Pembalasan Mawar yang Layu
Menuju Pengorbanan
Aku membeku di balik tumpukan kardus, jantungku berdetak begitu keras hingga aku takut Bram bisa mendengarnya. Adrian terbaring di lantai dengan darah mengalir dari sudut bibirnya, matanya mencari-cariku dalam kegelapan—mata yang penuh peringatan: *jangan keluar, jangan selamatkan aku, selamatkan dirimu sendiri.*
Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan Adrian mati karenaku untuk kedua kalinya.
Bram mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya, membukanya dengan bunyi klik yang mengerikan. Dia berlutut di samping Adrian, menekan pisau itu ke jari kelingking tangan kiri Adrian.
"Aku hitung sampai tiga, Aruna," teriak Bram ke kegelapan. "Satu..."
"Tunggu!" aku melangkah keluar dari persembunyianku, mengangkat kedua tangan. "Aku di sini. Jangan sakiti dia."
Bram menyeringai kemenangan. Dia berdiri, memberi isyarat pada penjaganya. Dua pria besar itu segera menangkapku, mencengkeram kedua lenganku dengan cengkeraman besi.
"Aruna, lari!" teriak Adrian, mencoba bangkit namun ditendang brutal oleh penjaga ketiga hingga jatuh kembali.
Bram berjalan mendekatiku dengan langkah santai, seolah dia punya semua waktu di dunia. Dia meraih daguku, memaksaku menatap matanya yang hitam legam.
"Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku tidak tahu kamu dan Adrian berkomplot?" dia tertawa rendah. "Sheila memberitahuku semuanya. Dia mengirimku pesan tiga jam lalu—memberitahu tentang rencanamu menyusup ke gudang ini. Aku sengaja membiarkanmu masuk, sengaja menangkap Adrian di luar sebagai umpan. Dan kamu, seperti wanita bodoh yang jatuh cinta, langsung muncul untuk menyelamatkannya."
Dia menampar pipiku—tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat kepalaku tersentak ke samping. "Sheila lebih pintar dari yang kukira. Dia tahu cara bermain di dua sisi. Dan sekarang, berkat pengkhianatannya yang kedua, aku punya kalian berdua."
Aku meludah darah ke wajahnya. "Kamu akan menyesal, Bram."
"Aku justru tidak sabar." Bram menghapus ludah di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap jam tangan mahalnya. "Sekarang pukul tiga sore. Bulan purnama mencapai puncaknya tengah malam nanti—sembilan jam lagi. Kalian berdua akan tinggal di sini sampai waktu itu tiba. Nikmati jam-jam terakhir kalian bersama."
Dia memberi isyarat pada penjaganya. Aku dan Adrian diseret ke sudut gudang, ditahan dengan borgol besi yang dikaitkan ke pipa air tua di dinding. Posisi kami bersebelahan—cukup dekat untuk berbisik, namun tidak cukup dekat untuk saling menyentuh.
Bram dan penjaganya meninggalkan gudang, mengunci pintu besi berat dari luar. Suara kunci berputar bergema seperti lonceng kematian.
Kesunyian menyelimuti kami. Hanya terdengar suara tetesan air dari atap yang bocor dan napas kami yang terengah.
"Kamu tidak seharusnya keluar," bisik Adrian akhirnya, suaranya serak. "Kamu bodoh, Aruna. Sangat bodoh."
"Aku tidak akan membiarkanmu mati," balasku keras kepala.
"Sekarang kita berdua akan mati!"
"Belum tentu." Aku mengangkat pergelangan tanganku yang masih memakai gelang perak. "Gelang ini masih aktif. Timmu tahu di mana kita."
Adrian menggeleng lemah. "Mereka merusak transmitter di gelangmu saat menangkapku. Aku melihat salah satu penjaga memukul pergelangan tanganku dengan alat perusak sinyal. Gelangmu sekarang hanya perhiasan biasa."
Harapan terakhir mati di dadaku. Aku merosot ke lantai dingin, merasakan berat keputusasaan yang familiar—perasaan yang sama saat aku mati di kehidupan pertamaku.
"Aku menemukan dokumen itu," bisikku setelah lama terdiam. "Dokumen tentang pembunuhan Ibu. Ayah... Ayah tahu, Adrian. Dia menerima uang untuk membiarkan Ibu mati."
Adrian menatapku dengan mata yang penuh empati. "Aku tahu. Aku menemukan dokumen yang sama setahun lalu. Tapi aku tidak bisa memberitahumu tanpa bukti fisik. Sekarang kamu sudah melihatnya sendiri."
"Kenapa?" air mata mengalir di pipiku. "Kenapa Ayah melakukannya? Dia mencintai Ibu..."
"Hutang," jawab Adrian pahit. "Lima puluh miliar rupiah adalah hutang yang bisa menghancurkan tiga generasi keluarga Wijaya. Ayahmu memilih mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan ratusan karyawan dan masa depan perusahaan. Pilihan yang egois dan bejat—tapi dia memilihnya."
Aku menangis dalam diam, membiarkan kebenaran yang pahit itu mengalir bersama air mata.
Jam berdetak perlahan. Cahaya sore berubah menjadi senja, lalu menjadi malam. Bulan mulai naik—bulan purnama yang besar dan merah seperti mata iblis yang mengintai.
Tepat pukul sebelas malam, pintu gudang terbuka. Bram masuk bersama seorang wanita tua yang mengenakan kain hitam dari kepala hingga kaki. Wanita itu—dukun yang sama yang pernah menyerangku di kamar—menatapku dengan mata putih pucatnya dan menyeringai memperlihatkan gigi hitam.
"Tumbal sudah siap, Nyai?" tanya Bram.
"Siap," jawab si dukun dengan suara yang seperti gesekan amplas. "Tapi ada dua jiwa di sini. Yang mana yang akan dipersembahkan?"
"Wanita itu," Bram menunjukku. "Yang pria... dia bonus. Bunuh dia setelah ritual selesai."
Dua penjaga memborgolku, menyeretku menuju altar batu. Aku memberontak, menendang, mencakar, namun kekuatan mereka jauh lebih besar. Mereka memaksaku berbaring di atas batu dingin itu, mengikat pergelangan tangan dan kakiku dengan tali tambang yang kasar.
"Aruna!" teriak Adrian, mencoba melepaskan borgolnya hingga pergelangan tangannya berdarah. "Jangan sentuh dia, sialan! Aruna!"
Bram berjalan ke arah Adrian, menendang perutnya brutal hingga Adrian terbatuk darah. "Diamlah dan saksikan. Saksikan wanita yang kamu cintai kehilangan segalanya."
Dukun itu mulai menyalakan lilin-lilin hitam di sekeliling altar. Asap yang berbau kemenyan dan daging busuk mengepul memenuhi ruangan. Dia mulai mengucapkan mantra dengan bahasa yang tidak kukenal—bahasa kuno yang membuat udara bergetar dan rambut di tengkukku berdiri.
Sheila dibawa masuk oleh penjaga lain—wajahnya yang hancur kini tertutup kain putih, tubuhnya dibalut jubah putih seperti mayat. Dia dibaringkan di lantai di samping altar, tepat di bawah cermin besar di dinding.
"Sekarang," ucap dukun dengan suara yang bergema, "kita mulai pertukaran. Jiwa yang cantik akan berpindah ke wadah yang rusak. Jiwa yang rusak akan larut dalam kekosongan."
Dia mengambil pisau ritual dari meja—pisau dengan gagang tulang dan bilah yang berkilau merah di bawah cahaya lilin. Dia mengiris telapak tanganku dengan cepat. Darah mengalir, menetes ke mangkuk perunggu yang dia letakkan di bawah tanganku.
Rasa sakit menusuk, namun bukan itu yang membuatku berteriak. Yang membuatku berteriak adalah sensasi aneh yang tiba-tiba muncul di telapak tanganku—sensasi panas yang membakar, seolah ada sesuatu yang tumbuh dari dalam dagingku.
Aku menatap telapak tanganku yang berdarah dengan mata melebar.
Di sana, di tengah luka sayatan, muncul sesuatu. Sesuatu yang hijau. Batang. Batang tanaman yang tumbuh dengan kecepatan tidak wajar dari dalam dagingku, merobek kulit, menerobos keluar.
Dukun itu terhenti, matanya yang putih melebar dengan shock. "Tidak... tidak mungkin... dia punya Seal of the Ancient Rose?!"
Batang itu terus tumbuh—satu sentimeter, lima sentimeter, sepuluh sentimeter—lalu di ujungnya, tunas muncul. Tunas yang membesar, mekar perlahan, memperlihatkan kelopak-kelopak yang berwarna merah darah.
Mawar. Mawar yang tumbuh dari dagingku sendiri.
Dan saat kelopak terakhir mekar sempurna, tepat pada detik mantra pertama dukun selesai diucapkan, mawar itu mulai mengeluarkan cairan. Bukan getah. Bukan nektar.
Darah.
Darah merah segar yang menetes dari setiap kelopak, mengalir di lenganku, membasahi altar batu, dan saat darah itu menyentuh simbol-simbol yang dilukis di lantai—simbol-simbol itu terbakar.
Api biru menyala di seluruh lingkaran ritual, api yang tidak membakar namun menerangi dengan cahaya yang menyilaukan.
Dukun itu mundur dengan wajah pucat—jika wajah yang sudah putih bisa menjadi lebih pucat. "Dia pembawa Curse Reversal! Dia yang mati dan kembali! Hentikan ritual sekarang atau kita semua akan—"
Terlambat.
Cermin besar di dinding retak—retakan yang menjalar dari tengah seperti jaring laba-laba. Dan dari dalam cermin itu, sesuatu mulai
merangkak keluar.
Tangan. Tangan pucat dengan kuku panjang. Tangan yang sangat kukenal.
Tangan Ibu.