Pembalasan Mawar yang Layu
Nafas Pagi yang Salah
Aku menahan napas saat jemari lentik Sheila nyaris menyentuh pergelangan tanganku. Aroma parfum lily of the valley miliknya yang biasanya menenangkan, kini tercium seperti bau bangkai yang disamarkan.
Di kehidupan sebelumnya, aku akan dengan senang hati menunjukkan apapun padanya, membiarkannya masuk ke dalam rahasia terkecilku. Tapi Aruna yang itu sudah mati membusuk di gudang.
"Hanya... kejutan kecil untuk Bram," ucapku, memaksakan nada bicara yang manja dan sedikit malu-malu. Aku mundur selangkah, menciptakan jarak yang cukup agar jimat di balik punggungku tetap tersembunyi. "Kamu tahu kan, aku ingin hari pertunangan ini sempurna. Aku sedang memeriksa apakah ada noda di kotak perhiasanku."
Sheila tertegun sejenak, matanya yang besar dan bulat memindai wajahku dengan rasa ingin tahu yang tak wajar.
"Oh, begitu? Kupikir kamu menemukan sesuatu yang aneh. Kamu terlihat... berbeda pagi ini, Kak. Matamu merah, apa kamu menangis?"
"Menangis karena bahagia," jawabku cepat, sambil berjalan menuju meja rias dan dengan gerakan kilat memasukkan jimat hitam itu ke dalam laci paling bawah yang terkunci. "Aku tidak menyangka hari ini akhirnya tiba. Aku akan menjadi tunangan pria paling hebat di kota ini."
Sheila tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya.
Di masa lalu, aku tidak pernah menyadari betapa dingin tatapannya setiap kali aku memuji Bram. Dia berjalan mendekat, mengambil sisir dari mejaku, dan mulai menyisir rambutku dengan gerakan yang seolah-olah penuh kasih sayang.
"Tentu saja. Kalian pasangan yang sangat serasi. Tapi Aruna, kamu harus ingat apa yang dikatakan ibuku dulu. Kebahagiaan yang terlalu besar seringkali menarik iri hati. Kamu harus tetap terlihat cantik, jangan sampai kelelahan."
Aku memandang pantulan wajahnya di cermin. Dia sedang menanamkan sugesti. Di kehidupan lalu, setiap kali dia mengatakan hal seperti ini, aku akan mulai merasa pusing dan tidak percaya diri. Itulah awal dari kutukannya—melemahkan mental sebelum menghancurkan fisik.
"Terima kasih atas perhatianmu, Sheila. Kamu memang sepupu yang paling baik," aku memutar tubuhku, menatapnya langsung. "Ngomong-ngomong, gaunmu cantik sekali. Merah darah... sangat cocok untukmu. Rasanya seperti melihat mawar yang siap mekar, atau mungkin... mawar yang baru saja menghisap nutrisi dari tanah di bawahnya."
Wajah Sheila menegang sesaat.
"Maksudmu?"
"Maksudku, kamu terlihat sangat segar hari ini. Kontras sekali denganku yang merasa sedikit... lesu," aku berpura-pura memijat pelipisku, memberikan umpan yang ingin dia dengar.
Melihat "kelemahanku", binar kemenangan muncul di mata Sheila. "Mungkin itu karena kamu terlalu gugup. Bagaimana kalau kamu minum teh herbal yang kubuatkan tadi? Ada di meja kecil di depan. Itu akan membuat aura kecantikanmu kembali memancar."
Aku tahu teh itu pasti sudah dicampuri sesuatu yang akan mempercepat reaksi jimat di bawah ranjangku. Di kehidupan sebelumnya, aku meminumnya dengan patuh dan berakhir pingsan di tengah upacara pertunangan, membuatku terlihat memalukan di depan seluruh keluarga Wijaya.
"Tentu, aku akan meminumnya nanti. Sekarang, bisakah kamu membantuku mengambilkan sepatu di ruang bawah? Aku merasa kaki ku sedikit bengkak, mungkin aku butuh ukuran yang lebih besar."
“Tentu. Akan aku ambilkan.”
Sheila keluar dari kamar dengan langkah ringan, aku segera bergerak.
Aku tidak membuang jimat itu. Membuangnya hanya akan membuat Sheila tahu bahwa aku telah menyadarinya.
Aku mengambil gunting kecil, memotong sedikit ujung jimat itu, dan meneteskan setetes cairan bening dari botol kecil yang selalu disimpan ayahku—penawar racun umum yang biasa digunakan di laboratorium farmasi keluarga kami.
Lalu, aku melakukan sesuatu yang lebih ekstrim.
Aku mengambil jepit rambut milik Sheila yang tertinggal di meja rias—jepit rambut yang masih memiliki beberapa helai rambut panjangnya yang tersangkut. Aku melilitkan rambut Sheila ke jimat hitam tersebut, membisikkan sumpah yang kupelajari dari rasa sakit kematianku.
"Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Darah dibalas darah, usia dibalas usia."
Aku mengembalikan jimat itu ke bawah ranjang, tapi kali ini aku meletakkannya tepat di bawah sisi tempat tidur di mana Sheila sering duduk setiap kali dia menemaniku mengobrol.
Pintu terbuka kembali. Bram masuk bersama ayahku. Melihat Bram, amarah di dadaku meledak bagai lava, tapi aku menekannya hingga tak bersisa di permukaan. Bram tampak sangat tampan dengan jas abu-abunya, senyumnya yang dulu kupikir adalah pelabuhan terakhirku, kini tampak seperti seringai iblis.
"Aruna, kamu cantik sekali," Bram melangkah maju, hendak mencium keningku.
Aku menolehkan wajah dengan halus, seolah-olah sedang merapikan anting-anting, sehingga ciumannya hanya mengenai udara. "Jangan sekarang, Bram. Riasanku baru saja selesai. Aku tidak ingin ada noda di wajahku sebelum kita turun ke bawah.
Ayah tertawa bangga. "Putriku benar, Bram. Hari ini dia harus sempurna."
Acara pertunangan dimulai di aula besar rumah kami.
Ratusan tamu undangan hadir.
Sheila berdiri di sampingku sebagai pendamping mempelai wanita. Dia terus-menerus memberikan perhatian yang berlebihan.
Namun, setiap kali dia menyentuh bahuku, aku bisa merasakan sensasi dingin yang merambat, dan anehnya, kali ini sensasi itu tidak menetap di tubuhku, melainkan memantul kembali ke arahnya.
Di tengah pidato ayah, aku melihat Sheila mulai gelisah. Dia terus menggaruk lehernya yang mulus. Bintik-bintik merah mulai muncul di kulitnya yang putih.
"Sheila, kamu kenapa?" bisikku dengan nada cemas yang dibuat-buat.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba terasa sangat gatal dan panas," bisiknya kembali, wajahnya mulai berkeringat.
Aku tersenyum tipis di dalam hati. Kutukan itu mulai mencari inang barunya karena jimat itu kini mengenali rambut Sheila sebagai bagian dari sasarannya.
Tiba-tiba, seorang pria masuk ke aula tanpa undangan. Kehadirannya membuat suasana yang riuh mendadak sunyi. Dia mengenakan setelan hitam pekat dengan aura yang begitu menekan hingga oksigen di ruangan seolah menipis.
Adrian Atmadja.
Pria yang di masa depanku akan menghancurkan perusahaan keluarga Wijaya hingga tak bersisa.
Adrian tidak menatap ayah, tidak juga menatap Bram yang mulai tampak gusar. Matanya yang tajam seperti elang langsung mengunci padaku. Dia berjalan lurus melewati kerumunan, berhenti tepat di hadapanku, dan mengabaikan Bram yang mencoba menghalangi jalannya.
Adrian membungkuk sedikit, aroma kayu cendana dan tembakau mahal tercium darinya. Ia mengambil tanganku, mencium punggung tanganku dengan dingin, lalu berbisik cukup keras hingga bisa didengar oleh Sheila dan Bram yang berdiri di dekatku.
"Selamat atas pertunanganmu, Aruna. Tapi saranku,
jangan terlalu bahagia. Kamu tidak tahu pria seperti apa yang akan kamu nikahi."