Pengorbanan Cinta David
Meluruskan Permasalahan
Akhirnya Hamdan pun menceritakan tentang pekerjaan David selama tidak tinggal di rumahnya, Hamdan mengatakan bahwa David seorang anak yang mandiri dia ditakdirkan menjadi anak orang kaya namun kenyataannya kini anak itu tumbuh menjadi anak yang mandiri.
"Sebelumnya saya minta maaf Om Tante bukan maksud saya membela siapa pun di sini tapi membahas mesalah David dia pernah cerita sama saya dan Alex yang merupakan teman kampus dan teman nongkrong juga di sini kalau David telah menyadari kesalahannya dulu dan dia ingin mencari jati diri yang sebenarnya dan David juga bilang Om sudah mengizinkannya bahkan menyuruhnya, benar begitu Om?" ujar Hamdan dengan penuh kehati-hatian dalam berbicara dia tidak ingin memihak siapapun kini dia akan menceritakan apa yang diketahuinya saja.
Nathan pun menganggukan kepalanya, "Saya memang menyuruh anak itu untuk mencari jati diri yang sebenarnya, sebab David selalu bertanya tentang agama dan bahkan cowok itu pernah menjalankan puasa secara diam-diam tanpa sepengatahuan saya, ya mungkin karna takut akan kena amarah saya."
"Ya itu benar Om dan Tante, David sendiri pun memberitahu kita akan hal itu dia berpuasa dengan alasan ingin diet atau mensyukuri nikmat Tuhan dan dia pun sempat merasakan kerinduan terhadap sosok Mamahnya, yang selalu memanjakan dirinya sejak kecil jadi pas dia hidup di luar dia merasa kesepian dan sebelum pergi pun David mengatakan bahwa dia ingin Papahnya dan Mamahnya menganggapnya seperti anaknya sendiri, tidak membuangnya karena apa yang sudah dia lakukan, dia akan menerima jika ke dua orangtuanya tidak bisa membiarkan dia tinggal dalam satu rumah tetapi dia berharap agar kalian tidak melupakan David sebagai anaknya sendiri, sebelumnya saya minta maaf Om dan Tante," jelas Hamdan panjang lebar dia berusaha mengingat apa yang sudah dikatakan oleh David kepadanya.
Mendengar penjelasan Hamdan membuat Anggelia kembali meneteskan air mata ada rasa menyesal dan sedih pada dirinya karena telah menjauhkan David dari rumah.
"Saya akui saya menyesal telah memperlakukan David dengan kasar, namun saya juga membiarkan David pergi dari rumah agar anak itu bisa akrab dengan lingkungan barunya dan harus saya katakan bahwa saya tidak mempermasalahkan jika anak itu berbeda keyakinan, yang terpenting anak itu bisa tumbuh menjadi orang yang berguna bagi sekelilingnya dan apakah David pernah mengatakan tentang saya kepada kamu?" tanya Nathan dia ingin mendengar apa yang telah David katakan tentang dirinya selama ini.
Hamdan menarik napasnya pelan lalu mengembuskannya, "Papah sebutan yang David berikan untuk Om, selama ini dia sangat mengagumi sosok Om sebagai Papah yang hebat dan pekerja keras dia pernah berkata akan menjadi seseorang yang bisa membantu Papahnya dan mewujudkan harapan Papahnya," ungkap Hamdan dia teringat akan obrolan yang sering dilakukannya dengan David setiap malam setelah pulang terawih atau pulang mengaji.
Hati Nathan tersentuh mendengar penjelasan yang Hamdan katakan selama ini dia sudah salah menilai David, "Jadi gini Nak Hamdan, saya berharap agar anak saya David bisa menjadi penerus di perusahaan saya, namun saya ragu apakah anak itu bisa dipercaya atau tidak dan mengapa saya dan istri saya menyuruh David untuk ikut dengan kami agar anak itu bisa berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya namun saya malah mendidik terlalu keras kepadanya," ujarnya lirih ada nada penyesalan dalam bicaranya.
Mendengar kabar itu membuat Hamdan tersenyum senang dia teringat akan perkataan David, "Alhamdulillah Om, jika David mendengarnya pasti akan senang ketahuilah Om dan Tante bahwa David adalah anak yang mandiri dan hebat," jelas Hamdan dengan haru yang dia rasakan dia telah menyampaikan apa yang temannya itu bilang berharap tidak akan ada kesalah pahaman yang terjadi kepada David dan ke dua orangtuanya setelah ini.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Hamdan membuat Anggelia pun berniat ingin memberikan sesuatu kepada teman baik David yang sudah banyak direpotkan oleh anaknya itu.
"Pah, aku ingin memberikan Hamdan sesuatu ya sebagai tanda terima kasih kepadanya bagaimana pun David pasti telah banyak merepotkannya," bisik Anggelia tepat di telinga sang suaminya, setelah Nathan menganggukan kepalanya menyetujui apa yang dikatakannya akhirnya dia pun berlalu meninggalkan Nathan dan Hamdan kembali mengobrol berdua.
Sesampainya di gudang rumahnya Anggelia menyuruh para pembantunya untuk membuat bingkisan.
"Bi Yuli di ruang tamu ada temannya, David jadi saya ingin memberikannya bingkisan mengingat David pasti anak itu telah merepotnya jadi saya ingin memberikan sebagai tanda terima kasih kepada teman-teman David," pinta Anggelia sembari tersenyum.
"Berapa bingkisannya Bu?" ujar Bi Yuli dengan antusias dia senang dengan kebaikan majikannya ini.
Mengingat akan hal itu membuat Anggelia juga bingung, "Hemm berapa ya kira-kira, ya sudah deh buatkan 10 bingkisan saja soalnya saya juga tidak tahu pasti berapa banyak David memiliki teman di sini."
"Baik Bu, nanti jika sudah selesai saya akan membawakannya langsung," seru Bi Yuli.
"Ya sudah saya ke kamar dulu ya jika butuh bantuan suruh Bi Minah untuk membantu kamu yah," tukas Anggelia dengan tersenyum lalu dia pun pergi ke kamarnya sebentar.
Setelah kepergian Anggelia, Bi Minah dan Bi Yuli pun langsung menyiapkan barang-barang yang akan ditaruh di tas bingkisan.
Setelah semuanya sudah selesai Anggelia pun kembali menemui Hamdan di ruang tamu bersama dengan ke dua pembantunya yang mengikuti dirinya di belakang.
"Nak Hamdan, tolong diterima ya sebagai tanda terima kasih kami kepada semua teman-teman terdekat David di sini." Anggelia memberikan semua bingkisan serta uang 100 ribu untuk Hamdan.
"Terima kasih banyak Tante, saya senang sekali melihat kebaikan Tante," ujar Hamdan seraya tersenyum hangat. Ternyata sikap baik David nurun dari Mamahnya.
Meski Hamdan sudah menolaknya tetap saja Anggelia memaksa dan tidak baik bukan menolak rezeki? akhirnya Hamdan pun menerimanya dengan senang hati.
Setelah mengunjungi rumah David, Hamdan pun langsung pergi ke rumah Dinda untuk mengantarkan bingkisan ini dan kotak surat yang telah diamanahkan dari David untuk diberikan kepada Dinda.
"For you Dinda Cahaya Ramadhan"
Aku hilang ditelan masa
Aku bingung dilanda kerinduan
Aku lenyap terbawa jarak
Dan aku hanya bisa diam.
Rindu menghampiriku dalam diam
Aku terjebak dalam bayanganmu
Bayanganmu yang sulit untuk dilenyapkan
Berserta kenangan yang sulit untuk ku lupakan.
Kejamnya waktu dan jarak.
Membaca surat tersebut membuat air mata Dinda kembali jatuh membasahi ke dua pipinya, syair-syair yang David tulis sungguh indah membuatnya tersentuh dan tidak bisa berkata-kata lagi apalagi melihat tulisan di bawahnya 'Semoga kita bisa bertemu kembali dan jaga dirimu baik-baik di sana aku akan selalu mendoakanmu dari sini'
"Kamu juga jaga diri baik-baik Dav, aku akan selalu mendoakanmu juga di sini." Dinda melipat kertas surat tersebut dan memasukannya kembali dalam kotak, air matanya pun sudah terhenti namun pikirannya masih terus terbayang wajah David dan kata-kata yang pernah cowok itu katakan kepadanya.