Pasukan Langit
Kekuatan 10 Iblis Pemusnah
Masih di benua Fosfit. Di sebuah tempat di antara dua bukit besar. Ada sebuah rumah besar yang ditutupi kabut ilusi. Sosok wanita dengan menggunakan kipas dan sesekali mengipas wajahnya yang cantik. Meski wajah itu cantik, tapi senyum dan mata tajamnya bisa membunuh siapapun orang yang mengganggunya.
Namanya adalah Widi, kemampuannya adalah elemental dan menguasai kekuatan angin serta ilusi. Dia adalah sosok yang sangat dihormati oleh Shura. Meskipun seorang wanita, tapi kekuatan yang mengerikan dia miliki sebagai penghancur.
Lord Demon bahkan selalu menghormati Widi di antara 10 Iblis Pemusnah lainnya. Widi dan kemampuan 10 Iblis Pemusnah adalah sebuah kekuatan yang besar, yang memiliki sisi kekuatan yang lain di samping Lima Gerbang.
Dua kekuatan milik Lord Demon memang dibagi menjadi dua. Satu adalah Lima Gerbang yang selalu menemaninya. Lima Gerbang bisa disebut sebagai pelayan khusus bagi Lord Demon dan 10 Iblis Pemusnah seperti komandan perang.
Tidak salah, ketika Lima Gerbang memiliki pasukan yang tidak banyak sebagaimana pasukan yang dimiliki oleh sepuluh Iblis Pemusnah. Jika sepuluh Iblis Pemusnah akan hadir dan menyertai penyerangan dari Lord Demon. Maka perang dunia yang melibatkan semua pendekar dari aliran putih melawan pasukan kegelapan, akan menjadi sejarah pertempuran yang sangat mengguncang dunia.
Tiga Legenda mengentahui fakta bahwa Lord Demon memiliki pasukan banyak dan sepuluh Iblis Pemusnah. Maka, mereka menyerang Lord Demon saat hibernasi dan sedang menyerap Blood Supreme. Saat itu adalah saat yang tepat dimana Shura masih lemah, dan 10 Iblis Pemusnah belum berkumpul.
Itulah sebabnya Tiga Legenda melakukan penyerangan dan mengambil waktu yang tepat, untuk membuat luka pada Lord Demon dan membuatnya harus memulihkan diri dengan waktu yang cukup lama.
Widi memikirkan kapan Lord Demon akan memanggilnya kembali, dan dia akan mencabik-cabik banyak pendekar dan menyerap energi dari mereka. Mengingat hal itu, Widi menjadi bersemangat dan tak sabar menunggu hari itu.
Widi membersihkan kuku-kukunya, di sekitarnya pasukan intinya sedang duduk bersemedi dan menyerap energi kegelapan. Mereka semua sedang menguatkan fisik kegelapan mereka karena hal itu diperintahkan oleh Widi pada mereka. Hal itu karena Widi merasa sebentar lagi Lord Demon akan memanggilnya. Hal itu adalah firasatnya, Widi terkenal karena firasatnya sebagai iblis yang kuat.
Dan saat dia sedang menggunakan kipasnya sambil bersantai, artefak gelang komunikasi di tangan kanannya sudah menyala dan bergetar. Sebuah pesan masuk dan mata Widi berbinar karena pesan yang masuk itu adalah pesan dari Nesia, salah satu dari Lima Gerbang.
Pesan untuk bersiapkah? Itu adalah pesan yang paling ditunggunya selama dua puluh tahun terakhir ini. Menyenangkan!
Widi tak sabar dan memasukkan energi kegelapan ke dalam artefak gelang di tangan kirinya. Energi itu terserap, beberapa saat kemudian pesan dari Nesia terdengar. Untuk mendengarkan pesan suara dari artefak komunikasi, maka perlu memasukkan sejumlah energi untuk menghidupkannya.
”Widi, satu dari Sepuluh Iblis Pemusnah. Pesan dari Tuan Lord Demon khusus untuk sang legenda Widi. Bersiaplah, waktunya sudah tiba, persiapkan semua pasukan dan kita akan menghancurkan dunia dan menjadikannya di bawah kaki kita!”
Widi pun tersenyum puas. Saatnya untuk menggerakkan pasukannya. Leher dan tubuh mereka semua sudah kaku rasanya dan rindu untuk menumpas pasukan para pendekar itu. Saatnya mereka menguasai seluruh benua.
Widi sudah menunggu waktu ini selama dua puluh tahun. Jika saja bukan karena Shura, dia tidak akan sabar dan sudah menghancurkan sebuah benua dengan kekuatan tempurnya. Namun, 10 Iblis Pemusnah adalah tangan dari Shura. Mereka akan patuh pada Shura apapun yang terjadi. Mereka hanya patuh pada Shura.
Bahkan, mereka sabar menunggu selama dua puluh tahun terakhir hanya untuk menunggu Shura memulihkan diri dan menyempurnakan penyerapan Blood Supreme. Mereka patuh hanya pada satu tuan, Shura sang Lord Demon!
Dan kini, adalah waktunya untuk mengamuk kembali!
”Pasukan Lady Widi yang ganas! Bangun dari semedi kalian! Kumpulkan semua prajurit kegelapan kita. Saatnya untuk menghancurkan para pendekar yang sombong itu!”
Energi kuat milik Widi memancar, aura kebencian dan aura membunuh yang sangat pekat. Para pasukan intinya merasakan itu dan mereka pun membuka mata mereka dari semedi mereka. Mereka pun bergerak dan menyebar dengan kecepatan tinggi.
Tawa Widi pun memenuhi seluruh ruangan itu, dan tawa itu seperti tawa seseorang yang penuh dengan kebahagiaan.
***
Pasukan para pendekar yang dipimpin oleh Dasatama beristirahat sebelum memasuki kota Samarkan di benua Frost Line. Mereka akan segera memasuki portal teleportasi secara bergantian untuk pergi ke kota Prisma.
Perjalanan dari hutan Tulisma ke pusat kota Samarkan, membutuhkan waktu cukup lama. Mereka beristirahat sejenak sebelum memasuki kota Samarkan.
Aji sedang membersihkan wajahnya dengan air di sungai, dekat dengan semua pendekar yang tengah beristirahat sebelum meneruskan perjalanan memasuki kota Samarkan. Air yang jernih itu membayang wajah Aji yang tengah berada di pinggir sungai dan membersihkan wajahnya.
Air membuat wajah Aji menjadi bersih, rasa segar pun didapatkan Aji. Dalam perjalanan tadi, Aji memulihkan dirinya sambil berjalan. Kekuatan yang besar sudah digunakan oleh Aji, terutama untuk menghancurkan artefak Bunga Bulan. Aji dapat memulihkan kekuatannya dengan cepat. Hal itu dapat dilakukannya sambil melakukan aktifitas apapun, circle dengan rank tertinggi sudah dikuasai oleh Aji.
Angin yang berhembus, energi kehidupan dari alam, energi dari bumi. Semua itu diserap dengan baik oleh Aji untuk memulihkan kekuatannya. Kekuatannya kembali cukup lambat karena Aji tidak mau membuat orang lain curiga. Aji berjalan dan berbincang dengan anggota Pasukan Langit sambil berjalan, dan saat itu dia sambil memulihkan kekuatannya dengan energi alam.
Saat wajah Aji terpantul dan terlihat di permukaan air. Aji terpaku sejenak melihat cerminan wajahnya di pantulan air tersebut. Wajahnya adalah wajah seorang pemuda berumur dua puluh lima tahunan. Aji mencoba menyunggingkan senyuman dan dia melihat wajah yang berubah tua dari pantulan air itu.
Wajah tua dengan jenggot yang memutih. Aji terpaku melihat wajah tua di dalam cermin air tersebut.
”Aji!” suara seorang wanita mengagetkan Aji, bahkan biasanya Aji yang selalu menyadari adanya energi seseorang kini bahkan tak menyadari ada sosok yang berdiri di dekatnya. Dia masih berjongkok di pinggir sungai. Aji menoleh ke atas, dilihatnya Gayatri yang memakai tudung kepala dan berwajah putih itu menatapnya.
”Kau mengagetkan aku Gayatri, apakah semua sudah kembali bersiap untuk bergerak?” tanya Aji pada Gayatri.
Gayatri mendesah perlahan, ”Belum, aku hanya melihat pemandangan disini dan aku melihatmu sedang melamun di atas air.”
Gayatri mengambil tempat duduk di bawah pohon dan di belakang Aji. Dia menatap perairan dan juga pepohonan. Angin sejuk mengipasi wajahnya yang cantik, dia sendiri selalu memperhatikan Aji. Pemuda yang selalu membawa banyak misteri, mulai dari tindakannya hingga kekuatannya.
”Aji, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Gayatri tiba-tiba.
Aji yang masih mencuci tangannya di air pun menjawab Gayatri. Aji tetap tenang seperti biasa sambil menunggu pasukan bersiap kembali untuk berangkat, ”Silakah Gayatri, jika aku bisa menjawabnya maka akan aku jawab.”
”Apa yang terjadi pada Bunga Bulan?”
Aji menghentikan tangannya yang sedang berada di dalam air di pinggir sungai. Dia seolah kaget dengan pertanyaan dari Gayatri barusan. Aji sudah melakukan segel dengan efek kekuatan ledakan yang besar dari pukulan halilintarnya.
Efek ledakan dari pukulannya adalah kekuatan yang mampu menghentikan waktu, atau menghentikan gerakan semua makhluk di areal atas sesuai dengan kekuatan yang diledakkan ke bumi. Efek pembekuan itu tentunya akan membuat setiap orang di sekitar ledakan akan kehilangan kesadarannya untuk sejenak.
Kasus dimana Dasatama dapat bergerak adalah, karena Aji mengurangi efek pada areal yang merupakan tempat dimana Dasatama berada. Selain Dasatama, semuanya akan kehilangan kesadaran untuk sejenak dan itu membutuhkan kekuatan yang besar, untuk melakukan efek sihir dengan kekuatan pembekuan tersebut.
”Apa yang kamu ketahui tentang kejadian itu Gayatri?” Aji menengok kearah Gayatri yang kini bersandar pada pohon besar itu sambil terduduk menekuk satu lututnya.
”Aku merasakan energi pelangi yang berwarna-warni yang tersebar di seluruh areal pertempuran. Aku tak bisa ingat apapun, tapi aku hanya tahu bahwa itu adalah energimu, Aji.”
Bakat yang mengerikan. Bahkan, ketika efek pembekuan yang terjadi dan seolah seorang akan dibuat kehilangan kesadaran untuk sejenak dalam efek pembekuan. Gayatri merasakan energi yang menjalar ke semua tempat di areal tersebut.
Aji tersenyum sekarang, bakat yang menerikan dari seorang Gayatri akan bermanfaat untuk masa depan para pendekar, dalam menjaga perdamaian seluruh benua. Aji pada akhirnya akan bisa tenang meninggalkan dunia ini nantinya, jika para pendekar memiliki kemampuan mental yang kuat seperti yang ditunjukkan oleh Gayatri.
Aji melihat wajah Gayatri yang tertiup hembusan angin sepoi, Aji tersenyum pada Gayatri. Wajah Gayatri memerah, dia merasa salah tingkah saat dilihat oleh Aji.
”Kamu akan menjadi pemimpin yang besar di masa depan Gayatri, ingatlah untuk menjaga para pendekar. Kamu akan memiliki peran besar di masa depan. Teruslah untuk melindungi kepentingan orang-orang yang tertindas dengan kekuatanmu.”
Angin bertiup kembali. Gayatri merasa bahwa Aji seperti seorang tua yang menasehati murid atau anaknya. Pemuda yang sangat bijak dan seolah dia memberi harapan dan rasa tenang pada orang yang diajaknya bicara.
”Bukankah ada dirimu Aji, kenapa aku harus melakukan itu! Di masa depan, kamu yang harusnya melakukan hal itu,” Gayatri semakin penasaran pada penjelasan Aji.
Aji membalik pandangannya kembali ke air, ”Hmmm..., kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan Gayatri. Tugas kita adalah melindungi orang lemah dan orang tertindas. Dunia harus menjadi tempat bagi semua orang bisa tersenyum dengan tulus dan bahagia.”
Gayatri semakin kagum pada Aji, ”Kembali ke pertanyaanku Aji, apa yang terjadi pada Bunga Bulan saat semua orang tidak sadar?”
Pertanyaan Gayatri menohok. Itu pertanyaan yang langsung membuat Aji takjub pada Gayatri. Gayatri sendiri teringat kisah dimana ujian ketiga di Dompai saat semua orang dalam ilusi dan Aji yang memurnikan artefak Heart Dragon seorang diri. Dia berpikir bahwa kali ini bisa jadi Aji yang melakukan hal yang sama pada Bunga Bulan.
Aji merasa tak bisa bohong lagi pada Gayatri, ”Kamu tak akan percaya kalau aku menghancurkan Bunga Bulan bukan? Sudahlah, jangan kau pikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Saatnya kita pergi. Para pendekar sudah bersiap kembali.”