Pasukan Langit
Harapan Menjadi Raja
Barsha berjalan di gurun pasir yang tandus dan sangat panas. Terik mentari terasa sangat menyengat. Tak peduli kondisinya, Barsha harus menemukan jalan keluar dari tempat itu. Terakhir kali, Barsha hanya merasakan bahwa tadi dia masih berapa di Dompai dan ledakan energi terjadi.
Barsha terus berjalan, angin di gurun itu terasa panas dan menerbangkan pasir lembut, hingga menyulitkan penglihatannya.
Jalan terus!
Begitulah, Barsha terus melangkah. Dia harus terus berjalan, Barsha terkenal sebagai sosok wanita kuat dan bisa melakukan apapun sendirian. Semua orang mengenal Barsha, sebagai sosok yang mandiri dan mampu melakukan apapun dengan baik. Di benua Denad, sosok Barsha adalah harapan besar untuk kejayaan dan populernya Assassin di benua Denad.
Krataaak!
Retakan di pasir terjadi, pasir bergerak-gerak seolah ada yang menggeliat di dalam tanah itu. Retakan itu terus membesar dan mengarh pada Barsha. Barsha lompat dengan cepat ke belakang. Retakan itu sempurna besar dan sebuah benda panjang keluar dari pasir.
Semakin ke atas, sosok yang keluar itu sempurna mulai dari kaki keluar hingga punggungnya. Itu adalah kecoa dengan ukuran yang sangat besar seperti rumah. Tidak hanya satu, menyusul beberapa hewan besar lainnya yang muncul di sekitar kecoa besar itu. Ada kelabang dengan kaki-kakinya yang banyak dan menjijikkan. Ada ular besar dengan sisik yang besar dan mata yang tajam.
Hewan-hewan besar itu keluar dari pasir-pasir, jumlahnya ada puluhan. Sesuatu yang paling ditakuti sebenarnya oleh Barsha. Namun, dia tak pernah memperlihatkan ketakutannya itu. Dia takut pada hewan-hewan yang menjijikkan. Kini, mereka muncul dengan ukuran yang besar dan bulu-bulu di kaki mereka membuat Barsha ingin muntah rasanya.
Beberapa kecoa raksasa maju ke depan dengan kaki-kaki mereka yang banyak, itu menjijikkan bagi Barsha. Mereka merangsek maju dan menyerang Barsha.
Kenapa kejadian ini terjadi padanya?
Barsha menahan rasa mual di perutnya dan bergerak dengan cepat, meliuk dengan kecepatan tinggi menghindari serangan kaki-kaki kecoa raksasa itu. Para kecoa raksasa itu bergantian menyerang Barsha dari kanan dan kirinya. Dari atas, sebuah kelabang dengan capit raksasa dan kakinya yang banyak menyerang dari atas kecoa. Menghantam ke arah Barsha, Barsha kembali merasa jijik sambil bergulingan dengan cepat menghindari serangan kelabang itu.
Saat dia agak jauh dan bersiap untuk bangkit, dia masih duduk. Namun, dari arah depan ular dengan lidah menjulur meluncur dengan cepat menuju kearahnya.
Hisssssss!
Barsha menolak tubuhnya, dan menekankan kekuatan pada pijakannya dan terbang tinggi ke atas, untuk menghindari serangan ular yang besar itu. Saat berada di udara itu, dua kecoa raksasa menerjang dan melompat dari tanah menerkam Barsha. Barsha marah dengan kondisi ini, dia merasa jijik dengan hewan-hewan tersebut.
Kondisi peserta Pasukan Langit yang lain tak jauh beda. Kondisi aneh juga dialami oleh Nagada. Nagada sedang berada di singgasana, dia duduk dengan tenang. Tiba-tiba saja dia duduk di singgasana, di mana kerajaan di bawah kepemimpinan ayahnya berada.
Duduk sebagai raja? Inilah yang menjadi harapan dari ayahnya, bahwa ayahnya ingin agar Nagada berlatih sungguh-sungguh. Berjuang dengan keras agar memenangkan hati rakyat sehingga rakyat akan menghormati dan patuh jika dirinya naik tahta. Namun, di kerajaan itu, kekuatan dan pengaruh adalah segalanya.
Tidak bisa seorang raja menunjuk anaknya menjadi raja setelah dirinya mundur. Pangeran harus mendapatkan dukungan dari 8 penasehat kerajaan, dan memenangkan hati sebagian besar rakyat. Namun, saat ini dirinya sudah duduk di singgasana kerajaan itu.
Nagada melihat ke kanan dan ke kiri. Di sana terlihat beberapa penjaga bersiap dengan senjatanya, dan juga beberapa orang menteri tengah duduk di masing-masing tempat duduknya. Para menteri yang berada di sisi kiri dan sisi kanan jalan di depan singgasana itu.
Dirinya sudah menjadi raja?
”Braakk!”
Pintu masuk di depan jauh dari kursi singgasana nampak dipaksa terbuka. Seorang lelaki menendang pintu masuk itu dengan keras, dan wajanya nampak garang dan seringai dari bibirnya nampak terlihat dia orang yang licik dan sedang tersenyum meremehkan.
Dia adalah, Toda. Paman dari Nagada sendiri, adik dari ayahnya yang memang sejak lama sudah menginginkan tahta untuk dirinya sendiri.
”Turun dari kursi tahta itu Bocah!”
Teriakan Toda membuat dada Nagada bergetar. Bagaimana bisa sang paman, Toda terlalu berani mengusir dirinya di tahta. Apa yang terjadi?
”Aku menjalankan amanah dari ayahku Paman, aku yang akan menjadi raja dan mensejahterakan rakyat kita,” Nagada berusaha menjelaskan kepada pamannya, agar pamanya tidak sembarangan berbicara.
Toda semakin tersenyum sinis, dia maju ke depan, melangkah dengan penuh kesombongannya. Langkah kakinya seolah dibuat-buat untuk meremehkan keponakannya itu. Saat delapan langkah Toda melewati pintu, beberapa sosok tua mengikutinya masuk secara berpasangan.
Mereka itu, dua orang dari delapan orang penasehat kerajaan. Setelah dua orang tua itu masuk, menyusul lagi sepasang orangtua. Mereka juga adalah penasehat kerajaan, artinya ada empat orang penasehat yang berada di belakang Toda.
Saat Toda terus melangkah, dua pasang lagi muncul, lalu muncul beberapa orang yang menyusul di belakang 8 penasehat itu. Mereka terlihat seperti rakyat karena baju mereka adalah baju biasa yang dikenakan masyarakat umum.
Nagada membelalakkan matanya, 8 penasehat berada di pihak pamannya itu. Artinya, jika para penasehat sebagian besar menunjuk pamannya. Maka, dia tak memiliki hak untuk menjadi raja dan dia akan mengecewakan harapan ayahnya.
”Turunlah Bocah!”
Teriakan Toda kembali memekakkan telinga Nagada. Nagada bergetar tubuhnya dalam ruangan itu. Dia bingung hendak melakukan apa. Dia ingin menjadi raja yang arif bijaksana dan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya, seperti yang ayahnya perjuangkan.
Sedangkan, Nagada tahu bahwa Toda dari dulu mengincar kursi raja itu karena dia orang yang serakah, dan hanya mementingkan perutnya sendiri.
”Tidak Paman, akulah raja yang sesungguhnya!” Nagada berteriak sambil berdiri dan langsung bangkit dari duduknya.
”Bodohnya! Kau pikir kamu bisa melakukan apa jika 8 penasehat tidak mendukungmu dan rakyat juga tidak menginginkanmu menjadi raja! Akulah raja yang diinginkan rakyat dan direstui oleh 8 penasehat kerajaan! Ha.. ha.. ha..”
Tawa Toda membuat Nagada mengepalkan kedua tangannya. Dia marah dan tidak terima dengan pengakuan dari pamannya itu. Dia maju dan terbawa emosi, dan menyerang dengan kekuatannya dan melesat ke arah pamannya itu.
Duaarrrr!
Serangan pedang berbalut energi api yang berkobar-kobar itu menghantam pamannya, Toda. Namun, kedelapan orang penasehat sudah membuat barier yang kuat untuk melindungi Toda dari serangan Nagada.
Serangan itu berbenturan dengan barier para penasehat. Serangan itu terus dilancarkan dengan sihir kekuatan yang menghempas terus-menerus. Nagada terus menyerang dengan kekuatan pedangnya, satu, dua hingga bertubi-tubi.
Nagada ingin menghancurkan barier itu. Namun, kekuatan barier dari gabungan 8 penasehat sangat kuat, sehingga serangan Nagada hanya terpental kesana kemari dan hilang pantulannya. Barier itu sangat kokoh.
Apa dengan pertarungan dan mengalahkan paman Toda, Nagada akan bisa menjadi seorang raja dan mempertahankan tahtanya?
Benar saja! Kekuatan adalah segalanya. Jika Nagada berusaha keras dengan kemampuannya mengalahkan arogansi pamannya itu. Maka, dia akan bisa mendapatkan gelar raja dan diakui oleh rakyatnya.
Kekuatan adalah segalanya. Siapa yang kuat maka dia akan menjadi raja!
Itulah yang dipahami Nagada saat ini. Dia pun mundur beberapa langkah, dia siap menyerang kembali. Tak peduli dengan 8 penasehat yang menjadi tameng bagi pamannya, jika perlu semuanya akan dimusnahkan oleh Nagada.
Nagada memutar pedangnya untuk menciptakan energi lingkaran dengan kekuatan sihir yang terbentuk secara penuh. Nagada adalah seorang pemilik pedang sekaligus sihir yang kuat, dia menjadi kebanggan bagi keluarganya dan digadang-gadang untuk menjadi raja yang kuat dan dapat mensejahterakan rakyatnya.
Itu adalah harapan besar keluarganya, di pundak Nagada ada beban yang dipikul untuk menjadi penerus bagi keluarganya.
Dia ingin membawa kebangkitan besar dan kejayaan pada kerajaannya. Kerajaan ini akan dibawa dengan kecemerlangan, dan menjadi kerajaan yang membawahi seluruh kepemimpinan di benua Orpris.
Kerajaan tempat Nagada, merupakan satu-satunya kerajaan terbesar di kota Prisma yang terletak di benua Orpris.
Tidak akan dibiarkan kerajaan itu jatuh ke tangan pamannya yang serakah!
Energi tercipta bagai angin topan yang mengulung-gulung diatas pedang Nagada. Dia akan melumat siapapun yang menghalangi jalannya menjadi raja. Bahkan jika itu adalah 8 penasehat kerajaan sekalipun.
”Magic Wind!”
Nagada mengayunkan pedangnya ke depan. Angin energi dahsyat yang menggulung-gulung berputar, dan maju kearah 8 penasehat yang masih memasang barier dengan kekuatan gabungan mereka.
Angin yang menggulung itu seperti menghabiskan seluruh benda yang ditemuinya dan menghancurkannya ke dalam gumpalan angin itu. Ada petir yang menyambar di dalam gumpalan angin serta suara gemuruh yang sangat dahsyat.
Nagada mengerahkan semua kemampuannya. Angin itu dipenuhi energi pekat sehingga serangan itu akan bisa melumat apapun yang ditemuinya. Para penasehat pun menambah kekuatan mereka dengan mempersiapkan barier yang sangat kuat, untuk menghalau serangan dari Nagada itu.
Di belakang mereka, Toda masih saja tersenyum sinis dan seolah-olah kekuatan Nagada hanya akan sia-sia saja berhadapan dengan 8 penasehat yang kini berada di pihaknya.
”Akulah raja yang sesungguhnya keponakanku! Menyerah saja dan patuhlah kepadaku!”
Teriakan Toda itu membuat Nagada semakin beringas, saat serangan gumpalan angin itu merangsek dan menggulung maju. Nagada menarik pedangnya ke belakang dan dia meluncur dengan kekuatan penuh mengikuti angin yang menggulung-gulung. Dia menghunjamkan ujung pedangnya lurus ke depan, tepat kearah Toda. Saat para penasehat menghalau serangan energi anginnya itu, maka dia memiliki celah untuk menghabisi Toda dalam serangan yang cepat.
”HIIIIIIAAAAA!”
Nagada berpikir, bahwa inilah jalan satu-satunya untuk menjadi raja dan memenuhi harapan ayahnya.