Pasukan Langit

Resonansi Tiga Artefak Dunia

Di pinggir Dompai, para penjaga sedang menghadap ke depan. Sedangkan, di belakang mereka adalah bangunan Dompai. Mereka menjaga Dompai sepanjang pinggiran bangunan, dan bersiaga jika terjadi sesuatu. Mereka tetap tegak dan menatap lurus ke depan.

Sesekali ada di antara mereka yang bercanda, antara penjaga satu dengan penjaga yang lainnya. Tentu saja, jarak mereka hanya sekitar dua meter dari satu prajurit dengan prajurit yang lain.

Matahari pun mulai naik ke atas, beberapa prajurit merasa lelah dan menghampiri rekan di sebelahnya. Ada yang berkumpul beberapa orang sambil bersandar pada tombak yang mereka pegang. Selain tombak yang mereka pegang di tangan kanan, senjata pedang juga disarungkan pada pinggang bagian kiri dengan sarung pedangnya.

Mereka bersantai sambil berjaga, dan mengobrol apa saja untuk menghilangkan kebosanan menjaga Dompai. Mereka terus berjaga sedangkan para peserta Pasukan Langit sudah memasuki Dompai, yang sedang melakukan tes ketiga mereka.

Para prajurit paham bahwa para peserta Pasukan Langit. Jika mereka lulus, maka mereka akan menjadi pasukan penting bagi seluruh benua untuk menjaga kedamaian. Para prajurit itu juga mengharapkan bahwa para Peserta Pasukan Langit nantinya, dapat diandalkan untuk menghadapi para musuh kuat dari aliran kegelapan.

Bosan, tentu saja. Mereka pun sedikit bersantai, ada yang tetap bersandarkan pada tombak mereka dan ada juga yang duduk sambil mengobrol.

Saat itu, lima orang di bagian pinggir Dompai yang lain nampak berkumpul dan berbicara seolah biasa. Namun, mereka adalah orang-orang yang disusupkan oleh pasukan gelap untuk dapat menjalankan misi mereka. Mencuri Heart Dragon dari dalam Dompai.

Mereka berbicara santai dan kadang tersenyum, tapi mereka sedang mengalihkan apa yang mereka rencanakan untuk mencuri Heart Dragon. Mereka sudah ditugaskan oleh Ketua Denta. Mereka harus membuat rencana yang matang agar dapat membuat siasat dengan baik.

Mencuri Heart Dragon, artinya itu adalah misi sangat penting karena mereka tengah berada di kandang musuh mereka sendiri.

”He.. he.. he..,” Jasum tertawa terkekeh, dia sedang mengecoh seolah pembicaraannya santai dan bercanda pada prajurit lainnya di sekitar mereka, ”Apakah kamu sudah dapat menganalisis keadaan di dalam, Mora?”

Seorang wanita yang dipanggil Mora itu membuka matanya. Mora memakai baju prajurit lelaki, dan dia menyamarkan wajah serta suaranya.

”Bisa dipastikan, mereka sudah masuk sejauh 200 meter dari awal pintu masuk. Aku merasakan belum ada pertempuran apapun di sana. Mereka belum mengeluarkan energi sama sekali.”

Kepastian dari Mora itu seolah membuat keempat rekannya segera memahami. Soal artefak yang mereka incar, mereka harus bisa melacak dimana letak persisnya.

Mora segera memejamkan matanya kembali. Dia mencoba merasakan energi demi energi yang ada di dalam Dompai, mulai dari para peserta Pasukan Langit dan juga tipikal energi dari sebuah artefak.

”Aku merasakan artefak yang kuat. Entah energi apa itu, ataukah itu artefaknya. Energi yang mengalir dalam sesuatu di tengah Dompai itu pasti sesuatu yang besar,” Mora pun menjelaskan jika kesimpulannya mungkin itulah Heart Dragon yang mengandung kekuatan besar, dan juga menjadi satu dari tiga artefak agung. Siapapun yang bisa menyerap Heart Dragon maka sudah dipastikan dia bisa jadi seorang legenda dalam dunia bela diri.

Para peserta Pasukan Langit sebentar lagi akan mencapai titik, di mana energi besar itu dirasakan Mora. Mereka pun memikirkan cara bagaimana bisa mencuri Heart Dragon tanpa ada yang mengetahui.

Drisin mengangguk pada yang lain, ”Seperti biasa, berikan aku gambaran dimana letaknya energi besar itu. Aku akan membuatkan bullet portal agar kita sampai di sana dan segera mengambil harta itu.”

Benar, kemampuan Drisin memang menjadi salah satu pembuka portal dalam jarak dekat. Drisin memang seorang dark magician, yang mampu membuat portal dengan letak yang tepat. Namun, dia hanya mampu memindahkan yang  berjarak sekitar 500 meter. Posisi mereka sangat tepat, dan diuntungkan karena bisa menyamar sebagai prajurit dan tentu saja itu membuat kekuatan Drisin sangat dibutuhkan dalam misi ini.

Mora mengangguk, ”Ha.. ha.. ha..,” Dia tertawa untuk mengalihkan pembicaraan penting mereka seolah mereka sedang bergurau dengan santai dan ceria, ”Aku akan mentransfer posisi yang tepat padamu sehingga kamu memiliki gambaran kemana arah portalmu.”

Mora memelankan suaranya tersebut, dan tangannya bergerak kearah kepala Drisin. Drisin merasakan energi yang keluar dari telapak tangan Mora. Dia menyerap informasi kekuatan Mora dan letak yang tepat di dalam Dompai.

Beberapa detik, Drisin sudah mendapatkan titik koordinat untuk melakukan perpindahan portal. Kelima orang penyusup itu pun bersiap, mereka sudah harus bergerak dengan cepat sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada prajurit yang lain.

Mereka berlima saling memberi kode, bersiap membelakangi Dompai kecuali Drisin yang bersiap membuat untuk mengalirkan energi ke dalam tangannya. Empat orang lainnya berusaha agar rapat untuk menutupi Drisin, yang sedang berkonsentrasi untuk mencari titik tujuan yang sudah ditransferkan oleh Mora.

Dia konsentrasi dan mulai merancang posisi tujuan dari bullet portalnya. Tangan kanannya bergerak ke depan, dan tangan kiri di bawah membentuk energi titik di depannya. Kekuatan dark magician yang dipelajari Drisin adalah klasifikasi kekuatan energinya. Empat orang rekannya cukup rapat, sehingga energi kecil yang tercipta itu tidak disadari oleh barisan para prajurit yang menjaga Dompai.

Energi tercipta, garis energi dibuat dengan telapak tangan Drisin.

Wuuuungggg!

Bullet portal mulai terbentuk dengan baik hingga sekitar tinggi satu meter di depan Drisin. Energi mulai terbentuk, berdekatan dengan tembok bangunan Dompai. Titik tujuan koordinat sudah ditetapkan oleh Drisin, tepat di dekat energi besar yang ditransferkan Mora.

Lingkaran oval terbentuk, cukup untuk dimasuki satu orang.

”Siap! Semuanya bersiap dengan aba-aba dan masuk.”

Itulah ucapan pelan dari Drisin yang membuat Mora, Saga, Junta dan Jasum bersiap dengan kuda-kuda mereka bersiap memasuki bullet portal. Aba-aba pun mereka siapkan, karena bullet portal hanya bisa dimasuki satu orang. Maka, mereka harus cepat masuk satu persatu hingga semuanya masuk.

Semua menunggu aba-aba dari Jasum. Dia dipercaya sebagai pengamban misi dan ketua tim tersebut atas perintah tuan Denta.

Satu... dua... tiga... Jasum siap bergerak dengan cepat, dia menghitung dalam pikirannya. Dia memelankan suaranya sambil berbalik, ”Sekarang!”

Jasum berbalik segera dan langsung masuk ke bullet portal, belum ada yang menyadari kecepatan gerakan mereka. Jasum sempurna masuk, Mora langsung berbalik juga dan kepalanya masuk terlebih dahulu ke portal energi itu. Tubuhnya pun ikut masuk hingga di sempurna masuk. Giliran yang tersisa, ada; Junta, Saga dan Drisin sebagai dark magician.

Saat Junta bersiap dia berkelebat dengan berbalik cepat dan hampir memasuki portal itu.

Ziinnngggg! Ctaaarrr!

Sebuah kilatan energi membuat Junta melirik ke arah datangnya serangan energi itu. Dari kiri atas! Junta mundur dan melompat ke belakang. Begitupun dengan Saga yang ikut mundur. Drisin mundur ke sisi lain.

Benturan energi yang mengenai tanah dan melewati di depan bullet portal itu meledak di tanah. Semua prajurit yang berbaris kaget dan segera bersiaga, mata mereka seluruhnya tertuju pada tiga orang yang terlihat panik dan menghindari serangan kejut tersebut.

Pandangan semua prajurit jadi kaget karena melihat sebuah portal energi ada di depan dinding tersebut. Tiga orang yang menghindar adalah mereka, yang memakai seragam yang sama dengan prajurit.

Di atas sana, Kakek Nurin berdiri melayang di dekat bangunan. Ada energi tipis di antara kakinya, kekuatan energi mampu membuat tubuh melayang seolah berdiri di daratan. Dua orang datang dengan cepat dan muncul di atas bangunan Dompai. Mereka menyusul Kakek Nurin ketika mendengar suara ribut tersebut. Mereka adalah Katua Gonan dan Ketua Yarko.

Ketahuan!

Prajurit segera sadar akan penyamaran ketiga orang tersebut. Para prajurit langsung mengarahkan senjata mereka, dan mengarahkan kepada tiga orang tersebut. Ketiga orang itu bersiaga sebagai bentuk perlawanan.

Ketua Yarko mencabut pedangnya setelah anggukan dari Kakek Nurin. Dia melompat dan menghempaskan pedangnya kearah tiga orang tersebut. Bullet portal di sebelah dinding pun menghilang, karena Drisin tak bisa mempertahankan energi untuk memunculkan portal tersebut.

Blaaaarrrrr!

***

Barsha berjalan terus, dia diikuti oleh 20 orang peserta di belakangnya. Semuanya pun waspada, beberapa peserta bahkan memegang erat senjata yang dipegangnya. Mereka benar-benar waspada, karena bisa jadi ujian ketiga ini sangat berat bagi mereka.

Keringat karena gugup menetes hampir pada semua peserta.

Lorong itu semakin dalam mereka masuki. Di depan mereka seperti sebuah ujung lorong, mungkinkah itu adalah tempat ujian sebenarnya? Benar saja, itu pasti adalah ujung lorong dan ada gambaran terbuka di depan sana.

Mereka terus melangkah, Aji paling terakhir. Hingga, mereka keluar dari lorong dan pemandangan seperti lapangan luas ada di depan mereka. Itu seperti sebuah tempat Colosium atau seperti tempat latihan yang luas. Di setiap sepanjang kiri dan kanan, ada berbagai macam senjata dari pedang, tombak, hingga kapak dan panah. Semua senjata lengkap dengan ditata di rak-rak senjata.

Saat Aji keluar dari lorong. Dia berbalik dan melihat bahwa kelima lorong awal saat mereka memilih lorong, semuanya sempurna ada ujungnya mencapai ruangan tersebut. Artinya, lorong manapun sebelumnya yang mereka pilih akan menuju ke lapangan ini.

Tidak ada hambatan atau rintangan saat di dalam lorong. Semuanya hanya ujian untuk melihat apakah pilihan para peserta Pasukan Langit, untuk membagi tim untuk memasuki masing-masing lorong atau mereka akan masuk melalui satu lorong saja.

Aji mengerti, ini adalah calon Pasukan Langit. Mereka menguji apakah sebuah pasukan akan bisa mendapatkan pengakuan jika mereka bersatu, atau bercerai-berai. Bisa jadi, karena keputusan untuk membagi tim juga benar, bisa jadi juga masuk dalam satu lorong juga benar. Semuanya adalah ujian, untuk mengetahui bagaimana mengambil keputusan dalam sebuah tim. Tim kali ini juga adalah Pasukan Langit.

Mata Aji mengedar sekeliling, dia berbalik ke depan kembali setelah melihat ujung dari lima lorong. Di depan sana, ada sebuah tombak yang sangat indah dengan ukiran yang megah. Di ujung tombak yang menjulang ke atas itu. Sebuah permata yang dilingkupi dengan ukiran emas yang memunculkan semburan energi yang menyebar ke seluruh ruangan.

Dada Aji bergetar, dia merasakan tarikan dan tolakan dalam tubuhnya ketika permata sebesar genggaman orang dewasa itu dilihatnya. Ada resonansi dalam tubuh Aji, Aji berusaha menahan gejolak dalam dirinya.

Apakah ini? Salah satu artefak dari tiga Rahasia Langit?

Aji mengingat tentang dirinya sendiri. Di mana dia sudah menggunakan salah satu dari tiga artefak Rahasia Langit. Soul Deep. Soul Deep ditanamkan oleh sahabatnya, Yonan. Artefak itu dimasukkan ke dalam tubuh Aji untuk membuatnya bertahan dan bangkit dari kematiannya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!