban itu, selamat tinggal.”
Aku teringat percakapan terakhir itu dengan mereka. Mungkin, mereka kini telah sibuk kembali dengan urusan bisnis mereka. Aku memaknai kata-kata yang secara tak sadar keluar dari bibirku saat terakhir bertemu dengan mereka. Aku ingin tahu, apa kehendakNya? Kehendak atas semua yang telah ditakdirkan padaku, kehendakNya sehingga aku menemukan Azizah, kak Faza, Zulfa. Aku ingin menemukan jababan dari semua ini Allah. Izinkanlah hamba mengungkap tabirMu, amiin.
Aku telah kehabisan uang. Kini, aku harus bekerja. Ya, mau tidak mau.
Aku melihat counter, Hp Samsung-ku terlalu bagus untukku. Biarlah kuganti dengan yang lebih sederhana. Aku segera menjualnya, Alhamdulillah masih laku dengan harga tinggi hanya berselisih 400 ribu dari harga barunya. Aku membeli yang lebih sederhana, yang jelas bisa sms dan telpon serta aplikasi pelengkap lainnya. Itu sudah cukup.
Aku kembali ke percetakan Aneka Printing, mbak Lala tersenyum menatapku. Aku duduk di kursi depan toko, kutatap lurus ke depan, panas Kota Metro membakar setiap udara yang bertiup hingga mendesing menampar panas pada setiap apa yang ditemukannya. Mataku menyipit terkena debu yang tersasar masuk. Masyaallah, tak ada debu yang terbang kemanapun tempatnya kecuali atas izinMu.
“Udara sangat panas Salwa, masuklah,” pinta mbak Lala.
Aku hanya tersenyum, “Aku takut kehilangan momentum saat orang yang kucari terlewat Mbak.”
Mbak Lala keluar dari toko sambil menenteng kursi dari dalam dan duduk di sebelahku. Toko masih sepi, belum ada pembeli atau pelanggan yang datang. Aku tersenyum menyambutnya duduk, lalu melihat ke terminal kembali dan menajamkan mataku yang sedari tadi tak kubiarkan lengah. Hari ini ahad, kuliah tentu saja sedang libur.
“Kau begitu bersikeras tetap menunggu wanita itu?”
“Iya, aku yakin Allah melihat usahaku dan tak akan membiarkannya sia-sia,” aku tersenyum sejenak menatap mbak Lala dan kembali melihat ke depan di terminal. Mataku lurus ke depan, “Allah mengatur segala hal dalam dunia ini, daun yang jatuh, lalat yang terbang hingga kepakannya bisa sampai ratusan kali perdetik adalah kuasaNya. Pertemuanku dengan wanita yang kuceritakan itu juga atas kuasaNya dan dengan izinNya insyaallah kami akan bertemu lagi,” aku tersenyum. Deruman angkot-angkot memekakkan telinga ketika mengerem, apalagi angkot yang sudah tua.
“Aku senang dapat bertemu dan menjadi temanmu Salwa. Sungguh, sangat jarang ada teman sepertimu yang selama ini berinteraksi denganku.”
“Ya, inilah rahasiaNya yang segalanya di luar jangkauan kita Mbak,” mataku masih lurus melihat orang lalu-lalang dan keluar masuk mobil. Alangkah kuasaMu tak terbatas ya Allah, jika aku bertemu dengan mbak Lala sebelum aku mulai belajar memahamiMu, mungkin tak akan seperti ini jadinya. Salwa yang dulu begitu angkuh dan sombong, Salwa yang menginggalkan shalat, Salwa yang...
Allah..., bening di mataku tak bisa kutahan lagi.
“Kau menangis Salwa?” mbak Lala melihat airmataku yang jatuh di pipi.
“Iya, ini tangis syukur dan bahagiaku Mbak,” aku tersenyum menatapnya, lalu kembali beralih melihat segala penjuru dimana mobil berhenti.
“Apakah, pertemuanku denganmu selama ini. Dan kita berteman juga diatur olehNya Salwa?” tanpa menoleh padanya kutahu dia sedang penasaran dan menatapku lekat-lekat.
Aku kembali menatapnya, “Tentu saja Mbak, di dunia ini segala apapun urusan hamba-hambaNya atas kehendakNya. Pertemuan dan perkenalan ini telah tertulis di lauh mahfudz. Tak ada yang lepas dari pantauanNya sama sekali.”
Mataku terpusat pada sesosok yang barusan masuk angkot merah. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari, “Sepertinya aku melihatnya Mbak, Wanita yang kucari selama ini. Aku tinggal untuk melihatnya Mbak.”
Aku berlari, napasku turun naik dan jantungku berdegub lebih kencang. Wanita itu. Wanita yang kucari berhari-hari ini. Seorang lelaki yang baru keluar dari mobil mengibaskan tasnya dan tanpa sengaja tertabrak tubuhku. ‘Duk!”
“Maaf Mbak, saya tidak sengaja. Anda tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa, silakan Anda teruskan perjalanan anda.”
“Sekali lagi maaf Mbak, saya tadi tidak melihat jika ada orang.”
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, lelaki itu tersenyum dan pergi naik mobil warna hijau. Jalur ke Pekalongan.
Astaghfirullah. Wanita itu. Aku tak lagi menghiraukan lelaki yang mengibaskan tasnya itu, aku berlari kearah wanita yang kulihat tadi. Wanita itu, aku terlupa. Izinkan aku bertemu denganNya ya Allah, dimana dia ya Allah. Mataku melirik, kian kemari. Tak ada. Di jalur keluar mobil, kulihat mobil baru saja akan keluar. Mungkin itu! Aku yakin. Aku berlari kearah mobil merah itu berbelok, sepersekian detik nadi yang berdetak, Kakiku tanpa sengaja tersandung besi yang menonjol keluar sebagai penghalang mobil arah satu dengan arah yang lainnya.
“Astaghfirullah,” jemari kakiku terasa ngilu. Aku segera berdiri, sedikit sempoyongan. Kubersihkan bajuku dari debu yang menempel.
“Anda tidak apa-apa Mbak?” seorang lelaki tua memakai baju koko lusuh melihatku iba.
“Tidak apa-apa Pak,” aku melihat kearah keluar mobil, tidak ada jejaknya lagi. Destroyed, be lost, vanish. Harapanku punah.
“Mbak sedang mencari seseorang yang sangat penting ya?” suara Lelaki tua itu amat lembut.
“Iya Pak, tapi aku tak tahu siapa nama dan alamatnya. Tadi aku melihatnya.”
Lelaki tua berkoko itu tersenyum, “Setiap manusia di dunia ini harus berusaha demi mendapatkan apa yang diinginkannya, harus berikhtiar dan berdoa kepadaNya dengan sungguh-sungguh. Allah hanya menginginkan satu dari manusia, yaitu jangan sampai kita putus asa dan putus harapan, sekalipun kita berada di ambang kematian.”
“Maksud Bapak?” aku benar-benar heran.
Lelaki tua itu tersenyum kembali, “Tanyakanlah dengan hatimu,” sebuah angkot berhenti di depan kami dan lelaki tua itu masuk ke dalamnya. Mobil melaju meninggalkanku yang masih bingung.
Panas menyengat menyadarkanku, aku berjalan kembali ke toko mbak Lala. Kakiku sedikit sakit hingga membuat jalanku sedikit tertatih. Mbak Lala melihatku dari kejauhan dan tersenyum menyambutku.
“Sudah ketemu?” tanyanya sambil tersenyum ceria.
“Allah belum mempertemukan kami Mbak, tapi aku akan terus berupaya mencarinya. Aku yakin, Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya.”
“Kakimu kenapa Salwa?” mbak Lala melihatku jalanku sedikit pincang.
“Tidak apa-apa Mbak, tadi kesandung sewaktu mengejar mobil yang ditumpangi Wanita itu.”
“Sini, buka kaos kakimu. Biar Mbak olesi pake minyak,” wajah mbak Lala nampak khawatir.
“Tidak apa-apa Mbak, ini kan bagian dari perjuangan,” aku tersenyum.
“Sini saya lihat,” aku duduk di kursi dan membuka sepatuku.
“Masyaallah Salwa! Kau bilang tidak apa-apa, lihatlah darah merembes menembus kaos kakimu,” mbak Lala pelan membuka kaos kakiku, kuku ibu jariku berdarah. Mbak Lala sigap, mengambil kotak obat di atas rak dan meminyaki kakiku pelan.
“Darahnya keluar begini masih bilang tidak apa-apa!”
Aku menatap mbak Lala yang sedang memperhatikan lukaku dan meminyakinya setelah sebelumnya membersihkannya. Aku melihat wajah tulusnya, sangat mirip dengan Ibuku dulu ketika aku sedang sakit dan beliau mengompresnya. Aku menatap langit yang membentang luas dan indah. Alangkah indah dunia ini, begitu banyak orang yang memperhatikanku ya Allah, masihkah aku akan berputus harapan padaMu jika Kau telah memberikan segalanya pada hamba tanpa hamba minta?
Sore menjelang. Aku harus segera pulang. Mbak Lala juga tengah bersiap-siap menutup toko, dia sedang menghitung uang. Beberapa karyawannya sedang mengemasi barang-barang dan menutupi roll pintu toko hingga tinggal menyisa di bagian ruang mbak Lala.
“Mbak aku pulang ya? Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, tunggu sebentar Salwa!” mbak Lala menghentikan gerakan jarinya di atas tuts kalkulator, dia melihatku.
Langkahku yang hendak melangkah terhenti, “Ada apa Mbak?”
Hening, mbak Lala menatapku lama. Aku juga bertahan melihat sorot matanya yang tidak seperti biasanya, aku benar-benar menunggu untaian kata-katanya karena kulihat bibirnya sedari tadi ingin bergerak namun ragu hingga terlihat hanya seperti getaran.
“Mau..., maukah Salwa mengajari Mbak shalat?” hembusan bertiup begitu teduh menerpa jilbabku, seolah Allah meniupkannya untuk memberi kesegaran dari pancaran wajahku. Matahari yang bersinar membisiku indah, mengajakku berdzikir bersamanya, seluruh gedung-gedung yang menjulang di setiap sisiku mengabarkan kalimat yang bergetar di hatiku. Laa ilahaillallaah.
Dan dunia tersenyum penuh kemenangan, dunia bahagia ketika melihat seorang manusia yang menjadi khalifah di bumi menemukan hidayahNya, menemukan jalan pulang kepada Tuhannya.
© © ©
Aku mengedipkan mataku, kriyip-kriyip. Blinded by the glare. Hujan rintikkah? Aku menyipit membuka mataku pelan. Senyum bidadari nampak satu meter di hadapanku bermahkotakan mukena sempurna hendak shalat. Aku tersenyum sedikit malas sambil mulutku sedikit manyun kurasa. Dia memercikiku dengan air sisa wudhu dari kipasan jari-jarinya.
“Kau sudah lupa doanya?”
“Aku sudah hafal Azizah, jazakillah udah dibangunkan lagi,” aku kedahuluan lagi bangunnya padahal sudah kuhidupkan alarm tepat pukul 03.15, sekarang pukul 03.05. aku berdiri dan langsung menuju kamar mandi Rumah Sakit di ruangan kak Faza, lagi-lagi kulirik kak Faza sedang shalat dan airmatanya mengalir membasahi pipinya. Wajah yang bersinar itu, wajah yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla, amin.
Aku memisahkan diri shalat di mushola kembali. Sangat sepi ketika aku masuk, semilir angin pagi ini seolah menusuk hingga ke tulang sum-sum.
Tuhan aku datang kembali padaMu dengan penuh kelemahan dan ketidakberdayaan hamba. Seluruh organ dan bagian tubuhku kupersembahkan denganMu dengan kesungguhan penghambaan. Aku akan berusaha keras menujuMu walau hamba tahu dosa-dosa hamba begitu banyak.
Ya Allah, aku meminta padaMu kelezatan melihat wajahMu dan rindu bertemu denganMu (HR. Imam Ahmad dan An-Nasa’i)
Aku ingin mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang masih samar di hatiku ya Allah. Rasa penasaran dan keingintahuanku terlalu besar untuk menguak rahasia takdirMu. Rahasia alur kehidupan yang Kau hamparkan dalam kehidupanku hingga seolah semua terjadi dengan amat cepat. Izinkanlah aku bertemu dengan wanita yang wajahnya teramat lekat di hatiku itu ya Allah. Aku ingin bertanya padanya tentang hakikat takdirMu.
Aku teringat hadits qudsi yang dibacakan kak Faza tadi malam setelah shalat isya’. Hadits tentang tiga orang yang dilupakan Allah di akhirat.
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Orang-orang bartanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kami melihat Tuhan kami di hari akhirat?’ Beliau bersabda; ‘apakah kamu saling memudharatkan dalam melihat matahari di siang hari yang tidak berawan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Rasulullah saw. bersabda : ‘Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, tidaklah kamu saling memudharatkan dalam melihat Tuhanmu, kecuali sebagaimana kamu saling memudharatkan dalam melihat salah satu dari keduanya (matahari atau bulan purnama).’
Beliau bersabda: ‘Maka Tuhan menemui hamba.’ Lalu Tuhan berfirman, ‘Wahai Fulan, tidakkah Aku memuliakanmu?, tidakkah Aku menjadikanmu sebagai tuan? Tidakkah Aku menjodohkanmu? Tidakkah Aku menundukkan bagimu kuda dan unta? Aku biarkan kamu sebagai pemimpin dan mendapat seperempat (rampasan).’ Maka ia menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah saw bersabda: ‘Maka Tuhan berfirman, “Apakah kamu menduga bahwa kamu akan bertemu Aku?” dia menjawab, ‘Tidak.’ Lalu Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku melupakanmu, sebagaimana kamu melupakanKu.” Kemudian Tuhan menemui orang yang kedua, lalu Dia berfirman, “Wahai Fulan, idakkah Aku memuliakanmu?, tidakkah Aku menjadikanmu sebagai tuan? Tidakkah Aku menjodohkanmu? Tidakkah Aku menundukkan bagimu kuda dan unta? Aku biarkan kamu sebagai pemimpin dan mendapat seperempat (rampasan).”
Maka dia menjawab, ‘Ya, wahai Tuhan.’ Lalu Tuhan berfirman, “Apakah kamu menduga bahwa kamu akan bertemu denganKu?” dia menjawab, ‘Tidak.’ Maka Tuhan berfirman, “Maka sesungguhnya Aku melupakanmu, sebagaimana kamu melupakanKu.” Kemudian Tuhan bertemu dengan orang yang ketiga, maka Tuhan berfirman kepadanya seperti itu juga. Lalu dia menjawab, ‘Wahai Tuhan, saya beriman kepadaMu, kepada kitabMu dan kepada rasul-rasulMu, saya shalat, berpuasa dan bersedekah.’ Dan ia memuji dengan kebaikan yang di bawah kemampuannya.
Maka Tuhan berfirman, “Jika demikian, di sini.” Rasulullah saw. bersabda, ‘Kemudian dikatakan kepadanya: Sekarang Kami bangkitkan saksi-saksi Kami atasmu.’ Dia berfikir dalam hatinya, ‘Siapakah orang yang akan menjadi saksi atasku?’ Lalu mulutnya dikunci, dan dikatakan pada pahanya, daging dan tulangnya, “Berkatalah!” maka paha, daging dan tulangnya mengatakan amalnya. Yang demikian itu agar dapat membuat alasan bagi dirinya, itulah orang-orang munafik dan itulah orang yang dimurkai Allah ‘Azza wa Jalla. (HR. Muslim).
Hamba yakin akan pertemuan denganMu ya Allah, yakin seyakin-yakinnya. Hamba yakin akan adanya hari itu, ‘(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur), tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman), ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?’ kepunyaan Allah Yang Mahaesa lagi Maha Mengalahkan.’ (QS. Al-Mu’min : 16).
Hamba tak kuat jika harus membayang hari itu. ‘Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman, karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.’ Adapun orang-orang yang putih berseri wajahnya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.’ (QS. Ali-Imraan : 106-107).
Kumohon, sebelum hari itu datang maka izinkanlah hamba menguak misteriMu yang Kau hamparan dalam serpihan-serpihan kehidupanku. Hamba ingin memahami segala apa yang Kau berikan pada hamba. Izinkahlah aku bertemu dengan wanita itu, kumohon ya Allah.
Mohon dengan sangat
Mohon dengan sangat
Izinkan hamba menemukan apa yang sedang hamba cari, apa yang menjadi kegundahan pikiran hambaMu yang lemah ini.