Pembalasan Mawar yang Layu
Persekutuan
Suara pria dewasa yang asing. Bukan penjaga lama keluarga kami. Ini penjaga bayaran Bram.
Aku harus menjawab, atau dia akan masuk paksa.
Aku mendorong Adrian lebih dalam ke bayang-bayang, lalu berjalan dengan langkah sempoyongan ke arah pintu. Aku membukanya sedikit—hanya cukup untuk menunjukkan wajahku yang kusengaja buat kusut dan mengantuk.
"Ada... ada apa?" tanyaku dengan suara serak.
Penjaga itu tinggi besar, wajahnya keras dengan bekas luka di pipi kiri. Matanya tajam, memindai kamarku dari celah pintu yang sempit. "Kami mendengar suara aneh dari arah kamar Anda. Suara seperti orang memanjat."
Jantungku nyaris berhenti. "Memanjat? Tidak ada... aku hanya... aku membuka jendela balkon tadi karena gerah. Mungkin angin yang membuat suara."
Penjaga itu tidak terlihat puas. Dia mencoba mendorong pintu lebih lebar. "Kami harus memeriksa kamar Anda, Nn. Aruna. Prosedur keamanan."
"Tidak!" aku mendorong pintu kembali, membuat ekspresi panik yang sempurna. "Aku... aku sedang tidak berpakaian dengan pantas. Tolong... tolong jangan masuk."
Penjaga itu ragu-ragu, namun matanya tetap curiga. Dia melongok lebih dalam, mencoba melihat sudut-sudut gelap kamarku.
Aku harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang drastis. Sesuatu yang akan membuat penjaga ini pergi dan tidak kembali.
"Bram!" aku tiba-tiba berteriak dengan suara bergetar—cukup keras untuk mengejutkan penjaga, namun tidak terlalu keras hingga membangunkan seluruh rumah. "Bram, tolong! Ada orang asing mencoba masuk ke kamarku!"
Suara pintu terbuka dengan keras dari ujung koridor. Bram keluar dari kamar tamu tempatnya tidur sejak aku "kembali" ke rumah, wajahnya kusut dan marah. Bahu kanannya masih diperban—bekas luka tembakan dari bodyguard Adrian.
"Ada apa?!" bentaknya pada penjaga itu.
"Tuan Bram, kami mendengar suara mencurigakan dari—"
"Kembali ke posmu!" Bram memotong dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Aku yang akan memeriksa kamar Aruna. Kamu tidak boleh masuk ke kamar pribadi tunanganku tanpa izinku."
Penjaga itu mengangguk kaku, melirikku satu kali terakhir dengan tatapan curiga, lalu berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah berat.
Bram melangkah mendekat, mendorong pintu kamarku lebih lebar dan masuk tanpa permisi. Matanya yang gelap memindai setiap sudut ruangan dengan kewaspadaan predator. Aku menutup pintu di belakangnya, jantungku berdegup kencang.
Adrian masih tersembunyi di balik lemari besar di sudut gelap—hanya berjarak tiga meter dari Bram. Satu gerakan salah, satu suara sekecil apapun, dan semuanya akan hancur.
"Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Bram, suaranya berbahaya tenang.
"Aku... aku takut," jawabku, suaraku dibuat gemetar. "Penjaga itu ingin masuk ke kamarku tengah malam. Aku tidak kenal dia. Aku takut dia akan... akan..."
Bram melangkah lebih dekat, tangannya menyentuh pipiku dengan jemari yang dingin. "Sssh. Dia hanya melakukan tugasnya. Aku yang menyuruhnya memperketat keamanan setelah Adrian menculikmu tempo hari."
Matanya menyipit, memeriksa wajahku dengan seksama. "Tapi kamu tampak... berbeda. Matamu tidak sejernih biasanya. Apa kamu minum obat yang kuberikan tadi sore?"
"Iya," aku berbohong. "Aku minum semuanya. Tapi aku tidak bisa tidur. Aku terus bermimpi tentang... tentang Ibu. Dia memanggilku dari cermin. Dia bilang waktunya sudah dekat."
Bram tersenyum—senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. "Ibumu benar. Waktunya memang sudah dekat. Besok malam, semuanya akan berakhir, Aruna. Kamu akan bebas dari semua beban ini."
Dia menarikku ke dalam pelukannya—pelukan yang posesif dan dingin. Aku bisa mencium bau cologne mahal yang bercampur dengan sesuatu yang pahit—bau obat-obatan atau mungkin ramuan ritual.
Dan dari sudut mataku, aku melihat bayangan Adrian yang mulai bergerak—dia mencoba memanfaatkan momen ini untuk kabur ke balkon. Tapi lantai kayu tua di bawahnya berderit—sangat pelan, namun cukup terdengar dalam kesunyian malam.
Bram terhenti. Kepalanya terangkat dari bahuku, matanya menajam ke arah sudut gelap tempat Adrian bersembunyi.
"Apa itu?" bisiknya berbahaya.
Aku harus bertindak. Sekarang.
Aku meraih wajah Bram dengan kedua tangan, memaksanya menatapku. "Bram... aku takut," bisikku dengan suara bergetar. "Aku takut tentang ritual besok. Aku takut aku akan kehilanganmu."
"Aruna, apa yang kamu—"
Aku tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Aku menarik wajahnya ke bawah dan mencium bibirnya—ciuman yang dalam, yang desperate, yang menjijikkan bagiku namun harus terlihat meyakinkan baginya.
Bram terkejut sejenak, namun kemudian membalas ciumanku dengan agresif—tangannya mencengkeram pinggangku, menekanku ke dinding dengan kekuatan yang hampir menyakitkan.
Dan di balik bahu Bram, aku melihat Adrian. Dia berdiri di ambang bayangan, tubuhnya mematung, matanya terkunci padaku—pada bibir yang bersentuhan dengan bibir Bram, pada tubuhku yang ditekan ke dinding oleh pria yang ingin membunuhku.
Ekspresi di wajah Adrian adalah sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya—bukan kemarahan, bukan cemburu, melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap. Rasa sakit. Rasa sakit yang murni dan tak tertahankan.
Tapi dia mengerti. Dia harus mengerti. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkannya.
Adrian bergerak—cepat, sunyi, seperti asap yang menghilang. Dia meluncur ke balkon, melewati pagar, dan menghilang ke dalam kegelapan malam dalam waktu kurang dari tiga detik.
Aku melepaskan ciuman itu, mendorong Bram dengan lembut. "Maafkan aku... aku hanya... aku hanya ingin merasakan dekatmu sekali lagi sebelum besok malam."
Bram menatapku dengan napas terengah, matanya gelap dengan nafsu dan kemenangan. Dia pikir aku sudah sepenuhnya takluk padanya.
"Tidurlah, Aruna," bisiknya, mengusap bibirku dengan ibu jarinya. "Besok malam, kita akan bersatu dengan cara yang lebih dalam dari ini."
Dia keluar dari kamar, menutup pintu di belakangnya. Aku mendengar bunyi kunci diputar dari luar—mengunci ku dari luar.
Aku terduduk di lantai, tubuhku gemetar hebat. Rasa mual naik ke tenggorokanku—rasa bibir Bram masih menempel di bibirku seperti racun yang membakar.
Gelang di pergelangan tanganku bergetar—satu kali panjang. Pesan dari Adrian.
Aku mengangkat gelang itu ke dekat telingaku. Suara Adrian berbisik sangat pelan melalui speaker mikro yang tersembunyi—suara yang bergetar dengan emosi yang ditahan.
"Aku mengerti kenapa kamu melakukannya. Tapi Aruna... lain kali, cukup biarkan aku mati."
Lalu sambungan terputus, meninggalkanku sendirian dalam kegelapan dengan rasa bersalah yang menusuk lebih dalam dari pisau manapun.