Pembalasan Mawar yang Layu
Sang Penyelamat Misterius
Rasa panas yang menjalar semakin membakar seperti besi panas yang ditekan paksa ke dalam daging.
Aku bisa melihat pantulan cahaya lampu kristal pada batu itu yang kini tidak lagi jernih, melainkan keruh dan menghitam, seolah-olah menyerap seluruh kebencian yang kusimpan.
Di bawah kulitku, garis-garis hitam halus terus merambat cepat. Kamera wartawan di depan panggung pun terus berkilat. Blitz yang menyilaukan itu terasa seperti serangan. Jika mereka memotret tanganku sekarang, besok seluruh negeri akan tahu bahwa Aruna Wijaya membawa kutukan atau penyakit aneh. Reputasi ayahku akan hancur, dan Bram akan memiliki alasan sempurna untuk menyingkirkanku lebih awal.
"Aruna? Ada apa dengan tanganmu?" Bram berbisik, suaranya mengandung nada panik yang tajam. Dia mencoba menarik tangannya, tapi aku justru menggenggamnya lebih erat, menyembunyikan jemariku yang menghitam di balik telapak tangannya yang besar.
"Jangan dilepaskan, Bram. Tersenyumlah pada kamera," desisku dengan gigi terkatup, menahan rasa sakit yang membakar hingga ke tulang.
Aku melirik ke arah balkon lantai dua. Adrian masih di sana, berdiri tegak seperti patung kegelapan. Dia tidak tampak terkejut. Sebaliknya, dia meletakkan gelasnya dengan gerakan yang sangat tenang dan mulai melangkah menuruni tangga dengan kecepatan yang terkontrol namun pasti. Matanya tidak lepas dari arahku. Dia seolah tahu bahwa "pertunjukan" ini membutuhkan interupsi.
Tiba-tiba, lampu di aula utama berkedip hebat. Suara letupan kecil terdengar dari sirkuit listrik di sudut ruangan—seperti petasan yang meledak dalam kotak logam—dan dalam sekejap, seluruh ruangan jatuh ke dalam kegelapan total. Teriakan kaget para tamu memenuhi udara. Gelas-gelas berjatuhan, pecah di lantai marmer.
Dalam kegelapan itu, aku merasakan sebuah tangan yang kuat dan dingin menarikku menjauh dari sisi Bram dengan satu sentakan cepat. Bau kayu cendana yang maskulin menyergap indra penciumanku.
Aku tidak perlu menebak siapa itu.
"Ikut aku jika kamu tidak ingin jarimu diamputasi," bisik Adrian tepat di telingaku, suaranya rendah dan mendesak.
Dia membawaku berlari menembus kerumunan yang panik. Tubuh-tubuh orang bertabrakan di sekitar kami, namun Adrian bergerak dengan presisi seperti predator yang mengenal setiap sudut wilayahnya.
Aku membiarkan dia menuntunku keluar melalui pintu rahasia di balik tirai panggung yang hanya diketahui oleh keluarga inti dan staf senior.
‘Bagaimana Adrian bisa tahu jalan ini?’
Pertanyaan itu tertelan oleh rasa sakit yang kini sudah mencapai siku tanganku, menjalar seperti racun yang lambat namun pasti.
Kami sampai di taman belakang yang sunyi, jauh dari kebisingan aula. Udara malam dingin menyambar kulitku yang berkeringat. Adrian membawaku ke tepi kolam air mancur tua yang airnya beriak tenang di bawah cahaya bulan. Di bawah sinar pucat itu, dia menarik tanganku dengan kasar namun hati-hati, memeriksanya seperti dokter yang memeriksa luka parah.
"Apa yang terjadi? Kenapa cincin ini..." Suaraku bergetar, tidak dari ketakutan, melainkan dari amarah yang membara.
Adrian tidak menjawab. Dia mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna biru safir dari saku jasnya dengan gerakan yang sudah terlatih—seolah dia memang sudah mempersiapkan ini. Dia menyiramkan cairan itu ke jari manisku tanpa peringatan. Seketika, asap putih berbau belerang mengepul dari kulitku. Sensasinya seperti es yang membakar. Rasa panasnya perlahan mendingin, dan garis-garis hitam di bawah kulitku mulai memudar, meski tidak hilang sepenuhnya. Bekasnya masih terlihat samar, seperti tato yang pudar.
"Bram tidak hanya ingin hartamu, Aruna. Cincin ini sudah 'diberkati' oleh seseorang yang bekerja untuknya. Itu adalah penanda," ucap Adrian, matanya menatap tajam ke arah cincin yang kini kembali jernih namun menyisakan noda kecil di tengahnya seperti titik hitam di mata manusia. "Jika kamu memakainya, dia bisa melacak keberadaanmu, bahkan mungkin mengendalikan emosimu. Membuatmu patuh seperti boneka."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungku yang mengamuk. "Jadi dia sudah merencanakan ini bahkan sebelum pertunangan? Pria itu benar-benar iblis."
"Iblis yang kau pilih untuk menjadi tunanganmu," sindir Adrian dengan nada yang menusuk. Dia melepaskan tanganku, tapi matanya tetap terpaku pada wajahku, menganalisis setiap ekspresi yang muncul. "Kenapa kamu tidak melawannya di atas panggung tadi? Kamu punya banyak kesempatan untuk mempermalukannya."
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Adrian sedikit mengernyit—seperti dia tidak yakin harus waspada atau tertarik.
"Mempermalukannya terlalu mudah, Tuan Adrian. Aku ingin dia hancur perlahan, kehilangan segalanya—harga dirinya, hartanya, dan akhirnya... kewarasannya. Seperti bagaimana dia menghancurkanku di kehidupan... (sebelumnya)." Kata terakhir itu hampir terlepas dari bibirku, namun aku menahannya tepat waktu. "Jika aku menghancurkannya sekarang, aku hanya akan menjadi mantan tunangan yang malang. Aku ingin lebih dari itu."
Adrian terdiam sejenak. Ada secercah kekaguman yang berusaha dia sembunyikan di balik tatapan dinginnya. Rahangnya mengeras. Dia maju selangkah, membuatku terdesak ke pinggiran kolam air mancur. Batu dingin di tepi kolam menekan punggungku. Tangannya terangkat, mengusap bekas hitam yang tersisa di pergelangan tanganku dengan ibu jarinya—sentuhan yang mengejutkan lembut untuk pria sedingin dia.
"Kamu bermain dengan api yang sangat besar, Aruna. Dan di permainan ini, aku bukan penonton yang sabar," bisiknya rendah, suaranya bergetar di udara malam. "Bram sedang mencarimu sekarang. Jika dia melihatmu bersamaku di sini, rencanamu akan berantakan sebelum dimulai."
"Lalu kenapa Anda membantuku?" tanyaku, menatap langsung ke dalam matanya yang gelap seperti jurang tanpa dasar.
Adrian tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan intensitas yang membuat napasku tercekat—seperti dia sedang berjuang dengan sesuatu di dalam dirinya sendiri. Ada pertanyaan yang tidak terucap di sana, ada keputusan yang belum diambil.
Tiba-tiba, dia menarikku ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang dan hangat tepat saat pintu kaca taman terbuka dengan kasar—bunyi gesekan keras yang memecah kesunyian malam.
Bram berdiri di sana dengan napas terengah-engah, kemeja putihnya sedikit kusut, memegang senter ponsel yang sinarnya menyambar ke arah kami berdua yang sedang berpelukan erat di bawah bayang-bayang pohon besar. Cahaya itu menerangi kami seperti sorot tembakan di kegelapan.
"Aruna? Siapa itu yang bersamamu?" teriak Bram dengan suara yang dipenuhi kecemburuan dan kemarahan murni.
Tanganku yang masih membawa sisa kutukan hitam itu tanpa sengaja menyentuh jas mahal Adrian. Kain sutra itu langsung meninggalkan noda hangus yang mulai mengeluarkan asap tipis—seperti kertas yang terbakar perlahan.
Bram semakin mendekat dengan langkah berat penuh amarah, namun Adrian tidak melepaskan pelukannya. Sebaliknya, dia justru memelukku lebih erat, melindungiku dengan tubuhnya yang besar, seolah menantang Bram untuk melangkah lebih dekat.