Pengorbanan Cinta David

Kriteria Suami Dinda

Setelah mendengar pencerahan dari ustad Syakir membuat David tersentuh dia masih bimbang dengan hatinya, selama ini hidupnya selalu diatur oleh kedua orang tuanya hingga saat dia tumbuh dewasa hatinya bertanya-tanya akan siapa jati dirinya dan apa tujuannya hidup pada saat dia memutuskan untuk ikut pindah rumah bersama kedua orang tuanya meninggalkan masa lalunya yang kelam.

 

"Bagaimana Dav? apakah lo puas dengan jawabannya," ujar Hamdan saat mereka sudah keluar dari ruangan ustad Syakir.

 

Selama ustad Syakir memberikan penjelasan Hamdan dan Alex diam begitu pun dengan David yang nampak berpikir keras berusaha memahami apa yang dikatakan oleh dosen agamanya itu.

 

"Gue senang banget lo Dav saat dengar lo mau belajar mengaji jujur saja gue kalau disuruh Bapak gue ngaji kabur, malu sudah besar tapi lo subhanullah banget," terang Alex terkagum-kagum dia memandang David dengan lekat.

 

Wajah David masih menampakan bahwa dia sedang berpikir, "Ah lo lebih baik dari pada gue Lex bagaimana pun itu, thanks ya bro! kalian sudah ngantarin gue ke orang yang tepat, gue pulang duluan!"

 

David pun berjalan pergi meninggalkan ke dua temannya yang kini sedang menatapnya dengan penuh rasa simpati, Hamdan yakin jika David bisa menemukan jati dirinya tanpa ada paksaan darinya atau tuntunan selama ini dia berteman dengan baik karena saling menghargai toleransi.

 

Di parkiran David melihat Dinda penampilannya sungguh menawan akankah dia bisa menalukan hati Dinda yang dikenal sebagai seorang perempuan anti berpacaran membuat David tidak percaya akan berita yang beredar itu.

 

"Hay Dinda!" sapa David dengan memberanikan diri mendekati Dinda.

 

Dinda tampak terkejut melihat siapa yang menyebut namanya, "Eh David ada apa?" tanya Dinda lembut.

 

Diberi pertanyaan seperti itu membuat David bingung, lantaran dia sendiri tidak tahu akhirnya otaknya mulai berpikir mencari jawaban yang tepat, "Hemm gini Din gue mau nanya sesuatu sama lo, kalau misalkan ada anak cowok yang suka sama lo bagaimana?"

 

Deg, jantung Dinda berdebar-debar mendengar ucapan David yang membuat dirinya mati rasa, "Maksudnya gimana nih?"

 

Lama menunggu respon Dinda eh malah minta diulang seakan-akan tidak mengerti apa yang dia katakan atau mungkin pura-pura tidak mengerti, gumam David. "Iya kalau misalkan ada cowok yang suka sama lo bagaimana Din?" tanyanya untuk yang ke dua kalinya.

 

"Heem bagaimana ya?" Dinda melirik ke atas seraya sedang berpikir hal itu membuat David gemas dengan Dinda, "Ya mengapa dia tidak mengatakannya langsung kepada saya kalau suka biar dia sendiri mendengar bagaimana jawaban saya," sahut Dinda dengan santai.

 

"Oh gitu berarti orangnya harus datang langsung gitu ya?" David tersenyum senang mendengar ucapan Dinda yang dia sendiri setuju sama apa yang dikatakan oleh cewek itu.

 

Dinda menganggukan kepalanya dan tersenyum, dia sudah tidak merasa malu dengan David sebab semalam Umminya habis bercerita tentang David yang melaksanakan puasa syaban dengan niat untuk mensyukuri nikmat Tuhan.

 

"Kalau boleh tahu apa krateria cowok idaman lo Din?" kata David lebih lanjut, David memang tidak suka dengan hal bertele-tele jika ingin tahu tanyakan!

 

Lagi-lagi Dinda dibuat terkejut dengan pertanyaan David yang seakan-akan sedang mencaritahu tentang dirinya, "Ada apa sih kok tumben kamu nanyanya gitu Dav?"

 

"Ya tidak apa-apa gue hanya ingin tahu saja soalnya gue dengar ada yang suka sama lo wkwkw," ujar David sembari terkekeh dia sengaja tidak menyebutkan siapa orangnya.

 

Dinda mengalihkan pandangannya mencari sahabatnya itu yang tak kunjung datang hingga akhirnya dia bertemu dengan David di sini, "Yang pastinya ya Dav, dia beragama islam, laki-laki yang bertanggung jawab, sayang keluarga, dan bisa membimbing saya jalan menuju jannah-Nya," jelasnya.

 

Mendengar jawaban Dinda membuat David diam tak berkutik, krateria laki-laki yang disebutkan sama Dinda jelas tidak ada padanya membuat David hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya mengerti.

 

"Dinda, sorry ya telat gue tadi dipanggil Bu Rena ke ruangannya," seru Najma sahabat Dinda yang tak kalah cantinya dengan Dinda sendiri, penampilannya pun sama-sama terlihat anggun dengan hijab yang menutupi kepalanya.

 

Pandangan Najma beralih ke arah David dia kaget sekaligus heran sebab tidak biasanya Dinda berbicara dengan laki-laki apalagi yang baru dikenalnya apalagi tadi dia sempat melihat Dinda yang tersenyum kepada cowok itu.

 

Lalu pandangan Najma beralih ke Dinda, "Siapa dia Din?" tanyanya.

 

Dinda terkekeh, "Kenalkan Najma dia David mahasiswa pindahan jurusan menagement bisnis dia seangkatan dengan kita loh dan David itu tetangga aku, tanah kosong di samping rumahku dulu kini sudah dibangun dan jadi rumahnya," jelasnya tanpa ada yang disembunyikan, Dinda memang selalu menceritakannya kepada Najma sahabat yang amat dia percayai.

 

"Saya David Nathantion," ujar David sembari mengulurkan tangannya.

 

Sedangkan Najma menangkupkan ke dua tangannya di depan dada, "Saya Najma Sholeha jurusan akutansi keuangan," sahutnya sembari tersenyum.

 

Melihat uluran David yang diabaikan oleh Najma membuat Dinda merasa tidak enak hati kepada David, "Sorry Dav laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya dilarang bersentuhan kulit," terangnya dengan tersenyum tangan kirinya menyenggol lengan Najma agar tidak banyak omong terlebih dahulu.

 

David menarik kembali tangannya dan menarik bibirnya membentuk senyuman yang amat tipis, "Oh maaf Najma saya tidak tahu," katanya.

 

"Iya tidak apa-apa Dav, ya sudah saya pulang duluan ya!" seru Dinda yang langsung menghentikan percakapan di antaranya yang sudah berlangsung cukup lama.

 

"Hati-hati di jalan!" pakik David seraya mengangkat tangan kanannya dia juga tersenyum kepada Dinda.

 

Sebelum benar-benar pergi Dinda membalas senyuman David sebentar lalu dia menarik tangan Najma untuk bergegas pergi meninggalkan David yang masih diam terpaku di tempatnya.

 

Ya David sedang menahan malu sebab kejadian tadi betapa bodohnya dia tidak tahu akan hal itu, 'Aakhh ... apa harus gue belajar agama saja supaya bisa mengerti semua aturan itu?' protesnya.

 

Kelapa David terasa pening dia memohon ampun kepada Tuhannya agar bisa sedikit menahan emosinya setelah merasa tenang David pun menaiki motornya untuk bergegas pulang dan bisa beristirahat namun sebelum itu dia ingin mampir ke bookstore untuk membeli buku bacaan karena besok akan dilaksanakannya UTS.

 

"Mau mencari apa anak muda?" ujar seorang laki-laki tua itu kepada David yang baru saja masuk.

 

David menyela rambutnya dengan jemari tangannya, "Apa ada buku yang menjelaskan tentang aturan agama islam Pak saya mau beli itu," katanya.

 

Laki-laki tua itu mengerti apa yang diinginkan David sehingga langsung memberikan dua buku yang salah satunya adalah 'Pedoman ibadah' dan 'Peraturan hidup dalam islam'

 

"Wahh terima kasih banyak Pak sepertinya ini sangat pas untuk saya." David tersenyum puas karena telah menemukan buku yang pas untuknya belajar mengetahui aturan apa saja yang ditetapkan dalam islam sehingga dia bisa menemukan jati dirinya dari sana.

 

"Dan saya juga mau minjam buku paket ini Pak tolong totalin ya semuanya!" ujar David seraya memberikan semua buku ya dia pilih tadi sesuai dengan materi yang telah dipelajarinya.

 

Perlahan namun pasti David akan menemukan jalannya, mari dukung terus David agar segera masuk islam teman-teman jangan lupa koment ya apakah Dinda juga menyukai David yang jauh dari kreterianya sebagai cowok idaman yang akan menjadi calon imamnya kelak.

 

#Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan, mohon bijak dalam berkomentar :)

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!