Pembalasan Mawar yang Layu
Pengakuan di Balik Gelap
Mobil SUV hitam melaju membelah kegelapan malam dengan kecepatan yang melebihi batas wajar. Aku duduk di kursi penumpang, tubuhku masih gemetar—bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang belum sepenuhnya mereda. Adrian mengendarai dengan rahang yang mengeras, tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Kami tidak berbicara. Kesunyian di dalam mobil terasa lebih berat daripada suara jeritan Bram yang masih bergema di kepalaku.
Setelah hampir tiga puluh menit berkendara, Adrian memutar setir tajam memasuki area perumahan elite yang sangat eksklusif. Gedung-gedung pencakar langit menjulang dengan lampu-lampu yang berkilauan seperti bintang jatuh. Kami berhenti di basement parkir sebuah menara residence yang mewah, lalu naik lift pribadi yang hanya bisa diakses dengan sidik jari dan retina scan.
Pintu lift terbuka langsung ke sebuah penthouse yang luasnya nyaris sama dengan seluruh lantai dua rumah Wijaya. Lantai marmer hitam mengkilap di bawah lampu-lampu tersembunyi yang memberikan cahaya hangat namun tidak menyilaukan. Jendela kaca dari lantai hingga langit-langit memperlihatkan pemandangan kota yang berkilauan seperti lautan cahaya.
"Ini... rumahmu?" tanyaku pelan, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
"Salah satu," jawab Adrian singkat. Dia melepas jas yang sudah kusut dan berlumuran debu, lalu berjalan menuju bar mini di sudut ruangan. Dia menuangkan dua gelas whiskey, memberikan satu padaku. "Minum. Kamu perlu ini."
Aku menerima gelas itu dengan tangan yang masih gemetar. Cairan amber itu membakar tenggorokanku saat kutelan, tapi sensasi panasnya justru membuatku merasa sedikit lebih hidup.
Adrian duduk di sofa panjang, menyandarkan kepalanya ke belakang sambil menutup mata. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya tampak lelah—bukan secara fisik, tapi secara emosional. Garis-garis wajahnya yang tegas tampak lebih dalam di bawah cahaya redup.
"Kamu harus membersihkan dirimu dulu," ucapnya tanpa membuka mata. "Kamar mandi di koridor kanan. Aku sudah menyiapkan pakaian bersih untukmu. Setelah itu, kita bicara."
Aku mengangguk meski dia tidak melihat, lalu berjalan menuju kamar mandi yang disebutnya. Ruangannya luar biasa luas, dengan bathtub marmer dan shower dengan panel kaca. Aku melepas gaun pertunangan yang sudah compang-camping dan kotor, lalu berdiri di bawah pancuran air panas.
Air itu mengalir di tubuhku, membawa serta keringat dingin, debu, dan sisa-sisa ketakutan yang menempel. Tapi yang tidak bisa dibersihkan adalah bayangan wajah Bram yang possessed—mata hitam legam itu, suara berlapis yang keluar dari mulutnya, dan kata-katanya tentang darah Ibu.
Aku menangis di bawah air yang mengalir, membiarkan suara isakku tertutup oleh deru shower. Ini adalah tangisan pertama yang benar-benar tulus sejak aku kembali ke masa lalu. Bukan tangisan manipulatif untuk menipu Bram atau Sheila, tapi tangisan seorang anak perempuan yang baru menyadari bahwa ibunya dibunuh dengan kejam.
Setelah aku merasa sedikit lebih tenang, aku mengeringkan tubuh dan memakai baju yang sudah disiapkan Adrian—kemeja putih oversize dan celana training lembut yang jelas terlalu besar untukku. Baunya seperti pelembut pakaian mahal dan sedikit aroma maskulin Adrian.
Saat aku keluar, Adrian sudah berganti pakaian juga—kaos hitam sederhana dan celana kain santai. Dia duduk di meja makan, membuka laptop dengan wajah serius. Di sampingnya, tergeletak sebuah map cokelat tebal.
"Duduk," perintahnya lembut.
Aku duduk di seberangnya. Adrian memutar laptop itu agar layarnya menghadapku. Di sana, terbuka sebuah email yang subjeknya membuat jantungku berhenti sedetik.
"Rahasia di balik kematian ibumu dan keterlibatan ayah Bram. Baca," ucap Adrian. "Aku sudah menunda ini terlalu lama."
Aku mulai membaca. Setiap kata yang tertera di layar itu terasa seperti pisau yang mengiris dagingku perlahan.
Email dari investigator swasta Adrian, tertanggal dua tahun lalu.
Aku mulai membaca. Setiap kata yang tertera di layar itu terasa seperti pisau yang mengiris dagingku perlahan.
Email investigator swasta Adrian dibuka dengan kalimat yang langsung menghujam jantungku: Ibu tidak meninggal secara alami.
Laporan itu menjelaskan bagaimana investigator berhasil mengakses rekam medis rahasia melalui apoteker yang pernah bekerja di rumah sakit swasta tempat Ibu dirawat. Obat jantung yang seharusnya menyembuhkan Ibu ternyata telah diubah komposisinya oleh pihak ketiga—pihak yang memiliki akses penuh ke gudang farmasi rumah sakit. Gudang yang selama bertahun-tahun disuplai oleh perusahaan farmasi milik keluarga Dirgantara.
Yang membuat tanganku gemetar adalah bagian selanjutnya: analisis toksikologi post-mortem yang dilakukan secara independen menemukan senyawa beracun bernama Oleandrin dalam sampel jaringan Ibu. Racun dari tanaman oleander itu dicampur dalam dosis kecil namun konsisten ke dalam obat harian Ibu, menciptakan ilusi gagal jantung alami yang sempurna. Tidak ada yang mencurigai pembunuhan. Semua orang, termasuk Ayah dan aku, percaya bahwa Ibu meninggal karena penyakitnya.
Tapi bagian yang paling menghancurkan adalah motif di balik semua ini.
Saat Ibu meninggal, Ayah sedang mengalami kesulitan keuangan besar akibat investasi yang gagal. Dalam masa berkabung yang paling rapuh itu, Hendrik Dirgantara—ayah Bram—datang sebagai "penyelamat" dengan memberikan bantuan dana sebesar 50 miliar rupiah. Bantuan yang dicatat sebagai pinjaman lunak tanpa bunga, seolah-olah murni karena persahabatan.
Tapi itu adalah jebakan.
Pinjaman itu kemudian dikonversi menjadi saham minoritas di Wijaya Group, memberikan keluarga Dirgantara akses ke dalam perusahaan kami. Dan rencana jangka panjang mereka jauh lebih kejam: menguasai Wijaya Group sepenuhnya melalui pernikahanku dengan Bram, lalu menggelapkan aset secara bertahap hingga perusahaan bangkrut. Setelah itu, mereka akan membeli perusahaan dengan harga murah menggunakan perusahaan cangkang mereka.
Ibu dibunuh bukan karena kebencian pribadi. Dia dibunuh karena kematiannya adalah fondasi dari rencana perampokan yang sempurna.
Jejak transaksi keuangan yang dilampirkan dalam email itu menunjukkan pembayaran tunai 500 juta rupiah dari Hendrik Dirgantara kepada kepala apoteker rumah sakit—dibayarkan dua minggu sebelum Ibu meninggal. Harga nyawa seorang ibu, seorang istri, seorang pengusaha sukses, ternyata hanya 500 juta rupiah.
Di bagian akhir email, investigator melampirkan semua bukti: rekam medis asli, hasil toksikologi independen, rekaman CCTV gudang farmasi yang menunjukkan apoteker memanipulasi obat-obatan, dan jejak transfer dana dari rekening Hendrik Dirgantara.
Semuanya lengkap. Semuanya konkret. Semuanya menghancurkan.
Aku berhenti membaca. Tanganku yang memegang tepi meja gemetar hebat. Kepala ku terasa ringan, seolah-olah semua oksigen di ruangan ini telah tersedot habis.
"Ibu... dibunuh..." bisikku, suaraku pecah. "Mereka membunuh Ibu... untuk uang... untuk perusahaan..."
Adrian menutup laptop perlahan. Dia berdiri, berjalan mengelilingiku, lalu berlutut di sampingku—posisi yang sangat tidak seperti Adrian yang selalu dominan dan berkuasa.
"Maafkan aku, Aruna," ucapnya dengan suara yang serak. "Aku menemukan ini dua tahun lalu. Aku ingin memberitahumu, tapi aku tahu kamu terlalu mencintainya. Kamu tidak akan percaya padaku. Kamu akan menganggapku sebagai pria gila yang iri hati."