Pengorbanan Cinta David

Ungkapan Perasaan Dinda

"Besok gue akan pergi Dan ke Eropa, ada urusan yang harus gue selesaikan di sana," ujar David dengan lirih. Jujur saja dia sendiri pun berat untuk meninggalkan semua orang yang sudah dekat dengannya, adapun kota Jakarta ini menjadi saksi perjalanan dirinya hal itu menambah berat dirinya saja untuk pergi.

 

Hamdan menoleh menatap temannya itu dengan tatapan sendu, "Lo seriusan mau pergi ke sana? apa lo gak takut apa yang akan terjadi di sana nantinya, apalagi orangtua lo saja tidak bisa mengikuti ajakan lo bagaimana dengan orang-orang di sana, Dav gue mohon pertimbangkan kembali keputusan lo, yang mungkin ada banyak masalah yang akan lo hadapi." Dia khawatir sesuatu akan terjadi kepada David.

 

Mendengar nada khawatir Hamdan membuat David tersenyum, "Percaya sama gue Dan, lo tahu sendiri bukan kalau gue bukan termasuk orang yang bisa lari dari masalah, intinya setelah gue berhasil menemui keluarga di sana, gue akan tenang apapun yang terjadi gue akan terima," katanya dengan santai dan penuh percaya diri.

 

Hamdan hanya bisa pasrah dengan apa yang sudah diputuskan oleh David, "Gue akan terus mendukung apapun yang sudah menjadi keputusan lo Dav, jangan lupa nanti malam kita kumpul di masjid terlebih dahulu," katanya sembari membuat rencana untuk nanti malam.

 

Melepaskan sahabat, teman dekat atau bahkan yang sudah dianggap keluarga sendiri itu sangatlah susah tidak mudah apalagi untuk mencari penggantinya, jarak yang akan ditempuh David kini akan sangat memakan waktu banyak jadi Hamdan harus membuat perayakan untuk saudaranya ini.

 

"Iya Dan gue juga mau berpamitan dengan Alex dan anak-anak remaja masjid nanti malam," kata David di sini dia sudah mempunyai banyak kenalan banyak teman dan banyak orang-orang yang menyayanginya agak sulit untuk meninggalkan mereka.

 

Seketika Hamdan teringat akan suatu hal yang mana pasti akan membuat sedih seseorang, "Dav, bagaimana dengan Dinda? bukankah lo berdua sudah saling suka? apa lo gak mau menemui dia dulu kasihan lo, selama ini Dinda tidak pernah dekat dengan laki-laki, namun saat lo datang cewek itu sedikit berubah tidak takut lagi, jika dekat dengan gue karena dia bilang hanya gue yang bisa dipercaya dibanding dengan Alex yang cenderung mengejek dan menggodanya," ungkap Hamdan seraya terkekeh mengingat percakapannya dengan Dinda di chattan.

 

"Gue sudah memikirkannya matang-matang Dan, dan keputusan gue gak bisa dirubah Dinda bukan menjadi penghalang untuk gue pergi, tolong berikan surat ini untuk Dinda tiga hari lagi Dinda akan ulang tahun jadi tolong berikan surat ini untuknya ya! ini permintaan tolong gue yang terakhir Dan," ujar David sembari mengulurkan sebuah kotak berwarna ungu kepada Hamdan.

 

Kemarin waktu David sakit, dia sempat menuliskan surat tersebut khusu untuk Dinda, banyak kenangan yang telah dia lalui di kota ini bagaimana pun dia sudah merasa nyaman tinggal di sini namun takdir akan membawanya kembali di mana dia lahir dan di mana keluarganya tinggal.

 

Hamdan menepuk bahu David pelan, "Lo gak usah khawatir, nanti gue akan berikan ini kepada Dinda sekarang lo mau ke mana ini?" Melihat raut wajah David membuat Hamdan penasaran akan apa yang cowok itu lakukan setelah ini.

 

"Entahlah gue mau keliling dulu, lo mau ikut? gue gak tahu jalanan sini hahaha." David tertawa mengingat kata-kata itu di mana dia masih tidak tahu arah jalanan di kota Jakarta ini.

 

Candaan David berhasil membuat Hamdan tertawa dia pun masih ingat akan hari itu di mana David ingin mengajaknya keliling padahal dia masih anak baru di kota ini, "Hahaha yuk cabut nanti kita buka puasa di jalan saja!" katanya dengan semangat.

 

"Izin dulu sama Mamah." David menghantikan langkah kaki Hamdan untuk kembali masuk ke dalam rumahnya bertemu dengan Mamahnya.

 

"Oh iya, ya sudah yuk izin sama Mamah dulu," ajak Hamdan mengiringi David untuk ikut masuk bersamanya ke rumahnya.

 

Terlihat sosok Dahlia yang sedang mencuci piring di dapur sembari menggoreng ayam, baunya membuat David dan Hamdan terus beristigfar takut khilaf menikmati aromanya dan akan mengakibatkan makruh pada puasanya kini.

 

"Mah, kita mau pergi dulu ya!" kata Hamdan yang sudah berada di depan Mamahnya kini.

 

David mengamati rumah Hamdan yang begitu sederhana dan tidak berantakan sangat rapih, David jadi berpikir bahwa Hamdan adalah laki-laki yang hampir sempurna cowok itu sering mengajarkannya mengaji serta bertilawah atau bersholawat bahkan Hamdan sosok laki-laki yang pekerja keras dia akan melakukan apapun untuk bisa menghasilkan uang dan membantu usaha Mamahnya.

 

"Sebentar lagi asar, kalian gak mau salat dulu di sini?" Dahlia menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah empat sepuluh menit lagi adzan asar berkumandang.

 

"Kita salat di masjid sana Tante, oh ya Tante David pamit ya besok David akan pulang ke Eropa ada urusan yang harus diselesaikan di sana," pamit David kepada Dahlia.

 

Perkataan David berhasil membuat Dahlia kaget, dia langsung mencuci tangannya yang habis memegang sabun. "Kamu tidak bercanda kan, Nak? apa ada masalah di sana yang mengharuskan kamu pergi secepat ini."

 

David menganggukan kepalanya sambil menelan bibir bawahnya, "Hemm bukan masalah besar Tante, hanya saja David harus pergi untuk menjelaskan keputusan David ini yang sudah menjadi mualaf, mohon doanya saja ya Tante semoga perjalanan David lancar."

 

"Pasti Nak, Tante sudah menganggap kamu sebagai anak Tante sendiri sama seperti Hamdan, semenjak ada kamu anak itu selalu senang kalau pulang ke rumah, di sini Tante akan mendoakan yang terbaik buat kamu ya Nak," kata Dahlia sembari melepaskan pelukannya.

 

Mendengarkan ucapan sang Mamah, Hamdan jadi ikut tersentuh tahun lalu dia memang selalu merasa kesepian apalagi semenjak ada virus mematikan dia tidak pernah bertemu dengan adiknya dan Ayahnya di Lampung itu membuatnya kesepian dan di sini dia harus menjaga sang Mamah.

 

"Mah, David mau keliling dulu sekalian berpamitan kepada yang lain jika ada sesuatu yang ingin diberikan untuk David silahkan Mah," kata Hamdan jika menuruti kemauan Mamahnya pasti akan lama apalagi sang Mamah sangat perasa.

 

Lalu Dahlia pun langsung pergi ke kamarnya dia memiliki sesuatu yang hendak dia berikan untuk David sebagai kenangan, "Nih Nak David, Tante tidak memiliki sesuatu yang mewah, ini ada peci dan sarung untuk Nak David tolong diterima ya," katanya seraya mengulurkan barang yang dipegangnya.

 

"Nih masukin ke plastik Dav," seru Hamdan dia mengambil pelastik hitam yang tergeletak di atas meja itu.

 

"Terima kasih banyak Tante, David tidak akan melupakan kebaikan Tante selama ini semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu lagi." David dan Hamdan pun bersalaman kepada Dahlia untuk berlalu pergi.

 

David ingin menemui semua orang-orang yang dekat dengannya, "Dan, lo mau naik motor bareng gue atau sendiri?" seru David dia menawarkan agar temannya itu bisa memilih.

 

"Sendiri saja deh biar gak ribet lagian kasihan motor gue dianggurin mulu dia juga butuh jalan-jalan kali," celetuk Hamdan dengan terkekeh.

 

Akhirnya mereka pun melaju berkeliling kota Jakarta mulai dari Depok, desa-desa terpencil, pasar malam hingga monas dan akhirnya mereka berhenti di masjid at-taufiq, untuk melaksanakan salat magrib hingga salat terawih di sana dan bertemu dengan Alex dan yang lainnya.

 

****

 

Cinta itu memang rumit, seseorang harus berkorban untuk orang yang dicintainya kepergian David sungguh membuat Dinda terkejut air matanya berhasil lolos dan menetes tanpa henti. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan David yang pasti cowok itu sedang mengalami masalah yang sulit sehingga mengharuskannya untuk kembali ke Eropa.

 

Sebetulnya Dinda tidak ingin menangis tetapi bayangan akan sosok David yang berhasil membuat dirinya selalu tersenyum jika mengingat tingkah laku dan perhatian yang cowok itu lakukan.

 

"Menangislah, jika kamu butuh untuk mengeluarkan air mata, jangan tahan itu malah tidak baik nantinya Din." Najma yang berada di samping Dinda bingung dia sendiri pun kaget mendengar kabar tentang kepergian David pasalnya cowok itu tidak memberitahunya jika bukan Alex yang menghubunginya sendiri.

 

Najma juga mengira bahwa Dinda sudah tahu, tetapi malah sebaliknya sahabatnya itu tidak tahu apa-apa tentang kepergian David, sehingga dia jadi merasa bersalah telah memberitahu kabar itu kepada Dinda.

 

"Maafin aku Din, aku kira kamu sudah tahu jadi aku ingin memastikan semuanya sama kamu tetapi malah sebaliknya, aku minta maaf sudah buat kamu bersedih." Najma meminta maaf dia menundukan pandangannya dalam.

 

Hiks ... hiks ... hiks

 

Terdengar suara tangisan Dinda yang pecah membuat Najma nambah panik dia pun langsung memeluk Dinda erat memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu, baru kali ini dia melihat Dinda menangis karena laki-laki sebelumnya selalu dia yang terus menangis sebab laki-laki tetapi kini sebaliknya.

 

"Aku minjam ba-hu kamu dulu ya Naj se-bentar," ujar Dinda di sela-sela tangisannya dia tidak tahu harus menumpahkan air matanya di mana selain kepada Najma yang kini sudah mengetahui perasaannya.

 

Dengan pelan Najma pun mengusap-usap bahu Dinda memberikan sentuhan lembut yang mungkin bisa membuat hatinya tenang, "Sabar Din, kalau kamu butuh cerita katakan saja aku bersedia menjadi pendengar baik kamu tetapi kalau kamu gak mau cerita tidak masalah aku akan menghargai privasi kamu sebagaimana mestinya."

 

Dinda pun kembali mengangkat kepalanya, matanya sudah sembab karena menangis begitu dirinya jika sudah menangis, makanya Dinda sangat membenci jika dirinya sudah menangis apalagi sampai sesegukan.

 

"Maafin aku Naj, selama ini aku gak pernah cerita apa-apa tentang ini sama kamu, sebenarnya aku malu Naj sama kamu dan yang lainnya jika masalah ini sampai diketahui oleh banyak orang," ujar Dinda masih dengan deru tangisnya.

 

Najma pun menganggukan kepalanya, "Kamu gak usah minta maaf Din, sebenarnya aku juga sudah mengira kalau kamu punya rasa sama David, aku sudah kenal kamu lama Din tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk aku bisa memahami sikap kamu jadi tidak usah merasa bersalah, gue mengerti lo," katanya sembari mengulas senyuman pada wajahnya.

 

Bagaimana pun Najma akan menghargai Dinda sebagai wanita muslimah dan anak rohis di kampus jadi dia tidak ingin nama baik Dinda tergores hanya karena laki-laki seperti yang dia katakan bahwa Dinda adalah sosok cewek yang pendiam dan cuek sama laki-laki kecuali adik kelasnya tetapi waktu dia melihat David terlihat Dinda yang tersenyum, sampai sahabatnya itu khawatir mendengar keadaan David saat sakit itu menjadi bukti jika Dinda memang menyukai David.

 

"Apa kamu juga dengar kalau David memiliki kekasih Naj?" seru Dinda dia mendengar waktu David sakit, ada cewek yang membuat ucapan pada akun sosmednya yang mentag David sehingga dia bisa melihatnya dan dari yang dia lihat cewek itu orang luar negeri.

 

Najma pun menggelengkan kepalanya ambigu, dia memang tidak pernah mendengar tentang apapun mengenai David kecuali tentang perasaan David kepada Dinda, "Kenapa kamu cemburu dengannya?" seru Najma seraya menggoda Dinda.

 

"Apaan sih kamu, aku tak pandai untuk cemburu lagi pula aku bukan siapa-siapanya dan bukan istrinya," sahut Dinda dengan raut wajah yang nampak kesal.

 

Mendengar perkataan Dinda membuat Najma gemas, "Seriusan kamu gak cemburu buktinya wajah kamu bete gitu," ejeknya sembari menyentuh dagu Dinda dengan gemas.

 

"Aku tidak cemburu, hanya saja aku berpikir apa jangan-jangan David pergi ke sana untuk bertemu dengan cewek itu, atau memang sedang ada urusan yang harus diselesaikannya di sana aku bingung Naj, tapi sudahlah jika memang David menghargai perasaan aku dia akan bilang tetapi buktinya dia tidak bilang apa-apa," ujar Dinda dia pun menghapus air matanya dengan ke dua tangannya, perasaannya kini malah berubah menjadi kesal setelah mengingat akan cewek bernama Rachel itu.

 

Perkataan Dinda memang tidak terdengar kecemburuan tetapi raut wajahnya begitu nampak kekesalan di sana, "Istigfar Din, kalau begitu kamu yakin saja sama David kalau cowok itu tidak dekat dengan siapa-siapa, lagipula aku yakin kok sama David dia laki-laki yang setia dan menyukai satu cewek," jelasnya.

 

Waktu itu David pernah bilang kepada Najma jika dia tidak akan menyakiti atau membuat Dinda menangis karenanya dan David juga bilang kalau dia hanya menyukai satu cewek dan tidak akan bermain dengan banyak cewek-cewek meski dia banyak disukai oleh para cewek-cewek cantik dan seksi sambil emot tertawa perkataan David masih diingat olehnya.

 

"Astagfirullah astagfirullah astagfirullah semoga Allah menjauhkan aku dari godaan syetan yang terkutuk, aku memang tidak boleh seudzon dengan David karena aku juga tidak memiliki bukti kuat tentang hal itu," ungkap Dinda lirih bagaimana pun dia telah salah menilai David meski dulunya cowok itu nakal tetapi kini kan David sudah berubah seharusnya dia bisa memandang David cowok baik-baik.

 

"Ya sudah jangan sedih atau merasa cemburu lagi, mending kamu chat dia saja kalau rindu dan ada yang ingin kamu sampaikan kan Alex bilang David baru pergi ke bandara tadi pagi setelah salat subuh pasti cowok itu masih berada di perjalanan," ujar Najma memberikan solusi dan penawar agar Dinda berhenti menangis.

 

Yang benar saja selama ini Dinda tidak pernah membalas chat dari David atau bahkan mengatakan hal-hal yang pribadi cowok itu, mungkin Najma mengira bahwa Dinda dan David sering memberikan kabar atau sekedar chattan.

 

"Aku tidak pernah chatan dengan cowok itu Naj, memangnya kamu kira aku seperti kamu yang jika tidak di chat pasti ngambek, David sudah menjaga diriku dengan baik dia juga berkata bahwa dia merasa takut untuk berdekatan denganku," ujar Dinda dengan raut wajah yang cemberut, dia kesal tetapi entah apa yang sedang disesalinya.

 

Najma langsung tertawa mendengarnya, "Hehehehe sorry Din, aku kira kamu sering gitu ngasih kabar ke David, kalau begitu bingung juga ya!" katanya dengan memalingkan wajahnya ke arah jalanan.

 

"Ya sudah yuk pulang saja, nanti Ummi nyariin aku gara-gara belum pulang," ajak Dinda dia tidak ingin terus-menerus memikirkan David meski terasa sulit.

 

Bayangan cowok itu terus terlintas dalam pikirannya membuatnya kesusahan untuk melupakannya atau sekadar menghilangkan nama David dari pikirannya, memori tentang awal pertemuannya dengan David hingga kepergian cowok itu cukup berkesan dan meninggalkan rasa yang sulit untuk diartikan olehnya.

 

"Aku akan pulang tapi kamu harus janji sama aku Din, setelah sampai rumah kamu tidak akan menangis lagi!" Najma mengulurkan jari kelilingkingnya di depan wajah Dinda.

 

Dengan cepat Dinda pun ikut mengulurkan jari kelilingnya dan menyatukannya dengan jari Najma, itulah bukti perjanjian yang harus Dinda tepati meski dia sendiri pun tidak tahu apakah air matanya akan kembali menetes atau tidak.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!