Pembalasan Mawar yang Layu
Penyusup
Jam menunjukkan pukul 02:47 dini hari. Rumah Wijaya tenggelam dalam kesunyian yang mencekam—jenis kesunyian yang membuat setiap detak jantung terdengar seperti genderang perang. Aku terbaring di ranjang dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap, menghitung detik hingga kedatangan Adrian.
Gelang perak di pergelangan tanganku bergetar sangat halus—tiga kali pendek, dua kali panjang. Kode. Dia sudah masuk ke area rumah.
Aku bangkit perlahan, berjalan tanpa suara menuju jendela balkon. Tirai tipis bergoyang pelan oleh angin malam yang dingin. Aku membuka pintu kaca balkon dengan sangat hati-hati, membiarkan udara malam menyapu wajahku.
Di kegelapan taman bawah, aku menangkap bayangan bergerak—cepat, presisi, seperti hantu yang meluncur di antara semak-semak. Adrian. Dia mengenakan pakaian taktis hitam total, bahkan sarung tangan dan masker penutup wajah bagian bawah. Hanya matanya yang terlihat—mata yang tajam seperti elang pemburu.
Dia memanjat dinding batu rumah dengan kecepatan yang mencengangkan, menggunakan celah-celah kecil dan tanaman rambat sebagai pegangan. Dalam hitungan detik, dia sudah mencapai balkon lantai dua—balkonku.
Adrian melompat melewati pagar besi dengan gerakan yang tidak bersuara, mendarat dengan sempurna di lantai balkon marmer. Dia melepas maskernya, napasnya bahkan tidak terengah meski baru saja memanjat setinggi sepuluh meter.
"Kamu terlambat tiga menit," bisikku.
Adrian menyeringai tipis. "Ada penjaga baru di gerbang belakang. Aku harus menunggu dia berganti shift."
Aku menariknya masuk ke kamar, menutup pintu balkon, dan menutup tirai rapat-rapat. Ruangan kembali gelap, hanya diterangi oleh cahaya bulan samar yang menyusup melalui celah tirai.
Adrian melepas ransel kecil di punggungnya, meletakkannya di lantai dengan hati-hati. "Bagaimana kondisi Sheila?"
"Semakin gila. Tapi jebakan kita berhasil. Dia sekarang lebih takut pada Bram daripada pada kita," jawabku pelan. "Ponselnya yang kamu matikan tadi malam—dia sudah bisa mengaktifkannya lagi?"
"Belum. Aku inject malware lewat sinyal remote. Ponselnya akan terus restart setiap kali dia coba kirim email atau pesan ke nomor Bram. Dia pikir ponselnya rusak, tapi sebenarnya aku yang mengontrolnya," Adrian membuka ransel, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam yang lebih kecil dari kotak gelang waktu itu. "Tapi kita tidak punya banyak waktu. Besok malam adalah bulan purnama. Ritual akan dimulai tepat tengah malam."
"Dua puluh satu jam lagi," bisikku, merasakan berat realitas itu menekan dadaku.
"Dua puluh satu jam," Adrian mengangguk. Dia membuka kotak beludru itu, memperlihatkan isinya di bawah cahaya bulan yang tipis.
Di dalam kotak itu, tergeletak sebuah liontin perak berbentuk mawar yang hampir identik dengan ukiran di gelangku—namun ini lebih kecil, lebih detail, dan di tengah mahkota bunganya tertanam sebuah batu kecil berwarna merah darah yang berpendar redup dalam kegelapan.
"Ini Penangkal Jiwa," ucap Adrian, mengangkat liontin itu dengan hati-hati. Rantai perak tipisnya berkilau seperti benang cahaya. "Batu merah ini adalah ruby sintetis yang diisi dengan frekuensi elektromagnetik khusus—teknologi yang masih eksperimental. Fungsinya adalah menjaga aktivitas gelombang otak tetap pada pola beta—pola kesadaran penuh—bahkan saat tubuhmu sedang dipengaruhi obat bius atau mantra spiritual."
Dia melangkah lebih dekat, membawa liontin itu ke arah leherku. "Saat ritual dimulai, Bram akan memberikan ramuan yang membuat korban 'menyerah secara spiritual'—membuat jiwa melepaskan ikatannya pada tubuh dengan sukarela. Ramuan itu akan membuatmu merasa damai, pasrah, seperti tertidur di tempat yang hangat. Tapi dengan liontin ini, kesadaranmu akan tetap terjaga di lapisan terdalam. Kamu akan bisa mendengar, berpikir, dan—yang paling penting—melawan pada saat yang tepat."
Jemarinya menyentuh tengkukku saat dia memasangkan rantai itu. Sentuhannya hangat, kontras dengan logam dingin yang melingkar di leherku. Liontin itu jatuh tepat di lekuk tulang dadaku, tersembunyi di balik kain kemeja tidur.
"Jangan lepaskan ini apapun yang terjadi," bisik Adrian, tangannya masih berada di tengkukku. "Bahkan jika Bram curiga dan memintamu melepas gelang, liontin ini harus tetap ada. Sembunyikan di balik pakaian ritual apapun yang mereka kenakan padamu."
Aku merasakan liontin itu bergetar sangat halus di kulitku—seperti detak jantung kedua yang sangat pelan. "Apa yang harus kulakukan saat ritual dimulai?"
"Ikuti semua instruksi mereka. Minum ramuan jika disuruh. Berbaring di altar jika diperintahkan. Biarkan mereka mengira kamu pasrah sepenuhnya," Adrian menatap mataku dengan intensitas yang menyedot napas. "Tapi saat dukun mulai mengucapkan mantra puncak—biasanya ditandai dengan suara gong atau lonceng tiga kali—saat itulah kamu harus mengaktifkan penangkal ini."
"Bagaimana caranya?"
Adrian mengambil tanganku, meletakkannya di atas liontin yang hangat di dadaku. "Tekan batu ruby ini sekuat tenaga. Itu akan melepaskan ledakan frekuensi elektromagnetik dalam radius lima meter—cukup kuat untuk mengganggu konsentrasi dukun dan memutus aliran energi ritual. Dalam kekacauan itu, timku akan menyerbu masuk. Kamu hanya perlu bertahan hidup sampai kami tiba."
"Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bertahan?"
"Maksimal dua menit," jawab Adrian. "Tapi itu akan terasa seperti dua jam. Bram akan panik, dukun akan marah, dan mereka mungkin akan mencoba menyakitimu secara fisik. Tapi ingat—"
Tiba-tiba, kami berdua terdiam. Suara. Langkah kaki berat di koridor luar—bukan langkah pelayan yang ringan, melainkan langkah boot kulit yang keras. Penjaga.
Adrian bereaksi seketika, menarikku ke sudut gelap kamar di balik lemari besar, tubuhnya melindungiku dengan posisi yang siap menyerang kapan saja. Napasnya hangat di telingaku, tangannya mencengkeram pisau lipat kecil yang entah kapan dia keluarkan dari saku.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarku.
Detik-detik berlalu seperti keabadian. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang mengamuk, darah yang berdegup di pelipis. Adrian sama sekali tidak bergerak—bahkan tidak bernapas.
Lalu, suara ketukan—keras, menuntut.
"Nn. Aruna? Apa Anda masih terjaga?"