Pengorbanan Cinta David
Hari Raya Pertama
POV Hamdan
"Selamat datang ada yang bisa saya bantu?" ujar Hamdan ketika melihat seseorang telah memasuki tokonya.
Saat ini Hamdan sedang bertugas menjaga kedai kopi di pemilik teman SMPnya tempatnya tidak jauh dari rumahnya jadi dia terima tawaran bagus itu mumpung ada kerjaan mana mungkin dia akan tolak gitu aja.
"Maaf Bang saya mau pesan moccacino dua ya makai toping dua-duanya terserah apa aja yang penting enak," ujar si pembeli dengan tersenyum lalu dia pun menggandeng temannya untuk duduk.
Pandangan Hamdan beralih pada ke layar komputernya, dia harus melaporkan agar bagian penyediaan bisa langsung mengantarkan ke para pembeli, tugasnya hanya melayani tamu lalu melaporkan pesanan kepada bagian dapur atau pembuatan agar segera diproses.
"Dan, lo puasa kan hari ini?" ujar Rama fatner kerja Hamdan di kedai coffe ini, cowok itu tersenyum ramah kepada Hamdan.
"Alhamdulillah emangnya lo gak puasa?" tanya Hamdan kembali dengan sebelah alisnya yang terangkat ke atas.
Tidak ada yang tahu bahwa Rama pernah bolong puasa kecuali Hamdan, makanya waktu Rama bertanya tentang puasa Hamdan nampak menatap Rama dengan tatapan yang sinis jangan sampai Rama akan berkata bahwa hari ini pun dia bolos puasa.
"Puasalah masa iya puasa terakhir gue bolong juga malu sama anak gue nantinya," sahut Rama dengan terkekeh ekspresi Hamdan membuatnya gugup.
Sore hari ini mereka stay jaga sampai nanti malam, akhirnya Rama pun memutuskan untuk membereskan meja-meja dan mengelapnya hingga bersih biasanya kedai caffe ini akan ramai jika di sore hari sampai malam sudah dua hari Hamdan bekerja di sini setelah dia diliburkan dalam mengajarnya.
"Mas saya mesan coffenya satu ya!" ujar seorang laki-laki bertubuh tinggi semapan dengan jenggot yang menghiasi wajahnya.
"Ah baiklah nanti saya antarkan." Hamdan menganggukan kepalanya sembari mengulas senyum pada wajahnya.
Laki-laki itu pun berlalu ketika mendengar jawaban dari Hamdan, dengan segera Hamdan pun memberikan laporan kembali kepada staf bagian pelayanan.
Tiba-tiba ponselnya pun berdering menampilkan pesan dari David dan Alex yang belum sempat dibalas oleh Alex tadi, rasa rindu kian membuncah saat merasakan kesepian tanpa kehadiran David di sisinya yang biasanya menjadi bahan candaan dan lelucon di antara dia dan Alex.
*David
"Alhamdulillah gue fine Dan, bagaimana kabar lo Dan?"
Pertanyaan singkat yang tidak lagi terdengar dari mulut temannya itu langsung kini terdengar asing dan menggetarkan hatinya, betapa rindunya dia kepada David yang berada jauh di sana.
"Gue baik-baik saja Dav, kalau ada masalah jangan lupa cerita sama gue ya bagaimana pun kita harus tetap bertukar cerita, baik-baik di sana Dav."
Hamdan menggigit bibir bawah perlahan dia mengembuskan napasnya yang terasa berat, lalu tangannya kini mengusap layar ponselnya yang langsung menampilkan pesan chat dari Alex.
"Iya gue nanti malam ke rumah lo, sekarang gue lagi ada tugas dari bos gue jadi biar gue selesaikan dulu sekarang biar nanti gak ada yang perlu gue pikirkan lagi, dan insya Allah kalau sore kelar nanti gue jemput lo di kedai okey!"
Kini Hamdan tersenyum tipis membaca pesan dari temannya itu entah seperti apa kesibukan Alex selama satu minggu ini yang pasti cowok itu selalu mengupdate di status whatsapp sebuah data pada layar leptopnya dan beberapa kali cowok itu promosi kaos yang dijualnya. Intinya dia tahu bahwa temannya itu mempunyai pekerjaan maka tidak usah ditanyakan seperti apa dan bagaimana pekerjaannya.
"Dav nanti malam lo pulang berapa?" seru Rama yang sudah berada di depannya kini, cowok itu sedang menatap Hamdan dengan tangan yang menopang dagunya.
"Mungkin jam 12 malam gue ada acara keluarga kenapa memangnya lo mau main ke rumah gue," tukas Hamdan sambil melirik ke arah Rama.
Rama pun yang memasang wajah senang sambil terkekeh, "Gue mau jalan sama cewek gue nanti makanya gue nanya sama lo takutnya bos gak izinin kita pulang cepat malam ini."
"Ya sudah sih bawa cewek lo ke sini aja sekalian temanin lo kerja sesekali gak apa-apa kali bawa cewek ke tempat kerja biar tahu ceweknya," celetuk Hamdan tanpa rasa bersalah dia tidak mengerti apa mengapa sebagia orang malu membawa pacarnya ke tempat kerja.
"Etdah lo Dan, nanti malam tuh malam takbir jadi cewek gue pengen belanja baju samaan sama gue, bukan sekadar jalan biasa lo tahu kan gue mah tipe cowok yang gak suka umbar kemesraan di depan umum mending sekalian ke rumah kalau gitu mah."
Kali ini pembicaraan mereka akan beralih tentang gaya pacaran, Hamdan tertarik untuk membicarakannya akan hal ini apalagi dia tahu dari Rita bahwa Rama pakar dalam soal hubungan buktinya dia sampai sekarang masih terus bertahan meski pasti ada saja pertengkarang yang terjadi.
Hamdan pun duduk di tempatnya wajahnya dia dekatkan dengan Rama, "Wihh apa gara-gara ini lo bisa bertahan sejauh ini sama pacar lo itu?" serunya.
"Hidup terlalu singkat untuk mempelajari segala sesuatu berdasar pengalaman sendiri, ada kalanya cara paling bijak untuk belajar ya dengan melihat orang lain. Misal: kita melihat pasangan tua di mall yang tetap mesra kepada satu sama lain, lalu bertekad untuk bisa seperti mereka dan jadi terpicu untuk lebih menyayangi serta menghargai pasangannya saat ini. Atau sebaliknya, ketika mendengar cerita pasangan yang kandas karena kurangnya rasa hormat kepada satu sama lain, kita jadi sadar betapa pentingnya sikap saling menghormati dan menerapkan itu dalam hubungan sehari-hari." Rama menjeda ucapannya dia menatap Hamdan yang tampak pokus mendengarnya.
"Tapi hidup berpasangan nggak melulu seserius itu. Ada kalanya pula, kita melihat orang pacaran yang sebagai 'tontonan' saja. Saat duduk sendirian di tempat umum, secara nggak sadar kita pasti jadi pengamat. Dalam momen seperti itulah biasanya kita bisa menemukan perbedaan gaya pacaran orang-orang seperti itu Dan, makanya di umur gue yang sekarang itu gue gak mau main-main dalam urusan cinta lebih tepatnya sih udah capek," ungkap Rama dengan terus terang.
Mendengar penjelasan singkat Rama membuat Hamdan paham satu hal bahwa kepercayaan itu penting dalam suatu hubungan dan pastinya dia lebih suka dengan cewek yang pendiam dan penurut agar tidak susah diatur.
"Nih gays gorengan buat kalian buka puasa nanti kalau mau coffe kata bos ambil saja satu tapi jangan banyak-banyak anggap saja sebagai THR dari bos," seru seorang wanita yang masih sangat muda dia menjadi tangan kanan bosnya di sini.
"Terima kasih ya!" Hamdan dan Rama pun menyahut bersamaan sambil tersenyum kepada cewek itu.
Tanpa terasa obrolan mereka pun menjadi panjang Hamdan juga berterus terang tentang perasaannya kepada cewek yang sudah lama menjadi incarannya namun tidak berani untuk mengungkapkannya kepada cewek itu sampai datang waktu yang tepat untuknya, hingga suara adzan membuat mereka terhenti karena mereka harus segera membatalkan puasanya.
"Sudah adzan salat dulu yuk!" ajak Rama dan berlalu berjalan duluan meninggalkan Hamdan yang masih memikirkan perihal perasaan dan wanita.
Akhirnya Hamdan pun bangkit dari duduknya untuk menyusul Rama menuju ruang salat yang sudah disediakan oleh bosnya itu di sini dan ada peraturan yang mengharuskan semua kariyawan wajib melaksanakan salat tepat waktu dan akan ada potongan gaji jika sampai tidak melaksanakan salat apalagi dengan disengaja.
"Hamdan ada yang nyariin lo tuh di depan!" seru Rian fatner kerja Hamdan juga.
Mendengar hal itu Hamdan sudah menduga bahwa itu Alex yang akan menjemputnya. "Suruh masuk saja Bang dia teman ane," pinta Hamdan.
Rian pun berlalu untuk mempersilahkan Alex masuk ke dalam untuk bertemu dengan Hamdan.
"Woy belum boleh pulang?" ujar Alex dengan membawa kunci pada tangannya.
"Sebentar gue pamit dulu lo duduk aja dulu mau gue buatkan moccacino?" Hamdan selalu bersikap ramah kepada teman-temannya yang sudah mampir ke tempat kerjanya kini.
"Ya sudah buruan sana gue tunggu di sini," kata Alex dia mengomel agar Hamdan segera pamit dan langsung pulang.
Setelah Hamdan mendapatkan izin serta uang gajian dari bosnya dia pun langsung memesan dua coffe untuk dibawa pulang, dia akan merayakan malam takbiran bersama Alex dan orangtuanya di rumah.
"Dan lo sudah dapat kabar dari David?" tanya Alex dia tidak tahu kabar David setelah kepergian cowok itu.
"Baru saja dia balas pesan gue katanya dia baik-baik saja di sana sudah kita percaya saja sama dia kalau tidak ada yang perlu kita khawatirkan dan sekarang dia tinggal bersama Ommah dan Oppah dari Mamahnya," jelas Hamdan dia sangat percaya bahwa David selalu bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.
****
Sungguh luar biasa hari ini, di mana semua umat muslim telah melaksanakan ibadah puasa selama 30 hari sebelumnya dan kini telah tiba masa-masa bahagianya yaitu hari raya idul fitri.
Semua umat muslim merayakannya mereka berbondong-bondong pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah salat idul fitri karena masih dengan keadaan yang sama semua orang orang pun harus menggunakan masker dan mencuci tangan terlebih dahulu ketika masuk ke masjid betapa ribetnya keadaan ini.
Jarak di dalam masjid sudah tercipta dengan benar membuat masjid menjadi full tidak seperti biasanya namun itu semua tidak mempengaruhi para umat muslim untuk tidak berjamaah di masjid.
Hari ini pun David salat idul fitri di rumah berempat saja bersama Oppah, Ommah, sepupu perempuannya. Yang menjadi imamnya tentu saja sang Oppa entah mengapa hati David terasa pilu dia berharap suatu saat nanti bisa salat berjamaah dengan ke dua orangtuanya.
"Assalamualaikum warohmatullah," ujar Oppah seraya menoleh ke kanan dan ke kiri mengakhiri salat idul fitri.
Salat idul fitri adalah salat yang dilaksanakan saat hari Raya Idul Fitri atau disebut dengan istilah lebaran. Salat pada hari ini memang bukanlah shalat yang biasa kita lakukan rutin, namun hanya dilakukan setelah kita melaksanakan puasa ramadhan. Tentu saja apa yang dilakukan untuk shalat idul fitri sebagaimana yang telah islam syariatkan memiliki makna juga keutamaan jika kita tunaikan.
"Alhamdulillah ya Allah terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk bisa ikut puasa ramadhan dan melaksanakan salat idul fitri bersama, sungguh sparkling ramadhan bulan yang penuh berkah dan sangat dinanti-nantikan oleh semua orang," ujar David seraya memohon doa kepada sang pencipta alam semesta.
Begitu banyak lika-liku yang telah dia lalui selama ini meski sekarang dia belum mendapatkan kabar dari orangtuanya yang berada jauh di sana dan kemungkinan akan lama untuk kembali lagi ke Eropa.
"Ommah maafin David ya kalau aku punya banyak salah sama Ommah." David berjalan menghampiri Ommahnya lalu mencium tangannya dengan lama sembari meminta maaf begitu pun dengan Oppahnya yang berada di samping Ommah.
"Sayang, Ommah juga minta maaf ya, kalau selama ini Ommah tidak bisa berbuat banyak kepada kamu, semoga Allah SWT selalu melindungimu Nak," ujar Ommah dengan mata yang berlinang. Dia teringat akan umurnya yang sudah sangat tua takut bahwa dia tidak bisa lama bersama David.
Oppah pun memeluk David setelah anak itu mencium tangannya, "Oppa berharap tahun depan kamu bisa menikah agar Oppah dan Ommah bisa hadir dalam pernikahan itu dan bisa nimang cicit dari kamu," pekik Oppah dengan penuh harap.
Mendengar perkataan Oppahnya membuat David jadi teringat akan sosok Dinda namun dia juga tidak tahu apakah Dinda adalah jodohnya kelak, "Aamiin Oppah semoga aku segera dipertemukan jodohnya sama Allah, sesungguhnya manusia ditakdirkan untuk hidup berpasang-pasangan."
Dengan tersenyum Oppah pun menganggukan kepalanya.
"Kan punya banyak cewek tinggal milih aja," seru Raya dengan santainya.
"Enak sekali kau kalau berbicara, emang kamu kira nyari cewek yang tulus itu gampang," sahut David dengan memutar bola matanya jengah.
"Ya tinggal pilih aja yang pastinya harus lebih cantik dari aku ya!" ujar Raya dengan mengambil fose imut.
David pun mengusap wajah Raya dengan gemas, "Harus cantik hati, akhlak dan paras bukan?"
Jawaban David memang betul membuat Raya menganggukan kepalanya berkali-kali, percuma jika kita harus memandang seseorang dari fisiknya saja, kalau sifatnya tidak baik jadi lebih baik cantik akhlak dan hatinya untuk parasnya akan menjadi bonus si suaminya nanti.
"Sudah-sudah mari kita siapkan diri untuk menyambut tamu nantinya." Ommah pun menghentikan perdebatan ke dua cucunya itu yang tidak ada yang mau mengalah satu sama lainnya.
Mereka akhirnya bangun dari duduknya kaki Raya terasa keram saat hendak bangkit dari duduknya tiba-tiba tangannya pun mencengkal lengan David yang sudah berdiri tegap.
Cowok itu lantas langsung menoleh kaget, "Ada apa lagi hah?" katanya sedikit ketus.
Raya memasang wajah meringis hendak menangis rasa sakit pada kakinya membuatnya menjadi lemah dan tidak bisa bergerak, "Kesemutan kak," ujarnya lirih.
"Ya Allah Raya kirain kenapa, ya sudah diam di situ dulu sampai rasa sakitnya hilang." David pun memberi saran kepada Raya dia tidak tahu obat kesemutan selain diam jangan banyak gerak terlebih dahulu.
Ommah pun ikut menoleh, "Hentangkan kakimu perlahan agar segera pulih dan cepat hilang!" pintanya.
Sedangkan Oppah sudah berlalu sejak tadi, konon katanya Oppah ingin segera minum air putih dan makan.
Idul Fitri merupakan waktu bagi para umat muslim kembali ke fitrahnya, bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu."
Puasa ramadhan telah sesuai dengan firman Allah seperti ayat diatas, Setelah berpuasa Ramadhan tibalah hari Raya idul Fitri. Menyambut idul fitri tidak diperbolehkan untuk berpuasa.
David merasa senang bisa merayakan hari raya idul fitri sebagai hari kemenangan umat muslis setelah melakukan puasa selama satu bulan full.
"Mari kita makan terlebih dahulu," ujar Ommah mengiring semuanya ke ruang makan.
Rumah Oppah dan Ommah cukup luas lebih mewah dari pada rumah ke dua orangtuanya di sini, hiasan dinding pun terlihat klasik banyak sekali barang-barang kuno yang dipanjang di sana lukisan-lukisan pemandangan alam, serta foto-foto keluarga juga terpampang di dinding rumah.
"Ommah sama Oppah kalau hari raya begini biasanya ngapain aja?" tanya David dia penasaran dengan ke dua pasangan ini apa saja yang dilakukan mereka ketika hari raya.
Sudah genap 60 tahun berturut-turut mereka selalu merayakan hari raya dengan berdua saja hingga Raya hadir dalam kehidupan mereka yang tak lain cucunya sendiri ke dua orangtua Raya sedang di luar kota ada kerjaan yang harus mereka lakukan di sana sehingga meninggalkan Raya bersama Ommah dan Oppah.
"Jika ditanya seperti itu biasanya Ommah sama Oppah sih yang pasti salat terawih di masjid, makan-makan dulu lalu bersilaturahmi dengan tetangga yang seislam juga setelah itu ya kita berziarah ke makam orangtua kita," jelas Ommah dengan pelan nada biasanya sangat khas sekali lembut serta terdengar serak-serak basah gitu.
"Oh aku jadi ingin keluar Ommah setelah ini boleh ya?" David merajuk meminta izin untuk pergi berkeliling di sekitar sini melihat-lihat suasana di luar sana.
Ommah yang sedang makan tidak langsung menjawab dia melirik ke arah Oppa yang sejak tadi diam menyimak.
"Boleh asal jangan berpakaian muslim kaya gitu ya, kita saling menjaga toleransi saja jika mau keliling ajak Raya sekalian tuh," sahut Oppa mewakili jawaban Ommah yang tidak bisa memberikan izin kepada David.
Mendengar itu dia pun diizinkan Raya pun berteriak dengan histeris, "Ah serius aku boleh ikut Oppah?"
Sedangkan David mendesah entah mengapa dia malas jika pergi dengan cewek seperti Raya yang super bawel melihat ekspresi David membuat Raya kemudian kembali diam.
"Hemm sepertinya aku tidak dibolehkan sama kakak deh, lihat saja raut wajahnya begitu menyebalkan huhf," keluhnya seraya melirik ke arah David.
Perkataan Raya berhasil membuat David tersenyum, "Iyaiya yuk buruan makannya nanti kita langsung pergi saja."
"Asiikk aku akan pergi bareng kak Davi," teriak Raya dengan senang, ini akan menjadi hari yang bahagia dalam hidupnya bisa pergi bersama David yang sudah dikenal sebagai model kesehatan.
Setelah acara makan setelah mereka pun bersalaman dengan orang-orang yang datang ke rumahnya ada sedikit orang yang datang jadi David bisa langsung pergi besama dengan Raya keliling daerah sekitar.