Pembalasan Mawar yang Layu
Sebelum Badai
Pagi datang dengan cahaya yang terlalu terang, seolah matahari sedang mengejek kegelapan yang menanti di malam bulan purnama nanti. Aku terbangun dengan rasa sakit di bibir—bekas gigitan yang tidak sengaja kulakukan sendiri tadi malam untuk menghapus rasa ciuman Bram yang masih menempel seperti lintah.
Pintu kamarku dibuka dari luar. Bram masuk dengan nampan berisi sarapan—roti panggang, telur, dan segelas susu yang berbau aneh. Dia tersenyum—senyum yang hangat namun tidak mencapai matanya yang hitam legam.
"Sarapan untuk calon istriku," ucapnya, meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. "Kamu harus makan banyak hari ini. Kamu perlu energi untuk malam nanti."
Aku duduk perlahan, meraih roti dengan tangan gemetar yang dibuat-buat. "Malam nanti... apa yang akan terjadi padaku, Bram?"
"Kamu akan tidur," jawabnya lembut, duduk di tepi ranjang. "Tidur yang sangat nyenyak. Dan saat kamu bangun... semuanya akan berbeda. Kamu akan bebas dari semua rasa sakit."
Dia berdiri, mengusap rambutku dengan possesif. "Aku harus pergi ke gudang untuk persiapan terakhir. Sheila akan menemanimu hari ini. Jangan kemana-mana, Aruna. Jika kamu mencoba kabur..." dia membiarkan ancamannya menggantung di udara, "konsekuensinya tidak akan menyenangkan."
Setelah Bram pergi, aku segera membuang susu itu ke pot tanaman di balkon dan menyembunyikan roti di balik lemari. Aku tidak akan makan apapun yang diberikan Bram hari ini.
Gelang di pergelangan tanganku bergetar—pesan masuk. Aku mengangkatnya ke telinga.
"Bram menuju gudang farmasi sekarang," suara Adrian terdengar dingin, profesional—sangat berbeda dari bisikan penuh luka semalam. "Timku sudah memasang kamera tersembunyi di sana sejak kemarin. Tapi aku butuh kamu melakukan sesuatu."
"Apa?"
"Jam dua siang nanti, Bram akan meninggalkan gudang untuk bertemu dukun di lokasi lain—pertemuan terakhir sebelum ritual. Itu jendela waktu satu jam untukmu menyusup ke gudang dan mencari bukti fisik yang bisa kita gunakan untuk menghancurkannya secara hukum. Email dan dokumen digital saja tidak cukup. Kita butuh dokumen asli—sesuatu yang bisa diserahkan ke polisi tanpa bisa dibantah."
"Bagaimana aku keluar dari rumah? Bram menguncinya dari luar."
"Jendela kamar mandi di lantai satu yang menghadap taman samping. Tidak ada CCTV di area itu—blind spot yang kusengaja buat sejak kemarin dengan merusak kamera terdekat. Turun lewat sana, mobilku akan menunggumu di jalan belakang."
"Bagaimana dengan Sheila?"
"Beri dia obat tidur. Ada botol pil di laci meja rias kamarmu—bagian paling kiri, tersembunyi di balik kotak perhiasan. Aku menyelipkannya kemarin malam sebelum penjaga datang. Hancurkan tiga pil, campurkan ke teh atau air. Dia akan tidur minimal empat jam."
Aku menelan ludah. "Adrian... tentang semalam—"
"Fokus pada misi, Aruna," potongnya dingin. "Kita bicara tentang itu setelah kamu selamat dari ritual malam ini."
Sambungan terputus.
---
Jam satu siang, aku berhasil membuat Sheila minum teh yang sudah kucampuri obat tidur. Dia tidak curiga—wajahnya yang makin membusuk membuatnya terlalu lelah untuk berpikir jernih. Lima belas menit kemudian, dia sudah terjatuh tertidur di sofa ruang keluarga dengan dengkuran yang tidak teratur.
Aku bergerak cepat. Turun ke lantai satu, masuk ke kamar mandi yang jarang dipakai, membuka jendela, dan melompat ke semak-semak di taman samping. Tidak ada penjaga yang melihat. Aku berlari menyusuri dinding rumah, melewati pagar belakang yang Adrian sudah buka kuncinya dari luar, dan sampai di jalan belakang dimana SUV hitam menungguku dengan mesin menyala.
Aku masuk ke kursi belakang. Adrian duduk di kursi pengemudi dengan kacamata hitam dan topi baseball—menyamar. Dia tidak menoleh, hanya langsung menginjak gas.
Perjalanan ke gudang farmasi memakan waktu dua puluh menit. Gedung tua itu berdiri di area industri yang sudah ditinggalkan—bangunan beton berlantai dua dengan jendela-jendela pecah dan dinding penuh grafiti. Tempat yang sempurna untuk ritual gelap.
Adrian memarkirkan mobil di balik gedung lain, memberiku sarung tangan lateks dan senter kecil. "Kamu punya empat puluh lima menit. Cari dokumen apapun yang berhubungan dengan ibumu—kontrak, surat perjanjian, catatan medis, apapun. Jika ada brankas, jangan coba buka—foto saja kombinasinya dan aku yang akan buka nanti."
"Kamu tidak ikut masuk?"
"Aku harus tetap di luar untuk memantau pergerakan Bram. Jika dia kembali lebih cepat, aku akan kirim sinyal darurat—tiga getaran pendek di gelangmu. Langsung keluar lewat pintu belakang dan lari ke mobil."
Aku mengangguk, turun dari mobil, dan berlari menuju pintu samping gudang yang Adrian sudah buka kuncinya kemarin dengan tool khusus.
Interior gudang berbau lembap dan busuk—campuran obat-obatan kedaluwarsa, jamur, dan sesuatu yang manis-menyengat seperti daging busuk. Lantai beton retak-retak, langit-langit bocor di beberapa tempat. Tapi di tengah kekacauan itu, ada sebuah area yang sangat bersih—sebuah ruangan yang dipisahkan dengan terpal plastik tebal.
Aku menarik terpal itu dan melihat apa yang ada di dalam.
Altar. Altar ritual yang mengerikan.
Meja batu besar dikelilingi oleh lingkaran garam dan simbol-simbol aneh yang dilukis dengan cat merah—atau darah. Lilin-lilin hitam berdiri di setiap sudut. Dan di dinding belakang altar, tergantung sebuah cermin besar dengan bingkai kayu tua yang diukir motif mawar layu.
Aku menelan rasa takut, memaksakan diri melangkah lebih dalam. Di sudut ruangan, ada meja kantor tua dengan laci-laci yang berkarat. Aku membuka laci pertama—kosong. Laci kedua—berisi lilin cadangan dan pisau-pisau ritual.
Laci ketiga terkunci.
Aku merogoh rambutku, mencabut jepit rambut, dan menggunakannya untuk mengungkit kunci—teknik yang kupelajari dari film-film. Mengejutkannya, kunci itu terbuka.
Di dalam laci, ada sebuah map cokelat tebal yang sudah usang. Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Dokumen pertama: Kontrak antara Hendrik Dirgantara dan seorang bernama "Nyai Rahayu"—dukun hitam. Kontrak bertanggal sepuluh tahun lalu, ditulis tangan dengan tinta hitam di atas kertas kuning tua. Isinya mengerikan—"pertukaran jiwa untuk fondasi kekayaan, dengan tumbal nyawa satu wanita dewasa dari garis keturunan target."
Tumbal nyawa. Ibu.
Dokumen kedua: Rekam medis rahasia Ibu—bukan dari rumah sakit resmi, tapi dari klinik gelap. Catatan detil tentang "pemberian dosis bertahap racun Oleandrin yang tidak terdeteksi autopsi standar." Ada foto-foto Ibu dalam kondisi sakit, diambil tanpa sepengetahuannya.
Dokumen ketiga membuat jantungku berhenti.
Surat perjanjian bermaterai, bertanggal sebelas tahun lalu—setahun sebelum Ibu meninggal. Di bagian atas tertulis "Kesepakatan Bersama untuk Restrukturisasi Utang Wijaya Group." Di bawahnya, dua tanda tangan: Hendrik Dirgantara dan... Ayah.
Aku membaca isi surat itu dengan napas yang tercekat.
"Pihak Pertama (Hendrik Dirgantara) setuju memberikan pinjaman lunak sebesar 50 miliar rupiah kepada Pihak Kedua (Surya Wijaya) dengan syarat: Pihak Kedua tidak akan melakukan investigasi atau tindakan hukum apapun terkait kondisi kesehatan istri Pihak Kedua yang sedang dan akan memburuk dalam kurun waktu 12 bulan ke depan. Pihak Kedua setuju untuk menerima bahwa kematian tersebut adalah kehendak alam dan tidak akan mencari tahu penyebab yang lebih dalam."
Tanganku gemetar hebat hingga kertas itu hampir jatuh. Kata-kata itu tertulis dengan jelas, legal, bermaterai resmi.
Ayah tahu. Ayah tahu Ibu akan mati. Dan dia menerima uang untuk diam.
Tidak—lebih buruk dari itu. Frasa "yang sedang dan akan memburuk" artinya Ayah tahu Ibu sedang diracuni saat dia menandatangani surat ini. Dan dia tidak melakukan apapun. Dia membiarkan Ibu mati secara perlahan dalam pertukaran 50 miliar rupiah.
Air mata jatuh di atas kertas tua itu, mengaburkan tulisan. Aku tidak tahu aku menangis sampai rasa asin di bibir menyadarkanku.
Ayah. Ayahku sendiri. Pria yang kupikir mencintai Ibu lebih dari apapun di dunia ini.
Tiba-tiba, gelang di pergelangan tanganku bergetar—tiga kali pendek. Sinyal darurat.
Bram kembali.
Aku segera memasukkan semua dokumen ke dalam jaket, menutup laci, dan berlari keluar dari ruangan ritual. Tapi saat aku hampir mencapai pintu samping, aku mendengar suara—suara mesin mobil yang berhenti di depan gudang. Pintu utama terbuka dengan derit keras.
Suara langkah kaki. Banyak langkah kaki.
Aku tidak punya waktu untuk ke pintu samping. Aku berlari ke tangga menuju lantai dua, bersembunyi di balik tumpukan kardus usang.
Dari celah kardus, aku melihat Bram masuk dengan tiga pria berpakaian hitam—penjaga bayarannya. Dan di belakang mereka, diseret dengan kasar, adalah sosok yang membuat darahku membeku.
Adrian.
Wajahnya babak belur, bibir pecah, tangan diborgol di belakang punggung. Salah satu penjaga mendorongnya hingga jatuh di lantai beton di depan altar.
Bram berjongkok di hadapan Adrian, tersenyum—senyum yang mengerikan.
"Adrian Atmadja. Akhirnya aku menangkapmu. Kupikir kamu lebih pintar dari ini—ternyata cinta membuatmu ceroboh."
Adrian meludah darah ke wajah Bram. "Di mana Aruna?"
Bram tertawa—tawa yang bergema di gudang kosong. "Oh, kamu pikir dia berhasil kabur? Dia ada di sini, Adrian. Dia sedang menonton kita sekarang dari suatu tempat di gedung ini."
Bram berdiri, memutar tubuhnya, berteriak ke kegelapan gudang.
"Aruna! Aku tahu kamu di sini! Keluar sekarang, atau aku akan memotong jari Adrian satu per satu sampai kamu muncul!"