Pengorbanan Cinta David
Suasana Pasar Malam
Menjadi awal untuk David berpuasa ramadhan jika biasanya dia sedang berpuasa paskah tetapi kali ini dia perpuasa ramadhan, dia mendadak rindu dengan keluarganya yang tidak pernah menghubunginya lagi setelah kejadian dia memeluk agama Islam, begitu pun dengan Mamahnya yang tidak pernah lagi menghubunginya.
Jauh dari dugaan David ternyata Anggelia sangat merindukan David dan hendak membawanya pulang ke rumah namun dia juga tidak bisa melawan apa yang telah diperintahkan oleh suaminya itu, bagaimana Anggelia mau menghubungi David nomor anaknya itu pun seketika diganti.
"Sabar Dav gue yakin lo bisa kok kembali gabung dengan ke dua orangtua lo," ujar Hamdan dalam via telepon.
"Thanks bro, semoga Allah SAW bisa membukakan hati ke dua orangtua gue." David memang selalu berdoa untuk kebaikan ke dua orangtuanya dia tidak akan membiarkan dirinya saja yang mendapatkan petunjuk dari Allah dia ingin ke dua orangtuanya masuk islam bersama dengannya.
"Dav, gue butuh saran dari lo nih minggu besok gue ada tawaran kerjaan di IOS tapi nanti gue gak ikut terawih dong, terus bagaimana ya apakah gue terima apa jangan? gue bingung banget nih Dav." Hamdan sedang berada di antara dua pilih yang menyulitkannya dia butuh saran dan pendapat dari orang-orang terdekatnya bagaimana pun itu dia harus membuat keputusan yang baik dan tidak merugikan.
David duduk dengan tangan yang memangku dagunya dia mencoba berpikir resiko apa yang akan diambil oleh Hamdan saat mengambil pilihan itu, "Sebelumnya gue tanya sama lo Dan apa pekerjaan yang ada di depan mata lo sekarang hanya satu-satunya?"
"Sebetulnya gue lebih suka mengajar ngaji anak-anak Dav soalnya kan meski penghasilannya sedikit gue tetap bisa bantu Nyokap jualan sama bisa terawih juga," terang Hamdan sebelumnya dia memang ragu untuk mengambil keputusan.
"Nah itu lo sudah paham Dan, lo sudah tahu mana yang lo harus ambil dan tidaknya apapun yang lo putuskan nanti, gue sih cuma bisa ngasih saran berapa pun penghasilan yang lo dapatkan nantinya itu jangan diperhitungkan yang penting lo senang bisa bekerja dalam satu bidang tersebut dan halal berkah dari sang pencipta." David kaget mendengar perkataan bijaknya dalam memberikan saran apalagi membahas tentang sebuah pekerjaan.
Apapun yang akan diambil oleh Hamdan tentu saja David akan menyetujuinya dia tahu betul jika temannya itu tidak akan mengambil keputusan yang salah, sambungan telepon pun sudah terputus ketika Hamdan berkata ingin berkunjung ke rumah seseorang.
Semenjak David menjadi mualaf dia belum belanja pakaian muslim serta al-quran dan barang-barang yang lainnya, dia jadi berniat untuk pergi ke pasar malam setelah salat terawih baju kokonya sudah habis semua belum sempat dia bawa ke loundryan hari ini dia hanya mempunyai satu set baju koko untuk dipakai nanti malam saja seterusnya dia akan kesusahan karena tidak ada pakaian.
"Kira-kira gue bakal ajak siapa ya buat nganter ke pasar Hamdan dan Alex pasti mereka sedang sibuk," gumam David sambil bangkit dari duduknya dan pergi ke luar jendela kamarnya yang terbuka lebar.
Suasana kota Jakarta yang tidak pernah sepi meski di pagi hari sampai di malam hari selalu saja dipadati oleh beberapa kendaraan baik motor atau pun mobil, David membawa bukunya ke luar dia akan membaca buku hari ini dengan menikmati pemandangan di depannya.
Setelah merasa bosan dengan bukunya David langsung masuk ke dalam untuk mendengarkan musik kesukaannya hingga terlelap dalam mimpi indahnya bersama dengan Dinda.
****
Di perjalanan menuju penjual David melihat sosok anak kecil perempuan yang menjadi pengamen karena merasa iba dia pun menghampiri perempuan tersebut.
"Hay Dek, kakak boleh tanya sesuatu sama kamu?" ujar David ingin memulai percakapan dengan anak kecil itu.
Wajah anak kecil itu menampakan rasa takut serta kebingungan, dia memperhatikan David dari kaki hingga ujung kepalanya setelah merasa yakin bahwa laki-laki di depannya itu adalah anak baik-baik anak kecil itu tersenyum, "Boleh kak," katanya.
"Sini duduk sebentar dulu biar gak capek terlalu berdiri lama, siiapa nama kamu Dek?" David membawa anak kecil itu duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu yang berada di depan penjual bakso.
"Sa-ya Mira ka," sahut anak kecil itu dengan ragu, wajar jika anak kecil itu merasa ragu saat ditanya namanya dia takut laki-laki itu akan mencaritahu tentang dirinya serta keluarganya.
David menganggukan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya, "Hemm berapa umur kamu Dek?"
"Aku baru berumur 6 tahun kak," kata anak kecil itu masih terus mau menjawab pertanyaan David dengan baik.
Dalam hati David beristigfar dia kaget mengetahui umur anak kecil itu yang bisa dibilang belum cukup untuk bekerja keliling mencari uang sebagai pengamen seperti ini, hatinya menangis pilu mengetahui kebenarannya.
"Ya Allah Dek apa kamu sekarang sedang berpuasa?" ujar David tidak yakin jika anak kecil ini sedang berpuasa pasalnya bagaimana mau berpuasa orang dia saja keliling mencari uang apakah itu tidak mengakibatkan rasa haus dan lapar.
Anak kecil itu pun langsung tersenyum, "Alhamdulillah aku puasa kak," jawabnya dengan tersenyum senang.
"Subhanallah, apa kamu tidak lelah berkeliling dari kampung ke kampung dalam keadaan sedang berpuasa?" David dibuat terkejut oleh anak kecil itu dugaannya salah ternyata jika mengira bahwa anak sekecil itu tidak berpuasa.
"Tidak kakak, aku sudah terbiasa dari umur lima tahun Ibuku yang membiasakan aku seperti ini makanya aku kuat dan bisa ikut berpuasa apalagi ini puasa pertama aku tidak mau meninggalkannya." Anak kecil itu menjelaskan semuanya.
Hati David kembali tersentuh dengan penjelasan anak kecil tersebut, "Wahh kalau begitu nih ambilah untuk kamu berbuka puasa!"
"Benarkah kak? semuanya untukku?" seru anak kecil itu dengan riang saat David memberikan sebungkus gorengan serta uang dua puluh ribu di dalamnya, dia sangat bersyukur sekali bisa bertemu dengan orang sebaik David.
"Iya terimalah, aku akan pergi dulu ya!" David bangkit dari duduknya setelah selesai memberikan bekal untuk anak kecil itu bisa berbuka puasa.
Seketika itu juga anak kecil itu langsung bangkit dari duduknya dan memeluk David, "Terima kasih kakak," katanya.
David membalas pelukan anak kecil itu sambil tersenyum hangat kepadanya, "Iya sama-sama." Dengan pelan David melepaskan pelukan anak kecil itu.
Setelah urusan dengan Mira selesai David segera menjalankan motornya untuk kembali menemui temannya yang pastinya sudah menunggu dirinya sejak tadi, jam tangan sudah menunjukan pukul lima WIB yang artinya waktu berbuka puasa sebentar lagi dengan cepat David menjalankan motornya menembus angin sore yang begitu sejuk.
"Ada apa Dav kok tumben beli gorengannya lama sekali?" ujar Alex saat melihat kedatangan David.
David menghampiri Alex di tempat kerjanya untuk bisa berbuka puasa bersama, jika biasannya dia akan pergi ke rumah Hamdan kali ini dia tidak mau mengganggu Hamdan yang sedang sibuk jadi dia datang ke tempat kerja Alex untuk berbuka puasa bersama.
Malam harinya David sudah berniat akan pergi ke toko baju di pasar malam untuk membeli pakaian untuknya, selama ini dia tidak pernah mau belanja ke pasar untuk membeli sesuatu karena biasanya Mamahnyalah yang akan membelikan semua kebutuhannya.
Kali ini David bersama dengan Hamdan dan Alex mereka bukan hanya akan mengantar David membeli perlengkapan salat dan baju muslim lainnya tetapi mereka akan membeli kaos dan nongkrong bersama di penjual kaki lima sambil menikmati tempat jualan ini yang begitu ramai.
"Macet banget gays!" seru Alex yang berada di paling depan di antara ke dua temannya itu.
Tambak merupakan tempat pembelanjaan semua orang, ada berbagai penjual di sana jika malam memang sangat ramai dan pastinya macet itulah mengapa didirikannya pos polisi di dekat parkiran utama ya untuk mengawasi dan mencegah terjadinya kecelakaan atau para kendaraan yang kurang sabar akhirnya dia menerobos mobil hingga mudah sekali terjadinya kecelakaan baik antar kendaraan atau orang yang akan menyebrang jalan, miris memang.
"Sudah kita parkirkan saja motornya di sini," sahut Hamdan mencari solusi yang tepat jika mereka tetap menunggu jalanan lancar akan memakan waktu banyak jadi Hamdan memutuskan untuk berbelok ke sebrang jalan yang mana terdapat parkiran di sana.
David menoleh menatap kendaraan yang mau lewat, jika dia bandingkan dengan tempat tinggalnya maka dia tidak akan mungkin menemukan kemacetan seperti ini suara derungan motor serta klakson kendaraan yang tidak sabar ingin cepat jalan membuat telinga David sakit.
"Bagaimana Dav, melihat keadaan tambak? melihat dari raut wajah lo kayanya lo gak pernah ke tempat seperti ini ya?" tukas Alex dengan terkekeh, dia tertawa melihat raut wajah David yang menahan sabar.
"Lo memang tahu bagaimana gue jadi stop bertanya seperti itu!" gerutu David dengan nada kesal bukan karena mendengar pertanyaan Alex lebih tepatnya suara derungan kendaraan yang tidak sabar ingin cepat jalan itu membuatnya emosi.
Alex merangkul bahu David, "Okey okey ya sudah langsung saja yuk kita nyari tokonya," katanya sambil menuntun David untuk ikut berjalan meninggalkan motornya yang aman bersama si tukang parkiran.
"Ke mana dulu nih kita gays?" seru Hamdan bingung harus masuk gang yang mana untuk mencari toko baju muslim.
Mata David beredar di sekitarnya, "Ya sudah ke sini aja deh nanti kalau gak nemu tetap cari lagi ya kan, sudah lewat sini saja!" ujar Hamdan melangkah lebih dulu memasuki gang sempit tempat pembelanjaan.
Terlihat berbagai jenis baju di sana membuat David terpana melihatnya sebab dia baru pertama kalinya memasuki pembelanjaan ini, "Eh kita gak seperti Emak-emak kan ya?" celetuk David dengan polosnya.
"Hahaha ya enggaklah Dav sudah jelas kita anak muda masa iya dikira Emak-emak," sahut Hamdan sambil tertawa geli mendengar pertanyaan David yang super mengelitik perutnya.
"Masa orang ganteng begini dikata Emak-emak sih Dav, banyak loh anak muda yang beli bajunya sendiri sebab orangtuanya sibuk jualan atau tidur kecapean karena habis masak buka puasa," ujar Alex dia mempunyai pemikiran yang positif mengenai para Ibu-ibu yang tidak mau mengantar anaknya beli baju atau lebih tepatnya agar si anak bisa dengan bebas mencari baju sesuai seleranya maklum anak muda mah memang suka mengutamakan stylenya.
"Iya iya gue takutnya dikatain Emak-emak karena kan biasanya mereka sibuk belanjaan baju anaknya tetapi kita malah belanja sendiri." Ya David berpikir dia akan dikatain Emak-emak sebab biasanya mereka yang rempong berbelanja.
"Iyaiya gue ngerti kok Dav," seru Hamdan dan Alex bersamaan.
Mereka berjalan beriringan mencari toko baju muslim untuk David gunakan, selama perjalanan mereka masuk ke dalam tambak yang terlihat hanya pakaian wanita serta anak kecil dan sepatu saja entah di mana si penjual busana muslim itu berada yang pasti mereka bertiga tetap berjalan mencarinya.
David memasuki toko busana wanita membuat ke dua temannya itu bingung apa yang akan David lakukan di dalam, bukankah David tidak memiliki adik perempuan atau saudari perempuan.
"Lo mau ngapain Dav?" panggil Hamdan penasaran apa yang akan dilakukan temannya itu di dalam.
Akhirnya Alex memutuskan untuk ikut masuk, "Ada apa Dav apa lo mau membelikan seseorang busana ini?" Alex melihat David memegang baju wanita yang memiliki cadar di sana.
Dengan cepat David menggelengkan kepalanya, "Ah tidak, ya sudah yuk jalan lagi gue cuma tertarik saja melihat pakaian itu," terangnya seraya keluar dari toko baju tersebut.
Setelah itu mereka kembali berjalan mencari toko yang masih mereka cari tidak lama kemudian Hamdan menemukan toko baju kaos yang begitu bagus sampai dia tertarik melihatnya apalagi untuk membelinya.
"Eh gays sini bentar gue mau beli kaos dulu nih," pekik Hamdan yang langsung menyelonong masuk ke dalam toko tersebut.
Yang benar saja semua baju kaosnya sangat bagus baik dari warna, bahan serta modelnya akhirnya mereka bertiga pun beli dengan warna yang berbeda-beda tapi modelnya sama.
"Untuk lebaran nih nanti kita pakainya bareng-bareng," ujar Alex memberikan usulan kapan mereka akan memakai baju kaos tersebut, bagaimana pun setelah lebaran pasti akan ada jalan-jalan jadi baju kaos itu sangat penting juga.
David memegangi baju kaos berwarna hitam polos, "Gue mau beli baju yang ini deh!" katanya.
"Bang kita beli nih baju berapa harganya?" Alex mulai bernegosiasi dengan si penjual baju tersebut dia ingin langsung membungkusnya sebab dia sudah tertarik dengan baju yang dipegangnya kini.
"Gue lebih suka warna merah Dav jadi milihnya yang itu," ungkap Hamdan dia sudah menemukan baju kaos untuknya dengan warna yang dia sukai yaitu merah marun.
Harga pun sudah ditentukan kali ini David yang telah membayarkannya karena uangnya memang besar juga jadi makai uang David dulu, setelah selesai membayar baju kaos tersebut mereka kembali pergi ke luar untuk menyebrang mencari toko busana muslim di sana.
"Kalian tunggu sini saja deh biar gue yang mencarinya sendiri sepertinya kalian sudah capek menemaniku jalan," ujar David dia merasa tidak enak hati lalu menyuruh ke dua temannya itu untuk duduk beristirahat sebentar di penjual bubur kacang ijo.
"Ya sudah hati-hati ya Dav, cepat kembali loh awas saja!" ancam Hamdan dia takut jika David tidak akan kembali lagi.
David menganggukan kepalanya yakin dia sudah hafal jalanannya meski dia tidak tahu di mana keberadaan busana muslim itu melihat ke dua temannya yang sudah lelah membuat David memutuskan untuk berjalan sendiri mencari pakaiannya.
Ketika di jalan tidak sengaja David bertemu dengan Najma dan Dinda untung saja Dinda tidak sendiri tidak menoleh dan melihatnya saat itu Dinda sedang pergi ke toilet dengan pelan-pelan David menghampiri Najma.
"Hey, sedang apa lo di sini?" ujar David santai dia tersenyum hangat kepada Najma untuk ke dua kalinya dia berhadapan dengan sahabat Dinda.
Saking kagetnya Najma melotot memandang David penuh curiga alih-alih David sedang mengikutinya sekarang sebab dia datang bersama dengan Dinda, "Nganterin Dinda beli kerundung kau sendiri sedang apa?" Najma melemparkan pertanyaan balik kepada David.
David mengintari pandangannya ke sekitar, "Gue sedang beli baju muslim untuk salat terawih baju muslim gue sedikit jadi gue harus punya stok."
Kemudian Dinda datang menghampiri ke dua orang yang sedang berbicara tersebut, "Najma kamu bicara dengan siapa?" ujar Dinda dia memang tidak melihat sosok laki-laki yang sedang berbicara dengan Najma sebab David membelakangi Dinda.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya? apakah David akan menampakan wajahnya di depan Dinda atau sebaliknya? mari geser ceritanya untuk lebih tahu cerita selanjutnya!