Pembalasan Mawar yang Layu

Peralihan Kuasa

Tanganku yang menggenggam ponsel gemetar hebat. Video itu terus berputar secara otomatis di kepalaku, meski layarnya sudah gelap. 

 

Pemandangan Bram dan Sheila yang saling membelai di gudang tua itu terasa seperti siraman air es yang membekukan seluruh sarafku. 

 

Di kehidupan sebelumnya, aku adalah si buta yang menolak melihat kenyataan, namun kini, kebenaran itu disodorkan tepat di depan mataku dalam resolusi tinggi.

 

"Kafe Nocturne, jam tiga sore," bisikku pada diri sendiri. Inisial 'A' itu tidak perlu kutebak lagi. Hanya ada satu pria yang cukup gila dan cukup berkuasa untuk mendapatkan rekaman dari properti pribadi keluarga Dirgantara dalam waktu singkat. 

 

Adrian.

 

Aku segera memutar kunci mobil dan menginjak pedal gas. Pikiranku berkecamuk. Mengapa Adrian melakukan ini? Apakah ini bentuk "bantuan" yang dia tawarkan semalam? Atau dia sedang memasang jerat lain untuk menarikku masuk ke dalam dunianya yang gelap?

 

Kafe Nocturne terletak di sudut kota yang tenang, tersembunyi di balik barisan pohon mahoni tua. Tempat ini dikenal sebagai titik temu bagi para elit yang menginginkan privasi mutlak. 

 

Saat aku melangkah masuk, denting lonceng di atas pintu menyambutku dengan suara yang jernih. Aroma kopi yang pekat dan kayu ek menyelimuti ruangan yang remang-remang.

 

Adrian duduk di sudut paling belakang, di balik meja marmer hitam yang tersembunyi oleh bayangan. Dia mengenakan kemeja hitam tanpa dasi, kancing atasnya terbuka, memberikan kesan santai namun tetap berbahaya. Matanya yang tajam langsung mengunci pergerakanku sejak aku melewati ambang pintu.

 

"Tepat waktu," ucapnya tanpa basa-basi saat aku menarik kursi di hadapannya.

 

Aku meletakkan ponselku di atas meja dengan layar menghadap ke atas. "Dari mana Anda mendapatkan ini, Mr. Adrian?"

 

Adrian menyesap espresonya perlahan, matanya tidak pernah lepas dariku. "Gudang itu mungkin milik keluarga Dirgantara secara hukum, tapi sistem keamanannya dikelola oleh sub-kontraktor yang... katakanlah, berhutang budi padaku. Bram terlalu ceroboh untuk seseorang yang sedang mencoba mencuri kerajaan bisnis."

 

"Kenapa Anda memberikannya padaku? Anda bisa saja menggunakan ini untuk menghancurkan Bram di bursa saham pagi ini," tanyaku, mencoba mencari motif di balik tindakannya.

 

Adrian meletakkan cangkirnya. Dia condong ke depan, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang maskulin dan dingin. 

 

"Menghancurkannya di bursa saham hanya akan membuat Wijaya Group ikut terseret jatuh. Aku tidak ingin melihat perusahaan ayahmu hancur karena skandal perselingkuhan murahan. Aku ingin melihat kamu yang menghancurkannya, Aruna."

 

Aku terdiam. Ada intensitas yang menyesakkan dalam suaranya.

 

"Video itu baru permulaan," lanjut Adrian. Dia mengeluarkan sebuah map cokelat tipis dari bawah meja dan menyodorkannya padaku. "Bram telah memindahkan dana operasional Wijaya Group ke perusahaan cangkang di luar negeri selama enam bulan terakhir. Dia menggunakan Sheila sebagai jembatan untuk menandatangani dokumen-dokumen palsu tersebut."

 

Aku membuka map itu dengan cepat. Mataku membelalak melihat angka-angka yang tertera. Bram bukan hanya mengkhianatiku secara emosional, dia sedang merampok keluargaku secara sistematis. Total dana yang dialihkan mencapai puluhan miliar rupiah.

 

"Dia berencana membuat Wijaya Group tampak bangkrut secara teknis tepat setelah pernikahan kalian, sehingga dia bisa membeli kembali sahamnya dengan harga murah menggunakan uang yang dia curi," jelas Adrian.

 

Rasa mual naik ke tenggorokanku. Di kehidupan masa laluku, inilah yang terjadi. Ayah terkena serangan jantung karena kebangkrutan mendadak, dan aku berakhir menjadi tawanan Bram karena tidak punya apa-apa lagi. Ternyata, arsitek di balik semua penderitaanku adalah pria yang saat ini sedang menyiapkan pesta pernikahan mewah untukku.

 

"Lalu, apa rencana Anda?" tanyaku, menatap Adrian dengan saksama.

 

"Bukan rencana-ku, tapi rencana-kita," Adrian menekankan kata 'kita'. "Aku punya akses untuk memblokir perusahaan cangkang itu, tapi aku butuh tanda tangan direktur operasional yang sah. Dan menurut struktur organisasi yang baru diubah ayahmu pagi ini, direktur itu adalah... kamu."

 

Aku tersentak. Jadi Ayah benar-benar melakukannya. Kegagalan Sheila semalam membuat Ayah kehilangan kepercayaan padanya dan memindahkan posisi itu kepadaku. 

 

Adrian sudah memprediksi ini.

 

"Jika aku menandatanganinya, apa yang akan terjadi pada Bram?"

 

"Dia akan terjebak. Uang yang dia pindahkan akan membeku, dan dia tidak akan bisa membayar vendor-vendor besar yang sudah dia kontrak atas nama Wijaya Group. Dia akan berhutang pada perusahaanmu sendiri. Dan saat itulah, kamu bisa mendepaknya dengan tuduhan penggelapan," Adrian menyandarkan punggungnya, sebuah senyum tipis—hampir tak kentara—muncul di bibirnya.

 

Aku menatap dokumen di depanku. Ini adalah senjata pemusnah massal bagi Bram. Namun, aku teringat sesuatu. 

 

"Cairan biru semalam... dan noda hitam di pergelangan tanganku. Apa itu sebenarnya? Anda seolah tahu apa yang akan terjadi padaku."

 

Ekspresi Adrian berubah sedikit lebih serius. "Aku tidak tahu tentang sihir atau apa pun yang kau pikirkan, Aruna. Tapi aku tahu Bram memiliki koneksi dengan orang-orang dari 'dunia bawah' di perbatasan. Aku hanya berjaga-jaga. Cairan itu adalah penetral kimia untuk zat pelacak yang sering digunakan mereka. Mengenai noda hitam itu... mungkin itu reaksi alergi terhadap zat di cincinmu."

 

Aku tahu dia berbohong tentang 'tidak tahu', tapi aku membiarkannya. Untuk saat ini, kami memiliki musuh yang sama.

 

"Baiklah. Aku akan melakukannya," kataku sambil mengambil pulpen yang disodorkan Adrian, lalu menandatangani dokumen itu dengan tangan yang kini stabil. 

 

Dendam memberi ku kekuatan yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.

 

"Pilihan yang bagus," Adrian mengambil kembali map coklat berisi dokumen yang baru saja ku tandatangani. Ia menyimpannya dengan gerakan efisien, seolah baru saja menyegel nasib Bram di dalam sana. "Sekarang, kembalilah ke rumah. Berpura-puralah tidak tahu apa-apa. Biarkan Bram merasa dia masih memegang kendali. Minggu depan, saat rapat pemegang saham, kita akan memberikan kejutan ulang tahun yang tidak akan pernah dia lupakan."

 

Aku bersiap untuk berdiri dan pergi, namun Adrian menahan pergelangan tanganku. Sentuhannya terasa hangat, kontras dengan kedinginan yang terpancar dari matanya. Ia tidak langsung melepaskanku, melainkan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang berkilau redup.

 

Sebuah koin perak kuno dengan ukiran mawar yang layu di satu sisi, dan simbol geometris rumit di sisi lainnya.

 

"Ambil ini," ucap Adrian rendah, meletakkan koin itu di telapak tanganku.

Aku mengerutkan kening, merasakan berat koin yang tidak biasa. "Apa ini? Pembayaran di muka?"

 

Adrian tidak tersenyum. Tatapannya mendadak menjadi sangat serius, hampir terlihat seperti sebuah peringatan. "Bram bukan hanya bermain dengan angka dan saham, Aruna. Dia terobsesi dengan hal-hal yang tidak masuk akal untuk menyingkirkan hambatan. Aku pernah mendengarnya mengunjungi seorang wanita tua di pinggiran kota yang dikenal karena 'praktik gelapnya'."

 

Aku tertegun. Jadi Adrian tahu tentang sisi gelap Bram, meski mungkin dia menganggapnya sebagai takhayul.

 

"Koin ini berbahan perak murni dengan kadar tinggi," lanjut Adrian dengan suaranya nyaris berbisik. "Secara sains, perak adalah konduktor energi yang luar biasa. Secara tradisi... banyak yang percaya perak bisa menetralisir niat buruk yang dikirim secara non-fisik. Simpan ini di saku atau genggam jika kamu merasa udara di sekitarmu mendadak berubah menjadi dingin atau berbau busuk. Anggap saja ini sebagai asuransi tambahan selain pengawal yang akan kukirim ke rumahmu."

 

Aku menatap koin itu, teringat bau busuk saat aku mati di kehidupan sebelumnya. 

 

"Anda percaya pada hal-hal seperti itu, Mr. Adrian?"

 

"Aku percaya bahwa manusia yang putus asa akan melakukan cara-cara gila untuk menang," jawabnya dingin. "Dan Aruna... jangan pernah membiarkan Bram menyentuhmu lagi. Sedikit pun. Cairan penetral yang kuberikan semalam hanya bertahan sementara jika terpapar 'energi' yang sama berulang kali."

 

Aku mengangguk, merasakan koin itu seolah berdenyut pelan di genggamanku. Aku keluar dari kafe dengan perasaan yang jauh lebih ringan, namun tetap waspada. Kemenangan sudah di depan mata.

 

Sesampainya di rumah, suasana terasa sangat sunyi. Ayah pergi ke kantor, dan para pelayan sedang sibuk di area belakang. Aku berjalan menuju kamarku, namun langkahku terhenti saat mendengar suara bisikan dari kamar Sheila yang pintunya sedikit terbuka.

 

Aku mendekat dengan sangat pelan, menahan napas.

 

"Sabar, Sheila. Aruna tidak tahu apa-apa. Segera setelah pernikahan, wajahmu akan kembali cantik. Aku sudah menyiapkan ritual yang lebih besar. Kita hanya butuh setetes darahnya lagi di malam bulan purnama lusa," itu suara Bram.

 

"Tapi aku tidak tahan, Bram! Wajahku terasa seperti terbakar setiap kali aku melihatnya!" rengek Sheila, suaranya teredam oleh perban.

 

"Hanya lusa, Sayang. Setelah itu, dia akan menjadi mayat hidup yang membusuk di gudang, dan seluruh dunianya akan menjadi milik kita," suara Bram terdengar penuh nafsu dan kebencian.

 

Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menancap ke telapak tangan. Mereka benar-benar tidak sabar untuk membunuhku lagi.

 

Tiba-tiba, ponsel di kantongku bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul dari sistem keamanan kamar pribadiku yang baru kupasang tadi pagi secara rahasia. Seseorang sedang berada di dalam kamarku.

 

Aku segera berlari menuju kamarku dan membukanya dengan kasar. 

 

Di sana, di depan meja riasku, berdiri seorang wanita tua dengan pakaian serba hitam yang tidak kukenal. Dia sedang memegang foto ibuku yang sudah meninggal, dan di tangannya yang lain, terdapat sebuah jarum panjang yang ditusukkan tepat ke arah mata fotoku dalam bingkai tersebut.

 

Wanita itu menoleh padaku, matanya putih pucat tanpa pupil, dan dia menyeringai lebar hingga memperlihatkan deretan gigi yang hitam runcing sementara jimat hitam di bawah ranjangku tiba-tiba bergetar hebat hingga tempat tidurku terangkat beberapa senti dari lantai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!