Pengorbanan Cinta David
Perjalanan David Dimulai
'Duh gue rasa ada sesuatu yang salah deh,' gumamnya sambil terus melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Terlihat Papah dan Mamahnya yang sedang duduk di sana dengan sedikit bergegas David menghampiri ke dua orangtuanya itu yang sedang makan cemilan meski sesekali memainkan ponselnya.
"Malam Mah, Pah!" seru David bersalaman kepada ke dua orangtuanya, kebiasaan itu David lakukan sejak dia tinggal di Jakarta yang mana semua orang melakukan hal tersebut jika bertemu.
Nathan memandang anaknya itu, "Dari mana kamu sudah beberapa minggu ini kamu selalu keluar tanpa memberitahu Mamahmu terlebih dahulu, tidakkah kamu menghormatinya David?"
Sudah David duga Papahnya pasti mengetahui kepergiannya, haruskah dia katakan bahwa selama ini dia selalu pergi ke rumah Hamdan atau sekadar mencari menikmati malam dengan menelusuri kota Jakarta? Haruskah David jujur bahwa dia sedang belajar mengaji al-quran dengan ustad Syakir?
"Pah, aku kan sudah katakan David pasti pergi ke rumah Hamdan mungkin dia lupa izin kepadaku terlebih dahulu tapi aku percaya sama David kok Pah kalau anak kita ini sudah tidak keluyuran lagi ke club," sergah Anggelia mencoba menenangkan hati suaminya.
Nathan menghela napasnya pelan, istrinya selalu saja memberikan pembelaan kepada David, dia pun memberikan sebuah map coklat kepada David dengan cara dilemparkan.
"What this is Ded?" tanya David memincingkan sebelah matanya menatap map coklat di depan matanya kini.
Raut wajah Nathan masih menunjukan kekesalan dan kemarahan yang siap meledak kapan pun itu. "Buka saja!"
Saking takutnya Anggelia memegangi tangan suaminya itu berharap bisa tenang dan tidak memarahi David apapun yang telah terjadi.
Dengan rasa penasaran yang tinggi David mulai membuka map tersebut dan terlihat foto dirinya dengan Hamdan dan Alex saat di masjid begitu pun fotonya tadi yang sedang duduk di masjid bersama Hamdan.
"Kamu ngapain ke sana David? untuk apa kamu datang ke tempat itu, kemarin saat Papah ajak kamu ke Gereja kamu menolak dengan alasan sakit tetapi dengan mudahnya kamu datang ke masjid itu? apa yang kamu lakukan di sana, hah?" Kini kemarahan Nathan telah meledak, selama ini dia mengirim asisten kantornya untuk mengawasi David di luar, perubahan sikap anaknya itu membuat dirinya penasaran apa yang telah terjadi kepada David.
Baru kali ini lagi David terkena omelan oleh Papahnya sendiri, "Maaf Pah, David minta maaf!" ujarnya lirih.
Dipukulnya meja tersebut oleh Nathan dia berdiri mendengar anaknya itu yang begitu lugu, "Saya tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap bodoh seperti ini! jelaskan yang sebenarnya sedang apa kamu berada di tempat itu?"
David memejamkan matanya saat Nathan memukul meja, dia tidak berani melawan Papahnya sendiri, "Baiklah David akan jelaskan, David tidak melakukan apapun di masjid tersebut David hanya sedang menunggu teman David yang sedang beribadah, apakah salah? bukankah selama ini Papah dan Mamah mengajarkan nilai toleransi kepada David," jelasnya dengan berterus terang bagaimana itulah yang telah terjadi.
Mendengarkan penjelasan David membuat Nathan berdecak pinggang matanya mengadah ke atas dan mengembuskan napasnya perlahan sedangkan Anggelia menyentuh tangan anaknya itu lalu tersenyum kepada David.
Keputusan David sudah bulat dengan memberanikan diri dia berdiri, "Pah, David sudah besar selama ini David tidak pernah tahu bagaimana kehidupan orang-orang di luar sana, sekarang David sudah menemukan siapa jati diri David yang sebenarnya, tujuan untuk apa David hidup dan siapa Tuhan David yang sebenarnya, keputusan David sudah bulat ingin mempelajari agama islam Pah dan besok David akan ikut berpuasa ramadhan jadi tolong jangan larang David!" ujar David dia berharap ke dua orangtuanya mengerti apa yang dia maksud.
"Berani-beraninya kamu mengatakan seperti itu David?!" Nathan mulai emosi tangannya dengan spontan melayang ke wajah David, ya David ditampar dengan begitu keras, kesabarannya mulai habis dia tidak menyangka anaknya ini akan meninggalkan Tuhan Yesus yang sudah memberkati kehidupannya.
Seketika tubuh David tersungkur di lantai, "Maafkan David Pah, tapi David sudah cinta dengan al-quran, David ingin belajar membaca al-quran dan mendalami agama islam," ujarnya lirih seraya memegangi pipinya yang terasa ngilu.
Sekali lagi Nathan melayangkan tangannya ke wajah David, "Pergi dari rumah ini jangan pernah panggil saya sebagai Papahmu lagi, anak kurang ajar, anak durhaka beraninya kamu meninggalkan Tuhanmu sendiri." Napas Nathan mengebu-ngebu, selama ini dia membesarkan David dengan ajaran kitab injil tapi mengapa David malah menyukai kitab suci yang dibawakan Nabi Muhammad SAW bukan Nabi Isa As.
Anggelia menghampiri anaknya dan memeluk David dengan erat matanya mulai berlinang, "Sayang kamu ngomong apa sih Nak, katakan ke Papahmu yang sebenarnya Mamah tidak mau kehilangan kamu Nak."
"Mah, David minta maaf atas apa yang telah David putuskan namun David merasa itulah yang terbaik," sahut David tersenyum getir menatap wajah Mamahnya yang begitu dia sayangi.
Pada malam ini terjadi keributan di keluarga Nathantion, anak bungsu yang dibesarkan dengan baik-baik dan dididik dengan ajaran kepercayaan yang sudah dianutnya sejak dulu, melihat David seperti ini membuat Nathan menyesal telah membawa anak bungsunya ini ke tempat ini. Tanpa diketahui Pak Bayu dan Bi Minah mendengar semuanya dia senang mendengar David menemukan jalannya tetapi perlakuan Nathan membuat mereka sedih melihat David yang terus-menerus diperlakukan kasar seperti itu.
"Pak, kasihan ya Den David saya jadi tidak tega melihatnya," seru Bi Minah memegang pintu dapur air matanya menetes karena tidak kuat lagi membendungnya dan hatinya tersentuh.
Ada rasa ingin menghampiri David tetapi hanyalah pembantu di rumah ini, "Sama Bi saya juga tidak tega melihatnya, semoga Allah SAW memberikan pertolongan untuk Den David, anak itu sudah mendapatkan hidayah illahi semoga bisa dipermudahkan jalannya."
"Sayang, maafkanlah David! berikan dia kesempatan untuk memperbaikinya mungkin anak kita sedang berada dijalan yang lain apakah kamu mau kehilangan aku juga, aku tidak bisa membiarkan anak kita tidur di jalanan," ujar Anggelia, dia berusaha membujuk suaminya itu bagaimana pun David akan tetap menjadi anaknya.
"Bertobatlah kamu David jika tidak Papah terpaksa harus mengusir kamu dari rumah ini!" sahut Nathan setelah bergelut dengan pikirannya, dia berdecak pinggang banyak harapan yang dia taruh kepada David yang menjadi anak bungsunya kini.
Jujur saja sebetulnya David masih merasa takut dalam dirinya, tetapi keyakinannya lebih dari rasa takut yang dia rasakan, "Ya Allah lindungilah aku, sesungguhnya aku sudah berada dijalan yang benar dengan keputusanku ini tetapi bagaimana dengan orangtuaku haruskah aku meninggalkan mereka begitu saja, berikahlah aku petujukmu ya Allah." Dalam hati David terus mengucapkan doa kepada sang penciptanya. 'La takhof inna Allah maana' itulah yang membuatnya yakin Hamdan pernah mengatakan kepadanya bahwa Allah SAW akan selalu bersama kita jadi jangan pernah takut selama berada di jalan yang benar.
David mulai menatap Papahnya sendiri, "Maafkan David Pah keputusan David sudah bulat, biarkan putra bungsu Papah ini diusir dari rumah karena telah menemukan jati diri yang sebenarnya, terima kasih atas semua yang Papah ajarkan selama ini David berharap Papah bisa menjaga Mamah dengan baik selama David pergi dari rumah ini, " katanya dengan air mata yang mulai menetes.
Mendengar perkataan David membuat Anggelia memeluk dengan erat tubuh anaknya itu air matanya sudah mengalir dengan deras sejak tadi, "Sayang Mamah mohon jangan pergi mintalah baik-baik sama Papahmu untuk tetap tinggal di sini, kau tahu Papahmu itu sebetulnya sayang kepadamu Nak pasti dia akan mengizinkanmu tinggal di sini."
Apa yang dikatakan Anggelia benar Nathan juga sangat menyayangi David namun ketika anaknya itu telah berada di jalan yang berbeda dengannya dia harus melepaskannya pergi agar David bisa menemukan jati dirinya lewat perjalanan yang akan dilaluinya nanti.
"Siapkan barang-barangmu saya tidak mau melihat keberadaan kamu di rumah ini!" celetuk Nathan tegas, nada bicara masih tinggi yang akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya dengan rasa kesal serta kecewa.
Perlahan pun David bangkit dari duduknya mengiring Mamahnya untuk duduk di bangku dan memberikannya air minum, "Percaya sama David Mah, David akan baik-baik saja David akan tinggal di rumah teman David untuk sementara waktu, Mamah jaga diri baik-baik di sini yah."
Anggelia mengusap wajah tampan anaknya itu dengan lembut, "Maafkan Mamah sayang tidak ada yang bisa Mamah lakukan ketika memang itu sudah menjadi keputusanmu, jaga diri baik-baik sayang Mamah akan berusaha membujuk Papahmu juga agar kita bisa berkumpul lagi."
Anggelia tidak menyalahkan keputusan David bagaimana pun dia tidak pernah memaksa anaknya untuk berada di jalan sama, dia harus tumbuh dan menemukan jati dirinya sendiri lagipula apa yang salah jika mereka tinggal bersama dengan iman yang berbeda.
Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi oleh David apa yang dikatakan olehnya itulah kebenarannya dia tidak percaya semuanya akan menjadi seperti ini, dirinya diusir oleh orangtuanya sendiri di tempat yang masih asing baginya, lantas apa yang akan dilakukannya nanti?
Malam itu juga David berkemas, dia hanya membawa sebagian baju-bajunya dari ratusan baju yang dia miliki yang pastinya ada almamater kampus, hoodie kesayangannya serta kaos-kaos santainya begitu pun dengan barang-barangnya yang dianggapnya penting.
Anggelia membantu anaknya itu berkemas dengan air mata yang masih terus menetes, dia membayangkan hari-harinya tanpa David di rumah, tidak ada yang bisa diajak cerita nantinya tidak ada yang membuatnya terus tersenyum oleh tingkah laku David tidak ada yang bisa diomelinya saat David pergi.
Semua buku-buku David masukan ke dalam kopernya, di dalam kamar itu pun ada Bi Minah yang membantunya.
"Den David Bibi boleh ya bantu berkemas?" ujar Bi Minah saat dia sudah melihat David pergi ke kamarnya.
Hiks, hiks, hiks
Terdengar suara tangisan Anggelia saat David telah selesai berkemas membuat David langsung menoleh ke sumber suara.
"Mah sudah dong tidak usah menangis, David jadi tidak tega meninggalkan Mamah," ujar David terdengar manja.
"Bagus dong kalau gitu berarti kamu gak usah pergi dari rumah," elak Anggelia masih sulit untuk membiarkan David pergi malam-malam begini.
Diraihnya tangan lembut sang Mamah oleh David, "Mah, bagaimana pun keputusan Papah akan menjadi perintah bagi David, David tidak bisa melawan apa yang sudah diputuskannya."
"Lalu mengapa kamu berani meninggalkan Tuhanmu sendiri bukankah Papah sama Mamah mengajarimu untuk patuh kepada-Nya, itu kan sama halnya dengan perintah orangtuanya yang dengan beraninya kamu langgar?" tukas Anggelia dengan nada kesal.
David tersenyum, "Haruskah jika kalian meninggal David juga ikut meninggal? hal itu jelas berbeda Mah, sudah genap lima bulan kita tinggal di sini banyak pelajaran dan pengetahuan yang sudah David dapatkan, David sudah menemukan jati diri David yang sebenarnya beserta tujuan mangapa kita hidup di dunia ini, biarkan David pergi Mah."
Lalu pandangan David menoleh ke arah Bi Minah yang selalu menyiapkan keperluannya, "Bi, David nitip Mamah ya di sini terima kasih sudah menjaga rahasia David selama ini," ujarnya sembari tersenyum.
Setelah selesai berkemas David bersalaman dengan Mamahnya sembari mencium tangannya lama dalam hatinya dia meminta keridhoan orangtuanya atas keputusan yang sudah diambilnya.
"David pamit Mah, Bi." David berlalu turun ke bawah meninggalkan Mamahnya yang masih menangis mencoba menahan kepergiannya tetapi Bi Minah menahannya dan mencoba memeluk majikannya itu agar tenang.
Sesampainya di bawah David menatap ruang kerja Papahnya itu dia ingin menemuinya tetapi sepertinya akan memperburuk keadaan jadi David memutuskan untuk langsung pergi.
"Den David mau pergi ke mana?" tanya Pak Bayu dengan nelangsa.
David menggelengkan kepalanya, "Entahlah Pak David masih belum memutuskan untuk pergi ke mana."
Dengan hati yang tulus Pak Bayu menawarkan rumahnya untuk David bisa tinggal sementara waktu, "Den David saya tidak tega dengan keadaan Den David yang seperti ini alangkah lebih baik jika Den David ikut saya ke rumah agar istri saya bisa mengobati luka lembab di pipi Den David lagipula hari sudah larut malam Den," seru Pak Ujang dia menatap David dengan miris wajah tampannya terdonai dengan luka disudut bibir serta iru di ke dua pipinya yang pastinya David sedang menahan rasa gilu di sana.
Setelah mempertimbangkan tawaran supir pribadi rumahnya ini akhirnya David membuat keputusan, "Baiklah Pak jika Bapak tidak keberatan David mau tinggal di sana untuk malam ino saja," katanya dengan sumarah.
Dengan segera Pak Bayu pun mengeluarkan motor honda miliknya dia tidak enak jika membawa David dengan mobil dan itu bisa sangat ketahuan nantinya, tubuh David sudah terasa lemas dia hanya menuruti apa yang Pak Bayu katakan kepadanya.
Baru pertama kali David menaiki motor honda butut seperti saat ini namun dia belajar menjadi manusia yang lebih bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan bagaimana pun kedaraan ini sangat berguna bagi Pak Bayu untuk usaha.
Motor Honda milik Pak Bayu pun sudah mendarat tepat di depan pagar rumahnya, David turun saat motor berhenti menatap rumahnya Pak Bayu yang tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil sangat sederhana, cat depan rumahnya berwarna biru muda membuat David suka dengan warna itu.
"Mari Den silahkan masuk!" ajak Pak Bayu melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam pagar rumahnya.
David mengikuti Pak Bayu hingga beliau mengetuk pintu rumahnya dan keluarlah seorang wanita sebaya dari dalam rumah tersebut.
"Eh Bapak sudah pulang?" ujar wanita itu dengan wajah yang nampak senang melihat kepulangan suaminya hingga pandangannya beralih ke arah David yang berada di belakang suaminya itu, "Saha Pak?" tanyanya.
Pak Bayu pun menggeser tubuhnya ke samping, "Ini anaknya pak bos Bu, untuk malam ini dia akan menginap di sini namun sebelumnya berikan dia obat P3K terlebih dahulu untuk mengobati luka di wajahnya."
"Saya David Bu," seru David seraya mencium tangan istri Pak Bayu dengan sopan.
Wanita itu kaget mendengar bahwa anak bosnya itu akan menginap di rumahnya yang kecil ini.
"Ya sudah mari masuk dulu!" Istrinya Pak Bayu pun mempersilahkan David masuk ke dalam rumahnya.
Saat masuk ke dalam David langsung bertemu dengan ruang tamu bangkunya yang begitu empuk tetapi nyaman untuk duduk di sana.
"Den David duduk di sini dulu ya saya akan membereskan kamar untuk Den David tidur," ujar Pak Bayu yang hendak pergi.
"Tidak usah Pak, David kan hanya satu malam tidur di sini jadi biarkan David tidur di bangku ini saja," sergah David, meski pun dia terbiasa dengan kemewahan dia masih bisa tidur di bangku sama halnya dengan Hamdan yang terlihat pulas meski tidur di bangku di kampus waktu itu.
Sri adalah nama istri Pak Bayu yang bekerja sebagai penjual nasi uduk di pagi hari.
Ibu Sri datang dengan membawa air di gelas yang mana bawahnya ada piring kecil unyuk menjadi tatakannya. "Silahkan diminum Nak David," ujarnya.
"Terima kasih Bu," sahut David sembari tersenyum tipis, bibirnya masih sakit sebab tamparan Papahnya hingga terluka.
"Kemari Nak biar Ibu bantu obatin lukanya," ujar Sri sembari mendekatkan dirinya kepada David.
Di rumahnya sudah tersedia kotak P3K yang sudaj disediakan kapan saja bisa dipakai jika ada yang sedang terluka.
David menurut dia diam saja saat Ibu Sri menyentuh wajahnya, begitu pun dengan Pak Bayu yang setia menemaninya dia duduk di bangku ujung dekat dengan pintu.
"Auww!" jerit David merintih kesakitan saat bibirnya disentuh refleks dia menjauhkan tangan Ibu Sri dari bibirnya, "Maaf Bu," katanya tidak enak hati.
Ibu Sri malah tersenyum hangat, "Iya gak apa-apa Nak memang sedikit sakit jika luka basah langsung terkena bidatin," terangnya.
"Iya Bu, tapi biar saya saja deh yang mengobatinnya, sudah malam kalian istirahat saja David merasa tidak enak telah merepotkan Ibu Sri," ujar David merebut kapas serta obat bidatin dari tangan Ibu Sri.
Jika dulu David tidak suka dengan obat-obatan kini malah mau mengobatinya sendiri namun apakah David sungguhan akan memberikan obat pada lukanya?
"Jangan merasa sungkan dengan kami Den David, orangtua Den David sudah berbaik hati kepada kami jadi biarkan kami membalasnya." Pak Bayu menyahut. "Ya sudah kamu tidur saja deh kasihan anak-anak nanti bangun tidak ada kamu," katanya.
Akhirnya Sri bangkit dari duduknya sebelumnya dia mengatakan sesuatu kepada David, "Nak David nanti kalau butuh apa-apa bilang sama Bapak saja ya!" katanya dan berlalu pergi.
"Sepertinya Den David sudah lelah ya, kalau begitu saya ambilkan selimut dan bantal dulu ya." Pak Bayu pun ikut berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Ya tubuh David memang sudah lelah bukan hanya tubuhnya saja pikirannya pun sudah sangat capek. Setelah Pak Bayu memberikan perlengkapan tidur David pun langsung terlelap dalam tidurnya tanpa mengobati luka di bibirnya.
"Semoga gue nyaman tidur di sini," gumamnya sebelum benar-benar terlelap dalam tidurnya.
David telah mengahabiskan malam panjangnya dengan berhijrah, perjalanannya pun sudah dimulai. Akankah semuanya akan berjalan dengan lancar? atau sebaliknya, awal dia menyakui kebenaran Allah SAW saja sudah mendapat cobaan lewat ke dua orangtuanya dengan dijauhkannya?