Pengorbanan Cinta David
Berbagi Dengan Tetangga
"Terima kasih banyak Nak, maaf kakek tidak bisa memberikan kalian apa-apa biarkan Allah yang akan membalas kebaikan kalian semua," ujar Efendi seraya menengadahkan kepalanya ke atas dia bersyukur kepada Allah yang telah mengirim pertolongan untuknya lewat tiga pamuda ini.
"Aamiin," sahut David dan dua temannya itu secara bersamaan. "Kita pamit pulang dulu ya kek, dan ini saya ada sedikit uang mungkin bisa membantu kakek." David dengan baik hatinya memberikan kakek Efendi uang senilai 300 ribu dengan dilipatnya.
Melihat kebaikan David membuat Hamdan dan Alex tersenyum senang, mereka menyadari sisi lain dari David dan betapa beruntungnya dia memiliki teman seperti David yang kaya namun tidak sombong terlihat jiwa sosial dalam diri David.
"Alhamdulillah terima kasih, ya Allah kau telah memberikan saya rezeki lewat anak muda ini." Mendapat uang yang begitu besar dari David membuat Efendi langsung bersyukur serta melantunkan doa dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Terima kasih banyak ya Nak, semoga Allah membalas kebaikan kamu," lanjut Efendi seraya menatap David penuh rasa senang.
Kakek Efendi memegang tangan David seraya ingin mencium namun David menolaknya dengan sopan.
"Eh tidak apa-apa kek, saya ikhlas memberikannya," sergah David yang masih menggenggam tangan kakek Efendi.
"Saya harus pergi kek teman-teman saya mau pergi ada urusan, saya pamit ya kek." David pun melepaskan tangan sang kakek dengan pelan.
Hamdan kembali melangkah mendekat sang kakek, "Kita pamit ya kek semoga kakek selalu diberikan kesehatan sama Allah."
"Iya semoga kakek bisa menemukan pekerjaan yang lain yang lebih mudah di usia kakek yang seperti ini fisik akan cepat merasa capek," sahut Alex yang ikut berpamitan dia sedikit memberikan saran untuk kakek itu.
Setelah selesai berpamitan mereka pun kembali ke tempat mereka memarkirkan motornya.
Hamdan merangkul bahu David. "Di bulan ini lo telah melakukan suatu kebaikan yang semoga saja niat baik lo diterima oleh sang kuasa," ujarnya dengan penuh harap bagaimana pun dia sangat menginginkan temannya ini bisa memeluk agamanya namun tentu saja dia tidak bisa memaksakan hal itu kepada David.
"Banyak pelajaran yang gue ambil dari menolong kakek itu Dan, Lex dan lo lihat sendiri kan perjuangan kakek itu selama ini membuat gue tersentuh," ungkap David yang pikirannya kini telah merekam kisah hidup kakek Efendi dalam pikirannya begitu besar perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukannya.
Mendengar itu Alex lantas mengacak-acak rambut David dengan gemas, "Gue senang punya teman kaya lo Dav!" serunya.
"Thanks juga mau ikut membantu kakek tua itu." David tersenyum menatap ke dua temannya itu yang berada di sisi kanan dan kirinya.
Saat sampai di tempat mereka memarkirkan motor mereka pun segera bergegas pulang arah jalan pulang David yang berbeda sendiri. Jadi saat berada di pertigaan jalan mereka terpisah begitu saja dengan kecepatan David membawa motornya membelah jalan kota Jakarta bagian timur dia sudah memasuki perumahan dan gang sempit yang akan menuju rumahnya sendiri.
David melihat mobil yang baru saja masuk ke dalam rumahnya entah siapa yang berada di dalamnya.
"Wah Den David sudah pulang juga," ujar Pak Bayu yang akan menutup gerbang namun tidak jadi karena melihat motor David.
David menundukan kepalanya menanggapi ucapan Pak Bayu, dengan cepat motor David masuk ke perkarangan rumahnya dia melepaskan helmnya dan melihat seseorang yang sudah turun dari mobil hitam sport itu.
"Mamah?" pekik David pelan saat Mamahnya menoleh ke arahnya padahal dia menduga itu adalah Papahnya yang baru pulang kerja.
Tanpa basa-basi Anggelia masuk ke dalam rumahnya begitu pun David yang langsung turun dari motornya, tubuhnya terasa pegal dia berniat untuk langsung tidur setelah ini.
Saat David ingin menaiki tangga langkahnya berhenti seketika mendengar panggilan Mamahnya.
"David, Mamah mau nanya sesuatu sama kamu apakah kamu sedang berpuasa sekarang ini?" ujar Anggelia pelan seakan-akan sedang berbisik tatapannya memandang David tajam.
Dengan embusan napas
David mengembuskan napasnya pelan kakinya kembali diturunkan yang sebelumnya sudah naik di tangga, "Iya Mah, apa Mamah tidak percaya dengan David?"
Setelah mendapatkan kepastian dari anaknya Anggelia lantas langsung menganggukan kepalanya, "Ya sudah sana istirahat apa perlu Mamah buatkan bukaan untukmu?"
"Tidak perlu Mah, nanti David akan berbuka dengan teman-teman." David menyahut sebelum kembali berjalan menaiki tangga meninggalkan Mamahnya yang masih diam terpaku.
Melihat kelakuan David tentu membuat Anggelia terkejut anaknya itu mulai berubah dia jadi senangnya melihatnya selama ini dia tidak pernah melarang anaknya dalam bergaul karena anak laki-laki biasanya butuh kebebasan dan penyesuaian terhadap lingkungannya dia hanya bisa memantaunya serta memberikan nasehat-nasehat.
Sesampainya di kamar David langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur, dia menggantungkan tasnya di gantungan serta jas almamaternya sebelum terlelap dalam tidur siangnya.
Anggelia keluar rumah untuk mencari sayuran dan betapa beruntungnya dia yang langsung menemukan tukang sayur yang sedang pangkal di depan pos ronda sebrang rumahnya.
"Eh ada Anggel," sapa Wilda ketika melihat kedatangan teman barunya itu.
"Oh ini toh orangnya yang menepati rumah gedung itu!" tukas Virda baru bertemu dengan Anggelia.
Mendengar ucapan para tetangganya Anggelia hanya mengulas senyum pada bibirnya, "Iya semoga kalian senang ya dengan kedatangan keluarga saya di komplek ini!"
Wilda menepuk bahu Anggelia pelan, "Ettdah tidak apa-apa kita semua senang kok punya teman baru ya kan?" katanya yang melirik Virda dan Ibu-ibu yang lainnya.
Lagi-lagi Anggelia tersenyum, "Bang ada tonge dan bunga kolnya?" katanya seraya mencari sayuran yang disebutkannya tadi.
"Duh tongenya habis Bu, kalau bunga kolnya ada tuh sama sayum asem!" ujar si Tukang sayur sembari mengambilkan sayuran yang dicari pembelinya lalu memberikannya kepada Anggelia.
"Oh togenya sudah habis ya Bang? ya sudah saya beli yang ini saja deh." Anggelia mengulurkan sayuran yang telah dipilihnya.
Banyak tatapan dari Ibu-ibu membuat Anggelia sedikit canggung untung saja mereka tidak banyak berbicara seperti yang sering dia baca dalam sebuah majalah kalau Ibu-ibu suka merumpi salah satunya ketika membeli sayuran.
"Bu Anggel asli orang mana?" tanya Ibu-ibu yang mempunyai rambut ikal dan berkulit coklat sawo.
"Mamah saya asli orang Indonesia tetapi saya lahir di Eropa dan suami saya orang Singapura kami dipertemukan dalam acara bisnis saat itu heheh," ungkap Anggelia ketika mengingat kembali kejadian waktu pertama kali dia dipertemukan dengan suaminya.
Wilda tersenyum mendengar cerita itu, "Nanti kalau ada waktu main saja ya Jel ke rumah jangan malu-malu kita kan tetangga dekat."
"Eh kamu mau ikutan arisan enggak bareng kita? insya Allah menjelang lebaran kita akan mengadakan arisan Ibu-ibu kalau mau nanti saya tambahkan," ujar Virda saat itu memegang uang arisannya.
"Hemm ... saya bilang suami saya dulu deh Ibu-ibu soalnya saya takut kena omel kalau tidak izin ya kan?" Anggelia terkekeh.
"Hehe iya benar Bu suami saya juga sudah tahu kalau kita mengadakan arisan," sahut Ibu-ibu yanh bernama Jenika terlihat heboh saat berbicara.
"Ya sudah saya pulang duluan ya! takut kesorean kan mau pada buka puasa," kata Wilda sembari tersenyum.
Saat itu Ibu-ibu yang lain pun pada pulang karena harus masak untuk buka puasa Anggelia jadi ingat David yang sedang menjalankan ibadah puasa juga namun anaknya itu tidak mau berbuka di rumah karena ada janji dengan teman-temannya.
Namun, apa alasan utama David tidak mau berbuka puasa di rumah? yuk geser saja langsung untuk dapat mengetahui kelanjutan ceritanya.